
“Hah? Kamu datang untuk menolong Wanda?” meskipun Martin sudah menduganya, namun dia tetap begitu terkejut, “Kalau begitu aku meneleponmu, kenapa kamu, kamu…”
Ivan tersenyum dengan canggung, “Oh, maksudmu tentang itu, ketika itu aku sedang ada rapat, Om, Tante, kalian juga tahu, aku adalah calon penerus Bright Property nantinya, kali ini ayahku pergi dinas, ada banyak yang harus kukerjakan, namun kalian tenang saja, aku sudah datang sekarang, Wanda pasti akan keluar dengan selamat.”
“Oh! Baguslah kalau begitu, Tuan muda Ivan, bagaimana kalau kita masuk sekarang!” ucap Milan dengan tergesa-gesa.
“Uhm, ini… kalian jangan buru-buru dulu, bukankah ini baru hari ke tiga, aku sudah mengatur semuanya, bagaimana kalau kita tunggu dulu.”
Setelah mengatakannya, Ivan mengeluarkan ponsel dan menelepon sebuah nomor, “Siapkan sebuah mobil, jemput tiga orang.”
Begitu mendengar ucapan Ivan ini, kedua suami istri ini langsung merasa lega.
Pagi ini mereka datang ke rumah Keluarga Widjaja dengan membawa harapan yang begitu besar, namun begitu tiba di sana mereka mendapati Thomas tidak sekaya yang mereka bayangkan.
Sarapan pagi mereka masih saja bubur putih dan lauk kampungan seperti itu? Bahkan tetap tinggal di rumah gembel seperti itu.
Kalau diceritakan keluar, seorang orang kaya makan seperti itu, pasti tidak akan ada yang percaya.
Lalu Thomas juga mengatakan kalau dia akan berusaha menyelamatkan Wanda.
Berusaha? Berusaha apanya? Menurut mereka berdua, Thomas hanya setor muka, namun apa daya, mereka hanya bisa menggantungkan harapan pada Thomas.
Wanda adalah putri tunggal kesayangan mereka, tidak ada yang boleh terjadi padanya.
Namun kedatangan Tuan muda Ivan merubah semuanya!
......
Thomas membawa Luna juga Dimas ke ruang kerja Santo.
Pada saat ini, Santo sedang duduk di depan meja kerjanya sambil melihat pembukuan kemarin.
Begitu mereka bertiga masuk, Santo langsung berdiri, lalu menghampiri dengan cepat, “Tuan muda Thomas, akhirnya Anda datang juga, kenapa dua hari ini Anda tidak datang main ke Tasty?”
Menghadapi keramahan Santo, Thomas merasa perlu hati-hati.
Kalau dalam situasi yang lain mungkin masih lebih baik, sekarang ini dia datang untuk menebus orang, entah tidak tahu harus bicara darimana.
Setelah mempersilahkan mereka bertiga duduk, Santo kembali sibuk menuangkan kopi untuk mereka bertiga, hal seperti ini dia tidak boleh membiarkan pelayan yang melakukannya.
Itu merupakan sikap yang menunjukkan rasa tidak hormat pada Tuan muda Thomas!
Santo berkata sambil tersenyum, “Ini adalah kopi luwak asli, silakan dicicipi. Tidak mudah untuk mendapatkannya.”
“Tuan muda Thomas, kalau punya waktu luang, Anda boleh datang berkunjung, meskipun tidak ada pelayanan yang sangat khusus di Tasty, namun kedatangan Anda merupakan kehormatan bagiku.”
“Ada lagi, dua hari ini aku mendapatkan wine yang jauh lebih bagus daripada Lafite untuk Anda cicipi.”
“Oh iya, di restoran kami ada juga…”
......
Dalam hati Thomas tersenyum pahit, Santo ini membicarakan semuanya, namun tidak membicarakan hal penting, kelihatannya dia harus inisiatif untuk membuka mulut terlebih dahulu.
Susah payah menunggu Santo lebih tenang, Thomas segera memanfaatkan kesempatan itu dan berkata dengan berat, “Begini, Bos Santo…”
“Kedatanganku hari ini, untuk masalah Wanda…”
“Loh? Ternyata Anda datang untuk hal itu?” sejak awal Santo sudah tahu, hanya saja berpura-pura terkejut, “Tuan muda Thomas, ucapan Anda sungguh melukai hatiku, hanya satu orang saja, kapanpun Anda ingin melepaskannya, Anda bisa melepaskannya sesuka hati Anda.”
Mata Thomas membelalak lebar, sebelumnya dia sama sekali tidak pernah menyangka Santo adalah orang yang mudah diajak bicara.
Jumlah hutang yang genap 20 miliar, jadi? Wanda si penjamin ini, langsung dilepaskan begitu saja?
Dia bukan orang bodoh, dia langsung tahu kalau Santo pasti memiliki niat jahat, sehingga dia menoleh ke arah Dimas.
Dimas tersenyum dan bicara dengan santai, “Bos Santo, tuan muda kami datang untuk menebus orang, uang 20 miliar ini akan kami bayar secara penuh, kita barter orang dengan uang di saat bersamaan, dengan demikian semua lebih jelas dan sama-sama enak, juga tidak akan ada masalah di kemudian hari.”
Begitu mendengar ini, meskipun Thomas ingin mencegahnya juga sudah terlambat.
Kedatangannya ke sini adalah untuk membicarakan hal ini dengan jelas, setiap hutang ada tuannya, jangan mempersulit Wanda, karena sejak awal Ivan memang sengaja ingin mengorbankannya.
Siapa yang menyangka Dimas langsung mengatakan kalau ingin menebus orang, ucapan yang sudah diucapkan mana mungkin bisa ditarik kembali!
Luna juga langsung tercengang dan menepuk keningnya.
Dasar bocah yang hanya membuat masalah, sudah dia duga dia hanya bertubuh subur tapi otaknya kurang subur, namun ini…
Namun ini cukup membuat ekspresi Santo membatu di sana.
“Dek Dimas, kenapa kamu bicara seperti itu? Apakah kamu sedang memandang rendah aku Santo Cendana? Ketiga botol wine itu kuberikan pada kalian secara gratis, dan ketika itu aku sudah mengatakan kalau semua pengeluaran kalian di Tasty biar aku yang traktir. Tujuanku melakukan hal ini karena melihat ada orang yang berniat mempersulit Tuan muda Thomas, untuk membantu Tuan muda Thomas membalas orang itu, aku baru berbuat demikian, sekarang kamu melakukan ini bukankah sama saja tidak menghargaiku.”
Dimas menyilangkan tangannya, lalu berpikir, sepertinya ini masuk akal, sehingga berkata sambil tersenyum, “Kalau begitu, kami tidak akan memaksa.”
Hah! Deal?
Santo tercengang, dia mengira masih harus menghabiskan tenaga untuk membujuk Tuan muda Thomas berhutang budi padanya.
Dia tahu anak orang kaya, terutama keluarga konglomerat yang sangat kaya, tidak akan mudah berhutang budi pada orang lain.
Siapa yang menyangka akan semudah ini?
“Baiklah, bagus kalau begitu, aku akan segera menyuruh orang untuk membawa Nona Wanda kesini!”
Santo begitu bersemangat, sehingga langsung menyetujuinya, karena dia juga melihat ekspresi Thomas yang terlihat keberatan, dia takut nanti dia akan berubah pikiran.
Setelah dipikir dengan seksama, Thomas berkata dengan serius, “Kak Santo, aku berhutang budi padamu, kalau suatu hari kamu menemui kesulitan yang bisa kubantu, aku tidak akan menghindar.”
Apa? Tuan muda Thomas memanggilku Kak Santo?
Santo semakin bersemangat, namun dia tahu ada hal yang tidak boleh diperlihatkan dengan mudah.
Dia mengangguk dengan puas dan tersenyum, “Baiklah, kalau begitu mulai hari ini, Tuan muda Thomas akan menjadi saudara Santo Cendana, kelak apapun masalahmu, silahkan ceritakan padaku jangan sungkan, tidak banyak hal yang tidak bisa kuselesaikan di Kota ini.”
“Uhm, baiklah, terima kasih Kak Santo.” Thomas mengangguk.
Dia tahu ada ucapan yang tidak berguna meskipun dikatakan sebanyak apapun, mempraktekkannya adalah yang terpenting.
Sebenarnya yang paling puas di sini adalah Santo, bisa-bisanya dia dan Tuan muda Thomas menjadi kakak adik?
Kalau bukan karena masih ada orang di sini, rasanya dia ingin menjewer telinganya sendiri untuk memastikan dia tidak sedang bermimpi!
Tidak sampai lima menit, pintu ruang kerja Santo diketuk.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Wanda berjalan masuk.
Selama tiga hari ini dia sama sekali tidak diperlakukan buruk.
Malah Santo menyuruh orang untuk membelikan pakaian ganti untuknya.
Ruang yang dia tempati memiliki semua fasilitas yang dia butuhkan, sama sekali tidak membuatnya kesulitan.
Namun dia tetap merasa khawatir.
Kenyataannya, begitu Ivan pergi, dia langsung menyesal, bagaimana kalau Ivan tidak datang?
Dia tidak berani membayangkan, kalau sampai Ivan tidak datang, bagaimana nasibnya.
Di televisi juga sering ditayangkan.
Hutang uang dibayar dengan tubuh.