
Sebagai seorang tenaga pendidik yang sudah mengabdikan seluruh hidupnya, apalagi yang dia butuhkan?
Uang? Kedudukan?
Tidak, tapi nama baik!
Coba saja tanya, guru mana yang tidak ingin namanya tersohor?
Thomas menyumbangkan uang 200 miliar untuk Trijaya, ini mengingatkan Ketua Dekan kalau kesempatan sekali seumur hidup sudah datang!
Membangun sebuah pilar motivasi, ini akan memotivasi para mahasiswa untuk lebih giat bekerja saat terjun ke dunia kerja.
......
Thomas juga merasa heran, kenapa Ketua Dekan mencarinya sepagi ini, dia sempat bertanya pada Dimas, namun dia menggeleng dan mengatakan tidak tahu.
Aneh… jangan-jangan gara-gara uang donasi 6 miliar itu?
Sepertinya memang hanya karena itu.
Dan masih belum tahu kalau Dimas sudah mendonasikan uang 200 miliar tanpa sepengetahuannya.
Dia berdiri disamping pintu dan mengetuk pintu.
“Oh… Ah! Thomas ya?”
Ketua Dekan sedang meminum tehnya dengan santai, dia terkejut mendengar suara ketukan pintu sampai tangannya bergetar dan menumpahkan sedikit tehnya di atas celananya.
“Iya Pak.”
“Masuklah, cepat masuk!”
Ketika mengatakan ini, pak dekan langsung berdiri dan maju membukakan pintu untuk Thomas.
“Sini, sini, sini Thomas, duduk, duduklah, bapak tuangkan teh untukmu dulu!”
Pak dekan terlalu senang sampai melupakan hal-hal kecil, sebagai seorang Ketua dekan, bisa-bisanya menuangkan teh untuk mahasiswanya.
Ketika kedua cangkir teh tersuguh di hadapan Thomas dan Dimas, pak dekan menghentikan senyumannya yang lebar dan berdehem, lalu mengalihkan pembicaraan langsung ke topik utama.
“Nak Thomas, bapak ingin menemuimu sepagi ini, sebenarnya karena masalah donasi 200 miliarmu untuk Trijaya…”
“Pfffth!”
Tehnya baru saja diseruput, kalau bukan karena Thomas menolah dengan cepat, mungkin dia akan menyembur tepat di wajah pak dekan.
“Tuan muda, begini, ini maksud Tuan besar.” Dimas yang berada disamping mengingatkan dengan suara pelan.
Dan ini memang keinginan Chandi.
Semua pergerakkan Thomas dilaporkan oleh Dimas pada Chandi, dan masalah Thomas yang ingin membantu Luna juga disampaikan.
Ketika itu, Chandi berkata dengan acuh, “Asalkan cucuku senang tidak masalah, suka-suka dia saja, 6 miliar cukup tidak? Apakah tidak terlalu sedikit, uang segitu bisa ngapain?”
“Kalau begitu maksud Tuan besar adalah…?”
“Cih! Donasi yang dilakukan Keluarga Levian, tidak pernah kurang dari 20 triliun…”
......
Dan pada akhirnya Dimas menentukan angka 200 miliar.
Dia punya status yang berbeda sehingga punya hak untuk memutuskan hal ini.
“Buset! Si pak tua itu apakah tidak terlalu barbar…” gumam Thomas.
Dia langsung dibuat begitu terkejut oleh angka 200 miliar itu.
Kalau sampai Thomas tahu awalnya Chandi berniat menyumbangkan 20 triliun, entah apa yang akan dia pikirkan sekarang, mungkin dia akan memaki Chandi pemborosan.
Uang sebanyak ini, sisakan untuk dia hamburkan bukankah jauh lebih bermanfaat?
Tentu saja ini tidak bisa menyalahkan Thomas, siapa suruh masa menjadi cucu sultan yang masih terlalu pendek.
“Baiklah, Bapak bisa sampaikan ada apa?” tanya Thomas dengan berpura-pura tenang.
Pak dekan tidak hentinya mengusap tangannya dan berkata sambil tersenyum, “Begini, karena nak Thomas sudah menunjukkan dedikasinya untuk universitas ini, sehingga aku menghubungi pihak pimpinan semalam, dan kami memutuskan untuk menjadikanmu Ketua Dekan kehormatan mulai hari ini.”
“Ketua dekan kehormatan?”
Thomas mengerjapkan matanya, namun dalam hatinya merasa begitu lega.
Ini benar-benar mendapatkan apa pun yang dia inginkan!
dia baru saja sedang memusingkan masalah Freya yang rumit, siapa yang sangka akan muncul hal seperti ini.
“Ok! Baiklah! Tapi saya ingin bertanya, sebagai Ketua Dekan kehormatan punya kekuasaan apa?”
Ini adalah hal yang Thomas perlu perhatikan, kalau memungkinkan, dia ingin memecat wakil dekan itu langsung.
Kimberly tidak punya backing, lihat saja dia punya modal apa untuk mengganggu Freya!
Mengenai ketidakadilan yang dialami Freya, ada dia yang menekannya, siapa yang berani tidak memandangnya? Tidak akan ada lagi orang yang berani sombong dan mengancam tidak akan meluluskan siapa yang tidak mendengarkan!
Ketua dekan tidak menyangka Thomas akan menanyakan hal ini secara tiba-tiba.
Ekspresinya terlihat berat dan berkata dengan senyum pahit, “Nak Thomas, Ketua Dekan kehormatan itu… hanya jabatan tanpa kuasa, namun apapun yang kamu inginkan bisa bapak bereskan.”
Thomas langsung merasa begitu kecewa, ternyata hanya sebuah nama jabatan tanpa wewenang, sama sekali tidak berguna.
Thomas tidak terbiasa meminta, apalagi itu adalah permintaan untuk memecat Wakil Dekan, takutnya ketua dekan pun tidak punya kuasa untuk itu.
Tiba-tiba Dimas berkata, “Pak Dekan, peraturan itu dibuat oleh manusia, aku rasa asalkan tuan muda kami menunjukkan iktikad yang memadai, pimpinan pasti akan memberikan sedikit wewenang, dan itu bukanlah tidak mungkin.”
Setelah Ketua dekan memikirkannya dia mengangguk dengan berat, dan memang benar seperti itu.
Thomas sudah begitu berdedikasi, kalau dia ingin menginginkan sedikit wewenang, pimpinan pasti akan mengalah.
Dan yang dia khawatirkan, siapa yang tahu apa yang Thomas ingin lakukan? Kalau sampai ingin membuatnya menanggung nama buruk, dia tidak akan melakukannya!
Dimas berpikir sejenak lalu berkata lagi, “Kalau tidak begini saja, Tuan muda kami akan mendonasikan 2 triliun, menurutmu begini sudah cukup belum?”
“Pffth!”
Thomas yang baru saja mengangkat cangkir kembali menyemburkan teh yang dia minum, dan kali ini tidak seberuntung yang tadi, karena semburannya mengenai tepat sasaran.
Ketua dekan juga langsung tercengang.
2 triliun? Apa maksudnya?
Thomas mau menyumbangkan uang 2 triliun????
Tiba-tiba pak dekan mengelap teh di wajahnya dan berkata sambil tersenyum lebar, “2 triliun? Benarkah?!”
Dimas dibuat tertawa oleh daun teh yang masih tertinggal di wajah pak dekan, “Tentu saja, kalau bisa ada kelonggaran, saya bisa langsung mentransfernya sekarang juga.”
"Tidak masalah! Ini sama sekali bukan masalah!" Pak dekan langsung bersemangat dan merasa di awang-awang, namun dia adalah orang yang sudah lama di bidang ini dan sangat berpengalaman, sehingga dia bertanya dengan hati-hati, "Entah Nak Thomas menginginkan wewenang untuk... Hal apa?"
Total 2,2 triliun sudah dikeluarkan, dan ucapan yang dilontarkan bagaikan air yang sudah disiram keluar, dia bisa apa?
Sehingga Thomas tidak lagi merasa sungkan, dia langsung mengatakan tujuan utamanya, "Saya ingin memecat Wakil Dekan Pak Wedy!"
"Wedy... Wedy Jemian?!" Pak dekan sempat tercengang lalu langsung merasa sangat senang!
"Iya benar, Wedy Jemian!"
Setelah diingatkan oleh pak dekan, Thomas baru ingat nama lengkap Wakil dekan adalah Wedy Jemian.
"Ok! Tidak masalah!"
Wedy ini dibimbing olehnya langsung mulai dari nol, siapa yang menyangka setelah menjadi Wakil dekan dia tidak hentinya mengadukannya pada pimpinan!
Bahkan kali ini, mengundang Thomas datang pun dia lakukan secara diam-diam, karena takut didahului oleh Wedy.
Bahkan Tuhan saja tidak kuat melihatnya lagi, mengutus Thomas dewa penyelamat ini, bukan hanya membuatnya mendapatkan nama baik, bahkan mengusir Wedy!
Pak dekan senang sampai tersenyum lebar, dia semakin lama semakin senang dengan Thomas.
Benar-benar mahasiswa yang begitu baik!
Sehingga mereka berdua melakukan kesepakatan rahasia.
Tepat jam 8, Thomas meninggalkan ruang Ketua dekan dengan puas.
Pak dekan sudah memutuskan, besok akan mengadakan pesta di kampus, mengumumkan Thomas menjadi direksi terhormat.
Dari Ketua dekan terhormat menjadi direksi terhormat, Thomas merasa cukup bagus.
Paling tidak dia bisa membela Freya dengan terang-terangan.
Namun 2,2 triliun tetap membuatnya merasa begitu sakit hati, oleh karena itu, dia mengkritik Dimas dengan tidak senang.
Namun Dimas malah berkata, “Tuan muda, kamu tidak tahu saja, tadinya Tuan besar ingin mendonasikan 20 triliun…”
Thomas: “……”
......
Jam 8, adalah jam para mahasiswa yang semalam pergi meninggalkan kampus kembali untuk kuliah.
Oleh karena itu mereka kembali ke kampus.
Ivan juga sudah datang setengah jam, dia sengaja memarkir mobil NSX miliknya di depan gerbang.
Tangannya memegang seikat buket bunga mawar yang masih segar.
Semalam Wanda mengambek, sehingga hari ini sengaja datang membuat Wanda senang.
Namanya juga wanita, tetap butuh dibujuk, Ivan tentu saja tahu tentang ini.
Mahasiswa yang datang ke kampus, baik pria maupun wanita, semuanya memperlihatkan tatapan mata kagum.
Bahkan ada beberapa mahasiswi yang mengedipkan mata dari kejauhan, berusaha mendapatkan perhatian Ivan.
Tentu saja Ivan menikmatinya, ini memang sudah seharusnya dia dapatkan, siapa suruh dia kaya?
Ada beberapa mahasiswa yang memiliki paras yang lumayan.
Namun Wanda masih belum didapatkan, apalagi ayahnya Martin menjadi penanggung jawab proyek property miliknya.
Pada saat yang menentukan ini, tidak boleh muncul masalah, menjalin hubungan dengan dua orang wanita tidak memungkinkan untuk saat ini.
Tidak lama berselang Wanda berjalan keluar.
Dia mengenakan rok merah muda, rambut panjangnya yang tergerai tertiup angin sepoi, lekuk tubuh yang indah membuatnya terlihat begitu menyegarkan.
Wanda tersenyum tipis.
Merenggangkan tangannya dan berjalan dengan cepat untuk menyambut Ivan.
Mirip seperti seorang putri yang sedang menyambut pangeran yang datang.
Begitu romantis bagaikan di negeri dongeng!
Namun, perhatian semua orang langsung teralih, karena sebuah mobil SUV yang begitu gagah dan mengkilat sedang melaju masuk ke dalam kampus perlahan.
Kalau mobil NSX Ivan diibaratkan sebagai seekor ayam jago.
Maka King Kalman milik Thomas ibarat seekor Singa gagah yang berdiri di tengah gurun!
Yang tadi mereka lihat membuat orang merasa kagum, namun yang muncul berikutnya membuat orang merasa begitu terkejut dan terpukau!
“Pooop! Pooop!”
King Kalman tiba-tiba membunyikan klakson yang terdengar seperti suara kereta api.
Dan sontak membuat Wanda begitu terkejut.
Dia menoleh ingin memaki.
Ini pasti ada yang sedang iseng!
namun begitu menoleh, dia melihat King Kalman yang melesat, membuatnya terkejut sampai refleks mundur beberapa langkah.
Ivan juga sangat terkejut, mobil ini sungguh keren, bahkan suara klaksonnya juga begitu unik!
Dan dalam hatinya juga muncul rasa iri yang begitu kuat.
Namun dia tidak berani maju dan bertanya kenapa mengagetkan pacarnya, karena dia tidak tahu siapa yang duduk di dalam King Kalman itu.
Kemudian, Ivan dan Wanda melihat pintu belakang terbuka.
Berikutnya Thomas turun.
“Hah! Kamu?!” Ivan kesal sampai membelalakkan matanya dengan lebar.
“Thomas!” Wanda terkejut sampai berseru, dan hatinya seolah terhantam oleh sesuatu yang berat.
Bagaimana mungkin dia mampu naik mobil semahal itu!
dua hari ini kabar mengenai mobil King Kalman begitu menggemparkan.
Dia terus berpikir untuk bertemu dengan pemilik mobil ini.
Siapa yang tahu pemiliknya malah Thomas!
Wanda melihat mobil sport NSX, lalu melihat lagi ke arah mobil King kalman, membuat perasaannya langsung goyah.
Thomas memperlihatkan senyum yang begitu cerah. “Ivan, tolong geser mobilnya sedikit, mobil lu ngalangin jalan gue.”
Ukuran mobil King Kalman sangat besar.
Mobil sport NSX malah diparkir di depan gerbang oleh Ivan yang suka pamer.
Sehingga kalau tidak digeser tidak akan bisa lewat, kalau tidak Thomas juga malas turun dari mobil dan bicara dengan pasangan ini.
Dalam hati Ivan muncul perasaan iri, dan setelah mengalami desakan langsung berubah menjadi amarah!
Dia pikir siapa, ternyata Si miskin Thomas!
Sebelumnya dia masih belum memastikan siapa orang yang ada di dalam mobil sehingga tidak berani mengusirnya, namun berbeda ketika melihat orang itu adalah Thomas!
Dasar OKB kurang ajar!
“Mobil lu sebesar itu, seperti truk sampah saja, salah siapa tidak bisa lewat? Kalau mampu tabrak saja!”
Ivan begitu kesal, dalam hati mengumpat Thomas naik mobil ini dan menyainginya.
Dan yang membuatnya lebih kesal adalah ini mobil orang yang paling dia benci, bukan salah satu loh!
“Bukan begitu, mobil gue gak takut ketabrak, sebaiknya mobil lu yang jauh sedikit, gue takut mobil mainan elu rusak, malah nangis minta ganti rugi.”
Ucap Thomas sambil tertawa.
“Brengsek! Memangnya gue takut sama elu? Kalau sanggup suruh Si Babon tabrak mobil gue! Kalau alis gue sampai mengkerut, gue Ivan Chandra bakal jalan terbalik kalau ketemu lu mulai hari ini!”
Di hadapan begitu banyak orang berani menyuruh seorang Tua muda Keluarga Chandra minggir? Mungkinkah? Ini adalah hal yang tidak akan pernah terjadi!