
"Huh! Jangan harap!" Ekspresi wajah sales pria itu terlihat begitu kesal, "Uangmu ini pasti bukan uang yang halal! Tidak bisa, aku harus lapor polisi!" Setelah mengatakannya, dia benar-benar mengeluarkan ponselnya dan bersiap menelepon polisi.
Tentu saja Thomas tidak takut dia melapor polisi, dia berkata dengan senyum yang dingin, "Intinya kamu tidak ingin mengakui kekalahan, aku ingatkan ya, kalau kamu lapor polisi, aku akan melaporkanmu karena telah mencemarkan nama baik."
Pria itu langsung tercengang. Ini memang benar adanya.
Kalau orang biasa mungkin berbeda, namun dia adalah orang yang memiliki kartu black gold, meskipun dia tidak mempercayainya sekarang, namun ini adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.
Kalau dia sampai dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik, berdasarkan kemampuan orang ini, membunuhnya jauh lebih mudah daripada membunuh seekor semut.
Sales pria itu sungguh menyesal, kenapa dia harus menyinggung seseorang yang tidak bisa disinggung.
Jilat tidak?
Jilat, maka dia tidak akan bisa bekerja di bidang ini lagi.
Tidak jilat, bagaimana kalau dia merasa tidak senang, mungkin perusahaan mereka akan dilaporkan ke polisi.
Dan dirinya juga akan dilaporkan, membuatnya terjerat masalah hukum! Kasus seperti ini bukan tidak pernah terjadi sebelumnya.
Dan siapa orang yang melaporkan itu? Dia hanyalah seorang karyawan.
Bukk! Sales pria itu langsung lemas dan berlutut di depan Thomas.
Pakk! Pakk! Dia menampar wajahnya sendiri dengan keras dua kali.
"Aku salah, semoga Anda bersedia memaafkan mataku yang buta sehingga salah menilai orang!" Sales pria itu mengangkat wajah yang sudah merah karena tamparannya sendiri dan berkata dengan tubuh gemetar.
Luna merasa tidak tega sehingga berkata dengan lirih, "Kak, sudah jangan diperpanjang."
Awalnya, Thomas memang tidak serius ingin menyuruh sales ini menjilat sepatunya.
Sehingga begitu Luna memohon, dia langsung mengambil kesempatan ini untuk menarik diri, dan dia sudah cukup merasa puas.
"Baiklah, aku akan mengampunimu kali ini." Kemudian berbalik dan berkata kepada orang yang berkerumun, "Kalian hapus video yang kalian rekam."
Dia bukan melakukannya untuk sales pria ini, melainkan takut membuat masalah di kemudian hari jika sampai tersebar di sosial media.
Tidak ada yang berani melawan ucapan Thomas, sehingga semua orang segera menghapus video di ponsel mereka.
......
Ini adalah mobil pertama dalam hidup Thomas, sehingga semua kejadian tidak mengenakan tadi langsung terlupakan olehnya.
Dia mengendarai Range Rover miliknya dan berkeliling dengan senang bersama Luna. Kemudian jalan-jalan ke Matahari departement store untuk membelikan beberapa pakaian untuk Luna.
Yang dipikirkan oleh Thomas adalah, sekarang dia sudah kaya, dia tidak boleh menyusahkan adiknya lagi.
Tanpa terasa sudah jam 5 sore.
Luna melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan kanannya, lalu berkata, "Kak, kita sudah pergi begitu lama, sebaiknya kita pulang sekarang."
"Tidak, kita makan malam dulu."
Tiba-tiba menjadi orang kaya, Thomas ingin merayakannya hari ini.
Luna memegang perutnya yang rata, dia memang sudah merasa lapar, dia bahkan belum makan siang, sejak tadi hanya sibuk bermain dengan Thomas.
"Makan di mana?" tanya Luna.
"Bagaimana kalau kita makan di restoran barat, sebesar ini Kakak belum pernah mengajakmu makan ke tempat seperti itu."
"Restoran barat? Aku tidak mau makan daging sapi mentah."
"Kalau tidak mau makan yang mentah, kamu bisa makan yang matang."
"Tapi kalau matang, kita sama dengan tidak makan makanan barat."
......
Sebenarnya Luna ingin makan Chinese Food karena jauh lebih hemat, makan sepuasnya berdua paling mahal menghabiskan 500-600 ribu.
"... Kalau begitu kita makan Chinese Food, kita pergi ke Restoran Tasty."
Begitu Luna mendengarnya, dia langsung terkejut, "Ya Tuhan~! Kakak gila ya! Restoran Tasty? Itu adalah restoran mewah kelas satu di kota ini, minimal harus memesan makanan 2 juta rupiah kalau ingin makan di sana!"
"Kak, aku merasa Kakak harusnya berhemat menggunakan uang ini."
Menurut perhitungannya dia, kalau uang 20 miliar ini dihamburkan dengan kecepatan seperti ini, hanya butuh waktu beberapa hari saja untuk menghabiskannya.
Thomas tertawa, "Tidak takut, dasar gadis bodoh, kakekku itu mengatakan kalau uang 20 miliar itu hanya uang jajanku bulan ini."
"Uang jajan?" Luna membelalakkan matanya dengan wajah tidak percaya.
"Benar, sehingga kakakmu ini sudah menjadi orang kaya sekarang, mengajakmu makan enak setiap hari juga tidak masalah."
Luna membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya dia tidak mengatakan apa pun.
20 miliar sebagai uang jajan sebulan, sepertinya makan puluhan juta sekali juga bukan masalah.
"Punya seorang kakek yang kaya sungguh enak." gumam Luna.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, uang Kakak juga uangmu."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar."
Mata Luna langsing berbinar. Dia merasa begitu senang juga bahagia.
Yang membuatnya senang bukanlah uang, namun karena hal lainnya.
Thomas tidak tahu apa yang dipikirkan Luna. Dia teringat seseorang sehingga mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Dan yang dia hubungi adalah Dimas.
"Dim, ayo kutraktir makan, setengah jam lagi kita ketemu di depan Restoran Tasty." Thomas tidak banyak bicara lagi dan langsung mematikan telepon.
Kehidupan yang begitu sulit, membuatnya selalu dipandang rendah oleh orang lain, hanya Dimas satu-satunya orang yang menganggapnya sebagai teman.
Sehingga yang pertama kali terpikirkan oleh Thomas pada saat seperti ini adalah Dimas.
Kemarin dia masih bekerja banting tulang demi biaya hidup, hari ini tiba-tiba menjadi miliarder kaya raya. Thomas hanya ingin menghamburkan uang, menghabiskan uang dalam jumlah yang banyak, melampiaskan semua keinginan yang selama ini dia pendam.
Kedua kakak beradik ini baru berjalan sampai ke depan Restoran Tasty. Tanpa sengaja melihat tiga orang yang tidak ingin dilihat.
Anggota Keluarga Ningrat.
Begitu mereka muncul, Wanda adalah orang pertama yang menyadari keberadaan Thomas dan Luna.
Malam ini Wanda berdandan begitu cantik, mengenakan pakaian merk Marks & Spencer seharga jutaan yang dibeli dengan uang Thomas.
"Eh, bukankah itu si miskin Thomas?" ucap Wanda dengan heran.
"Siapa?" Milan juga langsung melihat ke arah pandangan Wanda, ekspresinya seketika terlihat merendahkan.
Tentu saja Martin juga melihat Thomas, ekspresi canggung juga jelas terlihat di wajahnya, namun dia segera memasang ekspresi normal dengan cepat.
Hari ini dia mengatakan kepada Thomas kalau dia akan pergi dinas, namun malam ini malah bertemu di sini... ketahuan.
Kemunculan Martin di sini karena dia juga menerima undangan dari Tuan Chandra.
Nama lengkap Tuan Chandra adalah Ivan Chandra, dia adalah anak tunggal Direktur Bright Property, di usia yang begitu muda sudah begitu kaya, dan dia juga menjadi penerus tunggal Bright Property.
Sebulan yang lalu, Wanda dan temannya pergi jalan-jalan dan tanpa sengaja berkenalan dengan Ivan.
Kemudian, Ivan mulai mendekati Wanda yang cukup cantik dengan gencar. Dia tahu kalau Martin punya pengalaman berbisnis.
Kebetulan keluarganya juga sedang menjalankan bisnis properti akhir-akhir ini, dan sesuai dengan kemampuannya, dia merekomendasikan Martin untuk menjadi seorang penanggung jawab proyek kecil.
Martin goyah, dia ingin kembali bangkit dari kemiskinan. Dan itulah alasan kenapa Martin menyetujui pembatalan perjodohan ini.
Kedua keluarga tidak lagi seakrab dulu, mereka hanya memberi salam melalui sorot mata, lalu langsung saling mengabaikan.
Wanda tidak menyangka akan bertemu dengan Thomas di sini. Menurutnya Thomas tidak mungkin punya uang untuk makan di restoran mahal seperti ini.
Kalau bertemu di sini, itu artinya Thomas sengaja membuntuti keluarga mereka, tujuannya adalah untuk meminta penjelasan kepada ayahnya.
Sehingga begitu muncul pemikiran seperti ini, setelah Wanda pikir-pikir lagi, dia tidak bisa menahan dirinya lagi.
Meskipun setelah kejadian hari ini Martin menjelaskan hubungan perjodohan di antara kedua keluarga pada Ivan, namun dia sungguh merasa kesal dengan sikap Thomas yang tidak malu dan terus membuntuti seperti ini.
Sehingga Wanda hanya tersenyum dingin, dan langsung menghampirinya.
"Thomas, bukankah kita sudah membicarakannya dengan jelas, mau apa lagi kamu? Bisa-bisanya kamu membuntuti kami!" Wanda bertanya layaknya sedang mengintrogasi.