
“Tuan muda, aku hanya ingin mengingatkan, tuan besar menjadi seorang konglomerat yang memiliki kekayaan sampai triliunan, aku rasa seumur hidupmu tidak perlu berjuang lagi, lebih baik Anda mengubah target Anda. Misalnya merubah cara pandang, pertimbangkan bagaimana cara memanfaatkan uang ini semasa hidupmu, berdasarkan cara Tuan muda menggunakan uang sekarang, uang yang dipakai sama sekali tidak mencapai 1/10.000 bunga keseluruhan aset yang dimiliki tuan besar…”
Thomas: “…”
Luna: “…”
......
Thomas berbalik dalam hening,mengangkat kepalanya menatap langit dengan sudut 45 derajat, berpikir cukup lama.
Dan pada akhirnya hanya menghela nafas panjang, “Haih, di usia muda sudah mencapai puncak kehidupan, bahkan kesempatan mengejar yang terakhir pun direbut, bagaimana caraku melalui sisa hidupku selanjutnya? Sungguh membuat bingung…”
Luna: “…”
Dimas: “…”
......
Villa ini sangat besar, luas bangunan villa ini mencapai lebih dari 800 meter persegi, jika dihitung beserta pekarangan dan taman mencapai lebih dari 1600 meter persegi.
Dimas mengajak Thomas dan Luna berkeliling.
Karena villa ini dibeli oleh Chandi dengan tergesa-gesa, sehingga belum sempat membeli furniture maupun elektronik apapun, berdasarkan cerita Dimas, Chandi berpesan, semua yang disukai oleh Thomas boleh dibeli.
Namun Thomas sama sekali tidak berpengalaman mengenai hal ini sama sekali.
“Kalau tidak begini saja, Dimas, aku transfer uangnya padamu, biar kamu yang belikan untukku?”
Dimas tersenyum dengan berat, “Tuan muda, Anda terlalu memandang tinggi diriku.”
“Ini bukan apa-apa, meskipun rumah ini sangat besar, namun kami hanya membutuhkan sebuah kamar, sebuah ranjang, sebuah meja, beberapa sofa.” Luna yang berada disamping mengingatkan.
“Sepertinya, ini masuk akal juga.” Dimas mengangguk.
“Kalau begitu, dek, bagaimana kalau besok kita berbelanja!” ucap Thomas sambil tersenyum.
Setelah menentukan waktu besok, mereka bertiga naik ke mobil dan meninggalkan villa.
Sepanjang jalan, Thomas dan Luna membicarakan rencana besok, bagaimana pun memiliki rumah yang besar adalah impian setiap orang miskin.
Meskipun Thomas sudah terlepas dari status miskinnya, namun cara berpikirnya tidak berubah karenanya.
Kedua kakak beradik ini sudah sepakat untuk tidak memberitahukan kabar ini pada Silvia untuk sementara.
Paling tidak harus menunggu dokter yang akan diutus oleh Chandi dan menyembuhkan penyakit ibunya dulu.
Berdasarkan dugaan Thomas, karena Chandi adalah konglomerat kelas dunia, maka dokter yang dia panggil seharusnya tidak terlalu buruk.
Dimas membawa mobil sampai ke dekat area tempat tinggal Thomas, Thomas menyuruhnya berhenti, kalau sampai terlihat oleh orang di sekitar sana, maka kabar ini akan sampai ke telinga Silvia.
Range Rover ini dibawa pulang oleh Dimas, besok pagi jam 8, mereka membuat janji untuk bertemu di Mall Sumarecon.
Kedua kakak beradik masuk dengan mengendap-endap.
Membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Siapa yang menyangka begitu Luna menyalakan lampu, langsung melihat Silvia yang sedang duduk diatas sofa.
“Ma… masih belum tidur? Uhm, aku mandi dulu!”
Luna mencari alasan, lalu menjulurkan lidah ke arah Thomas, dan kabur ke dalam kamar dengan cepat
“Thomas, duduk, ada hal harus mama bicarakan padamu.”
Alis Silvia mengerut, wajahnya yang kuning langsat terlihat begitu dingin.
Ini membuat Thomas terkejut, yang pertama kali dia pikirkan adalah Keluarga Ningrat.
Dan yang dia pikirkan sama sekali tidak salah, karena pada saat ini Silvia langsung bicara ke inti masalah, membuatnya yakin apa yang dia tebak memang benar.
“Hari ini om Martin menelepon, dia mengatakan kalau kamu membatalkan perjodohan, beritahu mama apa yang terjadi sebenarnya?”
Awalnya Thomas mengira bisa menjelaskannya dengan singkat, namun ucapan Silvia membuatnya merasa apa yang terjadi tidak sama dengan yang dibicarakan.
Dia yang membatalkan perjodohan? Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Thomas.
Thomas langsung berjalan ke hadapan Silvia dan duduk di sana, dia berkata dengan pelan, “Ma, jangan marah, mama bisa beritahu aku apa yang Martin ceritakan?”
“Uhm… baiklah, kita kesampingkan hal ini dulu, coba mama katakan, bagaimana cerita versi dia?”
Thomas berkata dengan begitu sabar dan lembut.
Dan disaat bersamaan, Thomas sedang memutar otak, dia harus bicara dengan cara apa agar tidak membuat Silvia terkejut.
Dia sungguh memandang remeh Martin, sebelumnya Thomas sama sekali tidak menyangka hal ini.
Ternyata Martin adalah orang yang bisa memutarbalikkan fakta seperti ini.
“Om Martin bilang kamu membuat Wanda marah sehingga dia memutuskan untuk putus denganmu iya kan?”
Thomas menghela dalam hati, lalu berkata, “Ma, kejadiannya sama sekali tidak seperti yang mama bayangkan…”
“Kalau tidak seperti itu lalu seperti apa? Kenapa kamu bisa begitu kekanakan.” Silvia mengerutkan alisnya lalu berkata lagi, “Besok adalah hari minggu, mama akan mengajakmu ke rumah Keluarga Ningrat untuk meminta maaf, kamu juga harus meminta maaf pada Wanda.”
Thomas langsung terdiam.
Kalau dia mengatakan yang sebenarnya, dia tidak yakin Silvia kuat menerimanya atau tidak.
Dia sungguh tidak ingin membuat Silvia mengetahui wajah asli ketiga orang anggota keluarga Ningrat itu.
Apalagi Wanda masih berada di Restoran Tasty menunggu tuan muda Ivan-nya datang menebusnya, bagaimana mungkin dia ada di rumah.
“Anak ini, apakah kamu sekarang sudah tidak ingin mendengarkan ucapan mama!”
Melihat Thomas terdiam, Silvia semakin marah.
Meskipun Silvia dan Thomas sama sekali tidak mempunyai ikatan darah, namun Thomas merupakan seorang anak yang berbakti.
Dia tahu dengan jelas, kalau dulu Silvia dan Tanto tidak memungut dan membesarkannya, mungkin dia sudah mati kelaparan di luar sana bahkan mungkin sudah jadi santapan anjing liar di luar sana.
Karena tidak memiliki hubungan darah, sehingga Thomas semakin menghargai hubungan ini.
Orangtua kandungnya sama sekali tidak peduli dengan hidup dan matinya, kedua pasangan suami istri inilah yang memberinya kehidupan.
Juga sebuah keluarga yang hangat.
Inilah mengapa dia tidak memiliki sedikitpun perasaan terhadap Chandi.
“Ma! Jangan desak kakak lagi,biar aku yang bicara!”
Rumah ini memang dasarnya tidak besar, apa yang terjadi di ruang tamu, semua terdengar jelas oleh luna yang ada di dalam kamar.
Martin sungguh bukan orang baik, bisa-bisanya dia bicara sembarangan dengan tidak tahu malunya.
Karena kesal, dia langsung keluar dari kamar untuk membela Thomas.
“Ma, jangan dengarkan omong kosong orang Keluarga ningrat, kakak sama sekali tidak bersalah! Mereka sekeluarga sama sekali bukan orang yang baik!”
“Sudah dek, jangan bicara sembarangan.” Thomas langsung bersuara untuk mencegahnya.
Silvia adalah orang yang sangat peka, dia bukan ibu rumah tangga yang lugu dan naïf, dari nada bicara Luna dia bisa mendengar ada yang tidak beres.
Apalagi dia tahu putrinya orang yang seperti apa.
Dia terdiam sejenak lalu bertanya pada Luna, “Luna, katakan pada mama dengan jujur, apa yang sebenarnya terjadi.”
Luna tidak langsung menjawab, dia melihat kearah Thomas terlebih dahulu, “Kak, kakak juga sudah lihat mereka orang seperti apa bukan, sekarang Wanda masih ada disana, dan tuan muda Keluarga Chandra itu juga tidak bisa dipercaya. Kalau tidak menceritakan semuanya pada mama, sampai mereka kemari, tidak ada yang tahu mereka akan bicara sembarangan seperti apa lagi!”
Dan ucapan ini menyadarkan Thomas.
Apa yang Luna katakan tidak salah.
Keluarga Ningrat memang paling alih dalam memutarbalikkan fakta, mulut mereka penuh kebohongan, kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelaskan pada Silvia, maka nantinya akan semakin merepotkan.
Dan pada akhirnya Thomas mengangguk.
Lalu Luna menceritakan semua yang mereka alami secara detail dan jelas sekali lagi.
Dia menyamarkan Restoran Tasty dan menggantinya menjadi sebuah restoran, dan ceritanya juga sedikit dia sesuaikan.
Silvia mendengarkan dengan tenang, sama sekali tidak se-emosional yang dibayangkan, dan ini membuat Thomas jauh lebih tenang.
Setelah Luna menceritakannya, dai reflek bertanya pada Silvia karena melihat wajahnya tetap begitu tenang, “Ma, mama tidak marah?”