
“Aaa! Lepaskan! Lepaskan tanganmu!”
Refleks seorang wanita, reaksi pertamanya adalah bertemu dengan seorang ‘maniak’.
“Tidak! Aku tidak mau lepas! Kalau aku lepas kamu pasti akan langsung melompat!”
Wanita bergaun hitam itu langsung tercengang, namun dia memberontak dengan tenaga yang lebih besar lagi, “Lompat apanya? Lepas!”
“Tidak mau!”
“Lepas!”
“Udah dibilang gak mau!”
Menghadapi wanita yang memberontak ini, Thomas juga kebingungan.
Demi menghentikan perbuatannya, kedua tangan Thomas beberapa kali menyenggol bagian tubuh yang tidak seharusnya dia sentuh.
Namun kalau dilepaskan, bagaimana kalau dia tiba-tiba melompat dari jendela tanpa ragu?
Jarak tempat ini dari tanah itu 30 lantai.
Kalau sampai jatuh, secantik apapun wanita ini, pasti tubuhnya akan hancur!
Setelah meronta dengan saling tarik, mereka berdua kehilangan keseimbangan dan terjatuh sampai terguling.
Wanita bergaun hitam meronta lebih kuat lagi dan berniat melepaskan tangan Thomas yang memeluknya.
Agar bisa menahannya, Thomas tidak hentinya merubah posisi tangannya.
Bukan karena Thomas tidak cukup kuat sehingga dia bisa menahannya, melainkan karena dia kebingungan, dan alasan lainnya adalah dia merasa memeluk bagian manapun tidak pantas.
Sehingga…
Posisi ini tidak berhasil, dia ganti posisi lain, posisi lain tidak bisa menahannya, dia ganti posisi lain lagi…
Pada akhirnya.
Wanita bergaun hitam itu terengah-engah dan berhenti memberontak.
“Haah, haah, haah… lepas!”
“Tidak mau!” Thomas begitu keras kepala.
“Haah, haah… jangan lupa, ini tempat apa, sebentar lagi akan ada yang datang, dasar hidung belang!”
Thomas segera menjelaskan, “Aku bukan pria hidung belang, aku hanya tidak mau kamu lompat!”
Aroma harum perlahan terhirup oleh Thomas, membuatnya agak terlena.
Wanita ini akhirnya paham, ternyata alasan Thomas memeluknya karena ingin menghentikannya lompat dari sini, tapi dia sama sekali tidak berniat untuk bunuh diri.
“Aku bukan mau bunuh diri, lepas!”
“Aku gak percaya!”
......
Wanita ini benar-benar tidak berdaya.
Thomas menempel begitu erat dibelakangnya, satu tangannya memeluk pinggangnya dengan erat, dan satu tangannya menahan bagian bawah dadanya…
Mau tidak mau dia berkata dengan nada memohon, “Aku bukannya ingin melompat, tadi kalungku jatuh, aku hanya ingin lihat kalungku jatuh di mana, kamu bisa lepasin dulu gak?”
Thomas berpikir sejenak dan bertanya, “Beneran?”
“Beneran.”
“Bagaimana aku mempercayai ucapanmu?”
......
Bukannya Thomas tidak mau lepas, tapi ini berhubungan dengan nyawa.
“Haah, haah… yang kukatakan memang benar, memang begitu adanya!”
Thomas berpikir lagi, dia juga merasa terus seperti ini tidak bisa.
Sehingga berkata, “Baiklah, aku lepas, tapi aku peringatkan dulu ya, kalau kamu ingin melompat lagi, aku akan menangkapmu.”
“… Lepaskan.”
Seiring dengan tangan Thomas yang merenggang, wanita bergaun hitam itu juga akhirnya bisa bebas.
Mereka berdua bangkit dan duduk perlahan.
Tiba-tiba.
Wanita bergaun hitam itu mengangkat tangan kanannya, kelihatannya seperti akan menampar Thomas, namun dia teringat ucapan pria itu, sehingga segera menghentikan niatnya.
Dan tatapan mata Thomas, malah berhenti di bagian tubuh wanita yang begitu putih dan montok itu.
Membayangkan pose-pose yang tadi, membuatnya berseru dalam hati, “OMG, gak tahan…”
“Huh!”
Wanita itu berdiri dan sekali lagi melihat ke arah jendela.
Thomas yang melihat ini juga langsung mengambil posisi.
Menyadari gerakan Thomas, wanita itu langsung berseru, dia benar-benar parno, namun juga tidak bisa mengamuk.
“Baiklah, kalau begitu carilah.”
Thomas berpikir sejenak, lalu membuka jendela dan berdiri berdampingan dengan wanita itu, kalau dia ingin melompat selagi dia lengah, untuk memanjat tetap butuh sedikit waktu.
Dan selama itu, Thomas punya cukup waktu untuk menolongnya.
Namun yang membuat Thomas merasa tenang, karena wanita itu hanya menjulurkan kepalanya dari jendela.
Thomas yang berdiri di samping hanya memandangi tubuh wanita yang begitu indah dengan balutan gaun hitam panjangnya, bagian bokongnya yang begitu padat, tanpa sadar membuatnya membandingkannya dengan Jenika.
Dan pada akhirnya dia menyadari kalau tidak ada yang lebih unggul di antara mereka.
Jenika memiliki lekuk tubuh yang langsing dan indah, namun auranya begitu elegan.
Sementara tubuh wanita ini sangat seksi, paras yang sempurna, memiliki aura yang sangat menggoda.
Jenika, membuat orang tidak berani sembarangan menyentuhnya, sementara yang ini malah menantang kemampuan seorang pria menaklukannya setiap saat.
Melihat wajah kecewa wanita ini, Thomas juga paham, kalung yang hilang itu pasti benda berharga baginya.
“Apa perlu aku bantu cari?”
Wanita itu mengangkat wajahnya dan melirik Thomas, lalu berkata dengan kecewa, “Tidak perlu, gedung setinggi ini pasti anginnya sangat kencang, begitu angin berhembus, entah terbawa angin kemana.”
Namun Thomas melihat sorot mata tidak rela dalam mata wanita itu.
“Sebaiknya aku bantu cari, ini… aku juga harus bertanggungjawab.”
Thomas merasa bersalah, kalau bukan karena dia yang berniat baik tidak pada tempatnya, menarik wanita ini menjauh, maka wanita ini mungkin bisa melihat di mana posisi kalung itu jatuh.
Setelah mengatakannya, Thomas langsung berbalik dan pergi.
Wanita itu membuka mulutnya dan ingin menghentikan usaha sia-sia Thomas, namun melihat Thomas yang berjalan dengan yakin, malah membuat ucapan yang dilontarkan berbeda.
“Tunggu, aku juga ikut.”
......
Mereka berdua turun dengan lift bersama.
30 lantai, lift terus bergerak sesaat.
Tidak banyak percakapan yang terjadi.
Wanita itu melihat Thomas yang begitu gentle, membuatnya yakin kalau apa yang dia lakukan tadi bukan untuk melecehkannya.
“Oh iya, siapa namamu?”
“Thomas Widjaja, kamu?” senyum Thomas.
“Namaku Winda Chandra.”
Wanita bergaun hitam yang cantik ini adalah putri Adrian Chandra, Direktur Bright Property.
Yang juga merupakan kakak satu ayah beda ibu Ivan Chandra, dan Winda Chandra.
Dia baru pulang dari luar negeri, langsung harus bertemu dengan beberapa rekan bisnis, membicarakan beberapa kerjasama bisnis.
Dua tahun terakhir, dia mengandalkan kemampuannya sendiri untuk menopang seluruh Bright Property, tentu saja, semua keputusan tetap berada di tangan Adrian Chandra.
Namun dia sama sekali tidak mempermasalahkannya, yang harus dia lakukan adalah menjaga semua harus jerih payah ibunya, Bright Property adalah hasil jerih payah Adrian Chandra dan ibunya, tentu saja ada bagian ibunya dalam perusahaan.
Ketika petang, dia baru saja kembali ke kota, langsung memesan ruang VVIP yang ada di Tasty.
Kerjasama kali ini adalah proyek jangka panjang, penghasilannya sangat besar, kalau bisa mendapatkan kontrak kerjasama ini, tiga tahun kemudian, maka laba bersih akan mencapai 4 triliun.
Sehingga dia langsung datang tanpa menunda lagi.
Dan pada saat pukul 18.10, dia menelepon nomor hotline Tasty untuk memesan ruang VVIP, dan kabar yang dia dapatkan adalah ruang VVIP 1 sudah tidak disewakan untuk umum lagi.
Karena kecewa, mau tidak mau dia memesan ruang VVIP 2.
Pembicaraan tentang kontrak kerjasama berjalan dengan sangat lancar, setelah bersulang beberapa gelas, dia berniat keluar dan menenangkan diri.
Dan tanpa sengaja melihat ada seorang pelayan yang berdiri di depan ruang VVIP 1.
Karena penasaran, dia sengaja bertanya, bukankah katanya tidak dibuka untuk umum, kenapa ada yang memesan.
Namun pelayan malah memberitahunya, ini adalah privasi.
Frustasi adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Sehingga dia berdiri di depan jendela dan merokok.
Kalung itu adalah peninggalan ibunya, sesekali Winda mengeluarkannya untuk dipandang.
Siapa yang menyangka ketika pikirannya sedang melambung jauh, seorang pemuda keluar dari ruang VVIP 1.
Ketika dia sedang berpikir siapa pemuda ini.
Karena tidak hati-hati kalungnya jatuh begitu saja.
Setelahnya terjadilah insiden yang tadi.
Winda melirik Thomas sekali lagi dan bertanya, “Ruang VVIP 1, kamu yang pakai?”