
Begitu mendengar ucapan ini, Wanda langsung menyembur!
Dan begitu menyembur, dia langsung merasakan mual, langit-langit seolah berputar-putar, membuatnya nyaris terjatuh.
“Aaa! Wanda! Kamu gak kuat minum, kenapa masih minum sebanyak itu!”
Milan panik, dia segera berjalan ke sisi Wanda dan memapahnya.
“Papah dia ke samping!” Martin sedang asik ngobrol, sungguh merusak suasana.
Milan melihat ini segera memapah Wanda ke toilet.
“Wow, keren, keren banget!” Luna mengacungkan jempol dengan penuh kagum.
Freya terlihat baik-baik saja, lalu mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang begitu lezat.
......
Kalau dia tahu Freya sejago itu, dia tidak akan balapan minum dengan Freya!
“Si ****** itu… aku tidak akan melepaskannya!”
“Oeekkk~~!”
Begitu memikirkan ini, lambungnya kembali bergolak, wine yang tadi dia minum semua tumpah ruah keluar dari mulut dan hidungnya!
......
Ekspresi Martin langsung menjadi sedikit canggung.
Pertama, karena Wanda mabuk, sehingga memotong ucapannya selanjutnya.
Kedua, dia mengobrol dengan Santo sampai sekarang, dia sama sekali tidak memberikan jawaban.
Apakah Santo tidak ingin membantu? Hati Martin langsung bergetar.
Kalau tidak bisa membantu, lebih baik dia segera mencari cara yang lain, tetapi uang 400 juta ini sudah terpakai!
Memikirkan ini, rasanya ingin sekali terjun dari gedung.
Dia melihat jam, memutuskan untuk tidak lagi menundanya, siapa yang tahu nantinya Santo akan pergi begitu saja.
“Bos Santo…” Martin tertawa dengan ramah, lalu mengangkat gelasnya sambil berkata, “Aku bersulang untuk Anda, ngomong-ngomong bantuan yang tadi kita bicarakan…”
Santo juga mengangkat gelasnya, membenturkannya perlahan, lalu meminum wine di gelasnya sampai habis.
Kemudian bertanya, “Yang kamu bicarakan yang mana ya?”
Martin langsung menarik nafas panjang, keringat dingin juga langsung meluncur turun dari keningnya, dia berkata dengan hati bergetar, “Yang tadi kita bicarakan, mengenai surat kontrak…”
“Oh, soal itu.” Ucap Santo seolah baru ingat, “Ini gampang sekali, kamu tinggal bawakan surat kontraknya, lalu mencari dinas terkait untuk melaporkan Bright Property, maka kontraknya akan dianggap tidak berlaku, dan kamu juga tidak perlu bertanggung jawab, selesai.”
......
Martin langsung membelalakkan matanya. Ide ini masih butuh diberitahu oleh Santo? Dia sudah tahu ide ini sejak lama!
Kalau cara ini mempan, dia tidak perlu sengaja menemui Thomas untuk menjadi perantara, mengorbankan begitu banyak hal, sampai meminta bantuan Santo.
Bright Property bisa menjadi perusahaan besar di kota ini, karena mereka memiliki jaringan koneksi yang begitu kuat.
Kalau dia benar-benar melakukannya, mungkin keesokan harinya, mereka sekeluarga akan menghilang tiba-tiba!
Lapor? Kecuali dia mau mati!
Martin langsung paham, ini pasti permainan Thomas!
Pasti Thomas ingin membalas dendam pada keluarganya karena membatalkan pernikahan, sehingga setuju untuk membantu! Lalu memberi tahu Santo rencananya, sehingga bisa mempermainkan mereka!
“Thomas! Kamu benar-benar kejam!”
Mata Martin memerah, dia tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja, menimbulkan suara yang sangat keras.
“Dasar bajingan kejam tidak berperasaan! Anak haram yang dipungut oleh Tanto! Meskipun keluarga kami bersalah padamu, tapi apakah kamu tidak terlalu kejam!”
“Aku hanya setuju perjodohan kalian dibatalkan, kamu malah menjebakku seperti ini?”
Ledakan amarah yang bertubi-tubi ini membuat ruang VVIP1 yang tadinya tenang bagaikan tersambar petir, membuat semua orang yang ada di sana kebingungan.
Terutama Thomas, dia menatap Martin dengan ekspresi wajah yang begitu tegas. Ternyata, ini penilaian Martin terhadap dirinya. Bajingan? Anak haram? Thomas terdiam, karena dia mendapati Santo yang tidak kalah kebingungannya, sama sekali tidak paham apa yang membuat Martin mengamuk seperti ini.
Setelah sesaat, Thomas tersenyum dan bertanya, “Martin, gue tuh lagi ngebantuin elu, maksudnya apa nih?”
“Membantu? Gak butuh!” Martin tersenyum dingin, lalu bertanya dengan nada dingin, “Memangnya kamu pikir aku tidak tahu? Kamu bekerja sama dengan Bos Santo, menyuruhku melaporkan Bright Property, lalu? Bukankah kami sekeluarga akan menerima pembalasan Bright Property, lalu mati di jalanan?!”
Thomas tercengang, lalu melirik Silvia dan adiknya yang ekspresinya tidak kalah buruknya.
Martin segera berlutut di hadapan Santo sambil berderai airmata, “Bos Santo! Kumohon, jangan mempermainkanku bisa tidak? Malam ini aku menghabiskan uang 400 juta, hanya untuk bertemu dengan Anda! Memandang itikad baikku, tolong bantu aku kali ini! aku Martin Ningrat menjadi budak pun pasti akan membalas budimu ini!”
Melihat Santo tidak merespon, dia mengusap air matanya dan berdiri sambil berkata dengan penuh amarah, “Jangan mendesakku melakukan hal yang tidak kuinginkan! Bos Santo, kalau kamu tidak membantuku, tetap mau bekerja sama dengan Thomas untuk membalasku, maka aku akan menyebarkan kejadian hari ini, meskipun harus mati, aku akan mengajak kalian mati bersamaku!”
Martin sungguh tidak berdaya lagi, mungkin sejak dia membayar 400 juta itu, dia sudah tidak punya jalan lain lagi, Santo tidak mau membantu, maka dia hanya bisa mengikuti takdir.
Tentu saja, kontrak yang dia tandatangani ini hanya satu masalah besar, sementara temannya yang pengacara itu mengatakan padanya bahwa masih ada satu masalah kecil lagi.
Yaitu di akhir kontrak ada satu baris kalimat yang isinya kurang lebih seperti ini, Martin Ningrat adalah penanggung jawab langsung semua proyek Bright Property selanjutnya.
Dan dua hari yang lalu, Ivan berencana memintanya menandatangani dua kontrak lagi.
Dia sudah mendapatkan ilustrasi kontraknya, dan masalahnya masih tetap sama. Ivan ingin dia menjadi penanggung jawab, ini sama saja mengurasnya habis-habisan, sekali demi sekali mendesaknya ke dalam jurang!
Kalau terus seperti ini, mungkin kali ini dia bisa menghindar dengan beruntung, namun ini cepat lambat pasti akan bermasalah! Sehingga Martin juga terdesak oleh keadaan, dia sudah tidak bisa memikirkan cara lain lagi!
Dalam kondisi terdesak, dia akhirnya meledak!
Milan sedang membantu Wanda di toilet, mendengar suara teriakan Martin dari luar, dia juga sangat terkejut dan segera berlari keluar. Dia juga mendengar semua ucapan Martin, Thomas ini sama saja dengan membunuh mereka sekeluarga!
Karena panik, dia juga tidak peduli pada apa pun lagi, dia segera memaki dengan penuh emosi, “Thomas! Dasar anak haram yang lebih rendah dari binatang! Kembalikan uangku!”
Sambil memaki, dia menyerang Thomas dan berniat menghajarnya! Malam ini dia menghabiskan uang 400 juta!
Uang ini adalah uang yang dia hemat bersama Martin, bagaimana mungkin dia tidak marah?
Ini nyaris membuatnya gila karena amarah! Rasanya dia ingin menguliti dan mematahkan semua tulang Thomas!
Namun Dimas berdiri dan langsung menghadangnya. Santo mengangkat gelas wine dan meminumnya seolah tidak terjadi apa pun.
Sekarang dia sudah paham kenapa Martin bisa tiba-tiba mengamuk seperti itu.
Namun Martin yang salah paham, dan belum sempat menjelaskan kesalahpahaman, Martin sudah memaki sekejam itu.
dia melirik Thomas, dalam hati merasa begitu kagum, ketenangan ini bukan sesuatu yang dimiliki sembarang orang.
Kalau orang lain, sudah berniat baik malah diperlakukan seperti ini, mungkin sudah angkat kaki.
“Bagaimana? Kamu masih mau bantu atau tidak?” tiba-tiba Santo bertanya.
Thomas mengetatkan bibirnya, menatap pasangan suami istri keluarga Ningrat yang menatapnya dengan tatapan dingin, lalu berkata, “Karena sudah datang, Bos Santo, sebaiknya bantu saja, ini adalah yang terakhir kalinya.”
“Baiklah, karena kamu sudah buka mulut, aku akan membantu mereka kali ini.”
Santo tersenyum, lalu melihat ke arah Martin dan berkata, “Martin, aku rasa kamu sudah salah paham pada kami.”