Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 105


Martin mengira dia salah lihat, dia menggosok matanya dan melihat lagi.


"Ternyata memang si Thomas brengsek itu!" Martin kembali emosi dan matanya penuh dengan kekejaman.


Anak haram Keluarga Widjaja inilah yang membuatnya nyaris mati di tangan Bos Markus.


Kalau bukan karena dia yang cekatan, mendapatkan perhatian Bos Markus, mungkin nyawanya sudah hilang sekarang!


Dan Martin sama sekali tidak lupa, Bos Markus sangat tertarik pada Thomas.


"Kalau bisa menangkap Thomas dan memberikannya kepada Bos Markus, bukankah gue akan jadi orang yang sangat berjasa? Tetapi sebelum itu, gue harus..."


Berpikir sampai sini, Martin tersenyum jahat.


"Thomas?"


Tatapan Bon mengarah keluar jendela, dan ternyata memang benar Thomas, lalu dia melirik Martin, dalam hati muncul sebuah rencana.


"Ketua, sekarang kita punya anak buah, asalkan Anda memberikan perintah, maka Thomas tidak akan bisa kabur." Ucap Bon dengan suara lirih.


Bon termasuk pemain lama, dia tidak berani mengusik Thomas lagi, paling utama Bos Markus belum memberi perintah secara resmi, karena status Thomas sungguh membuat orang tidak berani gegabah.


Namun ini tidak berarti dia tidak bisa memanfaatkan Martin untuk mengetes Thomas.


Begitu Martin mendengar  ini, dia semakin percaya diri, dengan adanya dukungan Bon, untuk apa takut pada Thomas?


"Panggil orang! Panggil orang untuk menculiknya!" Ucap Martin dengan penuh emosi.


Bon mengangguk lalu menelepon.


Setelah memberikan beberapa perintah singkat, kedelapan mobil Benz langsung berhenti di pinggir jalan.


Dua puluh delapan orang turun dari mobil, namun mereka sama sekali tidak menyerbu ke arah Martin dan Bon, melainkan beberapa orang yang memimpin di antara mereka memastikan perintah dengan melihat tatapan mata Bon terlebih dahulu. Mereka terbagi menjadi empat tim, dan perlahan mendekati Thomas dengan tenang.


Perkumpulan gelap, penculikan, hal-hal yang melanggar hukum, orang-orang ini adalah ahlinya.


Martin ikut dibelakang mereka dari jauh, dalam hati merasa cemas, namun tidak tahu harus melakukan apa baiknya, karena ini adalah pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini.


"Ketua, untuk hal lain Anda tidak perlu khawatir, mereka pasti akan menyelesaikannya dengan baik, siap-siap menonton pertunjukan saja."


Melihat kecemasan Martin, Bon langsung mengingatkan.


"Iya, betul, betul, gue tidak perlu cemas, setelah gue tangkep si anak haram itu, gue mesti patahin satu kakinya, biar dia tahu apa akibatnya nyinggung gue!" Martin menggosok kedua tangannya dengan sorot mata yang begitu penuh amarah.


Sorot mata Bon penuh dengan ekspresi sinis yang merendahkan, namun dalam sekejap mata, dia sudah menyembunyikannya dengan sempurna.


......dari villa sampai ke pusat kota berjarak 20 KM  lebih, kalau waktu Thomas belum berlatih Jurus Tapak Badai Daun, 10 km saja sudah cukup mengerikan.


Sejak dia membentuk fondasi, kondisi fisiknya mengalami peningkatan yang sangat pesat, terutama dua hari ini, seiring dengan energi murni yang terus bertambah, kekuatannya sudah jauh melampaui orang biasa.


Berlari sejauh ini, ada 6 meridian yang berhasil dia lancarkan, aliran energi murni juga menjadi jauh lebih aktif, paling tidak kecepatannya tidak selambat sebelumnya.


Thomas sudah paham, begitu energi murni memenuhi seluruh meridian dan urat syaraf, pada akhirnya dia akan berhenti, dan langkahnya akan terhenti sepenuhnya.


Satu-satunya cara, sebelum energi murni berhenti, dia harus mencapai tahap penyebrangan dasar terlebih dahulu, pada saat itu seluruh meridian dan juga peredaran darah sudah dilancarkan, dia tinggal mencoba untuk mencapai tahap mengubah energi murni menjadi cairan, membuat wadah energi berubah menjadi lautan energi.


Kemajuan latihan Thomas sungguh tidak masuk diakal bagi Dimas dan Haris, namun ada satu hal yang harus diakui, beberapa orang memang memiliki bakat yang berbeda sejak lahir, misalnya energi murninya yang bisa bergerak sendiri.


Bisa dikatakan Thomas adalah orang super jenius kedua didunia yang energi murninya mampu bergerak dengan sendiri selama ribuan tahun.


Dan dua alasan latihannya bisa berkembang cepat sampai begitu mengerikan adalah:


Satu, karena energi murni dalam meridiannya bergerak secara otomatis dalam 24 jam tanpa berhenti.


Dua, karena meridiannya yang sempit, sama sekali tidak bisa menerima energi murni yang terlalu banyak, seperti sebuah gelas kecil yang dituang sedikit air saja penuh, sementara orang lain seperti bak besar yang ingin diisi penuh butuh waktu sangat lama.


Namun energi murni yang bergerak sendiri adalah bakat alami, yang juga termasuk sesuatu yang ilegal, paling tidak jika dalam kondisi meridian mengeras seperti Thomas termasuk iya.


Biasanya, ketika sedang tidak berlatih atau tidak berolahraga, energi murni hanya akan tertampung di wadah energi, namun dia malah tidak bisa


Apalagi, tidak orang yg berlatih tenaga dalam yang bisa membuat energi murni memenuhi meridian seperti ini.


Tidak ada yang bisa menjamin energi murni yang memenuhi meridian seperti ini akan langsung meninggal karena meridian meledak.


Yaitu pada hari biasa, dia akan menuntun energi murni untuk menerobos beberapa urat nadi yang kecil secara teratur, dan setiap hari meluangkan waktu untuk lari teratur, dengan demikian dia akan bisa menerobos meridian utama.


Hanya dengan demikian baru tidak akan mengalami peredaran energi murni yang terhenti, perjalanan latihannya juga akan menjadi sedikit lebih jauh.


Thomas berpikir sambil berlari ke Tasty, larinya tidak cepat, dan yang utama ada hal yang bisa dipikirkan.


Haris pernah berkata, perjalanan latihan tenaga dalam tergantung pada personal masing-masing, orang lain tidak bisa membantu terlalu banyak.


Misalnya dalam sebuah clan bangsawan, ada belasan rangkaian jurus, bahkan ada beberapa rangkaian Jurus rahasia yang terpampang di hadapan mereka, para kolega malah bisa mencapai ribuan sampai puluhan ribu orang.


Sejauh mana pencapaiannya, semua tergantung pada kepekaan masing-masing.


"Aduh... Maaf."


"Eh, maaf."


Tiba-tiba Thomas tertabrak, dia refleks meminta maaf, ingin menghindar ke sisi lain malah menabrak satu orang lagi.


Ditabrak dan terdorong, meskipun tenaganya tidak kuat, namun tanpa sadar membuatnya terdesak ke dalam sebuah gang.


Saat itu, Thomas merasa ada yang janggal.


Dia mundur beberapa langkah lalu tersenyum sambil bertanya, "Apakah kalian salah orang?"


Dia diam-diam menghitung, ada belasan preman di sana, jelas terlihat kalau mereka memang mengincarnya.


Preman yang memimpin juga merasa heran, mungkin dia bukan orang yang sangat cerdik, "Bukankah kamu Thomas?"


Ketika preman ini lengah, Thomas tiba-tiba berbalik dan berlari ke belakang.


Namun dia baru berlari beberapa langkah sudah berhenti.


Karena di belakang Thomas juga ada belasan preman yang menyergap, membuat jalan di depan dan belakang terblokir.


Thomas menghentikan langkahnya, mengangkat kedua tangannya, membentuk gerakan awal  Tapak Badai Daun , lalu bertanya, "Siapa yang mengutus kalian?"


Dan yang menjawab malah suara tawa yang begitu ramai.


"Hahahaha, bocah ini, gue masih inget waktu itu dia juga memasang pose begini!"


Ucapan ini langsung mengingatkan Thomas, dia melihat preman itu dan merasa tidak asing.


Dia sontak paham, preman ini juga ikut serta dalam penculikan Wanda dan ayahnya, yang artinya mereka juga orang Ivan.


Memikirkan hal ini, seketika dirinya tegang. Sebenarnya dia sudah menduga, Ivan terluka begitu parah, hal ini tidak akan berlalu begitu saja.


Namun dia sudah berpesan pada Dimas, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Wanda, mengenai hal ini, Thomas bisa mempercayakannya pada Dimas.


Mungkin karena itulah sehingga mereka mencarinya.


Menghadapi preman sejumlah dua puluh orangan membuat Thomas merasa tidak percaya diri, meskipun dibandingkan dua hari lalu energi murninya sudah meningkat pesat, kepekaan terhadap Tapak Badai Daun juga meningkat banyak.


"Maju!"


Satu seruan dari preman itu, langsung ada empat orang preman yang maju dengan cepat.


Detik berikutnya.


"Aduh!"


"Aww!"


"Hngg!"


"Hmpp..."


Preman lainnya hanya membelalakkan matanya dengan bingung.


"Bah, lumayan juga rupanya?" Preman yang memimpin langsung tercengang, namun dia langsung bereaksi, dia mengibaskan tangannya dan berseru: "Maju! Kita lebih banyak!"