
Kedua kotak nasi dan lauk itu sama sekali tidak berat.
Namun saat kepala seseorang dilempari sesuatu tanpa persiapan terlebih dahulu, tidak peduli sepelan apa pun itu, pasti akan membuat orang itu tidak bisa merefleks karena dalam kondisi ngeblank.
Freya gontai dan terjatuh dari tangga belakang panggung dengan kepala yang mendarat terlebih dahulu.
Ini juga alasan mengapa semua orang tertawa begitu keras.
Sungguh kocak.
Bukankah ini sama dengan badut yang sudah ready!
“Brengsek!”
Api amarah langsung memuncak.
Thomas mengumpat dan langsung maju.
Untungnya tangga belakang panggung tidak tinggi dan di bagian bawah adalah pasir, kalau tidak kali ini Freya pasti penuh luka!
Thomas ingin tahu siapa yang begitu keterlaluan, apakah ini yang disebut sebagai mahasiswa dan generasi calon penerus bangsa?
......
Ketua Dekan sudah tiba di lokasi sejak awal, dan beliau duduk di baris paling depan, di kursi paling tengah.
Dimas berdiri dari tempat duduknya, dan ketika berjalan ke belakang, dia menoleh.
Pagi ini dia tiba-tiba menerima sebuah telepon.
Yang mengatakan bahwa seorang alumni mahasiswa di Trijaya ingin mendonasikan uang 6 miliar untuk kampus!
Satu-satunya syarat adalah membiarkan adiknya yang bernama Luna Widjaja kembali menjadi pembawa acara perayaan HUT Trijaya.
Dirinya yang merasa senang langsung mencari tahu, dan dia langsung tahu sumber masalahnya darimana, posisi ini pada dasarnya memang milik mahasiswi ini, namun direbut oleh Wanda Ningrat yang juga pacar Ivan Chandra.
Ivan ini adalah penerus Bright Property, dia juga mendonasikan uang 2 miliar untuk Trijaya.
Dan Dekan langsung merasa, jangan-jangan di antara mereka pasti ada pertikaian atau sebagainya? Kalau tidak kenapa mereka mengincar posisi ini?
Meskipun dia mendonasikan uang 6 miliar, namun Ivan adalah putra tunggal Direktur Bright Property, dia tetap harus menimbang dengan lebih hati-hati.
Sehingga dia berpikir sejenak, baru berniat ingin menolaknya, dia langsung mengatakan akan mendonasikan 200 miliar…
200 miliar…
Apa maksudnya ini?
Dan katanya orang yang mendonasikan uang ini adalah seorang mahasiswa yang pernah kuliah di Trijaya???
Sehingga pak dekan langsung menyetujuinya.
Dan tujuan dia muncul di sini sepagi ini karena ingin bertemu dengan Thomas.
Sebagai seorang tenaga pendidik yang sudah berkecimpung puluhan tahun di bidang ini, hal yang membuat mereka paling bangga apa? Hal yang membuat mereka paling bangga adalah anak didik mereka bisa sukses dan tidak melupakan dari mana mereka berasal.
Begitu pak dekan melihat Dimas berdiri, dia langsung tahu Thomas adalah orang yang ingin dia temui, dia segera berdiri dan menghampiri dengan wajah sumringah.
Anak muda yang hebat!
Membanggakan!
Ini bukan hanya kebanggaan Universitas Trijaya.
ini juga kebanggaannya seumur hidup ini!
Selama dia menjadi Ketua Dekan di universitas ini, berkat kepemimpinannya yang bijaksana, sehingga mendidik anak muda yang begitu hebat, menjadi kebanggaan bangsa!
Pak dekan mengusap telapak tangannya dengan begitu gembira, langkahnya semakin lama semakin mendekat, dan dia bersiap menjabat tangan Thomas yang hangat itu.
Siapa yang menyangka baru berdiri, Thomas sudah melontarkan umpatan itu.
“Brengsek!”
......
Pak dekan sontak bingung.
Thomas yang hendak maju langsung ditahan oleh Dimas.
Thomas menoleh dengan kesal, lalu memintanya melepaskan tangannya, namun Dimas hanya berkata sambil tersenyum, “Tuan muda, ada Pak Ketua Dekan di sini.”
Ketua dekan?
Thomas langsung paham.
Luna adalah pembawa acara hari ini, juga ada pak dekan di sini, dia juga bukan mahasiswa Trijaya.
Thomas melirik dengan tajam, melihat Freya yang bangkit berdiri dan pergi, lalu melihat ke arah pria berusia 60 tahunan yang berdiri dihadapannya.
Dan dia memang Ketua Dekan di sini.
Dia kenal dengan pak dekan ini, karena dia pernah kuliah di sini.
“Pak dekan, halo, maaf tidak sopan, tadi saya melihat ada seorang mahasiswi yang sedang diganggu, apakah Anda melihatnya?”
Beberapa saat yang lalu, ketika melihat Thomas akan pergi, pak dekan ini sempat bingung dan melihat ke arah panggung, dan dia memang melihat Freya yang terjatuh.
Tidak perlu dipikirkan juga sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sehingga wajahnya langsung muram dan berkata, “Nak Thomas tenang saja, saya akan memberikan kejelasan pada mahasiswi itu! Universitas kami tidak akan mengizinkan adanya kekerasan!”
Pertemuan seperti ini malah dikacaukan oleh masalah kecil seperti ini membuat ketua dekan merasa kesal juga.
Namun dia segera mengalihkan topik pembicaraan, dia menarik Thomas dan berkata sambil tersenyum, “Kemarilah Nak, sini, kita duduk di sini!”
Freya sudah pergi, meskipun Thomas ingin membantunya, namun korbannya sudah tidak ada di sana, sehingga Thomas memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini nanti.
“Nak Thomas, universitas kami bisa mendidik lulusan yang hebat sepertimu sungguh membuatku merasa sangat bangga!”
Ketua dekan ini berkata sambil menggenggam lembut tangan Thomas.
Thomas: “……”
“Hm, ini sudah seharusnya, karena Universitas Trijaya sudah mendidikku, namun pak…”
“Betul sekali! Nak Thomas, kamu punya niatan seperti ini sungguh membuatku merasa sangat senang, bagaimana kalau begini saja, malam ini saya akan membooking sebuah ruangan agar kita bisa mengobrol dengan leluasa, bagaimana?”
Susah payah menarik kembali tangannya, Thomas mengelap tangannya di celana tanpa memperlihatkannya dengan jelas.
Dia semakin yakin satu hal, namun hampir semua pria yang sudah berumur pasti akan punya kebiasaan seperti ini, undangan pak dekan ini tidak boleh ditanggapi.
“Oh, iya benar, kamu adalah pemuda sukses, sibuk, itu sudah pasti, namanya juga anak muda, sudah seharusnya berjuang untuk masa depannya!”
“Oh iya, Nak Thomas…”
Pesta perayaan dimulai.
Kreatifitas mahasiswa memang sangat kaya, sesekali terdengar suara tepuk tangan dari bawah panggung, namun Thomas sama sekali tidak berminat menikmati semua ini, karena pak dekan ini tidak hentinya mengajaknya bicara dengan topik yang tidak jelas.
Sampai Luna naik ke atas panggung.
Perhatian Thomas langsung tertuju ke panggung.
Saat ini dia mengenakan long dress Black Swan dan sepatu hak 20 cm.
Seketika suasana menjadi hening.
Luna memegang kartu di tangannya dan mengumumkan pertunjukkan selanjutnya.
Setelah dia menyelesaikan ucapannya, suara tepuk tangan yang begitu meriah terdengar dari bawah panggung.
Thomas juga bertepuk tangan dengan keras sambil mengelu-elukannya!
setelah pertunjukkan dimulai, pak dekan kembali mengajak Thomas bicara.
Perayaan yang berjalan selama 5 jam, dari awal sampai akhir dipenuhi oleh ocehan pak dekan.
Meskipun pak dekan tidak ingin, dia tetap harus naik ke atas panggung dan menutup acara, sebelum naik ke atas panggung pak dekan berniat meminta Thomas naik ke atas panggung untuk memotivasi mahasiswa yang ada di sini untuk lebih giat lagi, satu sisi juga ingin memamerkan keberhasilan universitas mereka.
Thomas menolaknya secara halus, dia tidak bisa merangkai kata.
Setelah satu jam berlalu, acara ditutup dengan wejangan dari pak ketua dekan.
Para mahasiswa mulai memindahkan tempat duduk dari lokasi acara.
Luna juga keluar dengan wajah yang tersenyum indah setelah mengganti pakaiannya.
“Kak! Bagaimana performanceku?”
“Sangat bagus! Teramat sangat bagus! Kalau aku yang ada di atas sana, aku pasti akan gemetar karena melihat begitu banyak orang di bawah sana.”
Apa yang dikatakan Thomas memang apa adanya, namun yang memenuhi pikirannya sekarang adalah Freya, entah bagaimana kondisinya sekarang.
“Oh iya, kamu melihat Freya tidak?” tanya Thomas.
Begitu mendengar nama Freya, ekspresi Luna langsung berubah menjadi begitu buruk.
“Kak, mereka sungguh keterlaluan tadi! Tega-teganya mereka memperlakukan Kak Freya seperti itu, aku menegur mereka, malah aku yang ditertawakan!”
“Siapa?” tanya Thomas dengan dingin.
“Dia adalah cucu perempuan Wakil Dekan, sungguh menyebalkan, dia iri dengan gaun Black Swan milikku, sehingga melampiaskan kekesalannya pada Kak Freya! Kak, kakak harus membantu Kak Freya untuk mendapatkan keadilan!” ucap Luna dengan kesal.