
Sekarang sudah hampir tengah malam.
Pergi ke rumah Winda hanya berdua, pria dan wanita dalam satu ruangan.
Rasanya kurang etis dan berbahaya.
Tentu saja Thomas memahami persoalan ini.
"Eee... ini, oke!"
Namun entah kenapa, ucapan yang dilontarkan malah berbeda.
Mungkin Winda juga tidak menyangka Thomas akan mengiyakan ajakannya semudah itu, wajahnya yang mulus itu seketika langsung merona.
"Kalau begitu buka pintunya, kuantarkan kamu ke parkiran!"
Ucap Winda dengan hati-hati. Dirinya gugup dan itu membuatnya salah tingkah.
Tahun ini Winda berusia 25 tahun.
Selama hidupnya dia tidak pernah berpacaran.
Ibunya sudah meninggal sejak lama.
Hubungan yang rumit dalam keluarganya membuatnya memiliki karakter yang begitu kuat.Sejak remaja, tak peduli seberapa besar rintangan menghadang, dia selalu ingin menjadi yang terhebat!
Karena hanya dengan cara itu, ayah Winda tidak meremehkannya, dan dia bisa menghindari hukuman dari Jacquin.
Nilainya pelajarannya bagus, dia selalu mendapatkan pujian dari Adrian.
Semakin hebat kemampuannya bekerja, Adrian akan semakin melihatnya.
Dan secara otomatis, Jacquin tidak akan berani berkutik. Dia bisa dengan mudah menggerakan ibu dan saudara tirinya.
Begitulah kehidupan yang dia jalani selama ini...
Dia memfokuskan seluruh waktu dan juga pikirannya dalam pekerjaan.
Semua ini bukan hanya untuk dirinya, namun juga untuk ayahnya agar bisa mempertahankan posisi mereka di Bright Property.
Dia sangat paham dengan kondisi internal Bright Property, terutama dua tahun terakhir ini. Selain itu, kondisi kesehatan Adrian sedang bermasalah.
Hampir semua pekerjaan Adrian dilemparkan padanya. Selama itu, dia menganalisa situasinya dengan lebih jelas.
Bright Property adalah bisnis yang didirikan oleh Adrian dan ibunya, namun pemegang saham terbesar sudah bukan Adrian lagi, melainkan Markus.
Jika dia ingin mempertahankan hasil jerih payah ibunya, maka dia harus bekerja lebih keras untuk membuktikan dirinya layak.
Karena hal inilah, cinta tak ada di kamusnya.
Malam itu di Tasty, sikap Thomas yang begitu tidak sopan memang membuatnya sangat marah awalnya.
Tentu saja dia tahu itu karena Thomas mengira dia akan bunuh diri dengan melompat dari gedung, meskipun kenyataannya tidak begitu.
Dia dibuat tertarik oleh keramahan dan juga keluguan Thomas.
Selama ini ada begitu banyak pria yang tertarik padanya, namun Winda hanya melihat nafsu dari sorot mata mereka.
Sehingga dia melihat hubungan percintaan sebagai sesuatu yang mengerikan.
......
Winda membawa Thomas naik lift ke lantai 12.
Rumahnya ada di lantai 12.
Dia merogoh kunci dan masuk dengan begitu hati-hati, lalu berkata dengan tegang, "Masuklah."
Apartemennya berukuran 150 meter persegi.
Desainnya minimalis.
Begitulah kesan pertama yang ditangkap oleh Thomas.
Bahkan terlalu minimalis.
Ruang tamu yang luas hanya diisi oleh sebuah sofa dan meja kecil.
Thomas menjadi tertarik untuk mengamati perabotan seisi rumah.
Sebenarnya tidak ada yang bisa dia lihat.
Namun Thomas penasaran dengan kehidupan wanita yang tinggal di apartemen seperti ini.
"Duduk saja di sana, aku buatkan kopi untukmu."
Winda menenangkan hatinya yang berdebar tidak karuan, lalu berjalan masuk ke dalam dapur dengan tergesa-gesa.
Dia ahli dalam membuat kopi dan mie instan.
Thomas berkeliling di ruang tamu dengan santai.
Setiap melewati sebuah pintu, dia akan membuka dan melihat-lihat. Sesuai ekspektasi, di dalam ruangan itu kosong, tak ada benda atau hiasan dinding.
Empat kamar dan dua ruang tamu, dua kamar diantaranya dibiarkan kosong, dan salah satu ruangan berisi sebuah lemari buku dan meja kerja. Tidak perlu ditebakpun sudah tahu ini pasti ruang kerja Winda.
Seorang wanita yang tinggal sendiri, bisa dikatakan rumahnya tidak ada apa-apa, namun hanya ruang baca ini yang tertata begitu rapi dan lengkap.
"Gak kelihatan ya, ternyata Winda ini seorang workaholic!" Thomas berseru terkejut dan masuk untuk melihat-lihat.
Buku yang tertata diatas rak semuanya behubungan dengan ekonomi, teknik diplomasi, managemen dan semacamnya.
Di atas meja juga ada sebuah laptop.
Dia keluar.
Lalu berjalan masuk ke ruangan yang paling terakhir.
Thomas melupakan hal yang sangat penting.
Kamar tidur. Sesederhana apapun sebuah rumah pasti memiliki kamar tidur, 'kan?
Dia hanya mendapati pintu kamar yang tertutup tidak rapat, dan tanpa pikir panjang dirinya mendekat.
"Oh, kamar ini harum sekali..."
Lalu dia mengulurkan tangan dan meraba dinding di samping pintu untuk menghidupkan lampu.
Detik berikutnya, Thomas dibuat tercengang.
Pakaian dalam berbahan renda dan baju tidur satin dilemparkan begitu saja di lantai oleh pemiliknya...
Thomas segera menutup pintu. Begitu menoleh, dia malah melihat Winda yang entah sejak kapan berdiri di belakanganya yang sukses membuat dirinya terkejut.
"Aaa!"
"Aww!"
......
Tidak sampai 10 menit yang lalu Winda masuk ke dapur untuk membuat kopi, tentu saja dia melihat Thomas yang sedang melihat-lihat rumahnya.
Bahkan sampai masuk ke dalam ruang kerjanya sebentar.
Winda tidak keberatan. Dirinya malah berpikir mungkin Thomas menyukai desain rumahnya yang minimalis.
Bahkan dirinya merasa rumah ini terlalu minimalis.
Sampai dia selesai membuat kopi dan membawanya keluar, yang dia lihat malah Thomas sedang menyalakan lampu kamar tidurnya.
TIba-tiba dirinya teringat oleh pakaian yang dia letakkan begitu saja karena terburu-buru tadi...
Dia ingin mencegahnya, namun sudah terlambat.
Kemudian Thomas berbalik dan keduanya sama-sama terkejut.
Tetapi tangan Winda masih memegang dua cangkir kopi.
Begitu tangannya bergetar, kopi langsung tumpah ke tubuh Thomas, membuatnya berteriak karena kepanasan.
"Aaaa, Thomas! Gimana? Kamu gapapa?"
Winda langsung sadar kalau dia membuat Thomas kepanasan, sehingga dia segera menepuk bagian yang terkena kopi dengan panik.
"Aww~! Jangan menepuk bagian itu!"
Bagian itu mendapat serangan, membuat Thomas langsung berkomentar.
"Ok, gak akan aku tepuk-tepuk! Sakit gak? Biar aku elus ya..." Winda benar-benar sangat terkejut.
"Ga! Jangan dielus..."
Thomas berteriak sambil menghindar, namun gerakan Winda jauh lebih cepat daripada dirinya.
Winda berkata sambil mengulurkan tangannya yang lembut dan halus.
Ketika mereka berdua menyadari ada yang tidak beres...
Mereka langsung tercengang.
Thomas memang biasa tidak mengenakan celana dalam. Alasannya karena terlalu ketat sehingga membuat dirinya tidak nyaman.
Dia selalu suka memakai baju santai yang longgar.
Winda tercengang dan refleks memencetnya...
Tidak mengganjal, terasa cukup nyaman untuk disentuh...
Namun detik berikutnya terjadi perubahan...
"Kamu jangan mikir aneh-aneh ya, aku cuma mau memastikan..."
Winda mengangkat kepalanya, wajahnya sudah merah merona sampai seperti apel ranum, namun juga terlihat kebingungan, "Memastikan... di sini, terkena kopi atau tidak..."
"Mungkin, sedikit... tapi seharusnya masih berfungsi." Thomas ingin menangis rasanya.
Winda berdiri dan berjalan ke dapur dengan kepala menunduk dan tergesa-gesa. Setelah terdengar suara klontang, dia segera kembali.
Satu tangannya memegang semangkuk es batu.
"Toilet... di sana."
Wajah dan telinga Winda memerah.Namun, dirinya cemas karena kopi tadi tumpah tak tersisa mengenai bagian sensitif Thomas.
Kalau sampai kenapa-napa bagaimana!?
Thomas tidak bergeming dan langsung bergegas ke toilet.
Begitu pintu toilet tertutup, dia langsung melepas pakaiannya, menggunakan es dan juga air untuk menetralkan rasa panas.
Sampai rasa tidak nyaman itu akhirnya hilang.
Untung saja masih aman!
Dan tiba-tiba, pintu toilet terbuka!