Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 79 Ketamakan


Angin sepoi yang berhembus perlahan.


Membuat dahan pohon bergerak mengikuti hembusan angin.


Sehelai daun secara kebetulan jatuh dari rantingnya dan jatuh ke tanah.


Thomas menghembuskan nafas panjang lalu berdiri dengan tegak.


“Ternyata gue memang orang yang sangat berbakat, baru pertama kali latihan saja sudah berhasil menjatuhkan selembar daun dari ranting.”


Thomas berkata dengan suara tegas yang dibuat-buat dan ekspresi yang begitu senang.


“Tuan muda, menggunakan tenaga dalam baru akan bisa dilakukan kalau sudah mencapai tingkat tertinggi ilmu silat, ini hanya kebetulan.”


“Dimas Lesmana, kalau lu gak menjatuhkan gue sekali aja rasanya badan lu gak nyaman ya?”


Wajah Thomas merona, lalu berkata, “Gue mau balik ke kamar buat latihan, jangan ganggu gue.”


Setelah mengatakannya, Thomas langsung berjalan masuk ke dalam villa.


Bagi Thomas yang merupakan orang zaman modern.


Pembicaraan mengenai tenaga dalam murni terlalu mengejutkan!


Lagipula, tenaga dalam tidak akan bisa dilatih secara alami tanpa bantuan guru pembimbing.


Pantas saja ada pepatah yang mengatakan guru adalah orang tua diluar sana.


Dalam hal tertentu, ini bisa menjadi sebuah ungkapan yang tiada duanya.


Thomas merasa sangat penasaran, dan rasa penasaran ini serasa tidak ada habisnya.


Dia ingin sekali mencari tahu sampai jelas, sebenarnya ada apa dengan energi murni ini.


Tentu saja ini karena dia adalah pemula yang baru saja menginjakkan kakinya di dunia persilatan.


Dia sama sekali tidak paham teori di dalamnya.


Yang bisa Thomas lakukan hanya terus memainkan energi murni dalam tubuhnya, membuatnya terus mengalir dalam meridiannya, merasakan sesuatu yang baru seperti ini sungguh menyenangkan!


Dia berbaring diatas ranjang dan mengendalikan energi murni ini dengan tenang.


Membiarkan kesejukan setipis helaian rambut mengelilingi tubuhnya.


Dan pada saat bersamaan menghirup aroma harum yang ditinggalkan Jenika di atas ranjang.


Ini membuat tekadnya semakin kuat.


Thomas sudah memutuskan, dia harus menjadi pria sukses yang berdiri di puncak dunia.


Dengan demikian dia bisa membuktikan pada Jenika bahwa dia bukan manusia tidak berguna yang dia katakan!


Energi murni itu, semakin mengalir semakin cepat.


Thomas merasa bahwa energi murni ini seperti menyatu dengan pikiran yang dia miliki.


Kalau sampai Dimas mengetahui apa yang sedang dialami Thomas saat ini, mungkin dia akan sangat terkejut, ingin mencapai tingkat ini, kalau belum mencapai puncak tertinggi ilmu silat, ini adalah hal yang mustahil terjadi!


Namun, tanpa keajaiban, Thomas yang memiliki meridian sempit layaknya manusia biasa, selamanya tidak akan mungkin mencapai level ini.


Setelah dua jam berlalu, Thomas merasa agak bosan.


Seperti seorang supir yang senang mengendarai mobil, tidak hentinya berputar di jalan yang sama.


Thomas memilih mengabaikannya, karena dia juga sudah mengantuk, dan ketika dia menghentikan pikirannya, energi murni itu seolah tidak berniat untuk berhenti, dia terus beredar di dalam meridian Thomas.


“Si imut ini sungguh pandai menikmati kebebasan rupanya!”


Thomas tidak mengerti apa yang terjadi, dia menghela dengan wajah sumringah, lalu terlelap tidak lama setelahnya.


......


Handphone berdering, Thoma terbangun dari tidurnya.


Dai langsung mengamati dirinya, mendapati kalau energi murni ini masih terus bekerja seolah tidak kenal lelah.


Dan yang membuat Thomas terkejut adalah energi murni ini seolah menjadi sedikit lebih besar.


Thomas turun dari ranjang dan berjalan ke samping jendela, dia merenggangkan pinggangnya lalu menjulurkan kepalanya untuk melihat keluar jendela.


Bisa dipastikan Jenika memang tidak lewat pintu, ingin meninggalkan kamar ini hanya ada satu jalan, yaitu melompat dari jendela.


Setelah berpikir sejenak, dia langsung mengurungkan niat untuk melompat.


Kalau sampai dia lumpuh, bukankah masa depannya sudah tidak ada artinya lagi.


Setelah selesai mandi, dia menelpon Luna.


“Kak, aku dan mama sedang di pusat perbelanjaan untuk membeli sprei dan juga perlengkapan rumah untuk mama, kakak tidak perlu menjemputku, nanti aku kesana naik taksi saja.”


“Baiklah, oh iya, barang yang ada di rumah, selain barang penting tidak perlu dibawa, aku sudah mentransfer uang 2 miliar, belilah apa yang perlu kamu beli.”


“… hah? Gak perlu! Aku dan mama masih ada sedikit uang simpanan, pakai uang ini saja cukup.”


“Haiz, udah jangan bawel, oh iya, sekalian beli peralatan masak.”


Setelah mengingatkan, Thomas langsung mengirimkan uang 2 miliar untuk Luna.


Sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan apa yang akan dimakan.


Thomas berpikir sejenak, setelahnya dia berjalan ke ruang tamu yang ada di lantai dua, lalu berjalan ke balkon lantai dua.


Saat ini, Dimas sedang melatih jurus tapak badai daun.


Sama seperti kemarin sore, dia berlatih dengan gerakan yang datar.


Dimas juga merasakan keberadaan Thomas, tanpa menghentikan gerakannya, dia berkata,”Tuan muda, hari biasa juga tetap harus berlatih dengan keras, dengan demikian akan mempercepat pemahaman intisari jurus yang dimiliki, dengan demikian kemajuan tenaga dalammu juga jurusmu akan semakin pesat, juga bisa membuat energi murni menguat dan memperluas aliran.”


“Ternyata masih ada trik seperti ini?”


Thomas terpancing dan ikut turun ke pekarangan, lalu berlatih bersama dengan Dimas.


Sampai jam 8 pagi, mereka berdua baru berhenti.


Dimas menyarankan untuk jogging menuruni bukit untuk sarapan.


Thomas sama sekali tidak menolak saran ini, dia juga sudah merasa lapar sejak tadi.


Setelah meninggalkan villa, mereka berdua berlari menuruni bukit, di perjalanan Dimas sengaja memberikan penjelasan pada Thomas, isinya terkait masalah yang mungkin Thomas hadapi dalam melatih tenaga dalam murni.


Dari pertengahan bukit sampai ke kaki gunung berjarak sekitar lima kilometer.


Namun Dimas mendapati kalau Thomas terus berlari menuruni bukit, namun sama sekali tidak melihatnya terengah sedikit pun, ini membuat Dimas merasa sangat penasaran.


Mereka memilih sebuah tempat sarapan lalu memesan semangkuk bubur.


Dimas bertanya dengan penasaran, “Tuan muda, boleh aku lihat tanganmu?”


“Hm?” Thomas sungguh tidak paham.


“Aku hanya ingin memeriksa bagaimana kondisi tubuhmu.”


Setelah dijelaskan, Thomas mengulurkan tangannya.


Dimas meletakkan tangannya di atas tangan Thomas, dan detik berikutnya dia berseru terkejut, lalu berkata, “Ini tidak mungkin!”


 “Apanya yang tidak mungkin?” tanya Thomas dengan bingung.


“Tuan muda, apakah dari tadi kamu terus menggerakkan energi alami dalam tubuhmu?” tanya Dimas bertanya dengan wajah kebingungan.


“Tidak, apakah adalah masalah?”


Kali ini Thomas benar-benar kebingungan.


Begitu Dimas melihat ini, dia merasa ucapan Thomas tidak seperti bohongan, karena pantangan terbesar ketika menggerakkan energi murni adalah pikiran yang tidak terpusat, apalagi Thomas masih pemula.


“Tidak masuk akal! Energi murni dalam dirimu masih terus bergerak, ada apa ini?”


Thomas juga takut dalam masalah, sehingga dia berkata dengan hati-hati, “Semalam gue berlatih energi murni selama dua sampai tiga jam lamanya, setelahnya dia berjalan otomatis…”


Dimas: “…”


Ekspresi Thomas langsung berubah, “Apakah sangat parah? Gue gak tahu cara bikin dia berhenti…”


Dimas: “…”


......


Dua hari ini Martin menang banyak!


Awalnya dia berpura-pura bodoh dan mengajak Ivan untuk menandatangani dua kontrak baru.


Begitu selesai, dia langsung pergi ke dinas terkait untuk melaporkan Bright Property dengan tuntutan penipuan.


Ivan sama sekali tidak menyangka Martin akan menjebaknya.


Namun Ivan sama sekali tidak panik hanya karena ini.


Ini bukan kali pertama Bright Property mengalami hal ini, dan pada akhirnya semua bisa diselesaikan.


Sehingga Ivan segera menyiapkan rencana untuk menangkis Martin, dia ingin membuat tuntutan Martin berakhir nihil.


Meskipun dua hari ini Ivan tidak menghubungi Wanda, dan Wanda juga sama sekali tidak menghubunginya lagi, dalam hati dia tahu pasti kalau hubungan mereka berdua sudah tidak ada harapan lagi.


Namun Martin masih berada dalam genggamannya.


Sehingga Wanda juga tidak mungkin bisa lepas dari cengkramannya.


Namun dia segera menyadari kalau perkembangan masalah ini sudah di luar kendalinya.


Website yang memiliki kerjasama dengan Bright Property sama sekali tidak bisa mengatasi ketiga kontrak ini!


Kalau ini diteruskan, tanpa perlu dibayangkan pun sisi gelap Bright Property akan segera tersibak.


Seluruh perusahaan akan diseret ke pengadilan oleh Martin!


Ivan tahu masalah ini sudah menjadi gawat, dan dia menyadari ada yang tidak beres.


Ketika dia hendak menelpon ayahnya untuk meminta bantuan, Martin sudah menelponnya terlebih dahulu.


Dan dia dengan begitu berani memeras Bright Property sebesar 2 triliun!