Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 108


“Sudahlah Martin, sekarang hanya ada kita berdua, gak usah pura-pura sok baik.”


Gerakan Martin langsung terhenti, lalu membentak karena merasa dipermalukan, “Tom, apa maksudmu?”


“Hehe, apa maksud gue?”


Kedua tangan Thomas yang terikat dibelakang mengepal erat, dia menggerakkan energi murni dan menyentaknya dengan kuat, tali tambang plastik yang mengikat langsung hancur, dia pun bebas.


“Aaah… kau…” Martin terkejut sampai mundur dua langkah, dia tidak menyangka tenaga Thomas sekuat itu.


Thomas sudah sangat kecewa pada Martin, sehingga dia sama sekali berharap apapun lagi.


Kedua mata yang penuh dengan hasrat membunuh itu.


Sudah membuatnya benar-benar kecewa!


Thomas mengangkat kepalanya, lalu berkata dengan tenang, “Martin, lu pikir gue benar-benar gak bisa berbuat apapun sama lu, jadi kalau lu sekali dan sekali lagi menguji batas kesabaran gue?”


“Kamu, jangan kemari!” wajah Martin pucat pasi dan terus melangkah mundur.


“Memandang hubungan lu dan papa gue dulu, kali ini gue gak akan mempermasalahkannya.” Thomas menatap Martin dan berkata dengan serius, “Tidak perlu mengelak, tadi lu berniat membunuh gue, tetapi sepertinya lu gak tahu, kalau gue mau melakukan sesuatu sama lu, gak ada yang bisa membantu lu, termasuk orang yang ada di belakang lu itu… Bos Markus.”


“Tapi ini peringatan terakhir gue, ingat, yang terakhir.”


Thomas tidak ahli dalam mengancam, dia merasa dia berkata demikian sudah cukup untuk memperingatkan Martin.


Meskipun Martin masih tidak sadar juga, dia pasti akan menggunakan berbagai cara, meskipun harus mematahkan satu kakinya pun dia tidak akan keberatan.


Target Martin hari ini adalah dia, kalau besok-besok yang diincar olehnya ada keluarganya bagaimana?


Sekujur tubuh Martin gemetar, dia menatap Thomas yang pergi dengan tatapan mata tajam, dalam hatinya sudah dipenuhi oleh api kebencian yang membara.


Dia merasa dirinya sekali lagi direndahkan oleh Thomas, terutama tatapan yang begitu angkuh sepenuhnya melukai harga diri Martin.


“Thomas, dendam diantara kita, mulai hari ini tidak akan terhapuskan!” seruan penuh amarah menggema dalam hati Martin.


Dan pada saat bersamaan, Thomas tiba-tiba berhenti.


Sepertinya detik ini dia merasakan apa yang sedang dipikirkan Martin, dia menoleh dan bertanya, “Heh Martin, lu benci sama gue sampai setengah mati begitu, coba lu sebutin, ada dendam apa di antara kita?”


“Eeh…” Martin terkejut, mulutnya terbuka dan sama sekali tidak ada yang bisa dia katakan.


Thomas juga tidak menunggu jawabannya, dia langsung mengabaikan ucapan yang begitu tidak masuk diakal ini dan pergi tanpa menoleh.


Para preman yang berdiri di depan pabrik tua sama sekali tidak menghentikannya, mereka berkecimpung di dunia mafia, kalau otaknya tidak gesit pasti sudah mendekam.


Mereka semua bisa melihat, penculikan kali ini sangat ganjal, Kak Bon kabur dengan mencari alasan, Martin juga tidak bersuara, bagaimana mungkin mereka berani ikut campur?


Siapa yang menyangka Thomas tidak langsung pergi melainkan berjalan ke arah mereka.


“Mobil ini punya siapa?” Thomas menunjuk sebuah Benz yang diparkir di samping.


Pertanyaan yang begitu tiba-tiba membuat semua orang tercengang, kalau mau pergi ya pergi saja, apa maksudnya menanyakan ini?


Thomas mendekat dan melihat ke dalam lewat jendela mobil, melihat kuncinya masih ada disana, dia langsung berdiri tegak dan berkata: “Gue lagi buru-buru, mobil ini gue bawa dulu, kalian ambil di parkiran Tasty.”


Mereka semua membelalakkan mata dengan besar, entah karena terkejut oleh aura Thomas atau karena melihat Martin yang berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah yang begitu suram.


Kondisi yang begitu aneh ini membuat mereka semakin tidak berani berbuat gegabah.


Sampai lampu belakang Benz semakin menjauh dan terlihat seperti dua titik merah, Marton baru membentak, “Kenapa masih bengong disana! Balik!”


Alasan Thomas melakukan hal ini ada dua.


Pertama, dia memang sedang terburu-buru, sejak dia diculik sampai sekarang sudah menunggu hampir tiga jam.


Kedua, dia sedang memberi isyarat pada para preman ini, termasuk Martin juga Bos Markus yang misterius itu, hubungannya dengan Santo sangat baik, kalau ada yang mengincar Santo maka dia pasti akan turun tangan juga.


Ponselnya rusak karena perkelahian tadi, dia tidak bisa menghubungi Dimas, jadi hanya bisa segera pulang.


Kembali ke kota, Thomas pergi membeli handphone terlebih dahulu, setelah memarkir mobil di parkiran Tasty, dia langsung menelpon Dimas.


Mendengar Hans dan yang lainnya masih ada di sana, dia langsung naik lift ke lantai paling atas.


Dimas bahkan memberitahunya sebuah kabar, yaitu Jony dan Sutrisno Anggoro juga datang.


Dia berjalan masuk.


Di depan meja bundar yang besar itu ada Dimas, Jony, Sutrisno Anggoro, Freya.


Mengenai Hans dan yang lainnya, Sebastian, Luna, masih ada satu orang gadis berwajah sangat manis yang tidak dia kenal, mereka sedang mengobrolkan sesuatu di dekat meja pingpong.


Begitu melihat Thomas, mereka menyapa dan lanjut dengan keseruan mereka, jelas beberapa diantara mereka sudah mabuk.


“Ah, Tuan muda Thomas!”


Sutrisno langsung berdiri dan menyambut dengan wajah tersenyum


Dia berjabat tangan dengan Thomas lalu menggandengnya untuk duduk di dekatnya.


“Tuan muda Thomas, sudah setengah bulan tidak jumpa, kalau bukan karena saya dan Manager Jony bertemu dengan Nak Dimas, kami bahkan tidak tahu kamu ada di sini!”


Menghadapi keramahan Sutrisno, Thomas hanya tersenyum, “Pak kepala terlalu sungkan.”


Sebenarnya, dia tidak mahir dalam berbasa basi, namun Thomas tetap memiliki sedikit kesan baik terhadap Sutrisno.


Dan sebagian besar karena kejadian sebelumnya, Sutrisno maju dan membantunya di hadapan Ivan.


Sebenarnya mereka tidak akrab, namun karena merasa berjodoh, dan pernah membantunya, ini cukup membuat Thomas mengingatnya.


Pada saat ini Jony juga mendekat, dia mengangkat gelas sambil tersenyum, “Tuan muda Thomas, ayo mari, kita bersulang!”


Saat ini Jony terlihat begitu senang.


Bir yang ada di tangannya ini bukan untuk menjilat Thomas, namun karena dia sangat berterima kasih.


Karena berkenalan dengan Thomas, bisa dikatakan kariernya begitu lancar, selama setengah bulan ini dia mendapatkan banyak sokongan dari Sutrisno.


Kalau tidak ada hambatan, tidak lama lagi dia dan Sutrisno akan mendapatkan kenaikan jabatan.


Meskipun Thomas tidak terlalu suka minum bir, namun dia tidak ingin menolak niat baik Jony, dia mengangkat gelas untuk bersulang dengan Jony dan Sutrisno.


Dan pada saat ini, Hans dan yang lainnya menghampiri bersama dengan Luna.


“Kak! Aku ingin berdiskusi satu hal denganmu!”


Luna berlari ke arah Thomas dengan penuh semangat.


“Ada apa?” tanya Thomas dengan penasaran.


“Hm, begini, kami sudah sepakat, besok sudah mulai libur semester, kita akan pergi bersama, tempatnya juga sudah ditentukan, kita pergi ke Bali.


Mungkin karena minum terlalu banyak, kedua pipi Luna begitu merona.


Thomas berpikir, ini bukan hal yang besar, pada dasarnya cara menghilangkan stress paling baik adalah pergi jalan-jalan saat liburan kuliah, bahkan bisa menambah pengetahuan.


Dulu keuangan keluarga tidak mendukung, sekarang dia sudah mampu, tentu saja dia tidak ingin membuat Luna kecewa.


“Baiklah, bermain dan bersenang-senanglah.” ucap Thomas sambil tersenyum.


“Kak, kakak tidak ikut?” tanya Luna.


“Aku tetap di sini untuk menjaga…”


Thomas belum selesai bicara, Dimas yang di samping langsung memotong ucapannya, “Tuan muda, tante Silvia serahkan saja pada Tabib Haris, selagi ada dia tidak akan ada masalah.”


“Eh, kalau begitu…” Thomas menggaruk kepalanya.


Senang bermain adalah sifat semua akan muda, Thomas juga tidak terkecuali, sebenarnya ketika dia mendengar Luna akan pergi jalan-jalan, dia sempat tergerak.


Sekarang Dimas berkata demikian, membuatnya semakin galau.


“Ikutlah, Kak, aku sudah menelepon dan membicarakannya dengan mama, dia juga ingin kakak ikut, kalau tidak dia tidak akan merasa tenang.” ucap Luna.


“Baiklah kalau begitu, aku ikut.” akhirnya Thomas memutuskan.


Pada saat ini Dimas tersenyum, “Semua biaya perjalanan liburan kali ini Tuan muda kami yang akan membayarnya, besok jam 12, kita bertemu di bandara, akan ada pesawat pribadi yang mengantar jemput kalian.”


Thomas sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini, hanya saja ketika dia mendengar pesawat pribadi, membuatnya terkejut tanpa sadar, ini keren sekali.


Dan hingga sebesar ini dia belum pernah naik pesawat.


Begitu Dimas melontarkan ucapan ini, semua orang langsung begitu bersemangat, pesawat pribadi loh, siapa yang menyangka kalau Thomas juga punya pesawat pribadi.


“Hah, kalau bukan karena ada tugas, aku juga ingin sekali ikut!” Sutrisno menghela, setelahnya dia menarik gadis manis itu dan memperkenalkan, “Tuan muda Thomas, ini adalah putri bungsuku, Milka Anggoro, dia juga teman kuliah adikmu, kalau begitu mohon bantuanmu.”