
Freya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Thomas.
Setelah sesaat, Thomas bertanya lagi, “Tapi, bukankah nilaimu selalu bagus, seharusnya mendapatkan beasiswa bukan?”
Hampir tiga tahun tidak jumpa, dia hanya bisa menunjukkan perhatiannya dengan cara seperti ini.
Freya memilih tetap diam dan melanjutkan makannya.
Thomas tersenyum, baru ingin mengungkapkan sarannya, misalnya mengenalkan beberapa murid SMA yang membutuhkan les untuk Freya.
Satu bulan mendapatkan uang sampingan 6 sampai 8 juta bukanlah masalah, dengan begitu masalah keuangan Freya akan terselesaikan.
Siapa yang menyangka pada saat ini, seorang mahasiswi berjalan keluar dari belakang panggung dan berteriak dengan kencang, “Woi bule! Bule! Dimana kostum menari kita? Lu taro mana!”
Freya pun langsung berdiri.
Dia tersenyum canggung dan mengangguk sambil berkata, “Thomas, aku pergi dulu, kalau kita sempat ngobrol lagi ya.”
Setelah mengatakannya, dia segera pergi dan menghampiri mahasiswi itu.
“Bule? Enak amat memberi julukan?” Thomas merasa sedikit kesal, dia juga sudah mencatat wajah mahasiswi itu.
Setelah duduk sebentar, ponsel Thomas tiba-tiba berdering, dia mengeluarkannya dan melihat, ini telepon dari Hans, kemudian dia menekan tombol jawab.
“Halo? Ketua.”
“Thomas, kamu sudah sampai?”
“Oh, sudah.”
“Dimana? Sini ke asramaku, kamar 403, kami sedang minum-minum, sini cepat naik!”
Awalnya Thomas ingin menolak, namun dia tidak enak menolak ajakan Hans, sehingga berkata, “Baiklah, 10 menit lagi aku sampai.”
Hari ini adalah perayaan HUT kampus, sehingga peraturan kampus diperlonggar, sehingga Thomas tidak heran kalau Hans memanfaatkan kesempatan ini.
Sebaliknya, dia merasa ini adalah hal yang sudah biasa.
Sepuluh menit kemudian, Thomas masuk ke kamar asrama 403, disana ada sepuluh orang, ada beberapa yang wajahnya tidak asing, namun tiba-tiba lupa namanya.
Thomas sudah terlalu lama meninggalkan kampus, tahun pertama dia hanya kuliah satu semester, teman kuliah yang akrab hanya Hans.
Namun dia tidak ingat orang lain, orang lain malah mengingatnya.
“Hei! Thomas! Sini cepat masuk!” Hans segera menyapanya.
Kamar asrama yang luas tetap begitu berantakan seperti yang dibayangkan Thomas, ada lima dus bir, sebuah meja yang tidak besar, ada 8 macam cemilan untuk menemani minum.
Anak kuliahan memang begitu, jarang-jarang boleh bebas sedikit, sehingga langsung mencari cara untuk bersenang-senang.
Yang punya pacar pergi berpacaran, kalau tidak minum-minum, yang cekatan mulai mempersiapkan diri untuk masuk dunia kerja, dan yang santai berhadapan dengan komputer.
Thomas mendekat, dan semua bergeser untuk memberikan tempat duduk untuknya.
Setelah minum tiga gelas bir, suasana menjadi jauh lebih santai, meskipun selain Hans ada beberapa mahasiswa yang tidak bisa Thomas ingat namanya, namun ini tidak menghalangi mereka berkomunikasi.
“Oh iya Thomas, kamu sudah terjun ke dunia kerja 3 tahun, sekarang kerja apa?” tiba-tiba salah satu diantara mereka bertanya.
Thomas ingat dia teman kuliah dia dulu.
“Haha, Jayden, susah payah mengajak Thomas kemari, untuk apa membicarakan hal yang tidak penting seperti itu!” Hans segera melerai.
Ayahnya adalah bos pasar swalayan, sehingga sejak kecil dia sudah belajar cara menjadi pebisnis. Dia tahu Thomas tidak terlalu ingat dengan teman yang ada di sini, sehingga menggunakan cara ini mengingatkan Thomas nama mereka.
Dan pada saat yang sama dia tahu kalau pekerjaan Thomas, memandang kedudukan adalah refleks semua orang, dia takut jika Thomas mengatakannya, suasana akan berubah menjadi aneh.
Hans mencari cara untuk mengajak Thomas datang, tujuannya adalah agar teman-teman kenal dengannya terlebih dahulu, setelah acara hari ini selesai, mereka pergi karaoke bersama, lalu minum bersama, dengan demikian dia bisa membuat kesempatan agar Thomas mendapatkan pekerjaan yang baik.
Namun Thomas malah tersenyum dan berkata, “Hehe, sebelumnya kerja di perusahaan ekspedisi, namun beberapa hari yang lalu sudah mengundurkan diri, sekarang menganggur di rumah.”
“Hee…”
Hans tidak menyangka Thomas akan menjawab seperti ini.
Dan ini lebih tidak disangka oleh Jayden.
Bukankah ini sama dengan pengangguran!
Bukan hanya miskin, tapi juga malas bekerja!
Ini adalah pandangan Jayden yang paling apa adanya.
Sikap hangatnya juga langsung berubah menjadi dingin.
Keluarga Jayden kebetulan bergerak di bidang ekspedisi, dan skalanya tidak kecil.
Dua hari yang lalu Hans menemuinya, membicarakan tentang Thomas, sebelumnya Hans sudah membicarakannya beberapa kali, namun dia terus mencari alasan untuk menolaknya.
Maksud Hans, Thomas pada dasarnya mengambil jurusan manajemen, meskipun putus sekolah, namun dia tetap orang yang pernah mencicipi bangku kuliah.
Apalagi Thomas adalah orang yang rajin dan giat, punya otak yang encer, sehingga Hans berharap Jayden bisa mengatur jabatan seperti manager cabang atau sebagainya untuk Thomas.
Makanya Hans memanfaatkan hari perayaan HUT kali ini, mengajak Jayden dan memanfaatkan statusnya sebagai Ketua BEM untuk mengajak belasan teman kuliah lainnya berkumpul, dan diantara mereka ada cewek yang diincar oleh Jayden, sehingga dia terpaksa setuju.
Siapa yang menyangka Thomas langsung menjawab seperti itu.
“Oh? Ternyata begitu, kalau begitu kamu punya rencana apa kedepannya?” tanya Jayden.
“Kerja? Aku tidak berencana bekerja, dunia ini begitu luas, aku ingin keluar melihat-lihat.”
Dia adalah penerus Levian Group, untuk apa bekerja, sejujurnya, sekarang yang dia pusingkan setiap bangun tidur adalah bagaimana caranya menghamburkan uang.
Mateng! Gawat udah! Hans dibuat terkejut sepenuhnya.
Selanjutnya, Jayden memperlihatkan senyum sinis, “Ternyata Tuan muda Thomas kita masih bisa begitu santai, sungguh membuat kamu speechless, ayahku berencana membiarkanku mengelola perusahaan setelah aku lulus, sepertinya aku memang ditakdirkan untuk bekerja keras.”
“Hei Jayden, ngomong apa lu, kalau ngikutin omongan lu, kita masih perlu hidup gak nih?” segera ada yang menimpali dan menjadikannya bercandaan.
“Iya, kalau elu ngomong gini, malam ini kita gak bisa makan nih.”
......
Jayden yang dielu-elukan oleh teman lainnya merasa melambung tinggi, namun jawaban Thomas berikutnya membuatnya tertampar.
“Uhm, setiap manusia punya nasib yang berbeda, kamu berpikir terbukalah sedikit.”
Tapi ini tidak bisa menyalahkan Thomas, yang sekarang dia pikirkan hanya tentang masalah Freya.
Heh! Bocah ini! dikasih hati minta jantung ya?
Jayden melirik Thomas dengan sorot mata meremehkan, dia sama sekali tidak berniat basa basi lagi, teman yang lainnya juga diam-diam tersenyum sinis.
Seseorang bisa miskin pasti ada sebabnya!
Seorang pengangguran yang mengenakan baju yang dijual di kaki lima, malah berkata seperti itu, kalau bukan dia yang miskin siapa lagi?
Dalam hati Hans tersenyum pahit, bro, biar dikata gak mau dibantu juga ngomongnya gak dalem gitu kan ya!
Hans merasa rencananya kali ini sudah gagal.
Namun dia tetap berharap malam ini ketika karaoke’an bersama bisa mendapatkan pekerjaan untuk Thomas.
Meskipun hidup mengalami kebuntuan, tapi kita tidak boleh menyerah dan menyalahkan diri sendiri iya kan?
Namun salah satu mahasiswa di sana terus diam tidak bicara, entah kenapa dia merasa Thomas ini begitu tidak asing, seolah pernah melihatnya dimana gitu?
Tanpa terasa mereka minum sampai sore.
Thomas melihat jam tangannya, sudah hampir waktunya, dia harus datang lebih awal, jangan sampai Luna tahu dia minum bir dan tidak menontonnya membawakan acara, kalau tidak dia pasti akan ngambek gak jelas lagi.
“Oh iya, adikku menjadi pembawa acara hari ini, aku harus pergi dulu, kalian minum saja.” setelah mengatakannya, Thomas langsung berjalan keluar.
Dan ketika Thomas berbalik, bayangan punggung Thomas membuat mahasiswa yang sejak tadi diam ingat sesuatu.
Dia sudah ingat sekarang, dan dia refleks berseru kaget, “Gawat!”
Hans menoleh dan bertanya dengan bingung, “kenapa?”
“Gawat oi! Bukankah dia tuan muda cowok yang badannya tinggi besar seperti bodyguard itu, yang dua hari lalu memukul orang di kampus kita?” ucap mahasiswa itu dengan mata membelalak dan wajah penuh rasa takut.
“Cih, matamu juling yah!” Jayden berkata dengan kesal.
Hans sempat terkejut, namun pada akhirnya berkata dengan senyum pahit, “Mabuk lu ya…”
......
Namun Thomas malah sama sekali tidak tahu kalau dia sudah dikenali orang, dia langsung menuju ke lapangan.
Pada saat ini, matahari sudah tenggelam, lampu panggung menyala, masih sore, namun kursi penonton sudah terisi sekitar 500an kursi.
Begitu Thomas mendekat, Dimas langsung menghampiri, “Tuan muda, tempat dudukmu sudah diatur di paling depan, ayo ikut aku.”
Pada saat ini, Thomas tidak lagi peduli orang lain mengenalinya atau tidak, begitu acara selesai, dia cukup pergi dari sana.
Namun, dia tetap merasa cemas, karena mahasiswa yang ada di sini begitu antusias.
Thomas berjalan kedepan dan baru akan duduk, tiba-tiba dia melihat Freya lagi.
Dia tetap seperti tadi siang, menundukkan kepala dan berjalan dengan tergesa-gesa ke belakang panggung sambil membawa dua kantong plastik berisi nasi kotak.
Tidak lama dia membawa dua kotak berisi nasi dan lauk keluar.
Melihat tubuhnya yang kurus, senyum hangat mengembang di bibir Thomas.
Namun detik berikutnya senyum Thomas membeku.
Karena ada dua kota berisi nasi dan kuah dilempar keluar dari belakang panggung dan tepat mengenai kepala Freya.
Nasi dan kuah membasahi tubuh juga rambut Freya, bahkan membuat ratusan mahasiswa menertawakan pemandangan ini.