
Begitu mendengar ucapan ini, ketiga orang ini langsung membisu.
Bahkan Wanda yang tadinya ingin buka suara juga langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Martin mengusap keringat dingin di keningnya lalu berkata dengan suara bergetar, “Thomas… apa yang kamu katakan tidak salah… semua… ikut saranmu saja…”
Setelah mengatakannya, dia berjalan ke meja resepsionis dengan kaki lemas, lalu melakukan prosedur booking ruangan.
Martin mengusap keringat dingin di wajahnya yang pucat, ketika menoleh, Thomas sedang mengobrol dengan Luna, lalu dia bertanya dengan suara pelan, “Mbak, mau tanya tempat kalian ini bisa tidak… bayar di muka?”
Agar tidak menghabiskan sisa hidupnya di penjara, Martin sadar, malam ini dia harus berkorban habis-habisan.
Namun ketika dia teringat harga minuman yang dihabiskan Thomas saja sudah 18,4 miliar, sehingga dia mendapatkan sebuah ide bagus, yaitu bayar di muka.
Nanti setelah makanan dan wine dihidangkan, semua sesuai dengan yang sudah ditentukan dan dibayar di awal, asalkan sudah buka wine, membicarakan topik utama, tentunya tidak mungkin menambah makanan di tengah acara makan. Kalau tidak mempersiapkan dengan baik, malah gantian dia yang berhutang puluhan miliar di Tasty, lebih baik dia masuk penjara saja.
“Iya Tuan, tempat kami boleh bayar di muka, kalau boleh tahu Anda ingin memesan ruangan yang mana, ingin pesan makanan dan minuman apa?” ucap petugas resepsionis dengan ramah.
Martin mengetatkan rahangnya dan berkata, “Aku mau pesan ruang VVIP1…”
“Mohon maaf, ruang VVIP 1 sudah dipesan. Yang memesan bernama tuan Martin, kalau Anda orangnya, mohon perlihatkan kartu tanda pengenal Anda.”
......
Ketika mendengar kalimat pertama petugas resepsionis, Martin langsung merasa senang, kalau ruang VVIP1 sudah dipesan orang lain, kalau begitu dia bisa memesan ruang VVIP2!
Hanya harga sewa ruangan VVIP1 dan VVIP2 saja selisihnya bisa mencapai 10 kali lipat. Yang artinya biaya sewa ruang VVIP2 hanya membutuhkan 20 juta!
Martin kembali mengusap keringat dinginnya, lalu mengeluarkan KTP dan kartu debit dengan tangan gemetar, kemudian menyerahkannya pada petugas tersebut.
Dan ketika petugas itu melanjutkan ucapannya, jantung Martin bagaikan tersiram air dingin.
Resepsionis itu tersenyum dan berkata, “Ternyata Anda adalah Tuan Martin Ningrat, baiklah, mohon tunggu sebentar ya!”
“… Oh iya, mbak, hidangkan makanan dan wine seharga 100 jutaan saja ya…” Martin memperlihatkan senyum yang begitu jelek.
Iya, dia memang sudah sadar, namun hatinya tetap berdarah-darah!
Total yang harus dibayarkan adalah 300 juta!
“Hanya sekali makan! Ini hanya untuk sekali makan!”
Hati Martin menjerit dengan perih.
“Begini pak, syarat booking ruang VVIP1 minimal pembelanjaan 400 juta…”
Begitu mendengar ini, pandangan Martin langsung gelap dan nyaris jatuh pingsan!
Seketika, dia merasa ingin sekali kabur dari tempat ini!
Namun ketika dia ingat, jika hal ini tidak segera diselesaikan, maka dia mungkin akan benar-benar dipenjara.
Menggesek uang 400 juta dari kartunya sungguh membuat nyawa Martin terbang setengah.
Jalannya begitu gontai seperti di awang-awang.
Semua orang naik lift menuju lantai 30.
Thomas menuntun Silvia dan Freya dengan akrab, lalu masuk ke dalam ruang VVIP1 terlebih dahulu.
Kemewahan tempat ini sungguh membuat Silvia begitu terkejut, dia menoleh dan bertanya, “Martin, ruangan ini pasti tidak murah ya kan?”
“Sebenarnya, gak mahal juga…” Martin menggerakkan bibirnya yang memucat dan wajah yang murung.
Rasanya ingin sekali mengatakan berapa banyak uang yang dia habiskan untuk makan kali ini, namun kalau dia mengatakannya, maka akan ketahuan wujud aslinya.
“Ma, ini bukan apa-apa, kita duduk dulu di sana.”
Thomas berkata perlahan, lalu menggandeng tangan Silvia menuju meja bundar besar di dalam ruangan.
“Thomas, nanti setelah pulang kamu harus menjelaskan pada ibu dengan jujur dan benar ya.” Silvia merasa tidak tenang dan mengingatkannya sekali lagi.
Luna yang melihat ini segera melerai, “Ma, tenang saja, kakak tidak pernah melakukan kejahatan, dia selalu berbuat jujur!”
Kedua kakak beradik keluarga Widjaja menggandeng Silvia dan duduk di kursi utama.
Silvia melambaikan tangan dan berkata, “Malam ini yang menjadi tuan rumah adalah Martin, aku tidak boleh duduk di sini.”
“Tante Silvia, gak apa, duduklah di sini!”
Wanda yang di samping segera menyela, lalu perlahan menyingkirkan Thomas, dia menggandeng tangan Silvia dan memintanya duduk.
Milan yang melihat ini juga ikut berkata sambil tersenyum, “Iya, duduklah, duduk dimana saja sama.”
Melihat Silvia duduk, Wanda mengambil kesempatan duduk di sampingnya.
Berdasarkan rencana Wanda, kalau dia duduk di samping Silvia, maka Thomas akan duduk di sampingnya.
Dengan begitu, dia diapit oleh Silvia dan Thomas, meskipun Freya duduk di samping Thomas, dia tetap tidak akan bisa mendekati Silvia.
Dia tahu jelas Thomas sangat menurut pada Silvia, sehingga jika ingin memperbaiki hubungannya dengan Thomas, dia harus memainkan sedikit trik.
Namun meskipun dia sudah menghitung semuanya dengan baik, namun Thomas malah membawa Freya duduk di kursi yang ada di seberang.
Ekspresi Wanda langsung berubah, dalam hati dia berseru, “Huh! Thomas, cepat atau lambat aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku!”
Lalu dia melirik Freya yang terlihat begitu berantakan, tatapan mata itu penuh dengan kebencian.
“Si ****** ini ingin berebut Thomas denganku? Nanti aku akan mencari kesempatan untuk mempermalukannya di hadapan Tante Silvia!”