Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Suami Istri Keluarga Ningrat


Thomas tidak berdaya pada jurus Wanda ini, sehingga dia hanya bisa menyetujui permintaan Wanda dan membawanya pulang.


Meskipun Thomas tidak tahu apa yang Wanda rencanakan, namun dia tetap memperingatkan, mengenai perubahannya akhir-akhir ini, tidak boleh mengungkitnya di hadapan Silvia sama sekali, karena ini akan memuci luapan emosi yang berbahaya.


Wanda sama sekali tidak memperdulikan semua itu, sehingga dia langsung mengiyakannya, yang dia pikirkan hanya bagaimana membuat Thomas menyetujuinya, lalu pergi menemui Santo Cendana pemilik Tasty untuk menyelesaikan masalah Keluarga Ningrat.


Dia sama sekali tidak menyangka, Ivan bisa mengincar Martin, kalau sampai terjadi sesuatu pada Keluarga Ningrat, membuatnya kehilangan sumber dana, maka kehidupannya pasti akan mengenaskan.


Thomas adalah satu-satunya harapan Keluarga Ningrat!


King Kalman terlalu arogan dan menonjol, Thomas hanya bisa berhenti di tengah jalan, meminta Dimas parkir di pinggir lalu naik taksi online.


Kembali ke komplek rumah susun, mereka berdua naik ke lantai 8, membuat Wanda kelelahan sampai terengah-engah.


Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak suka datang ke rumah Thomas, dia harus naik setinggi ini tanpa lift.


Namun ketika Thomas mengeluarkan kunci, Wanda tetap memperlihatkan senyum yang begitu ramah.


Masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah sama sekali tidak ada seorang pun, kamar Silvia malah tergantung papan ‘DON’T DISTURB’.


Thomas tahu, Harris datang lagi, dia sedang mengobati Silvia, sehingga Thomas membuat isyarat jangan bersuara pada Wanda.


Mereka berdua duduk di sofa.


Beberapa kali Wanda ingin bicara, namun baru membuka mulut, dia langsung menerima lirikan penuh peringatan dari Thomas.


Dia hanya bisa diam saja, namun hatinya terasa begitu panik.


Setelah 20 menit, pintu kamar Silvia terbuka, Harris berjalan keluar dengan keringat bercucuran.


Dia berjalan ke depan meja makan dengan acuh, lalu mengambil air dan meminumnya beberapa teguk.


“Eh! Thomas, dia , siapa dia?”


Reaksi Wanda yang pertama adalah terkejut, lalu melihat Silvia yang berjalan keluar dari dalam kamar juga.


Dia belum sempat berpikir liar, Thomas sudah menjelaskan, “Dia adalah dokter yang mengobati mama gue.”


Silvia juga melihat Wanda, dai sempat tercengang lalu tersenyum, “Ada Wanda, sudah makan?”


“Oh, Tante Silvia, aku belum makan nih!” Wanda tersadar dan segera memperlihatkan senyum yang begitu polos.


“Karena belum makan, ayo makan siang bareng.”


Setelah Silvia menjalani pengobatan beberapa hari, dia terlihat jauh lebih bersemangat, dia melihat sudah akan jam makan, sehingga meminta mereka mengobrol lebih dulu, lalu masuk ke dalam dapur untuk memasak.


“Tabib dewa Harris, bagaimana pemulihan ibuku?” tanya Thomas dengan suara pelan.


Harris mengusap keringat di keningnya lalu berkata dengan wajah serius, “Meskipun penyumbatan darah di pembuluh darah Nona Silvia sudah jauh lebih baik, namun tenaga dalam yang kugunakan berkhasiat generalisasi, tentunya tidak mungkin tidak bermanfaat, setelah menjalankan pengobatan beberapa hari ini, menyapu semua sumbatan yang ada di pembuluh darah Nona Silvia, pemulihan penyakitnya jauh lebih cepat dari yang kubayangkan, beberapa hari lagi dia akan pulih sepenuhnya.”


Thomas: “…”


Wanda teramat dan sangat terkejut.


Tabib tenaga dalam? Wanda tidak menyangka Thomas akan sebodoh ini, bisa-bisanya mencari seorang penipu untuk mengobati Silvia.


Namun Wanda sama sekali tidak ingin mengingatkannya, dia sama sekali tidak peduli, kalau sampai membuat Thomas tidak senang, maka semua rencananya akan hancur berantakan.


Yang terpenting sekarang adalah bagaimana membuat Thomas membantu kesulitan yang dihadapi Keluarga Ningrat.


Setelah Harris mengatakannya, dia menepuk pakaiannya lalu pergi, Thomas juga tidak menahannya, sifat Harris yang aneh bin ajaib sudah sering dia cicipi.


Sekitar setengah jam kemudian, Silvia sudah menyajikan tiga lauk di meja makan.


Ada telur tumis tomat, tumis sawi hijau, dan juga tumis daging sapi yang sengaja dibuatkan Silvia untuk Wanda.


Mereka bertiga baru saja duduk ingin makan, bel rumah berbunyi.


 “Ada tamu? Biar aku yang buka pintu!” Wanda yang sudah tidak sabar menunggu segera berdiri.


Thomas merasa aneh, mereka tinggal bertiga di sini, selain Harris sama sekali tidak ada orang yang akan datang.


“Pa, Ma, kenapa malah kalian?”


“Oh, Thomas, Silvia, kalian sedang makan siang?” Martin tersenyum, sudah tahu malah tanya.


Kali ini, Thomas dan Silvia mengkerutkan alis bersamaan.


Terutama Thomas, dia langsung paham kenapa Wanda ingin datang ke rumahnya, ternyata mereka bertiga sudah janjian.


“Ngapain kalian ke sini lagi, bukankah ucapan hari itu sudah sangat jelas? Mulai sekarang keluarga kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.”


Thomas tersenyum dingin, pertama mendarat di Wanda baru mengarah ke arah pasangan suami istri Keluarga Ningrat.


Ucapan yang begitu dingin, namun Martin sanggup mengabaikannya, dia berkata sambil tersenyum pada Silvia, “Silvia, aku tahu kondisi kesehatanmu kurang baik, aku dan Milan kembali membelikan suplemen…”


 “Iya, cuaca mulai panas lagi sekarang, aku sengaja membelikan mesin pembuat jus juga dua semangka, musim panas harus banyak minum jus buah.” Ucap Milan dengan wajah sumringah.


Melihat pemandangan ini, senyum dingin Thomas semakin lebar, sengaja mengabaikannya, lalu menjilat Silvia, jelas ada maunya ini!


Dia tidak bersuara lagi, hanya menonton dengan sikap dingin, ingin melihat pertunjukkan apa yang akan disuguhkan keluarga ini lagi.


“Kalau memang ingin datang, sering-sering saja mampir, buah tangan… gak tidak perlu.”


Ucap Silvia dengan senyum canggung, dia tahu keluarga ini datang bersama seperti ini pasti memiliki maksud dan tujuan tersembunyi.


Pertengkaran yang terjadi di depan Restoran Tasty sempat diceritakan oleh Luna, membuat Silvia semakin paham sifat keluarga ini, namun dia adalah kepala keluarga rumah ini, mengusir tamu adalah perbuatan tidak sopan, dan dia tidak sanggup melakukannya.


“Bicara apa sih, kita kan memang sekeluarga, membicarakan ini sungguh kelewat sungkan!” Martin tidak hentinya menggosok tangannya, dia memikirkan bagaimana cara memulai topik pembicaraan.


Namun Milan sama sekali tidak mempertimbangkan hal ini, dia diam-diam melirik Thomas, lalu mulai menghela nafas.


“Haih, Besan, karena kita sekeluarga aku tidak akan muter-muter, kutu beras dirumah kami ini, membuat masalah sudah!”


Alis Thomas langsung terangkat.


 “Masalah apa?” Silvia mengambil sepotong daging sapi dan meletakannya ke piring Wanda dengan santai.


Martin dan Milan yang melihat ini langsung merasa begitu senang, kelihatannya putri mereka memang hebat, dalam waktu yang begitu singkat langsung akrab dengan Silvia!


Bukankah ini artinya meminta bantuan Thomas adalah hal yang mudah?


“Eh, begini!” begitu Martin melihat kesempatan datang, dia segera menceritakan duduk perkara dan juga kejadiannya, “Belakangan ini aku menandatangani sebuah kontrak…”


“Jadi aku ingin meminta bantuan Thomas, memintanya memohon pada bos Tasty, mereka sangat akrab, mau bicara apa juga jauh lebih mudah iya kan.”


Setelah Martin mengatakannya, dia diam-diam melirik Thomas.


“Martin, aku rasa masalah sebesar ini Thomas tidak bisa membantumu, dia masih anak-anak, sebaiknya kamu mencari orang lain saja.” ucap Silvia dengan tenang.


Meskipun dia tidak tahu jelas apa hubungan Thomas dengan bos Tasty itu, namun masalah ini sangat besar, bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh Thomas.


Lagi pula, dia tidak mungkin menjerumuskan Thomas.


Milan yang melihat ini, sudah tidak sabar lagi dan berkata, “Besan, kamu jangan meremehkan kemampuan Thomas, dia cukup terpandang, dia pasti punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah ini!”


“Iya benar Silvia, aku sudah mencari tahu, hanya Thomas yang bisa membantu, kalau tidak aku pasti akan masuk penjara!”


Martin panik, dia berkata dengan wajah memelas, “Aku dipenjara tidak masalah, tapi bagaimana dengan Milan dan Wanda? Aku dan Tanto sudah menjadi sahabat selama puluhan tahun, apakah kamu tega membiarkan keluarga kami hancur begitu saja?”


 “Thom, ada apa ini?” Silvia juga menangkap ada yang tidak beres.


Ikut campur masalah kontrak kerjasama adalah hal yang sangat rumit, dan hanya Thomas yang sanggup membantu Martin, ini membuat Silvia bingung.


Di matanya, Thomas hanya karyawan kecil, seorang anak yang polos, tidak pernah membuat masalah, juga tidak pernah berhubungan dengan orang hebat atau terkenal di luar sana.


Sebagai seorang ibu rumah tangga biasa, dia sama sekali tidak mengetahui hal ini.


“Ma, ceritanya panjang… namun Thomas jamin tidak pernah melakukan hal yang melanggar hukum atau mencelakai orang lain.”


Diam-diam dia menghela nafas, kelihatannya membawa Wanda datang kerumah adalah keputusan yang salah besar, kali ini dia sungguh membuat masalah untuk dirinya sendiri.


“Baiklah, mama percaya sama kamu.” Silvia mengangguk, lalu berkata lagi, “Masalah ini mama tidak akan banyak komentar, kalau kamu merasa bisa membantu, bantulah, kalau kamu merasa tidak bisa, jangan memaksakan diri.”


“Eh, bukan gitu…” Martin baru ingin mengelak, namun dia langsung menerima tatapan mata Thomas yang begitu dingin.


Dalam hati mengumpat, kacau nih urusannya!