
“Ini… bukannya tidak bisa, kalau Anda menginginkan gaun Black Swan ini, berdasarkan peraturan butik kami, Anda harus melunasi pembayaran terlebih dahulu baru boleh mencoba gaun ini,” ucap pelayan dengan senyum canggung.
Dia yakin Thomas tidak mampu membayar gaun ini.
Butik ini tidak seperti butik pada umumnya, yang bisa mencoba dulu sebelum bayar.
Setiap pakaian di sini tidak ada duanya, bagi pelanggan yang tidak membayar, maka tidak akan bisa mencoba pakaian yang mereka pilih.
Apalagi long dress Black Swan ini adalah desain special butik mereka.
“Segitu telitinya,,,” gumam Thomas dengan alis mengkerut, lalu berkata, “Baiklah, ukuran gaun ini juga pas dengan adikku, dimana kasirnya?”
Luna melihat Thomas benar-benar ingin membelikan gaun ini untuknya, sontak langsung terkejut, dia segera berkata, “Kak, gaun ini sebaiknya tidak usah dibeli!”
Bercanda ya! Hanya satu gaun saja 2 miliar woi!
Ini sama harganya dengan satu rumah.
Membeli rumah paling tidak bisa ditinggali puluhan tahun, kalau gaun? Paling bisa dipakai berapa tahun? Meskipun jarang dipakai, gaun dengan bahan yang bagus sekalipun paling awet 5 tahun.
Thomas berkata dengan acuh, “Sudah, tidak usah dibahas lagi, kan cuma soal uang, kakak belikan satu untukmu!”
Terhadap ini, Thomas sama sekali tidak ragu.
Dia masih ingat ucapan Dimas, Thomas terlalu irit, kecepatan menghamburkan uangnya terlalu lambat!
kalau begitu kebetulan, susah payah menemukan jalan untuk menghamburkan uang.
Begitu Luna mendengar ini, dia tahu kalau dia tidak akan bisa merubah keputusan Thomas, dia menatap gaun yang dipakai oleh boneka mannequin itu, rasanya dia ingin sekali menempelkan wajahnya di gaun itu, dia merasa begitu terpukau oleh gaun ini.
Dia sungguh cinta mati pada gaun ini!
asalkan itu wanita, maka tidak akan bisa menahan godaan gaun ini, ini bukan mengenai selera, namun ini refleks yang begitu alami.
Melihat reaksi Luna, pelayan ini malah merasa sulit untuk percaya, kakak ini berniat membelikan gaun ini untuk adiknya?
Tapi uang darimana?
Namun dia mendengar Thomas bertanya dimana kasirnya.
Membuatnya langsung begitu bersemangat, jangan-jangan dia bertemu dengan orang kaya yang sebenarnya?
Begitu memikirkan tentang ini, tatapan matanya langsung berubah drastis.
Orang yang membeli mobil seharga 2 miliar tanpa berkedip sudah sering dia temui, namun orang yang membeli gaun seharga 2 miliar dengan ekspresi datar seperti ini, baru kali ini dia temui!
Bukan karena ini jarang terjadi, hanya saja ini sesuatu yang sulit dibayangkan di kota ini.
“Oh, baik, silahkan ikut dengan saya!” pelayan itu mempersilahkan Thomas, dan sikapnya jelas berubah drastis tanpa dia sadari.
Sorot matanya tidak lagi seperti menatap seorang pria miskin, namun terlihat penuh dengan keramahan.
Kalau saja dia bisa mendapatkan perhatian dari pria ini seperti gaun ini…
Meskipun dia tahu ini tidak mungkin, namun pelayan ini tetap tidak bisa menahan diri untuk berkhayal.
Menggesek kartu di kasir dan membayar 2 miliar dengan santai, lalu membawa Luka keluar dari butik dengan wajah puas, sementara Dimas sudah terlebih dahulu membawa gaun yang sudah dibungkus dan menunggu di dalam mobil.
Ketiga pelayan toko itu segera mengejar keluar dan menyodorkan kartu nama mereka masing-masing, dan pada saat ini satu kaki Thomas sudah naik ke atas mobil.
Begitu mereka melihat King Kalman yang begitu gagah, tubuh mereka langsung bergetar tanpa sadar, mereka sungguh terkejut.
Mobil mewah apa ini? Kenapa gagah sekali!
Ternyata, dia memang…!
Di dalam mobil.
Thomas bertanya, “Dimas, sudah lu urus?”
Dimas mengangguk, “Tuan muda, yang kamu pesan sudah diurus, acara yang akan dibawakan oleh Nona Luna satu pun tidak akan ada yang kurang, pihak kampus bahkan menjamin…”
“Uhm, oke.”
Tanpa menunggu Dimas menyelesaikan ucapannya, Thomas langsung memotong ucapannya, dia mendonasikan uang 6 miliar untuk universitas karena hal ini.
……
Universitas Trijaya punya tiga gerbang.
Ada Pintu Timur, Pintu Selatan dan Pintu Utara.
Pintu Timur paling banyak dilewati, dan dua hari yang lalu Luna dilecehkan oleh Keiro di gerbang yang itu.
Pintu Selatan, hanya untuk kendaraan para dosen atau pimpinan kampus.
Kalau Pintu Utara, hanya sebuah pintu kecil, merupakan gerbang yang sangat kecil seperti pintu belakang.
Biasanya jarang ada yang lewat pintu belakang ini, bahkan nyaris dilupakan oleh para mahasiswa, dan yang berjaga di sini ada seorang pak tua yang sudah sangat renta dan giginya nyaris ompong.
King Kalman terlalu mewah, kalau sampai terlihat oleh mahasiswa yang lewat maka akan menggemparkan.
Sehingga Thomas meminta Dimas memarkir mobil di Pintu Timur, lalu dia dan Luna menyelinap masuk dari Pintu Utara.
Pintu ini sangat kecil, hanya bisa dilewati oleh satu orang, ketika Thomas akan lewat, tiba-tiba ada sesosok tubuh yang kurus dan mungil menabraknya.
“Ah! Sorry, sorry, aku tidak sengaja!”
Orang yang menabrak Thomas adalah seorang mahasiswi, poninya dijepit dengan sebuah jepit bergambar kartun, dan rambutnya yang pirang terlihat berantakan.
Thomas baru ingin mengatakan tidak apa, namun dia terkejut sebelum akhirnya berkata dengan senang, “Eh? Freya? Kamu toh?!”
Mahasiswi itu mengangkat kepalanya, begitu melihat Thomas, dia terlihat begitu senang, namun wajahnya yang kurus dan kecil terlihat memerah, dan jelas sekali dia menahan dirinya dengan sekuat tenaga.
Dia berkata dengan suara pelan, “Thomas? Sudah lama gak ketemu ya!”
“Iya! Kita sudah lama gak ketemu!”
Thomas tersenyum dengan senang, baru ingin mengatakan sesuatu, Freya sudah mengangguk dengan canggung dan berkata, “Thomas, aku ada urusan mendesak, bolah kasih aku lewat dulu gak?”
“Eh? Oh, iya, boleh, silahkan!”
Thomas menyingkir, dan Freya kembali menundukkan kepalanya dan pergi melewati pintu gerbang utama.
Melihat Freya yang sudah pergi jauh, mereka baru melangkah masuk ke gedung kampus.
“Oh iya, apakah Freya baik-baik saja belakangan ini?” mengingat sikap Freya yang aneh tadi, Thomas refleks bertanya.
Luna memiringkan kepalanya dan berpikir, lalu menjawab, “Sepertinya biasa saja, seperti biasa, kami juga tidak sering bertemu.”
“Oh, baiklah, anggap saja aku tidak bertanya.” Ucap Thomas sambil menggaruk kepalanya.
“Kak, lihat wajahmu yang salah tingkah itu, tapi mungkin ini adalah hal yang paling membanggakan dalam hidupmu.” Luna melihat Thomas yang tersipu tidak lupa menggoda Thomas.
Mereka berdua dan Freya adalah teman sepermainan semasa kecil.
Ketika itu kondisi keuangan keluarga Freya tidak jauh berbeda dengan keluarga mereka, dan mereka juga tetangga, meskipun tinggal di gedung yang berbeda, namun mereka berada di kompleks apartemen yang sama.
Thomas dan Freya masuk SD, Smp dan SMA yang sama.
Namun ketika kelas 2 SMA, ayah Freya bermain saham, dan kebetulan menghadapi krisis moneter, membuat semua harta keluarganya ikut ludes.
Karena ayahnya tidak bisa menerima kenyataan ini, setelah mabuk-mabukkan parah, dia meloncat dari atap gedung dan bunuh diri.
Sementara ibu Freya melihat keuangan keluarga yang mendadak jatuh ke dasar jurang, merasa berat menghadapi tekanan kehidupan, sehingga tanpa pikir panjang lagi memilih menyusul langkah ayah Freya.
Menghadapi kenyataan pahit ini, Freya nyaris putus sekolah, namun pamannya berjanji untuk membantu biaya sekolah Freya sampai dia lulus kuliah.
Sehingga dia bisa terus bersekolah, namun musibah belum berakhir, ketika dia baru menyelesaikan SMA, pamannya meninggal karena penyakit parah.
Namun nilai Freya sangat bagus, dia merupakan murid yang selalu menjadi juara umum, dibawah bantuan para guru SMAnya, dia menerima bantuan pendidikan Universitas Trijaya.
Bahkan dijamin mendapat kuliah gratis di sana selama 8 semester, kalau Freya bisa mempertahankan nilainya di posisi teratas, dia bahkan bisa mendapatkan beasiswa dalam bentuk uang tunai.
Thomas mengetahui hal ini.
Dan di antara Thomas Freya ada sebuah cerita yang hampir tidak diketahui orang lain.