Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 77 Jurus Pamungkas(2)


Thomas sepenuhnya menganggap ucapan Dimas sebagai bercandaan.


Kalau di dunia ini benar-benar ada ilmu silat, maka semua orang tinggal menggunakan jurus meringankan tubuhnya untuk berjalan di dinding dan melayang kemana-mana, untuk apa ada mobil dan pesawat terbang?


Tiba-tiba Thomas menghentikan langkahnya.


Lalu menoleh ke arah Dimas.


“Dimas, apakah di villa ini ada ruang rahasia? Jenika pergi lewat mana?”


Dia bisa memastikan kalau Jenika sama sekali tidak berjalan keluar dari kamar. Villa ini adalah miliknya, dia punya hak untuk mengetahui semua seluk beluk rumah ini.


Dimas hanya menunjuk ke arah jendela.


......


 “Jangan bilang lu mau ngasih tahu gue kalau Jenika pakai ilmu meringankan tubuh lalu keluar dengan cara terbang?”


Dimas tersenyum, “Tuan muda memang sangat cerdas, sekali tebak langsung benar.”


“Baiklah, anggap aja gue gak tanya.”


......


Mereka berdua turun bersama.


Setelah mengunci pintu, berjalan keluar pekarangan.


Dimas tiba-tiba berhenti.


Thomas menoleh dan melihat Dimas kembali memasang kuda-kuda seperti tadi.


“Lu mau ngapain?”


“Tuan muda, ruangan tadi terbatas, sekarang aku akan membuatmu melihat dengan jelas, seberapa kuat kekuatan tapak badai daun yang sebenarnya!”


Setelah mengatakannya, Dimas langsung memulai atraksinya.


Mengenai hal ini, Thomas sama sekali tidak merasa tidak sabar, dia tahu Dimas merasa dia sedang banyak pikiran sehingga menggunakan berbagai macam cara untuk menyenangkan hatinya.


Apa yang disebut teman? inilah yang disebut teman!


Thomas tetap merasa sedikit terharu.


Dia sekali menjadi penonton yang menonton pertunjukkan.


Namun Thomas segera merasa pertunjukkan Dimas kali ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya.


Gerakannya jauh lebih gesit, terasa begitu lembut seperti air yang mengalir dan ringan bagaikan angin yang berhembus.


Yang pertama sudah berakhir, dia berhenti sejenak, lalu memulai yang kedua kalinya.


Thomas tidak menyuruhnya menghentikan gerakannya, dia merasa serangkaian gerakan ini membuat perasaan orang yang melihatnya terasa begitu lega.


Terasa seperti melayang di angin, dan rasanya seolah melayang di tengah kabut.


Angin sepoi berhembus perlahan, ditambah dengan apa yang dirasakan secara visual, membuat Thomas merasa sangat nyaman, tanpa sadar membuatnya terlena.


ketiga kali.


Thomas merasa dadanya mulai berat.


Karena begitu Dimas tiba pada fase pelepasan kekuatan, pasti akan berhenti secara tiba-tiba.


Dan ini akan memberikan sebuah ilusi yang terasa tidak menyenangkan.


Yang keempat kali.


Setiap gerakan dan juga jurus terasa bagaikan sungai yang begitu panjang dan deras, terus mengalir tanpa terkendali sampai ke hilir.


Yang kelima kali.


Bagaikan naga yang berenang dalam air dan melompat keluar dari lautan, namun juga seperti badai.


Yang keenam kali.


Seperti kembali menjadi angin sepoi, kaki dan tangan terangkat dengan kencang dan turun perlahan.


Yang ketujuh kali.


Jurusnya menyatu dan berpisah seolah semua adalah satu rangkaian yang sama, membuat orang yang melihat tidak bisa membedakan rangkaian jurus mana yang sedang digunakan oleh Dimas.


Bagaikan sedang menarikan sebuah tarian yang aneh.


Yang ke delapan kali.


Tubuh Dimas yang hampir mencapai 2 meter seolah berubah menjadi transparan, namun terasa bagaikan angin kencang yang pelan namun juga kuat tidak terkendali.


Membuat Thomas yang menontonnya merasa begitu bersemangat.


Yang ke sembilan kali.


Serangkaian gerakan yang diperlihatkan Dimas kembali menjadi datar, namun kalau dilihat secara teliti, lebih mirip seperti sebuah misteri yang sangat misterius.


Terakhir, Dimas mengambil kuda-kuda.


Asalkan dia berbalik, mendorong telapak tangan kanannya, menarik kembali langkahnya dan berdiri tegak, gerakan ini menunjukkan kalau rangkaian jurus yang dia perlihatkan sudah mencapai akhir.


Thomas baru berniat bertepuk tangan dan bersorai, namun pada saat ini Dimas menoleh dan berkata, “Tuan muda, lihatlah dengan jelas, apa itu tapak badai daun.”


Lalu.


Begitu Dimas menoleh, telapak tangan kanannya terlihat begitu ringan, namun juga terasa penuh dengan kekuatan, dia mengarahkan telapak tangannya ke arah tumpukan daun kering yang berjarak lima meter darinya.


Tepat pada saat ini angin yang begitu kuat berhembus dan menggulung.


Pohon yang tingginya dua meter lebih itu tiba-tiba dibuat mirip oleh angin yang datang secara tiba-tiba.


“Sraak~”


Daun dalam jumlah yang terhitung jumlahnya tergulung dalam angin dan melambung ke udara, di tengah udara membentuk tornado daun yang begitu tinggi.


Dan ditanah sama sekali tidak ada selembar daunpun yang tersisa, hanya meninggalkan batang pohon yang botak.


......


Dagunya bahkan hampir jatuh karena terkejut.


Apa yang ada di hadapannya ini sepenuhnya menumbangkan prinsip dan cara pandangnya.


Ini sungguh tidak ilmiah!


Dari mana datangnya angin ini?


Sekitar sini tidak terinstal kipas besar.


Setelah sesaat.


“Astaga, ini pasti trik sulap!” Thomas menelan ludah dan berkata.


Ini sudah jauh diluar nalar.


“Tuan muda, ini bukan trik sulap.”


Dimas tertawa, lalu mengarahkan tinjunya perlahan ke arah Thomas.


“huffth~”


Sebuah tenaga yang tidak kasat mata mendorong Thomas sampai mundur beberapa langkah, lalu karena tidak bisa menstabilkan langkahnya yang gontai, dia langsung terduduk di tanah.


“Oh Tuhan~! Dunia ini sungguh mengerikan!”


Thomas sangat terkejut, namun dalam matanya malah muncul sorot mata yang penuh dengan hasrat.


“Nona Jenika menyebutmu sebagai orang tidak berguna, itu karena Tuan muda belum memiliki kekuatan yang cukup, sementara Nona Jenika adalah generasi muda dari kedelapan clan tertinggi, dia berada di urutan ketiga anak muda berbakat!”


“Bagaimana denganmu? Lu urutan keberapa?” tanya Thomas.


Karena dia ingat Dimas sempat mengatakan kalau dia termasuk yang berbakat.


Dimas tersenyum dengan bangga dan berkata, “Aku? Aku adalah anak diluar nikah Keluarga Lesmana, kalau masuk dalam urutan, aku berada di urutan kedelapan.”


“… Dimas, jadi orang tuh harus rendah hati, lu, lu terlalu sombong.” Thomas berkata dengan nada menasehati.


Setelah berpikir sejenak, Thomas memutuskan untuk tidak pulang malam ini.


Dia menelpon Luna, memintanya memberitahu Silvia tentang rencana pindahan besok.


“Oh iya, yang tadi lu mainkan itu jurus apa?”


“Jurus tapak badai daun.”


“Hm, Jenika pernah mengatakan, pria yang berdiri di puncak kesuksesan dunia, jangan bilang yang dimaksud adalah pria yang ilmu silatnya paling hebat?” ucap Thomas dengan serius.


“Benar.”


Thomas perlahan mengangkat kepalanya sampai 45 derajat, kedua matanya menjadi begitu tajam, “Dimas, ajarkan tapan badai daun ini padaku, mulai hari ini, gue mau menjaga keselamatan seluruh umat manusia dan ketentraman umat manusia di dunia…”


......


“Kamu mau belajar? Boleh!” Dimas tertawa.


Thomas begitu bersemangat dan tidak sabar untuk mencobanya, dia berkata, “Baiklah, kita mulai dari mana?”


“Uhm, ini tidak terlalu sulit, kamu cukup hafalkan gerakan yang tadi kulakukan, lalu aku akan menurunkan tenaga dalam murni untukmu…”


“Gua sudah hafal.”


“Ckck, Tuan muda memang seorang pesilat berbakat yang sangat langka.” Dimas memuji dan mengangkat ibu jarinya.


“Bisa gak berhenti menjilat, lu udah peragain sebanyak sepuluh kali, mana mungkin gue gak ingat?”


......


 “Uhm, baiklah, karena persyaratan ini sudah berhasil dipenuhi, kita mulai dari tenaga dalam murni.” Ucap Dimas sambil mengangguk.


Thomas mengangguk dengan bersemangat dan berkata, “Baiklah, katakan.”


“Katakan? Katakan apa?” tanya Dimas dengan wajah bingung.


“Bukannya lu mau ngajarin gue tenaga dalam murni?”


“Iya.”


“Yaudah lu bacain, nanti gue rekam terus gue dengerin pelan-pelan.”


Thomas berkata sambil mengeluarkan ponselnya.


“Tunggu dulu, kamu pikir kita lagi syuting?”


“Loh, bukannya di film kayak begitu?”


Kali ini gantian Thomas yang merasa heran, sebenarnya dia juga tidak mengerti.


Dimas tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Tuan muda, berlatih tenaga dalam murni itu bukan menghafal mantra, kita masuk ke dalam dulu, nanti kamu akan mengerti.”


Dengan perasaan penasaran dan rasa ingin tahu yang dalam, Thomas mengikuti Dimas berjalan masuk ke dalam villa.


Setelah dijelaskan panjang lebar oleh Dimas, dia baru tahu kalau yang diperankan di film-film itu sungguh berbeda dengan kenyataan.


Ingin melatih tenaga dalam murni dengan baik, sama sekali tidak bisa menggunakan mantra.


Berdasarkan apa yang Dimas katakan, dia harus mengumpulkan tenaga dalam yang ada dalam tubuhnya dan memusatkannya, setelah melewati meridian Thomas, tenaga dalam disalurkan mengikuti jalur tenaga dalam murni.


Sampai Thomas benar-benar hafal jalur aliran tenaga dalam, Dimas baru akan meninggalkan tenaga dalam murni di pusat energi Thomas.


Sampai disini, proses pembentukan tenaga dalam murni baru dianggap selesai.


Setelah penyaluran energi berhasil, pemula harus mentransfer energi murni itu untuk digunakan dalam tubuhnya, melatih dengan keras dan  konsisten, dengan demikian tenaga dalam murni yang dia miliki baru bisa menjadi semakin kuat hari ke hari.


Dimas berkata, “Tuan muda, ini juga merupakan pembentukan dasar yang diturunkan di dunia persilatan.”


“Nanti aku akan menyalurkan energi murni ke dalam tubuhmu, aku akan melancarkan seluruh meridian terkait, sisanya tergantung latihanmu sendiri.”