
Kepala pelayan berdiri di samping majikannya, dan speaker handphone menyala. Sehingga kepala pelayan bisa mendengar semuanya dengan jelas.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, bocah ini benar-benar mirip dengan tuan besarnya. Sangat ketus!
Pak tua itu baru sadar setelah sesaat, dan berkata dengan bingung, ”Yanto, ada apa ini? Hasil labnya tidak salah kan?"
Tidak, dalam lembar hasil tes DNA dinyatakan kesamaan 99,9% dan itu sudah dipastikan."
Setelah pak tua itu terdiam sejenak, dia mengangguk dan berkata, "Sepertinya aku memang harus datang sendiri."
"Tuan muda selama ini hidup dalam kesulitan, dia juga penerus yang Anda tunjuk, sudah seharusnya Anda datang langsung untuk bertemu dengannya."
Thomas merasa terombang-ambing, pukulan yang diberikan Wanda terlalu besar.
Ternyata seorang wanita bisa gila harta sampai tahap seperti itu.
Tidak disangka ketika perasaan seorang wanita berubah, dia akan menjadi begitu tidak berperasaan.
Awalnya dia selalu memanggilnya Bebeb, tujuannya hanya untuk menipu uangnya, lalu menggunakan uangnya untuk mendekati pria kaya.
Dan pada akhirnya masih harus menerima hinaannya yang setajam pisau.
Apakah karena dia yang tidak mampu? Karena dia miskin? Thomas menerima kenyataan ini dengan pasrah.
Putus ya putus saja, namun Wanda malah mempermalukan dirinya dengan kejam, membuat harga dirinya yang terakhir juga ikut runtuh.
"Wanda Cendana, suatu hari nanti aku akan membuatmu menyesal!" Thomas ingin menyemangati dirinya dengan cara ini, namun pada akhirnya hanya membohongi diri sendiri.
Begitu memikirkan ini, dia langsung merasa begitu mengenaskan, bagaikan seekor ayam jantan yang kalah bertarung.
Tidak perlu jauh-jauh, ambil mobil sebagai contoh saja, hanya sebuah Ferrari berharga miliaran saja dia tidak tahu harus bekerja keras sampai kapan baru bisa membelinya?
Kembali ke area rumah susun di mana dia tinggal, Thomas mengunci motornya, lalu memasang alarm anti maling, kemudian naik ke lantai atas.
Bersama ibu asuh dan adiknya, mereka sekeluarga tinggal di lantai delapan rumah susun. Dan lantai teratas rumah susun ini adalah lantai delapan.
Rumah ini sudah mereka sewa beberapa tahun, Thomas bukan menyewa rumah ini karena pemandangannya indah, namun karena rumah di lantai ini harga sewanya sangat murah.
Kalau bukan karena ibunya bersikeras saat itu, mengatakan kalau tinggal di rumah yang lebih tinggi bisa sekalian berolahraga, sebenarnya dia rela membayar harga sewa yang sedikit lebih tinggi untuk menyewa rumah di lantai bawah.
Paling tidak ketika cuaca panas tidak perlu merasakan rumah yang panas bak oven, pada musim hujan tidak perlu kerepotan karena atap yang bocor.
Thomas berdiri di depan rumah, dia menarik nafas panjang, memasang wajah tersenyum. Dia tidak ingin membawa emosi apa pun pulang ke rumah.
Dia melihat jam, sudah pukul 18.30, seharusnya adiknya sudah tiba di rumah.
Dia ingin menjemputnya, namun dia tidak ingin teman sekolah adiknya tahu kalau dia memiliki seorang kakak yang payah, dia juga tidak ingin adiknya dipandang rendah oleh temannya.
Dia membuka pintu, masuk ke dalam rumah, pintu salah satu kamar juga terbuka di saat yang bersamaan.
"Kakak sudah pulang!" Sesosok gadis dengan rambut kuncir kuda keluar dari dalam kamar.
Alis yang tegas, mata yang indah, wajah oval dengan hidung mancung dan bibir mungil. Ini adalah adik Thomas yang bernama Luna Widjaja.
Dia bagaikan burung kecil di pagi hari yang melompat dengan begitu riang ke dalam pelukan Thomas.
"Loh? Di mana Kakak ipar?" tanya Luna sambil menoleh ke sekeliling.
"Dia sedang sibuk." ucapnya dengan singkat.
Mulai sekarang, dia tidak ingin melihat Wanda lagi, apalagi mendengar namanya.
"Wah, baju baru, ini pasti untuk Kakak ipar!"
Akhirnya Luna memperhatikan kantung belanja yang dijinjing oleh Thomas, tanpa sadar ada rasa iri di matanya.
Yang membuatnya iri bukan pemilik pakaian ini, tetapi hal lainnya.
Thomas merasa sangat kesal ketika mendengar ini, kalau saja dia lebih awal menyadari kalau Wanda adalah seorang wanita yang materialistis, mungkin kehidupan keluarga mereka tidak akan seberat ini.
"Bukan, ini Kakak belikan untukmu, coba pakai pas atau tidak, kalau tidak pas, besok akan Kakak tukar." Thomas tersenyum dan memutuskan untuk membuang semua topik tentang Wanda sejauh mungkin.
Luna membelalakkan matanya yang jernih, merasa begitu senang juga terkejut.
"Oh My God... Kak, Kakak tidak salah ingat tanggal bukan? Ulang tahunku masih beberapa bulan lagi!"
"Memangnya kalau tidak ulang tahun tidak boleh beli baju baru? Banyak omong."
"Astaga, ini tidak murah, sebaiknya kembalikan saja."
Begitu melihat harganya, Luna terkejut sampai refleks menarik lagi tangannya, beberapa setel baju ini totalnya 2 jutaan!
"Itu harga sebelum diskon, setelah diskon harganya hanya 1 juta, lagi pula sudah dibeli, pakai saja."
"Kalau begitu... beneran aku pakai ya?"
"...Hmm."
"Ada yang salah, kamu sedang mendapat rezeki nomplok?"
Rezeki nomplok? Dalam mimpi pun dia berharap bisa mendapatkan rezeki nomplok.
"...Tidak." Thomas merasa geram.
Kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Dan pemandangan ini juga dilihat oleh Silvia yang keluar dari dapur sambil membawa dua piring lauk, Silvia tidak berpikir terlalu jauh, walaupun dia rela dia berpikiran terlalu jauh mengenai mereka.
Anak yang begitu baik, seandainya bisa menjadi menantunya, bukan hanya pekerja keras, dia juga sangat bisa diandalkan.
Senyum menghiasi wajahnya yang pucat. "Tidak perlu meladeni anak yang tidak pernah dewasa itu, Nak, ayo makan."
Thomas menjawab singkat, lalu pergi ke dapur untuk mencuci tangan, ketika kembali ke meja makan dia membawa tiga buah piring, setelah menata ketiga piring baru duduk di meja makan."
"Nak, kamu pasti sudah lapan, makanlah banyakan." Silvia mengambilkan sepotong daging untuk Thomas.
"Terima kasih Ma, Mama juga makan." Thomas juga mengambilkan sepotong daging untuk Silvia.
Meskipun makanan mereka sederhana hanya sepiring sayur tumis daging dan lauk telur, namun terasa begitu hangat.
Luna keluar dengan pakaian barunya dan berputar beberapa kali dengan senang, dia tidak hentinya menanyakan pendapat mereka tentang baju yang dia kenakan.
"Kak, bagus tidak?"
"Ma, bagus tidak?"
Dan pada akhirnya dia duduk dengan puas di kursi makan.
Setelah makan malam, Thomas masuk kamarnya untuk beristirahat setelah mandi.
Sebelum tidur dia menelepon orang tua murid untuk meminta izin, dia sungguh merasa lelah, sama sekali tidak memiliki suasana hati untuk mengajar les.
Jam 6 pagi, Thomas bangun tepat waktu dan membersihkan diri, kebetulan Luna baru saja selesai membuat sarapan.
"Kak, kamu masih belum sarapan."
"Tidak perlu." Thomas ingin berangkat untuk mengantarkan paket lebih pagi.
Hari ini adalah hari Sabtu, dia berencana menemani adiknya jalan-jalan.
Beberapa tahun ini dia sudah banyak mengabaikannya, hanya karena ingin membantu Wanda...
Lagi pula uang yang dia berikan selama ini tidak mungkin kembali lagi, sehingga tidak ada gunanya dipikirkan.
Namun Thomas yakin, tanpa adanya beban ini, kehidupan keluarganya akan semakin membaik, dan dia sudah menjernihkan pikirannya semalam.
Di tengah komplek rumah susun ada banyak pohon tua, kecuali hari hujan atau angin kencang, setiap harinya ada beberapa orang tua yang duduk di kursi semen bawah pohon untuk bermain catur dan Thomas cukup akrab dengan mereka.
Pak tua yang bermata tajam langsung melihat Thomas dari kejauhan.
"Thom, selamat pagi!"
"Selamat pagi semuanya!" Thomas juga menyapanya sambil tersenyum.
Namun dia melihat dua orang pak tua yang tidak dia kenal terus melambaikan tangan ke arahnya.
Sepertinya mereka salah mengenali orang. Dia berjalan ke arah gerbang rumah susun.
Siapa yang menyangka kedua pak tua ini menghampirinya dan memanggil.
"Cu!"
"Cu, tunggu!"
Seorang pak tua yang berpakaian rapi melangkah dengan gagah, tongkat jati yang kokoh juga mengiringi langkahnya yang terburu-buru. Menimbulkan suara ketukan di setiap langkahnya.
"Pak, sepertinya kalian salah mengenali orang!"
Thomas yakin mereka berdua datang untuk menemuinya, karena di sana tidak ada orang lain selain dirinya.
Namun panggilan "Cu" ini terdengar familiar.
...Sepertinya pernah pernah mendengarnya disuatu tempat?
Mereka berdua mengamati dirinya seperti sedang mengamati makhluk aneh.
"Ckck, Tuan besar, lihat tidak?"
"Apa?"
"Tuan muda sungguh sangat mirip dengan Anda semasa muda, seperti dibuat dengan cetakan yang sama."
"Hehe... oh ya, pantas saja wajahnya terlihat tidak asing, keturunanku memang tidak salah."
Kedua pak tua ini mengamati dan mengomentari dengan asyik, hanya Thomas yang berdiri di sana dengan bingung.
Oh, dia tahu. Kedua pak tua ini mungkin kabur dari RSJ.
Sehingga Thomas mengambil ponselnya dan menghubungi nomor pelayanan umum.
"Halo, Rumah Sakit Sumber Waras? Apakah kalian kehilangan dua orang pasien?”
“Dua orang, iya benar..."
Thomas adalah pemuda baik yang berjiwa sosial tinggi.