Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Tidak Tahu Balas Budi


Wanda berbalik, melihat Thomas dan Luna yang mendekat dengan senyum dingin.


Dia merasa heran, bagaimana mungkin Ivan meninggalkannya tanpa memedulikannya, bagaimana Thomas bisa begitu berbaik hati menolongnya?


Ternyata itu karena dia mendengar kabar, sehingga datang untuk berakting bersama dengan Santo.


Santo menerima tekanan dari Ivan, dia juga tidak ingin melepaskan orang begitu saja, sehingga memberitahu Thomas untuk datang “menebus”.


Santo bisa membuktikan kalau dia bukannya takut pada Ivan.


Kalau tidak, Ivan akan membawa orang datang ke Restoran Tasty, dan Santo sudah pasti akan dalam masalah!


Ketika Wanda sedang bergumul, Thomas sudah membawa Luna ke hadapan Martin dan istrinya.


Thomas mengerutkan alisnya, dia tidak menyangka Ivan masih punya muka datang ke sini.


Dan Thomas melihat Wanda yang kembali mesra dengan Ivan, hanya bisa menghela nafas, wanita ini sungguh realistis, ketika masih ada di dalam restoran begitu ramah padanya. Begitu keluar langsung berubah drastis.


“Hehe, Thomas, aku sungguh tidak menyangka kamu orang seperti itu, sepertinya aku terlalu meremehkan kelicikanmu.” Ucap Wanda dengan dingin.


Mendengar ucapan ini Luna langsung emosi.


Sejak awal dia sudah tidak setuju Thomas menebusnya, sekarang lihat bukan, dalam waktu sekejap langsung menjadi seperti ini.


Niat baik tapi tidak mendapatkan balasan yang baik!


“Wanda, sejak awal aku sudah tahu kalian adalah orang yang tidak tahu berterima kasih, tidak tahu balas budi, aku menyadari kalau aku sudah meremehkan seberapa rendahnya kalian.”


“Hehe, oh ya? Kami tidak tahu balas budi?” senyum Wanda dengan dingin, lalu berkata, “Thomas, aku tanya dengan jujur, apakah Santo membocorkan informasi, memintamu datang menolongku lebih awal daripada ivan, sehingga kalian bisa bekerja sama dengan Santo untuk berakting?”


“Kalau bukan Tuan muda Ivan tiba lebih awal, mungkin kami akan terus dibohongi, Thomas, aku terlalu meremehkanmu!”


Thomas melirik Ivan, dia langsung paham kalau ini adalah trik ivan.


“Ivan, kalau begitu menolong Wanda keluar adalah jasamu?” tanya Luna, lalu berkata, “Kamu belum bayar bukan? Kamu masih berhutang 20 miliar pada Bos Santo! Kalau begitu, bagaimana kalau kita tanya pada Bos Santo untuk memastikannya?”


 “Memastikannya? Apa yang perlu dipastikan?” begitu Ivan mendengarnya langsung tertawa.


Dia sudah menyiapkan jawaban untuk menangkis hal ini.


Meskipun dia sempat tertarik pada Luna, namun pada saat seperti ini, dia tidak boleh sampai ketahuan, meskipun meninggalkan kesan buruk untuk sementara.


“Santo dan kakakmu adalah komplotan, apa yang perlu dipastikan? Lagipula, jelas-jelas ruang VVIP 1 adalah ruang yang dipesan kakakmu, dia malah sengaja bersekongkol dengan Santo untuk menjebakku, sengaja tidak memberitahu harga ketiga botol wine itu, ingin membuatku rugi besar, 20 miliar itu hutang kakakmu, bukan aku.”


“Kau, kau, kau!”


Luna dibuat kesal sampai tidak bisa berkata-kata, kalau ingin bersilat lidah, dia hanya seorang mahasiswa tahun pertama, anak kecil yang belum terlatih, bagaimana mungkin menjadi tandingan Ivan.


“Ivan, sejak awal aku sudah tahu kalau kamu itu tidak tahu malu, namun aku tidak menyangka kamu bisa setidak malu ini.”


Thomas tersenyum dingin, dia melihat kearah ketiga anggota Keluarga Ningrat dan juga Ivan, dia tahu kali ini dia buta lagi.


Kalau dia tidak membantu, mungkin tidak akan ada kejadian seperti ini, juga tidak akan berhutang budi yang sulit untuk dibayar pada Santo.


Ivan ini sungguh hebat, bisa-bisanya memikirkan cara licik seperti ini.


Dia sangat marah, namun sama sekali tidak memiliki bukti untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.


Ivan mengatakan kalau dia berkomplot dengan Santo, jurus ini sungguh kejam, bahkan kesempatan terakhir untuk menjelaskan pun sudah dia tebas.


“Aku sudah membantu, karena kalian berpikir demikian, aku bisa apa?” ucap Thomas dengan datar.


Wanda marah besar, “Omong kosong! Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu! Mulai hari ini, kamu jangan pernah berhubungan dengan keluarga kami lagi! Pergi! Sana pergi yang jauh!”


“Thomas, aku sungguh tidak menyangka, kamu bisa melakukan hal yang begitu rendahan, kamu tidak merasa malu, tapi aku merasa malu untuk ayahmu!”


Dalam tatapan mata Martin penuh dengan amarah, dai hampir saja dikelabui oleh Thomas.


Thomas mengetatkan bibirnya dan tersenyum.


Amarah yang ada dalam dirinya entah kenapa seperti menguap secara tiba-tiba.


Dengan orang seperti ini, apakah perlu dijelaskan?


Meskipun sebelumnya dia tidak hentinya mengingatkan dirinya untuk jangan berhubungan dengan keluarga ini lagi.


Namun pada akhirnya dia tetap melunak.


Setelah kondisi kesehatan ibunya sudah stabil, dia pasti akan mengumumkan statusnya aslinya dengan berani.


Dan pada saat itu dia akan mempublikasikan villa yang dia terima.


Meskipun Wanda pada saat itu sudah menjadi orang kaya ataupun nyonya besar, mereka tetap akan berada di dua dunia yang berbeda.


Thomas menggandeng tangan Luna, lalu berkata sambil mengangguk, “Hm, baiklah, karena sudah selesai bicaranya, kami pergi dulu. Mulai hari ini, hinaan yang kalian berikan padaku, akan kuingat dengan baik. Mulai detik ini kedua keluarga kita juga sudah tidak ada hubungan apapun lagi, tidak akan berhubungan sampai akhir hayat.”


“Hari ini, aku akan mengingat semuanya di sini, dan mohon kalian juga mengingat ini.”


Setelah mengatakannya, Thomas menarik Luna yang masih tidak ingin melepaskan mereka untuk pergi dari sana.


Dimas sudah menunggu lama di atas Range Rover.


Begitu kedua kakak beradik itu naik ke atas mobil, mobil langsung melaju pergi.


Ivan hanya tersenyum.


Mobil Range Rover ini jauh lebih mahal daripada Ferrari miliknya, dia sedang berpikir, apakah nanti dia perlu membujuk ibunya untuk mengambil uang yang lebih banyak dari rekening ayahnya, lalu memintanya membelikan mobil yang jauh lebih mahal dari Range Rover.


Dan belakangan ini dia naksir sebuah mobil sport, merupakan tipe mobil yang begitu keren dan menarik perhatian.


Ivan mendengus, lalu berbalik dan berkata pada Martin sambil tersenyum, “Paman, ayo kita makan dulu ke restoran, sekalian membicarakan tentang proyek kita, beberapa hari ini aku sudah menyiapkan semuanya.


Di dalam mobil, Luna kesal sampai hampir mengepulkan asap.


Thomas hanya bisa menenangkannya dengan sabar, dia sangat paham bagaimana sifat Luna, asalkan bisa membuatnya senang, maka semua akan baik-baik saja.


Sementara Dimas malah dengan polosnya bertanya apa yang terjadi.


Kali ini Luna berhasil mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan amarahnya, dia langsung bercerita pada Dimas seberapa keterlaluannya Keluarga Ningrat, seberapa tidak malunya Ivan.


Semakin mengatakannya, Luna semakin kesal, rasanya ingin sekali menyuruh Dimas segera putar balik untuk memakin mereka semua habis-habisan.


Dimas hanya tersenyum, dia tidak langsung mengantarkan mereka pulang, melainkan membawa mereka berkeliling di sekitar sana.


Dia berharap dengan cara ini bisa membuat kedua kakak beradik ini tidak kesal lagi.


Dia terus berputar sambil mendengarkan Luna bicara sampai selesai.


Dimas tertawa dan berkata, “Tuan muda, ada hal yang tidak tahu boleh aku katakan atau tidak.”


Thomas menganggap Dimas sebagai teman, meskipun secara nyata Dimas memanggilnya dengan panggilan yang berbeda sekarang, namun dia tidak merasa status Dimas menjadi lebih rendah dari orang lain.


“Tuan muda, kamu adalah calon penerus pasti Levian Group, dan bisa dikatakan tidak banyak orang yang berani menyuruh-nyuruhmu. Sehingga maksudku, sebenarnya Tuan muda tidak perlu menyusahkan diri sendiri, apa yang ingin dilakukan, maka lakukanlah.” Dimas sepertinya teringat sesuatu, sehingga senyumnya semakin lebar, “Kalau tidak sedikit lebih sombong, rasanya kurang afdol.”


Luna berpikir lagi, apa yang dikatakan Dimas sangat masuk akal, dia juga tidak tahan melihat Thomas direndahkan seperti itu.


“Dimas, aku mau tanya, kalau bertemu dengan situasi seperti tadi, apa yang akan kamu lakukan?”


“Uhm, ini, bukankah ini sangat gampang.” Dimas tersenyum, lalu berkata, “Kalau tidak senang melihat Ivan, tampar saja dia supaya dia bisa mengingatnya dengan baik, kalau masih belum puas, Tuan muda hanya cukup mengatakan satu kata saja, maka Bright Property akan langsung lenyap keesokan harinya.”