
Winda menjerit.
Dia melihat Thomas melompat dari ketinggian 6 meter!
Ketinggian ini hampir setara dengan bangunan dua lantai.
Orang biasa mana mungkin selamat setelah terjatuh dari tempat setinggi itu?
“Bukk!”
“Aaaww!”
Thomas mengusap bokongnya yang sakit sambil mengerang.
“Aaa, Thomas, kamu baik-baik saja?”
Winda sudah ketakutan sampai panik dan segera berlari ke arahnya.
“Aduh… iya enggak apa-apa, bantu aku bangun dulu.”
“Enggak, jangan sembarang bergerak, aku panggilkan ambulance, kamu diam dulu.”
Winda tidak tahu harus mengatakan apa, Thomas terjatuh dan terluka karena ingin mengambilkan kalungnya, saat ini pikirannya sungguh kacau.
“Gak perlu telepon, aku baik-baik saja.”
Begitu melihat Winda sudah mengeluarkan ponsel dari dalam tas, Thomas langsung berdiri sambil menahan rasa sakit di bokongnya.
Lompatannya yang tadi sama sekali tidak membentur apapun, hanya saja dia tidak menyangka akan meluncur dengan begitu kencang sehingga gagal berdiri, dan hampir saja bokongnya bonyok karena terjungkal.
Thomas bingung, dan memutuskan untuk bertanya pada Dimas saat pulang nanti, ini baru 6 meter tingginya, dia sudah terjungkal. Jenika malah bisa melompat turun dari ketinggian belasan meter dengan santai, bahkan baik-baik saja?
Tanpa sadar dia menghayal, mungkinkan Jenika juga sama sepertinya, ketika melompat dari lantai dua villa juga terjatuh dengan bokong di bawah.
“Eeee, jangan berdiri, cepat duduk dan berbaring.”
Begitu Winda melihat Thomas berdiri, dia kembali terkejut.
“Aku benar-benar baik-baik saja, tidak perlu telepon ambulans.” Thomas menahan tangan kiri Winda yang memegang ponsel.
“Mana mungkin! Kamu itu jatuh dari tempat tinggi… kakimu tidak patah? Pinggang, pinggangmu sakit tidak?”
Karena panik, Winda sama sekali tidak berpikir panjang, dia langsung mengulurkan tangan dan memegang tubuh Thomas.
“Kalau di sini? Di sini sakit tidak?”
Sepertinya dia melupakan sesuatu, orang yang terluka mana mungkin bisa berdiri.
“Ebuset! Jangan pegang sembarangan, dipegang lagi bisa gak tahan gue!”
Gerakan Winda juga terhenti seiring dengan ucapan yang dilontarkan oleh Thomas, saat itulah dia baru sadar kalau gerakannya terlalu…
“Nih, kalungmu.” Thomas tersenyum sambil menyerahkan kalung dengan permata putih.
Tatapannya bertemu dengan senyuman Thomas yang begitu cerah bagaikan cahaya matahari, membuat jantung Winda berdegup semakin kencang, dia menerima dengan hati-hati dan berkata dengan lirih, “Terima kasih.”
“Tidak perlu, lagipula aku juga bertanggung jawab, kalau bukan karena aku, kalungmu tidak akan jatuh.” Thomas menunjuk keatas dan berkata sambil tersenyum, “Ya sudah, bye.”
Setelah mengatakannya, Thomas berbalik dan kembali, dia tidak lupa, Hans dan yang lainnya sedang rusuh di atas.
Winda kebingungan, lalu segera berkata, “Tunggu, kita kan satu arah!”
......
Mereka berdua masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 30, dan lift naik perlahan.
Thomas hanya memperhatikan angka yang bergerak di lift tanpa mengatakan apapun.
Beberapa kali Winda ingin bicara, namun terhenti ketika teringat begitu banyak kejadian di antara dirinya dan Thomas dalam waktu setengah jam yang begitu singkat.
Winda memiliki sifat yang keras. Setelah lulus kuliah, dia langsung sibuk membantu Adrian mengurus bisnis.
Oleh karena itu, membuat Winda jadi memiliki sisi yang keras.
Di perusahaan biasa dia yang mengambil keputusan, menghadiri pesta, dan bertemu klien. Dia adalah ahlinya dalam bernegosiasi.
Kemampuannya memenangkan rasa hormat dari banyak orang.
Namun, dia belum pernah bersentuhan dengan seorang pria sampai sedekat ini.
Dia pernah menyentuh pria saat harus menari, tapi itu pun masih dalam ruang lingkup yang sopan, kalau dekat seperti dengan Thomas tadi, bahkan berguling jadi satu seperti itu…
Setiap kali teringat hal ini, jantung Winda langsung berdegup kencang, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ketika melihat Thomas yang reaksinya biasa saja, membuatnya merasa kecewa tanpa sadar.
“Tingg!”
Lift sampai di lantai 30, mereka berdua keluar dari lift.
“Aku kembali dulu, bye.”
Setelah Thomas meninggalkan pesan, dia langsung berjalan ke arah ruang VVIP 1.
“Thomas, tunggu…” Winda menyadari mereka akan segera berpisah, dia mengetatkan bibirnya dan mendekat lalu bertanya, “Thomas, bisakah kamu tinggalkan nomor telepon untukku?”
Mereka berdua bertukar nomor telepon, Winda melihat Thomas berjalan masuk ke ruang VVIP 1, dia berdiri di sana sesaat baru kembali ke ruangannya sendiri.
......
Wajah Adrian terlihat begitu murung, dia duduk di meja panjang yang ada di ruang kerjanya.
Di sampingnya duduk seorang nyonya berusia 30 tahunan berdandanan cantik dan masih muda yang sedang terisak.
Usia aslinya tidak tampak dengan penampilannya sekarang.
Kehidupannya makmur, dia rutin perawatan sehingga usianya kelihatan jauh lebih muda daripada aslinya.
Dia adalah Jacquin Cokro, ibu Ivan Chandra.
“Huhuhu, Ian, kamu harus menemukan kedua penjahat itu, lalu mematahkan kedua kaki dan tangannya, agar bisa membalaskan dendam putra kita!”
Jacquin menangis tersedu-sedu, namun Adrian yang di sampingnya malah tidak mengatakan apapun.
Ini juga membuatnya sangat kesal, “Kamu bicara dong, memangnya kamu mau membiarkan pelakunya bebas berkeliaran di luar? Huhu…”
“Sudahlah! Diam!”
Adrian yang sedang kesal langsung membentak.
Suara tangis juga tiba-tiba terhenti.
Namun detik berikutnya.
Jacquin menghapus air mata di wajahnya dan berkata dengan kesal, “Adrian Chandra! Kamu cuma bisa marah-marah padaku, kalau mampu tangkap pelakunya sana!”
Adrian menghela nafas, dan menenangkan, “Sudah-sudah, bukankah sudah kukatakan, tunggu dulu, tunggu aku menyelidiki kejadiannya sampai jelas dulu…”
“Menyelidiki? Masih harus diselidiki? Putraku hampir saja mati!” Jacquin tersenyum dengan sinis dan berkata, “Baiklah, kamu tidak mau bergerak, kalau begitu aku akan meminta bantuan kakak, biar kedua pelaku itu ditangkap dan dibuang ke laut untuk jadi makanan ikan hiu!”
Setelah mengatakannya, Jacquin langsung berjalan keluar dengan penuh emosi.
Adrian mengulurkan tangan dan hendak menghentikan Jacquin, namun tangannya baru terulur setengah sudah dia letakkan kembali.
Sebenarnya bukan Adrian tidak mau bergerak, namun dia mendengar kabar dari preman bernama Bon dan yang lainnya kalau orang yang melukai putranya adalah mahasiswa Trijaya, bahkan hanya seorang mahasiswi yang sangat biasa.
Namun kejadian ini sama sekali tidak sesederhana yang terlihat.
Asal muasal kejadian harus dia cari tahu sampai jelas.
Tiga lembar kontrak, Martin Ningrat, juga seorang pemuda yang bernama Thomas Widjaja, dan uang 2 Triliun… Tentu saja ini semua bukan bohongan.
Dan yang terpenting seperti Santo Cendana pemilik Tasty juga ada hubungannya.
Itulah hal dia cemaskan.
Dan Master Heru juga memberitahukan sebuah rahasia padanya…
Mungkin, ada lawan yang memiliki kekuatan besar yang tidak terhingga sedang mengincar Bright Property.
Awalnya dia tidak percaya.
Bright Property adalah perusahaan besar yang cukup besar, memiliki kepopuleran yang cukup besar di dalam kota.
Dia memiliki berapa banyak saingan, mana mungkin seorang Adrian Chandra tidak tahu?
Kalau ada perusahaan property di luar kota yang mengincar pun, dia tidak mungkin tidak mendapat bocoran kabar, lagipula, rasanya tidak perlu sampai merenggut nyawa putra tunggalnya.
Namun Master Heru memperlihatkan keahliannya di hadapan Adrian.
Mengingat hal ini, tatapan mata Adrian langsung teralih ke samping, ke arah kursi yang hancur sampai berkeping-keping.
Dia melihat ke arah kursi, sorot matanya penuh dengan keterkejutan dan kebingungan.
Hanya dengan satu gerakan tangan di udara saja sudah bisa membuat sebuah kursi menjadi seperti itu!
Ini sepenuhnya membuat pandangan Adrian tentang dunia ini menjadi berbeda!
Ini novel silat?
Atau pendekar di dunia persilatan?
Adrian tidak tahu, dia juga tidak mengerti, bahkan sama sekali tidak mendengar tentang hal ini, namun dia begitu paham satu poin di dalamnya.
Kalau di dunia ini benar-benar ada orang semacam ini, maka untuk mendapatkan nyawanya, itu hanya membutuhkan waktu satu per sekian detik saja.
Dia menjanjikan saham Bright Property sebanyak 20% Master Heru baru bersedia membantu, namun dia harus menyelidiki beberapa hari.
Saham yang dipindahkan akan menimbulkan guncangan yang hebat dalam perusahaan, namun jika dibandingkan dengan nyawanya, ini bukan apa-apa.
Apa lagi mulai sekarang ada Master Heru yang bergabung di Bright Property, ini memberikan begitu banyak keuntungan bagi bisnisnya.
Jacquin menangis dan merengek meminta bantuan kakak sepupunya.
Ini membuat Adrian terpancing, mungkin dia bisa memanfaatkan kakak sepupu Jacquin untuk mencari tahu.