Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Hadiah Kecil Dari Kakek Chandi


Barbar!


Apa yang dikatakan Dimas sungguh barbar!


namun…


Kedengarannya cukup masuk akal juga.


Meskipun Thomas masih seorang pria miskin, dia tetap tidak punya kewajiban menjadi tempat pelampiasan Keluarga Ningrat berkali-kali.


Dan dia lebih tidak berkewajiban duduk diam ketika menghadapi Ivan yang sedang mempersulitnya.


Dia adalah Direktur Levian Group, cucu Chandi Levian.


Dan juga calon penerus Levian Group.


Bright Property milik Ivan memang menjadi salah satu perusahaan bisnis nomor satu di bidangnya.


Namun di hadapan calon penerus Levian Group, dia itu apa?


Cukup satu kata dari Thomas saja Bright Property bisa langsung mengumumkan kebangkrutannya.


Karena Thomas besar di keluarga yang sederhana, dia tidak pernah membayangkan ucapannya bisa menentukan nasib seseorang kedepannya.


Dan ucapan Dimas ini seolah memberinya pencerahan.


Betul sekali, dia naïf sekali!


Kalau tidak angkuh sedikit, tidak adil iya kan!


Sudah bertahun-tahun.


Sejak dia putus sekolah.


Yang dia hadapi setiap harinya setelah terbangun dipagi hari adalah tekanan hidup dan tatapan dingin orang sekitar.


Ada banyak hal yang dia abaikan.


Pertama kalinya dia melakukan hal yang angkuh adalah bertaruh dengan sales mobil itu ketika membeli mobil Range Rover.


Namun bagaimana akhirnya?


Dia memenangkan taruhan namun orang itu tidak menjilat sepatunya.


Kalau mengikuti apa yang Dimas katakan, seharusnya ketika itu dia memberi dua tamparan pada sales itu.


Lalu memintanya pergi dari hadapannya.


Kalau dia sedikit lebih arogan, dia bahkan bisa membuat pria itu kehilangan pekerjaan.


Levian Group bagaikan sebuah istana kerajaan yang menyelubungi bumi ini.


Semua orang, bahkan semut yang berada di sudut dinding harus tunduk padanya.


“Ok, Dimas, apa yang lu katakan benar! Jadi mulai sekarang gue gak akan menahan diri lagi!”


Thomas mengepalkan tangannya erat-erat, sorot matanya terlihat begitu tajam dan kejam.


“Hehe, baguslah kalau Tuan muda sudah paham, kalau begitu kita lanjut kemana sekarang?”


“Uhm, begini saja, antarkan bocah ini kembali ke kampus terlebih dahulu.”


Hal yang harus dibereskan, semua sudah beres.


Asalnya Thomas meminta Luna pergi dengannya karena berencana mengantarkan Luna kembali ke kampus setelah membantu orang Keluarga Ningrat.


Universitas Trijaya, dia juga pernah kuliah setengah semester di sana.


Itu juga kampus dimana Wanda kuliah.


Setelah Luna turun dari mobil, Dimas langsung pergi.


“Tuan muda, mau kembali ke villa sebentar gak, Tuan besar menyiapkan sebuah hadiah kecil untukmu.” Ucap Dimas secara tiba-tiba.


“Hadiah? Hadiah apa?”


Dimas tersenyum dengan penuh rahasia, lalu berkata, “Kamu akan tahu kalau sudah kembali ke sana.”


“Ok, ayo.”


Thomas dibuat penasaran, tidak disangka Chandi memberikannya hadiah, meskipun ini bukan hal yang tidak mungkin, namun Thomas tetap tidak ingin terlalu berharap.


Apalagi ini masih terlalu awal.


Sekarang dia tidak perlu lagi bekerja keras untuk makan tiga kali sehari, sehingga tidak ada tempat yang harus dia datangi.


Rasanya membosankan.


Dimas mengendarai mobil sampai ke villa, menekan tombol yang ada di kunci villa, pagarnya langsung terbuka dengan sendirinya.


“Ini baru hidup yang mewah!” Thomas menghela tanpa sadar, kehidupan seperti ini bahkan tidak pernah dia mimpikan dulunya.


“Dimas, mana hadiah yang lu bilang?”


Begitu mesin mobil dimatikan, Thomas langsung bertanya.


“Hmm, di sini.”


Dimas tersenyum tipis, lalu membawa Thomas ke garasi mobil.


Garasi villa ini dibangun di bagian basement, sebelumnya tidak ada apa pun di sini, begitu lampu dinyalakan, hanya ruangan basement yang luas dan kosong.


Thomas pernah masuk ke sini untuk melihat-lihat.


Namun kali ini dia mendapati ada dua gundukkan yang tertutup oleh kain.


Ternyata, Chandi memberikannya dua mobil.


“Anjaee, gila!” Thomas refleks mengumpat.


Kalau tahu dia tidak akan membeli mobil, sia-sia banget uang 4 miliarnya.


Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon Chandi.


“Hallo cucuku!”


Tetap suara yang menggelegar itu.


“Kamu memberikan dua buah mobil?” tanya Thomas.


“Hah, mobil?” pada saat ini Chandi baru ingat, lalu berkata, “Oh iya benar, aku dengar dari Dimas kamu membeli sebuah Range Rover, mobil itu sama sekali tidak aman dipakai, sehingga kakek menggantinya dengan dua mobil baru.”


Kalau bukan karena Thomas menelepon, Chandi sudah melupakan hal ini.


Hanya dua buah mobil saja, sama sekali tidak perlu dia perhatikan.


“Bukan begitu, aku hanya sendiri, bagaimana caranya memakai tiga mobil, bukankah aku masih punya satu mobil?”


Thomas sungguh speechless, meskipun punya uang juga gak begini kan ya nyawernya, mending beliin dua villa lagi, dijamin cuan!


Chandi berkata dengan santai, “Mobil kamu yang itu? Buang saja!”


Thomas, “……”


“Yang kecil itu kamu boleh membawanya jalan-jalan cari angin kalau lagi gak ada kerjaan, kalau yang gede kamu boleh suruh Dimas yang jadi supir saat bepergian.”


“Aku juga tidak tahu mobil apa yang disukai anak muda seperti kalian, sehingga asal membelikan dua mobil untukmu, ingat jangan bawa mobil terlalu cepat, 200 km/jam sudah cukup…”


“Hmm, baiklah kalau begitu.”


Thomas mematikan telepon dan langsung menghampiri mobil.


Chandi terlihat bingung, cucunya ini senang sekali mematikan teleponnya seperti ini.


Dia belum selesai bicara loh.


    ......


Thomas mendekat dan membuka kain penutup mobil yang kecil.


Detik berikutnya Thomas langsung membelalakkan matanya besar-besar.


Ini adalah sebuah mobil sport putih yang begitu trendy, di kedua sisinya ada motif garis hitam yang begitu keren.


Tentu saja sebelum membuka kain penutupnya Thomas sudah menduga ini mobil sport, namun melihat mobil ini dia sungguh tidak tahu mobil sport apa karena ini bukan brand yang awam.


“Dimas, ini, ini mobil apa?” Thomas tidak tahu harus memperlihatkan reaksi apa, dia hanya bisa membelalakkan mata dengan lebar.


“Tuan muda, ini adalah mobil sport Koenigsegg terbaru yang baru saja launching, namun Tuan besar sudah merequest mobil ini dilapisi dengan baja anti peluru, kacanya juga sudah diganti dengan bahan anti peluru.”


Kali ini mata Thomas membelalak lebih besar lagi, lidahnya sampai terasa kaku dan gagah saat bicara, “I, iii, iii, ini, ini berapa duit harganya?”


“Uhmm, mobil sport Koenigsegg adalah mobil sport termahal di dunia, harganya berkisar di angka 200 miliar, di seluruh dunia hanya ada 6 unit, namun kalau sudah dimodifikasi seperti ini mungkin bisa mencapai  240 miliaran, aku juga tidak tahu pasti angkanya, untuk detailnya kamu harus tanya pada Tuan besar.”


“Glekk……”


Astajim!!!


240 miliar bahkan anti peluru dong?


Thomas menelan ludahnya dan mengusap mobilnya dengan begitu hati-hati, perasaan terkejutnya sudah tidak bisa digambarkan lagi sekarang.


Awalnya dia ingin segera mencobanya, namun setelah dipikir-pikir, mobil yang besar ini belum dia buka, kira-kira ini mobil apa ya?


Dia membuka kain penutup satunya lagi dengan penuh penasaran, dan detik berikutnya dia berteriak lebih kaget lagi, “Alamak! Mobil apaan lagi ini?”


Body mobil hitam pekat dengan lekukan yang begitu jelas terlihat bagaikan terkena tebasan kapak, namun tetap terlihat begitu trendy dan elegan, dan yang paling penting adalah, mobil ini jauh lebih besar dari SUV yang ada pada umumnya.


Dimas lalu menjelaskan bagaikan agen property professional, “Tuan muda, tuan besar tahu kamu menyukai mobil SUV, sehingga membelikan mobil King Kalman ini, ini adalah type mobil yang paling tinggi mereka, bagian dalamnya di desain dengan permata dan emas murni, dia juga memiliki bahan anti peluru terbaik, kalau bukan bertemu dengan tank ukuran besar, sama sekali tidak ada yang bisa menembus mobil ini.”


Thomas, “……”


    ......


Setelah tercengang sesaat.


Thomas berjalan mendekat perlahan.


Dia menempelkan tubuhnya pada mobil, begitu lembut bagaikan sedang mengusap kekasihnya yang tercinta.


Dia sungguh cinta mati pada mobil ini!


    ......


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, “Hanya dua mobil saja, jangan lupa kamu itu penerus Levian Group.”


“Hee, kamu tidak paham, ini adalah impian semua cowok…” Thomas menghela nafas dengan puas, memasang wajah yang begitu terbuai.


Namun, gerakannya membatuk setelahnya.


Luna kan sudah kembali ke kampus, seharusnya tidak ada cewek lain di sini ya kan.


Dan suara wanita ini kenapa terdengar begitu… tidak asing?


Dia menoleh, dan sekali lagi terkejut sampai bola matanya nyaris jatuh.


“Kamu? Eh salah, kok kamu bisa ada di rumahku!”