
“… lepaskan gue dulu.” Ucap Thomas dengan dingin.
“Oh, baik, baik, baik!” Martin mengira kesempatannya sudah datang, dia segera melepaskan kedua tangannya dan berkata, “Thom, ini adalah kesempatan yang sangat langka, bukankah Ivan merebut Wanda darimu? Dia adalah rivalmu, kalau kamu menghancurkan Bright Property, bagaimana cara Ivan bersaing denganmu? Pada saat itu Wanda sudah pasti milikmu!”
......
Thomas mengangguk dan berpikir, “Hmm, sepertinya masuk akal… Ivan memang dibunuh oleh orang yang gue bawa, gue gak ngasih tahu Santo kalau lu yang menuduh kami, jadi dia gak akan mempersulitmu. Lu punya bukti kejahatan Bright Property, kalau sampai dipublikasikan, maka Bright Property akan hancur, Keluarga Chandra juga akan berantakan, dendam gue bakal terbalas dan tidak meninggalkan bukti apapun, ide ini bagus…”
“Iya benar, memang seperti itu, kalau begitu kita langsung jalankan saja…” Martin mengusap kedua tangannya dengan begitu bersemangat dan dengan perasaan tidak sabar.
......
“Hehe… bajingan!”
Tiba-tiba Thomas mengumpat dan menendang perut Martin dengan kuat.
“Aaaa…”
Martin sama sekali tidak menyangka Thomas akan melakukan kekerasan, sama sekali tidak bisa diajak berkompromi, dia memegangi perutnya sambil mengerang dan meringkuk seperti udang.
Tendangan ini hanya untuk melampiaskan amarah dalam hati Thomas.
Dia sudah sangat tidak tahan lagi.
“Martin, lu mau mati kek mau hidup kek, sama sekali gak ada hubungannya sama gue, lu mau gue bantu elu? Lalu nunggu lu balik menggigit gue sekali lagi? Ngarep lu.”
Thomas tersenyum dengan dingin.
Akhirnya dia paham.
Di dunia ini ada satu jenis orang yang tidak boleh di tolong, ini bukan masalah pantas dibantu atau tidak, tetapi siapapun yang membantunya pasti akan mati!
Bukan karena sial, tetapi memang cari mati!
Kalau dia tidak mengikuti Wanda ke tempat ini.
Kalau dia tidak punya video ditangan Luna sebagai bukti.
Kalau Freya tidak menikam Ivan tadi.
Kalau Ivan benar-benar mati.
Kalau dia tidak memiliki latar belakang keluarga yang kuat.
Kalau tidak ada begitu banyak kalau…
Tidak ada yang tahu bagaimana cara dia mati!
Dia membayangkan Keluarga Widjaja selama beberapa tahun ini dan juga ayah asuhnya yang meninggal dalam kecelakaan.
Keluarga Widjaja adalah sebuah keluarga kecil sederhana namun begitu bahagia.
Namun dihancurkan begitu saja oleh Martin.
Ayah asuhnya sudah meninggal!
Dia juga hampir kehilangan nyawanya!
Thomas melirik Martin dengan wajah tanpa ekspresi, bahkan sebuah sorot mata merendahkan pun malas dia berikan, karena bahkan untuk direndahkan saja Martin tidak pantas.
Ketika dia hendak membawa Freya pergi, terdengar suara seseorang berlutut, dan itu adalah Wanda.
“Thom, Thomas, aku mohon… bantulah ayahku sekali lagi.”
Suara Wanda begitu lirih, matanya merah dan tubuhnya bergetar hebat.
Satu-satunya yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana mempertahankan Keluarga Ningrat, meskipun dia harus merendahkan dirinya berlutut dan memohon pada Thomas seperti ini.
Ekspresi Thomas begitu datar, dia menatap Wanda sesaat lalu berkata, “Jangan harap, gue gak bakal nolong.”
“Dengarkan aku dulu… aku, aku sudah salah, Thomas, semua adalah salahku…”
Begitu mengatakan ini, wajah Wanda langsung dibasahi air mata.
“Tidak seharusnya gue tergoda oleh kekayaan juga kemewahan, aku akui, dulu aku memang memandang rendah dirimu, siapa suruh kamu sangat miskin ketika itu?”
“Ketika itu, aku setiap hari menghitung jari, menunggumu gajian untuk menipu uang yang kamu miliki, supaya aku bisa membeli alat make up, membeli baju… aku tahu Tante Silvia mengidap penyakit jantung, tetapi aku sama sekali tidak pernah menganggap serius penyakitnya… bahkan aku terkadang berpikir, dia, kalau dia mati pasti jauh lebih baik, karena itu artinya, setiap bulan ada uang lebih untukku…”
“Bamm!”
Wanda bersujud di hadapan Thomas dengan keras.
“Ayahku sudah melakukan hal yang begitu tidak berperasaan terhadap Keluarga Widjaja, terhadapmu, mengatakannya tidak punya hati nurani juga rasanya tidak berlebihan, aku meminta maaf untuk semua yang sudah dia lakukan. Tetapi terjadi begitu banyak hal, aku sudah melihatnya, dan ada juga yang merupakan ideku, aku salah, Thomas… maaf.”
“Bamm!”
Suara bersujud sekali lagi terdengar, bahkan jauh lebih nyaring dari yang sebelumnya, menggema di tengah pabrik yang kosong.
Kening Wanda memerah, darah segar mengalir turun dan bersatu dengan air matanya, menetes di lantai.
“Beberapa waktu yang lalu, kamu tiba-tiba menjadi kaya, aku juga sempat tergoda, aku ingin kembali rujuk denganmu, kembali menjadi tunanganmu. Pemikiranku ini, karena aku menginginkan uangmu, Thomas, aku salah.”
“Bamm!”
Setelah Wanda bersujud dan menegakkan tubuhnya, darah segar mengalir lebih banyak dari keningnya.
“Kami semua adalah orang-orang tidak tahu diri yang tidak tahu balas budi, hari ini, apa yang kami terima memang balasan atas perbuatan jahat kami, dulu aku tidak percaya pada karma, sekarang aku percaya.”
“Dulu, ayahku sama sekali tidak bisa apa-apa. Dia hanya terus berambisi, meminjam uang Om Tanto untuk menjadi modal usaha. Lalu berakhir bangkrut, dan semua hutang dibayar oleh Om Tanto, namun karena Om Tanto meninggal, dia memiliki tanggung jawab yang tidak bisa dipungkiri, orang seperti dia, kalau bukan dia yang menerima hukum karma, lalu siapa lagi?”
“Tetapi Thomas, masalah ini sangat parah, ayahku sudah khilaf, dia menggunakan nama bos Tasty untuk memeras uang 2 triliun dari Bright Property. Mengenai hal ini, aku sama sekali tidak tahu, kalau aku tahu, aku pasti akan mencegahnya.”
“Kertas tidak akan bisa membungkus api, Ivan sudah meninggal, ayahnya akan langsung mencari tahu asal muasal masalah, dan dia tidak akan melepaskan Keluarga Ningrat.”
Bicara sampai di sini, Wanda mengangkat wajahnya dengan wajah yang penuh dengan air mata, “Thomas, Bright Property punya kekuasaan yang sangat kuat di Jakarta, dia juga keluarga konglomerat, namun aku rasa kamu dan Santo Cendana sama sekali tidak takut pada Bright Property, sehingga aku mohon bantu kami untuk yang terakhir kalinya, tolong nyawa kami bertiga.”
“Aku tahu hanya karena ucapanku saja, aku mengaku salah dan meminta maaf akan sangat sulit memohon bantuanmu, namun Freya yang sudah membunuh Ivan iya kan?”
“Membunuh orang bukan masalah kecil, ini bisa dihukum mati, bantulah aku, sebagai syaratnya, aku akan menggantikan Freya untuk dihukum, bagaimana?
“Dengan demikian, kamu tidak membantu ayahku, melainkan membantu Freya… kalau kamu setuju, aku akan menelepon kantor polisi dan menyerahkan diri sekarang juga. Kamu hanya perlu mengeluarkan sedikit uang dan membayar para preman itu untuk bersaksi bahwa Ivan dibunuh olehku, dengan demikian masalah Freya akan terselesaikan.”
“Thomas, kumohon, bantulah kamu sekali lagi, aku rela menjadi budakmu untuk membalas kebaikanmu!”
Setelah mengatakannya, Wanda kembali menangis tersedu-sedu dan tidak hentinya bersujud.
Keningnya membentur lantai sekali demi sekali, tenaganya semakin kuat, tempat dia bersujud sudah dibasahi oleh darah yang begitu banyak dan segar.
Thomas berpikir sejenak dan berkata, “Wanda, hentikanlah, kalau kamu teruskan mungkin kepalamu juga akan ikut hilang…”
“Baiklah, gue bantu. Tetapi yang gue bantu bukan Martin, melainkan elu, ini adalah bantuan terakhir memandang hubungan kita.”
Wanda meminta maaf padanya dan juga meminta maaf pada Keluarga Widjaja.
Sikapnya membuat Thomas goyah.
Apalagi, meskipun Wanda tidak melakukannya, dia tetap akan membereskan masalah ini, membuat ketiga anggota keluarga Ningrat ini bebas dari masalah kali ini.
Tanpa perlu dibayangkan juga bisa diketahui, kalau bukan karena Thomas yang membantu diam-diam, entah kesialan apa yang akan ditemui oleh Keluarga Ningrat, dan Wanda juga tidak mungkin bisa beruntung setiap kalinya.
Dia tidak peduli dengan hidup dan mati Martin, namun Thomas yakin Wanda sama sekali tidak tahu menahu tentang Martin yang memeras Bright Property.
Bisa dikatakan, dia tidak berdosa.
“Haa, benarkah? Thomas, benarkah kamu bersedia membantuku?” wanda terlihat tidak percaya, dia mengira dirinya sedang bermimpi.
Saat ini Thomas sudah pergi sambil menggandeng Freya.
Ketika Wanda sadar apa yang terjadi, dai mengeluarkan ponsel dan berkata ke arah Thomas pergi dengan panik, “Thomas, aku akan melakukan apa yang kujanjikan padamu, aku akan menyerahkan diri sekarang juga, Freya akan baik-baik saja!”
“Wanda, Ivan tidak mati, lu gak perlu menyerahkan diri, sudah dulu, oh iya, gue gak mau melihat muka Martin lagi, buat dia menjauh dari hadapan gue sejauh mungkin.”
......
Mereka berdua berjalan keluar dari pabrik tua, Thomas membawa Freya ke tepi sebuah sungai dan membersihkan bekas darah yang sudah mengering sampai bersih, kalau pulang dengan penampilan seperti ini pasti akan menakuti banyak orang.
Melihat Freya yang begitu tenang, Thomas baru sadar, sejak Freya menusuk Ivan sampai sekarang, sepertinya tidak panik sama sekali.
Entah mengapa, ada marah yang perlahan membakar hati Thomas.
“Freya, apakah kamu tahu, kalau kamu benar-benar menikam Ivan sampai mati, kamu harus membayarnya dengan nyawamu! Kamu bodoh ya?”