Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 76 Jurus Pamungkas


Thomas langsung menoleh, kapan si Dimas datangnya, kenapa dia sudah ada di belakangnya.


Mendengar Jenika sudah pergi, dia langsung terdiam.


Setelah sesaat.


Thomas berkata, “Dimas, ada beberapa pertanyaan yang harus gue tanyakan sama elu.”


“Ada apa?”


“Gue mau lu berjanji, semua yang u jawab pasti jawaban yang sebenarnya.”


“Hm… tanya saja.”


Melihat Thomas yang bicara begitu serius, dia juga langsung menjadi serius.


“Jenika… apakah dia tidak pernah memandangku?”


Dimas tercengang, lalu terkekeh, “Tuan muda, aku merasa Anda berpikir terlalu banyak…”


“Gue cuma mau dengar jawaban iya atau gak.”


......


 “Iya.”


.....


Thomas: “…”


“Pertanyaan kedua, kenapa Jenika menyebutku sebagai manusia tidak berguna?”


“Ini…”


“Katakan!”


Rasanya Thomas sudah mau mengamuk, karena dari ekspresi Dimas, dia sudah tahu jawabannya, namun dia tetap ingin tahu kenapa.


“Ini… sebenarnya ceritanya panjang.” Dimas menghela nafas panjang, lalu mengalihkan topik pembicaraan, “Oh iya, sepertinya sudah waktunya menjemput Nona Luna.”


Thomas berkata dengan senyum dingin, “Meskipun tiga hari tiga malam juga tetap harus kamu jelaskan padaku!”


“Tuan muda, Tuan besar hanya ingin Anda meneruskan semua harta Keluarga Levian, hal lainnya sama sekali tidak akan bermanfaat untukmu jika tahu terlalu banyak.” Dimas berhenti bersikap santai dan berkata dengan serius.


“Tetapi ini keinginan gue sendiri, gue punya hak untuk tahu, iya kan?” ucap Thomas dengan tegas.


Dulu dia dipandang rendah oleh Wanda, ini sesuatu yang wajar, karena dia memang seorang pria miskin.


Dan sekarang dia sudah kaya, bahkan akan menjadi pria terkaya di dunia, namun dia masih diremehkan oleh seorang wanita, apakah ini masuk akal?


Thomas tidak mengerti, dia sungguh sudah tersulut oleh ucapan Jenika.


Orang sembarangan…


Orang tidak berguna…


Ucapan ini seolah mengatakan, di hadapan Jenika, Thomas hanya orang rendahan, dan hanya Jenika yang berada di ketinggian.


Tidak peduli sekuat apapun dia berjinjit, dia tidak akan bisa berdiri sejajar dengan Jenika.


Dia bisa melihat dari mata Jenika, yang ada dalam matanya hanya tatapan dingin bagaikan sedang melihat seekor semut.


Beberapa tahun ini Thomas sudah merasakan manis pahitnya sikap manusia, dan dia tidak pernah peduli dengan pandangan orang lain.


Namun kali ini berbeda, direndahkan oleh orang yang disuka, ini sungguh melukai Thomas, bahkan menimbulkan luka dalam yang begitu parah.


Dimas berpikir dengan sangat serius sejenak, dan pada akhirnya mengangguk.


“Tuan muda, nama keluargamu bukanlah Widjaja, melainkan Levian, kamu tahu akan hal ini bukan.”


“Gue tahu.”


“Tetapi aku yakin tuan muda sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Keluarga Levian.”


Dimas tersenyum lalu kembali bertanya, “Entah tuan muda masih ingat atau tidak, hari itu ketika aku melawan 16 orang seorang diri di depan gerbang Trijaya?”


“Ingat.”


“Apakah sangat keren?”


“… iya.”


“Ini adalah sebuah jurus pamungkas milik Keluarga Levian, Tapak Badai Daun.” Dimas menghela nafas panjang, sorot matanya juga menjadi tajam, “Sepertinya jati diriku yang sebenarnya sudah tidak bisa ditutupi lagi… jati diriku yang sebenarnya adalah anak di luar nikah dari Kepala Keluarga Lesmana, Dimas Lesmana, yang merupakan keluarga konglomerat terkaya urutan keempat di dunia, aku adalah generasi termuda juga salah satu petarung berbakat terkuat di dunia.”


“Aku menyetujui Tuan besar untuk berada di sampingmu, dengan imbalan melindungimu selama lima tahun, aku juga mengikat janji sumpah yang sangat berat, barulah berhasil menukar jurus ini dari tangan Tuan besar…”


Thomas: “…”


Sebagai seorang anak muda milenial, Thomas sama sekali tidak percaya hal seperti ini.


Cara Dimas membuat membuatnya teringat pada master kungfu yang sedang bersiap melawan atlet professional di atas ring.


Mengatakan seolah dia sama sekali tidak tertandingi, namun begitu maju jurus yang dikeluarkan malah jurus abal-abal.


Intinya Thomas sungguh merasa speechless.


Tiba-tiba dia teringat akan Haris Anggara, pak tua itu juga sangat aneh, kalau bukan karena dia punya ilmu pengobatan yang terbukti sangat hebat, dia pasti sudah mengusirnya sejak lama.


Setelah Dimas mengatakannya, dia melihat Thomas sama sekali tidak terkejut, itu membuatnya bingung, “Tuan muda, kenapa Anda tidak merespon?”


“Yang gue tanya itu kenapa Jenika menganggapku sebagai manusia tidak berguna, untuk apa mau menceritakan semua ini padaku?”


Pada dasarnya suasana hati Thomas sudah sangat buruk, ditambah lagi Dimas yang bicara sembarangan, meskipun dia orang yang sabar pun pasti kesabarannya sudah terkikis paling tidak 80%.


“Inilah kuncinya, Tuan muda tidak punya ilmu apapun, sehingga di mata Nona Jenika, yah sama dengan manusia tidak berguna…”


Ada tatapan iba dalam mata Thomas.


Ucapan ini membuat Thomas lebih tidak paham lagi.


Namun Dimas bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Thomas, dia berkata dengan santai, “Ada delapan clan tertinggi di Indonesia, dan silat adalah dasar keluarga mereka. Keluarga Levian menduduki kedudukan puncak klan ini, alasannya karena jurus pamungkas turun temurun dan juga ilmu tenaga dalam yang begitu murni milik Keluarga Levian, dan sampai saat ini menjadi satu-satunya kekuatan yang memimpin di dunia.”


Thomas: “…”


 “Kamu akan sulit memahaminya jika aku bicara seperti ini, begini saja, biar aku perlihatkan jurus tapak badai daun satu kali, aku yakin kamu akan lebih mengenal Keluarga Levian.” Dimas langsung melambaikan tangannya dan berkata dengan serius, “Tuan muda, menjauhlah sedikit, pukulan dan tendangan tidak punya mata, aku takut akan melukaimu.”


Thomas tetap memilih untuk mundur beberapa langkah.


Meskipun Thomas tidak percaya, namun dia pernah melihat Dimas melawan enam belas orang bersamaan.


Sehingga dia juga merasa penasaran.


Apakah di dunia ini memang benar-benar ada yang namanya ilmu silat?


“Perhatikan ya Tuan muda, jurus ini pada dasarnya tidak boleh diwariskan pada orang luar, namun karena Tuan besar Chandi memandang hubungan Keluarga Levian dan Keluarga Lesmana yang erat, ditambah lagi aku bersumpah di hadapannya untuk tidak menyebarkan ilmu ini pada orang luar, dia baru bersedia mengajariku. Dan jurus tapak badai daun ini kabarnya belum ada yang berhasil mencapai ilmu puncaknya selama hampir 300 tahun terakhir, bisa dikatakan jurus ini begitu dalam dan tidak bertepi!”


Dimas berkata dengan sangat serius.


Ini juga membuat pikiran Thomas yang liar terhenti, dia fokus memperhatikan Dimas yang menggerakkan kedua tangannya perlahan.


Memasang kuda-kuda dengan kedua tangan yang terulur ke depan.


Satu tangannya menghadap ke atas, satu tangan lainnya menghadap ke bawah.


Lalu…


Kedua tangannya bergabung dan mengepal.


“Huh, hah! Hmp, huh, haa~ hmp!”


......


Thomas tercengang.


Dimas berlatih seperti ini.


Dan gerakannya begitu lambar bagaikan siput, setiap pukulan yang dia keluarkan begitu datar.


Thomas berani bersumpah, para aki-aki yang berlatih poco-poco di alun-alun saja, gerakannya jauh lebih indah daripada gerakan Dimas.


Dan gerakannya ini juga dikombinasikan dengan seruan yang begitu kocak, Thomas merasa Dimas sungguh menguji IQ-nya.


Setelah satu set jurus, Dimas menarik nafas panjang dan menarik kembali kuda-kudanya.


“Dimas, ini jurus pamungkas yang kamu katakan?” Thomas berkata dengan wajah speechless.


“Benar, ini adalah jurus tapak badai daun yang menggemparkan langit dan bumi.” Dimas mengangguk dengan sangat yakin dan tegas, “Ketika aku memperlihatkan jurusku, itu hanya gerakan tanpa jiwa, karena aku tidak menggunakan tenaga dalam dalam setiap gerakanku, aku hanya ingin membuat Tuan muda melihat lebih jelas, gerakanku sudah kuperlambat berkali lipat.”


“Tetapi Tuan muda jangan sampai tertipu oleh penampilan luarnya, kalau jurus ini sampai benar-benar digunakan, bukan hanya akan menimbulkan gulungan angin tornado, dia bahkan seperti daun gugur yang tidak meninggalkan bekas, kelihatannya begitu ringan dan sederhana, namun kekuatannya mampu menghadapi puluhan ribu tentara, membelah lautan, sungguh tidak terkalahkan…”


“…”


“Bukan, Dimas, gue agak capek sekarang, lu anter gue pulang dulu, kita bicarakan hal lain kapan-kapan ya.”


Thomas mengibaskan tangannya dengan pasrah, dia memutuskan untuk mengakhiri lelucon ini.


Dia tidak berniat menyalahkan Dimas, menurutnya, mungkin Dimas melihatnya patah hati sehingga berniat membuat suasana hatinya membaik.


Dan efeknya bukan tidak ada sama sekali, efeknya sangat besar malahan.


Namun kalau dalam situasi lainnya, Thomas tetap merasa cukup kocak.


......


 “Tuan muda, apakah Anda tidak percaya?” tanya Dimas.


“Haih, bukannya gak percaya… intinya, gue udah terima niat baik lu, yuk kita jalan sekarang.”


Thomas menggeleng dengan tidak berdaya, lalu melangkah pergi.


......


 “Kamu jangan ngeyel, tadi itu karena kita berada di dalam kamar sehingga aku tidak bisa menggunakan kekuatanku, kekuatan tapak badai daun juga tidak bisa muncul, bagaimana kalau beri aku satu kesempatan untuk memperlihatkannya padamu sekali lagi…”


Teriak Dimas dari belakang.