Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Gak Tahu Malu Banget


Pandangan mata ketiga anggota Keluarga Ningrat langsung tertuju ke arah Thomas.


“Ah, Thomas, bisakah kamu membantu Om? Kamu juga sudah tahu bagaimana kejadiannya, sebenarnya masalah ini tidak sulit bagimu, iya kan?”


Milan juga berkata dengan senyum yang dipaksakan, “Iya, Thomas, memandang hubungan di antara kedua keluarga yang sudah bertahun-tahun lamanya, dan Wanda juga calon istrimu…”


Pada saat ini, Wanda juga memeluk lengan Thomas dan berkata dengan suara manja, “Thomas, bantulah papa, aku mohon padamu ya?”


Thomas mendorong tangan Wanda dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, lalu dia menatap mereka bertiga dengan senyum dingin.


“Atas dasar apa gue mesti ngebantu kalian?”


Ucapan ini langsung membuat ketiga orang ini tercengang.


“Thomas, kamu jangan bicara seperti ini, bagaimanapun kita ini sekeluarga ya kan? Kalau kamu masih merasa tidak senang dengan masalah pembatalan perjodohan yang dulu, aku bisa langsung menyobek surat itu sekarang juga!” ucap Milan dengan wajah tersenyum, lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya.


Thomas mengangkat alisnya, namun sudah terlambat untuk membuka suara.


Hanya dalam hitungan detik, Milan sudah mencabik kertas itu hingga berkeping-keping.


Suasana seketika menjadi begitu tegang.


Thomas berkata dengan senyum dingin, “Milan, gak ada gunanya lu sobek tuh surat perjanjian, gue masih punya satu, sana cari orang lain untuk membantumu.”


Dulu, yang meminta untuk membatalkan perjodohan adalah Milan, sekarang yang menyobek surat itu juga Milan.


Sebelumnya kedua suami istri ini datang meminta bantuannya, dan akibatnya Thomas harus berhutang budi pada Santo sebesar 32 miliar, namun balasannya malah hinaan yang begitu kejam.


Semua ini masih Thomas ingat dengan sangat baik.


Bukan masalah dia bisa membantu atau tidak, meskipun dia bisa membantu juga, apa hubungannya dengan dia?


Keluarga Ningrat adalah sekelompok orang yang tidak tahu berterima kasih!


Tentu saja ini tidak ingin Thomas katakan di hadapan Silvia.


“Thomas, kamu jangan begitu, kami yang salah, Om mohon, bantu Om sekali lagi ya…”


Martin melihat Thomas sudah bertekad tidak membantu mereka, membayangkan kehidupan di dalam penjara, dia sudah ketakutan sampai wajahnya pucat pasi, sekujur tubuhnya mulai gemetar.


“Thomas, kamu lihat orang tuaku sudah mengakui kesalahan mereka, bantulah kali ini, ya?”


Wanda sekali lagi memeluk lengan Thomas dan memohon dengan suara memelas.


“Lepas! Hubungan kita sepertinya tidak seakrab ini.” Thomas melepaskan tangan Wanda dengan kasar, lalu tersenyum dingin dan berdiri, “Jawabku untuk kalian adalah, aku tidak akan membantu, dan kalian sudah selesai bicara kan? Kalau sudah selesai bicara silakan keluar!”


Sementara Silvia, dia hanya makan dengan tenang.


Sebenarnya dia sudah tahu bagaimana sifat pasangan suami istri ini.


Kalau ingin diusut, sepuluh tahun lalu Martin menggendong Wanda untuk menemui Tanto, memanfaatkan alkohol untuk mengikat pertunangan ini… dan Martin ketika itu sudah diambang kebangkrutan.


Sehingga keesokan harinya, setelah pertunangan ini ditentukan, Martin langsung meminjam uang Tanto dalam jumlah banyak untuk menutupi kerugian bisnisnya.


“Thomas, kalau kamu tidak menyetujui permintaan Om… kalau begitu begitu Om akan berlutut di sini!”


Begitu Martin mengatakannya, dia benar-benar berlutut di lantai.


“Thomas, aku juga berlutut padamu!”


Milan juga ikut berlutut.


“Thomas! Orang tuaku sudah memohon padamu seperti ini, apakah kamu benar-benar begitu tega, sama sekali tidak mau membantu keluarga kami?” Wanda berkata dengan mata berkaca-kaca, terlihat begitu kasihan.


Milan diam-diam melirik Thomas, melihat ekspresi wajahnya tidak banyak berubah, dia langsung membulatkan tekad, “Thomas, kalau kamu tidak mau membantu, maka kami tidak akan pergi, kami akan berlutut sampai kamu setuju!”


......


Thomas tidak menyangka Milan akan menggunakan trik yang begitu sadis.


Pasangan suami istri Keluarga Ningrat berlutut.


Jelas mereka ingin memaksa.


Dia bisa saja mengusir mereka, namun kalau mereka sampai berlutut di depan pintu, apa yang akan dipikirkan oleh para tetangga?


Kalau sampai ada yang bertanya dan mereka menambahkan cerita, mungkin mereka akan menjadi gunjingan.


Dia sendiri tidak takut, namun lidah manusia itu sangat beracun, Silvia dan Luna sering keluar masuk, dan itu akan membuat mereka merasa kesulitan.


Ekspresi wajah Thomas terlihat sangat buruk.


Dia tersenyum dingin.


Dan pada akhirnya menyerah.


Dia sudah begitu banyak membantu keluarga ini, membantu sekali lagi tidak akan merugikannya, dan semua ini dia lakukan karena memandang Silvia.


Beberapa hari lagi, ketika kondisi kesehatan Silvia sudah pulih sepenuhnya, dia akan mengajak Silvia dan Luna pindah ke villa, dan putus hubungan dengan keluarga ini sepenuhnya.


Kalau sampai berani datang dan mencari masalah, bukankah dia masih punya Dimas? Usir saja mereka semua.


“Gue pernah melihat orang yang tidak tahu malu, tetapi gak pernah lihat yang tidak tahu malu seperti kalian…” Thomas menghela nafas panjang.


“Thomas, perhatikan ucapanmu.” Silvia mengingatkan.


Meskipun dia juga merasa begitu, namun ada ucapan yang akan berbeda saat dikatakan, ini akan membuat orang menyimpan dendam.


“Haa~? Ah~ benarkah? Kamu memutuskan untuk membantu?” Martin agak tidak percaya dengan telinganya.


“Thomas, benar-benar terima kasih!”


Milan merasa sangat senang, ternyata jurusnya memang manjur, memaksa dengan air mata memang tidak pernah meleset!


Thomas masih muda, mana mungkin sanggup melawannya!


Senior tetap senior!


“Thomas, aku juga ingin berterima kasih!”


Wanda begitu senang sampai kedua pipinya merona merah, dia langsung memeluk Thomas dan mencium pipinya.


“Menurut gue, sebaiknya jaga sikap lu.”


Thomas mengusap pipinya, membayangkan Wanda dan Ivan juga sering begini, membuatnya langsung merasa jijik.


“Pergilah, lakukan apa yang perlu kalian lakukan.” Ucap Thomas sambil mengibaskan tangannya dengan kesal.


Milan baru memapah Martin untuk berdiri.


Begitu mendengar Thomas meminta mereka pergi, dia langsung panik lagi.


Iya, Thomas memang sudah setuju, namun bagaimana kalau dia menyesal setelah mereka pergi?


Mengingat hal ini, Milan langsung memberi isyarat pada Martin.


“Thomas, untuk sementara kami tidak pulang, lebih baik kami menunggu saja di sini, begitu sudah waktunya, kita pergi bersama, gimana?”


“Gak bisa! Mama gue butuh istirahat!” Thomas langsung menolak tanpa pikir panjang.


Pada saat ini Silvia berkata, “Thom, karena Milan ingin tetap di sini biarkanlah, beberapa hari ini aku merasa jauh lebih segar, tidak masalah tidak siang atau tidak, lagi pula aku sungguh merasa bosan, butuh teman mengobrol.”


Dia hanya berpikir, karena pasangan suami istri ini ingin tetap berada di sini, maka ini akan memudahkan dia mencari tahu dan mengobrol apa saja yang terjadi pada Thomas akhir-akhir ini. dia bisa melihat Thomas tidak ingin menceritakannya, sehingga dia hanya bisa menggunakan cara ini untuk mencari tahu.


Meskipun Thomas anak asuhnya, namun selama ini Silvia dan suaminya yang sudah meninggal selalu menganggap Thomas seperti anak kandung mereka.


Orang tua mana yang tidak perhatian pada anak mereka.


Begitu Thomas mendengar Silvia membuka suara, dia hanya bisa menyetujui, “Baiklah, Ma, kalian mengobrollah, aku kembali ke kamar untuk tidur dulu.”


Setelah mengatakannya, dia berbalik dan kembali ke kamar, setelah itu mengunci pintunya agar Wanda tidak masuk.


Sebenarnya dia merasa ini kurang baik, sudah beberapa kali meminta bantuan Santo.


Berdasarkan sifatnya, meskipun dia mati kelaparan, dia akan mencari cara sendiri dan tidak akan memohon pada orang lain dengan semudah itu.


Dia berpikir sejenak lalu tertidur.


Sampai terdengar suara ketukan pintu, dia baru bangun.


“Kak, buka pintu! Buka pintu!”


Itu suara Luna.


Tiba-tiba dia ingat, Luna mengatakan padanya malam ini dia akan mengajak Freya makan malam di rumah dan akan membawanya menemui Silvia…


Seketika Thomas panik.


Kalau bukan karena diganggu oleh orang Keluarga Ningrat, bagaimana mungkin dia melupakan hal yang begitu penting.


Dia berani bersumpah, semalam dia sama sekali tidak melakukan apa pun pada Freya!


Thomas membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa, namun mendapati hanya ada Luna di depan kamarnya.


“Hehe, Dek, Freya… dimana?” Thomas tersenyum dengan malu, lalu bertanya dengan suara pelan.


Dia ketiduran sampai lupa menjemput Luna.


“Kak Freya mengatakan dia akan pergi membeli sedikit buah tangan untuk mama, dia akan segera tiba, malah aku ingin bertanya padamu, ada apa ini? kenapa mereka bisa ada di rumah kita?” nada bicara Luna terdengar begitu tidak senang.


 “Eeeh, ini, masuk dulu baru ngomong.”


Thomas tahu pasti sifat Luna, dia segera menarik Luna masuk ke dalam kamar.


Menutup pintu.


“Sebenarnya, begini kejadiannya…”


Setelah Thomas pikir-pikir, akhirnya dia menceritakan semua cerita Martin sekali lagi.


Sepanjang itu, Luna mengeluarkan ponsel dan memainkannya, sesekali tersenyum sinis, sungguh tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.


Thomas juga terus mengamati, begitu mendapati ada ekspresi Luna yang salah, dia akan segera menghentikannya, semua orang tahu kalau adiknya ini menggila akan langsung memaki habis ketiga orang itu. Dia pribadi tidak masalah, namun tubuh Silvia belum pulih sepenuhnya, kalau tidak dia tidak akan berusaha keras menahan diri hari ini.


Tiba-tiba, ekspresi wajah Luna berubah.


Jantung Thomas bagaikan terhenti, dia mengira Luna akan mengamuk.


Siapa yang menyangka, Luna memperlihatkan ekspresi yang begitu terkejut dan berteriak sambil menunjuk handphone, “Kak! Gawat!”


Thomas tercengang, lalu mendekat untuk melihat, begitu melihatnya, matanya langsung membelalak sebesar-besarnya.