Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 96 Kalung Yang Hilang


“Iya, aku yang pakai.” jawab Thomas dengan lugu.


Winda terkejut, membuatnya refleks mengamati Thomas yang mengenakan baju murah dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Orang yang kaya dan berkuasa, termasuk para tuan muda kaya yang setiap harinya berfoya-foya, tidak ada satupun yang tidak dia kenal.


Sementara Thomas, dia sama sekali tidak pernah melihatnya.


Orang yang mampu menggunakan ruang VVIP 1 Tasty, meskipun tidak harus punya status yang tinggi, namun paling tidak harus punya kemampuan finansial yang menjanjikan.


Sekali makan lebih dari 400 juta, meskipun keluarga miliarder juga tidak akan mampu menanggungnya.


Dan satu poin lainnya adalah, Tasty mengumumkan bahwa ruang VVIP 1 sudah tidak dibuka untuk umum lagi…


Winda tahu, apa maksud tidak buka untuk umum.


Untuk kalangan sendiri, tentu saja boleh.


Oleh karena itu, Winda semakin penasaran pada status Thomas yang sebenarnya.


“Kamu bukan orang Jakarta?” tanya Winda lagi.


“Tidak mirip ya?” Thomas memegang wajahnya dan menjawab dengan yakin, “Aku ini orang Jakarta tulen.”


Wajah Winda langsung merona begitu menatap Thomas.


Ketika Winda ingin bertanya lagi, lift sudah berhenti, dia hanya bisa berjalan keluar lobi bersama Thomas.


Posisi kalung jatuh kebetulan ada disekitar pintu lobby Tasty.


Dan angin lantai 30 begitu kencang, jaraknya dari tanah lebih dari 100 meter, membuat lokasi pencarian semakin luas.


Ditambah lagi ini merupakan tempat dimana banyak orang lalu lalang, ingin mencari sebuah kalung adalah hal yang hampir tidak mungkin.


Meskipun Winda sangat menyayangkan, namun dia sudah tidak berharap.


Namun, Thomas masih menunduk dan mencari dengan sabar, Winda hanya bisa ikut dibelakangnya.


“Thom… mas, sepertinya kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”


“Tidak pernah.”


“Kamu  itu tamu VIP Tasty?”


“Entahlah, sepertinya bukan.” Thomas menggeleng, namun matanya tidak pernah lepas dari jalanan.


“Oh iya… malam ini aku ingin memesan ruang VVIP, ruang VVIP 1 sudah tidak dibuka untuk umum, bagaimana kamu bisa mendapatkannya?”


Pantas saja Winda bertanya begitu banyak.


Beberapa tahun berkecimpung dalam dunia bisnis, Winda paham akan satu hal, informasi yang akurat selamanya adalah nomor 1.


Dan status Thomas benar-benar membuatnya sangat penasaran.


“Aku pernah minum beberapa kali dengan bos Tasty, karena dia senang, jadi dia memberikan ruang VVIP 1 khusus untukku.”


“Maksudmu Santo Cendana?”


“Hm.”


......


Ucapan yang begitu biasa, namun membuat perasaan Winda bergejolak.


Siapa Santo Cendana?


Sepertinya semua orang kenal, namun tidak semua orang tahu dirinya yang sebenarnya.


10 tahun yang lalu, dia muncul dengan tiba-tiba, dua tahun kemudian, Tasty resmi beroperasi.


Asal tahu saja, membuka sebuah hotel tidak semudah membuka restoran, dia membangun di sana, selain para pebisnis yang memandangmu, juga membutuhkan koneksi yang sangat kuat.


Pebisnis kaya dan orang terkenal tidak hadir, sudah pasti ada banyak orang yang menunggunya malu dengan sorot mata dingin dan sinis.


Namun pada saat peresmian, tamu memenuhi Hotel dan Restoran Tasty.


Tamu yang datang semuanya bukan orang dalam kota, melainkan orang terkenal di luar kota, oleh karena itu mereka mengadakan pesta kelas atas selama tiga hari.


Hal ini sontak menarik perhatian orang, ada pebisnis luar yang mencoba memesan room dengan niat ingin mencari tahu namun malah mendapat kabar dalam tiga hari tidak menerima tamu umum.


Tiga hari setelahnya, ada lagi orang yang datang ingin memesan room, dan sejak saat itu semua dimulai, selama 8 tahun ini, hampir setiap malam ruang VIP sampai VVIP tasty dipenuhi pengunjung.


Dan diantaranya ada banyak orang luar kota yang misterius.


Yang paling penting,makan di Tasty, begitu Santo yang masuk melayani secara langsung, akan langsung bisa mendapatkan informasi yang diinginkan!


Sejak saat itu, pebisnis dan juga orang terkenal dari mancanegara begitu tertarik pada Tasty.


Bagaikan dua pesaing bisnis, begitu mendengar ada yang makan ke tempat ini, tidak peduli pada apapun yang terjadi, dia juga harus datang ke Tasty satu kali.


Ini terdengar sangat berlebihan, justru karena demikian, Hotel dan Restoran Tasty bisa menjadi semakin misterius.


Sekarang, yang didengar oleh Winda, tamu yang bisa menggunakan ruang VVIP 1 mulai dari sekarang adalah Thomas!


......


Saat ini Thomas sudah berkeliling satu putaran, namun tidak menemukan apapun, setelah dipikir-pikir, dia menoleh dan bertanya, “Kalung itu…”


“Kalung? Itu adalah peninggalan ibuku, kalau gak ketemu ya sudah.”


Winda tersadar dari lamunannya dan tersenyum dengan berat, tetapi kedua matanya tetap melihat ke sekeliling, sorot mata yang begitu kekecewaan terasa begitu jelas di matanya.


Itu adalah rasa kenangan terakhir ibunya.


“......”


“Kalau begitu sebaiknya dicari lagi aja.” Thomas menggaruk kepalanya dengan bingung, lalu kembali melanjutkan pencarian.


Awalnya Thomas berpikir kalau sampai benar-benar tidak ketemu, paling-paling dia belikan lagi yang baru untuk Winda.


Namun ketika dia tahu kalung itu adalah peninggalan ibu Winda, dia langsung tahu itu akan menjadi perkara sulit, kalau sampai tidak ketemu, dia akan sangat bersalah.


Waktu perlahan berlalu, Thomas mencari sekali lagi, namun tetap tidak menemukan apapun, membuatnya panik sampai menggaruk.


Winda melihat Thomas seperti itu, entah kenapa merasa lucu, dan pada saat bersamaan, lubuk hatinya yang paling dalam juga merasa tersentuh.


“Gawat, jangan-jangan kalungnya beneran dipungut orang?”


Thomas berdiri di bawah titik kalung itu jatuh, dia mengangkat kepala ke atas lalu berbalik, dan matanya refleks menyisir sebatang pohon yang ada dibelakangnya,


Entah apa nama pohon ini, tingginya mencapai belasan meter, agak mirip pohon natal yang ada di luar negri, tinggi dan juga tegak.


dia mundur belasan langkah sambil melihat ke atas, tiba-tiba matanya langsung berbinar.


“Winda, lihat, itu kalungmu bukan?” Thomas menunjuk dengan senang.


Winda mengangkat kepala dan melihat ke arah yang di tunjuk Thomas.


“Sepertinya… iya!”


Di atas dahan pohon yang jaraknya sekitar 8 sampai 9 meter ada sebuah benda yang berkilau, tentu saja kalau tidak melihat ke atas tidak akan menyadarinya.


Orang yang lalu lalang di jalanan tidak mungkin mengangkat kepala tanpa sebab, meskipun ada, begitu menemukan kalung itu, mereka tidak ada sengaja memanjat pohon untuk melihat itu benda apa.


“Baiklah, biar aku ambilkan!”


Setelah mengatakannya, dia langsung bergerak, Thomas melepaskan sepatu ketsnya, lalu bersiap memanjat pohon untuk mengambilkan kalung Winda di atas pohon.


“Tunggu dulu, terlalu tinggi, bahaya!” Winda segera menarik Thomas.


Namun dia segera menyadari ini tidak pantas, sehingga segera melepaskan tangannya.


“Tidak apa-apa, ketika kecil aku suka manjat pohon kok.”


Thomas tersenyum sambil memanjat dengan ahli.


“Hati-hati!” Winda tidak lupa mengingatkan.


Melihat Thomas yang memanjat pohon, dia juga ikut merasa cemas.


Baginya memanjat pohon adalah sesuatu yang sulit dibayangkan, itu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh pakarnya.


Thomas naik ke dahan dimana kalung itu berada dengan cepat lalu mengambilnya.


Kalung ini terbuat dari puluhan kristal putih yang berbentuk diamond, sangat biasa, sama sekali tidak terlalu berkilau.


Namun Thomas tahu, seberapa penting kalung ini bagi Winda.


Saat ini dua juga merasa lega, kalau tidak dia sungguh tidak tahu harus bagaimana menghadapi Winda.


Dia memasukkan kalung ke dalam sakunya lalu memanjat turun, karena dahan pohon bukanlah tempat yang bagus, terlalu lama disana, kalau sampai ada polisi yang datang meramaikan suasana akan gawat.


Ketika dia memanjat turun tidak sampai setengah jalan, tiba-tiba dia teringat pada Jenika yang melompat dari ketinggian belasan meter.


“Eh, gue kan punya energi murni juga, lagipula ini gak terlalu tinggi, gimana kalau dicoba?”


Begitu berniat seperti ini, Thomas langsung tergerak.


Terbang ke sana kemari, pada dasarnya hanya ada di dunia novel silat, ketika Thomas masih SMP, dia sempat begitu begitu kegandrungan selama satu dua tahun.


Namun bagi Thomas sekarang, ini sudah bukan hanya khayalan, melainkan sesuatu yang nyata.


Dengan perasaan ingin coba-coba, sebenarnya Thomas sendiri juga tidak berpikir terlalu banyak, dia meningkatkan pergerakan energi murni dalam tubuhnya dan langsung melompat.


Dan di saat bersamaan Winda juga ikut menjerit.