
Ketika Jony berjalan masuk, Ivan dan Martin bergegas berdiri!
Mereka tidak kenal dengan Jony, akan tetapi mereka kenal dengan pria yang berada di belakang Jony. Dia adalah Kepala Cabang Bank Indonesia – Sutrisno Anggoro!
Proyek real estate yang dikerjakan oleh Ivan membutuhkan pinjaman dana sebesar 2 triliun, jadi Ivan membawa Martin untuk bertemu dengan Sutrisno. Intinya kalau mau proyek real estate ini berjalan lancar, maka kuncinya ada ditangan Sutrisno!
Tetapi kenapa dia bisa datang kemari? Ivan dan Martin saling bertukar pandang, kemudian tatapan mereka berdua jatuh pada Thomas. Dan mereka berdua memperlihatkan senyum penuh maksud.
Ternyata begitu! Martin tahu kalau Ivan memikirkan hal yang sama dengannya.
Pantas saja Thomas kaya dan bisa berfoya-foya. Uangnya pasti berasal dari pinjaman Bank Indonesia!
Kalau dipikir-pikir benar juga, seorang pria muda yang terlalu lama hidup di bawah tekanan hidup kemungkinan akan berperilaku sembrono! Sudah banyak contoh seperti itu!
Martin diam-diam menghela nafas. Tanto, meskipun kamu adalah sahabatku, tetapi Thomas tidak mau mendengarkan perkataanku, jadi aku juga tidak bisa membantu! Saat ini Martin merasa sangat sedih, akan tetapi entah kenapa ada secercah rasa gembira yang muncul dalam hatinya.
“Tuan Thomas! Lama tidak bertemu!” Dengan cepat Jony berjalan mendekat. Dia menyapa dengan ramah dan menjabat tangan Thomas.
“Aku baru saja makan bersama dengan kepala cabang di ruang VVIP 4, dan ketika sedang berjalan di luar aku melihat Tuan Thomas. Kebetulan sekali, dan tidak disangka ternyata memang benar Anda!”
Kenyataannya memang begitu. Ketika Thomas mengajak Luna dan Dimas masuk ke ruang VVIP 1, Jony baru saja berjalan keluar untuk meminta pelayan mengantarkan minuman, tidak disangka malah bertemu dengan Thomas.
Waktu itu perasaannya terasa begitu senang, dia segera masuk ke dalam ruangan untuk memberitahu Sutrisno.
Di Jakarta telah muncul orang Group Levian. Ditambah lagi orang yang memiliki kartu black gold Group Levian sudah pasti adalah para petinggi yang berada di tingkatan teratas Group Levian!
Ketika Thomas pergi ke Bank Indonesia untuk mengurus kartunya, Jony langsung memberitahu Sutrisno, oleh karena itu Sutrisno memujinya. Malam ini Sutrisno mengajaknya ke Restoran Tasty ini, jelas sekali karena akan mempromosikannya.
Siapa yang menyangka Jony malah bertemu dengan Thomas di Restoran Tasty ini sekali lagi, setelah pertemuannya dengan Sutrisno berakhir, mereka bergegas datang untuk menyapa Thomas. Perlu diketahui, jika mereka bisa menjalin hubungan dengan para petinggi Group Levian, maka sudah pasti akan mendapatkan banyak keuntungan, bagaimana mungkin mereka melewatkan kesempatan ini!
“Halo, Pak Jony, kita benar-benar sudah lama tidak bertemu!” Thomas mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ekspresi biasa, tetapi didalam hatinya dia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa.
Apanya yang sudah lama tidak bertemu, baru saja bertemu hari ini, bahkan sepertinya belum sampai 12 jam, namun karena Jony begitu ramah, Thomas juga merasa tidak enak hati kalau harus mengabaikan keramahannya.
Begitu melihat kesempatan ini, Sutrisno pun ikut menghampiri. Dia mengamati Thomas dari atas hingga ke bawah, lalu tertawa dengan puas, “Haha! Tuan Thomas ini memang bukan orang biasa, ini adalah pertama kalinya kita bertemu, salam kenal!”
“Perkenalkan, aku adalah kepala cabang Bank Indonesia, Sutrisno Anggoro.” Kemudian dia mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Thomas .
Thomas merasa tidak begitu nyaman dengan situasi seperti ini, tapi dia juga tidak tahu harus bagaimana menghadapinya, jadi hanya menjawab dengan sopan. Dia berpikir sejenak, kemudian tertawa canggung, “Bagaimana kalau kita makan atau minum sesuatu?”
Ivan dan Martin memperhatikannya. … Kelihatannya ada yang tidak beres!
“Thomas sepertinya kamu tidak berhak bicara di sini!” Di saat ini Wanda berkata dengan nada dingin.
Matanya sangat tajam dan sangat jeli dalam menilai orang lain, jadi dia tahu kedudukkan Jony seperti apa, terlebih lagi Sutrisno, dan mereka langsung merasakan suasana yang tidak beres.
“Oh? Tuan Thomas… Aku kira ini adalah ruanganmu.” Jony tersenyum canggung, dan tatapan matanya langsung diarahkan ke sekeliling. Dia merasa tidak senang, siapa orang-orang ini yang berani bertingkah seenaknya di hadapan Tuan Thomas.
“Oh, memang aku yang memesan ruang VVIP ini, tapi Ivan tadi masuk dan berkata kalau dia yang akan mentraktir.” Thomas berkata dengan nada acuh. Begitu mendengar ucapannya, Milan dan Wanda langsung tersenyum dingin.
Meskipun mereka berdua tidak mengenal Jony dan Sutrisno, tapi kalau dilihat dari sikap Tuan Chandra dan Martin terlihat jelas kalau mereka adalah seorang petinggi. Thomas ini sungguh tidak tahu malu, padahal tempatnya sudah dibajak oleh orang lain tetapi dia malah merasa begitu senang… Memang dasar orang miskin!
“Benar, ini adalah ruanganku, tidak ada hubungannya dengan Thomas, Pak Kepala Anggoro, silakan duduk!” Ivan segera menyambut dengan sangat keramahan.
Jony pun tidak senang. Dia tahu siapa Ivan, sepertinya dia adalah putra Direktur Bright Property. Akan tetapi sekarang ini dia malah tidak mengabaikan dirinya dan bersikap tidak sopan kepada Tuan Thomas. Sehingga, ini merupakan kesempatan baginya untuk mendapatkan simpati Tuan Thomas!
Ketika memikirkan hal ini, dia langsung menjawab dengan dingin, “Huh! Ivan, sikap macam apa ini? Apakah seperti ini caramu bicara dengan Tuan Thomas?”
Jony masih ingin meneruskan perkataannya, akan tetapi dia melihat seorang anak muda bertubuh tinggi yang berada di samping Thomas menggeleng perlahan ke arahnya.
Dia tersentak! Kelihatannya tidak semua orang yang ada di sini mengetahui identitas asli Thomas. Berarti, Thomas tidak ingin mengumumkan identitas aslinya! Dia sadar lalu saling bertukar pandang dengan Sutrisno. dan akhirnya dia mengerti permasalahan utamanya.
Ivan, dan Keluarga Ningrat pun tertegun. Si Jony ini, terus memanggil Thomas dengan panggilan Tuan Thomas. Itu saja sudah membuat mereka tidak senang, sekarang Jony malah berkata seperti itu. Bukankah Thomas ini hanya orang miskin? Dia bisa punya status apa?
“Hehe, Man… Manager Jony, ya?” Ivan tersenyum kikuk, lalu meneruskan ucapannya, “Mungkin Anda tidak tahu kalau kami pun mengenal Thomas , dan dia hanyalah seorang pekerja paruh waktu, jadi sepertinya Anda salah mengenali orang.”
Martin bergegas menimpali, “Iya, benar sekali Pak Kepala Anggoro, sebenarnya Thomas ada kontrak pernikahan dengan putriku, aku sangat memahami kondisinya, tidak mungkin dia punya status lain.”
“Hehe, benar juga.” Sutrisno terkekeh dan menatap Thomas dengan sorot mata bersinar-sinar.
Siapa itu Sutrisno Anggoro? Dalam kurun waktu tiga puluh tahun ini, dia mulai dari seorang pegawai bank biasa merangkak naik hingga menjabat sebagai kepala cabang, sudah pasti dia punya wawasan yang luas dan cukup hebat dalam menilai orang.
Hari ini, Jony menelepon langsung dan memberitahunya kalau ada orang dari Group Levian yang datang, sehingga dia sengaja mengecek kebenaran informasi ini dengan cara memeriksa kartu black gold tersebut. Dan kartu black gold tersebut memang benar milik Group Levian! Yang paling mengejutkan ialah pemilik rekening yang tertera di atas kartu tersebut adalah Thomas !
Ditambah lagi kartu black gold tersebut hanya kartu yang bisa dimiliki oleh petinggi Group Levian, artinya orang yang memiliki kartu black gold ini haruslah orang yang memiliki hubungan langsung dengan orang super hebat yang melegenda itu!
Namun, marganya tidak sama. Sehingga Sutrisno menebak kalau Tuan Thomas ini mungkin anak di luar nikahnya.
Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang jarang ditemui. Dalam kehidupan pribadi para tokoh masyarakat, ini bukanlah sesuatu yang bisa dia prediksi, akan tetapi hal seperti ini memang sudah menjadi konsumsi publik, kalau memang benar demikian… maka dia sangat beruntung!
Namun Ivan malah tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Sutrisno, sehingga dia mengangguk dengan wajah puas lalu menoleh ke arah Thomas dan tersenyum dingin, “Tuan Thomas, karena Pak Kepala Anggoro telah salah mengenali orang, maka silakan pulang, kami tidak akan mengantar!”