
Thomas dan Winda sepanjang jalan menikmati bangunan peninggalan sejarah dan berbagai pemandangan lokal. Rasanya sangat menyenangkan.
Karena rute mereka berbeda dengan Luna, mereka baru kembali setelah berkeliling seharian penuh.
Winda agak kelelahan, dan Thomas memungut sebongkah batu yang ada di pinggir jalan agar dia bisa duduk dengan leluasa, sekalian memakan sedikit cemilan dan buah untuk mengembalikan energi yang hilang.
Melihat Winda mengusap keringat di keningnya, Thomas segera memberikan tisu yang dia simpan dalam tas.
"Terima kasih." Winda menerimanya dengan senyum tipis,"Kamu tak pernah pergi sejauh ini tapi malah bisa menghafal semua jalan."
"Ga ada hubungannya dengan itu, semua ini karena pengalaman hidupku banyak."
Sepanjang perjalanan ini Thomas sama sekali tidak merasa lelah, tapi hanya merasa sangat lapar saja.
Dia memakan dendeng kering, karena mengunyah dengan asal sebelum menelannya, membuatnya tersedak dan tanpa sadar memanjangkan lehernya.
"Ini airnya."
Begitu melihatnya, Winda segera memberikan air padanya.
Thomas juga tidak berpikir panjang, dia langsung menenggak air dengan cepat.
"Eeekh, aku nyaris mati tersedak..." Thomas bersendawa lalu mengembalikan botol air mineral yang ada di tangannya.
Saat itulah, Winda sadar.
Air ini sudah dia minum, sekarang Thomas juga meminumnya, bukankah ini sama dengan...
Jntungnya tanpa sadar berdegup semakin kencang.
"Nih, kamu juga minum dulu, mendaki butuh tenaga yang besar, kalau kamu enggak makan & minum mana kuat sampai puncaknya." setelah Thomas berkata dengan wajah tersenyum, dia kembali menunduk dan memakan dendeng keringnya.
Begitu menggigitnya, dia mulai mengunyahnya dengan asik, melihat Winda yang masih duduk membatu di sana sambil menatapnya dengan sorot mata yang aneh, membuat Thomas merasa bingung.
"Nih minum, untuk menambah cairan tubuh, kita masih harus berjalan cukup jauh."
Thomas mendorong botol air mineral dan meminta Winda segera meminumnya.
"Cuaca panas memang tidak panas jadi tubuh tidak akan dehidrasi. Tapi, tubuh tetap butuh air, itulah pengetahuan paling umum."
"Uhm... kalau begitu, baiklah."
Wajah Winda merona dan menyeruputnya dengan perasaan gugup.
"Loh, mukamu kenapa semerah itu!" ketika Thomas mengangkat kepala langsung bertanya dengan perasaan terkejut.
"Mungkin, karena cuacanya yang terlalu panas." Winda mencari sebuah alasan untuk berkelit.
Thomas mengangguk dan berkata oh begitu secara singkat, lalu kembali mengulurkan tangannya pada Winda, "Aku juga mau minum."
......
Setelah pergumulan sesaat, akhirnya Winda memberikan air mineralnya pada Thomas.
Dia menenggak botol tersebut, dan airnya hanya tersisa setengah. Kemudian, dia mengembalikan kepada Winda.
Winda diam-diam melirik Thomas, dia berpura-pura mengangkat botol air dengan biasa saja, lalu meminum habis sisanya.
Tubuhnya menegang, bukan karena minum air melainkan dirinya seperti sedang melakukan kejahatan dengan penuh keberanian dan terang-terangan.
Namun... perasaan seperti ini rasanya lumayan juga.
Setelah makan dan minum, Thomas menepuk perutnya, dengan puas dia berkata, "Ayo, sudah jam 4, kita balik yuk."
Thomas berdiri terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangan kepada Winda agar bisa membantunya berdiri, setelah menarik Winda mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Orang yang datang ke tempat ini kebanyakan adalah kelompok tur.
Namun Thomas dan Winda merupakan wisatawan pribadi, melihat area wisata yang lumayan mereka berhenti lebih lama dan menikmatinya, ini membuat mereka tertinggal jauh dari rombongan tur.
"Loh? Cantik, kebetulan sekali, tidak disangka kita bisa ketemu disini."
Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang mereka, ucapan yang begitu tidak sopan membuat Thomas lansung mengerutkan alisnya.
Begitu dia mengangkat kepalanya, ternyata itu tiga pemuda yang tadi mereka temui saat makan.
Hanya cukup berpikir sejenak saja, Thomas langsung paham.
Kemungkinan sepanjang jalan ini dia dan Winda sudah dibuntuti.
Winda juga menyadari hal yang sama.
Perampokan dan berbagai macam pemikiran buruk langsung memenuhi pikirannya, di tempat sepi seperti ini, jika membunuh orang dan membuang jenasahnya...
Katika dia sedang panik dan kebingungan, Thomas melangkah maju dua langkah dan menghadang dihadapannya.
Wajah Thomas terlihat begitu tenang, dia mengamati ekspresi ketiga orang ini dan berkata dengan tenang, "Apa yang kalian inginkan?"
Didunia persilatan, bisa dikatakan Thomas memulai semuanya terlalu telat, namun kecepatannya dalam berlatih memiliki kecepatan yang sangat menakjubkan.
Baru beberapa hari saja, energi murni dalam tubuhnya sudah mampu menutrisi seluruh otot dan meridian dalam tubuhnya, membuat sekujur tubuhnya mengalami perubahan yang sangat pesat.
Bisa dikatakan untuk menghadapi 10 orang preman pun bukanlah masalah besar baginya.
"Hehe, kami gak mau ngapa-ngapain kok, hanya ingin berteman dengan pacarmu saja."
Thomas berkata dengan alis mengkerut, "Maaf, dia tidak ingin bergaul dengan teman yang tidak jelas."
"Bah! Tidak jelas? Bro, hati-hati sama omongan lu ya!" seorang pemuda lainnya langsung memberi peringatan dengan tidak wajah senang.
Winda memang sangat cantik, dan kecantikannya ini membuat setiap pria yang melihatnya ingin mencicipinya.
Tentu saja ini bukan yang paling penting, yang terpenting adalah Thomas anak dari keluarga mana.
Pemuda yang memimpin bernama lengkap Barin Hongari, merupakan anak sepupu Keluarga Hongari.
Namun diantara para anggota keluarga Hongari, ilmu silat yang dimiliki olehnya, bisa dikatakan jauh di atas para generasi muda seangkatannya.
Tujuan dia membuntuti Thomas sampai sejauh ini ada dua.
Pertama, Thomas keturunan clan tertinggi langsung, atau memiliki kekuatan yang sangat tinggi, dia akan dengan senang hati menambah seorang teman.
Kedua, Thomas hanya seorang keturunan dari keluarga bangsawan kecil, atau hanya sanak saudara jauh dari salah satu clan, merupakan generasi angkatan biasa, maka dia bisa berhubungan lebih jauh lagi dengan gadis cantik ini...
Meskipun Barin bukan keturunan langsung, namun dalam delapan clan tertinggi bukanlah omong osong, meskipun hanya bagian dari keluarga sepupu pun, kekuatan relasi dari orangtua saja tidak akan bisa dibandingi oleh keluarga konglomerat biasa, meskipun ingin menjilatnya juga tidak akan tercapai.
Apa yang ingin dia lakukan, asalkan tidak mengusik klan tertinggi, terhadap orang biasa, itu sama sekali tidak akan membuat masalah.
Anggota keluarga sepupu sangat jauh dibandingkan dengan keturunan langsung dalam segala aspek, namun mereka bisa memanfaatkan statusnya sebagai anggota keluarga sepupu untuk menyombongkan diri dan melakukan hal yang menguntungkan mereka.
Dan setelah membuat masalah pun akan ada anggota keluarga lain yang membantunya menyelesaikan masalah.
Tetua clan hanya bisa menutup sebelah mata untuk hal ini, tujuannya adalah demi clan dan juga untuk semuanya.
Oleh karena itu, di dalam kedelapan clan tertinggi ini, yang selalu membuat masalah adalah sanak saudara non inti.
"Tentu saja kalian yang tidak jelas! Tengah hari bolong berani mengganggu anak gadis orang, apa-apaan ini?" ucap Thomas sambil tersenyum.