Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 84 70% Kenyang


Thomas: “Hah…”


Luna: “… Aaaa!”


Dimas: “…”


Wanda: “…”


......


“… hmph, Freya, nasi ada di sana… mau makan berapa banyak sambil saja sendiri.”


Silvia menunjuk meja yang ada di samping dan berkata sambil tersenyum.


Dia tidak tahu, baru berapa tahun tidak berjumpa, porsi makannya menjadi begitu banyak.


Sebelumnya, ketika di Restoran Tasty, Freya menghabiskan makanan satu meja seorang diri.


Ketika itu Silvia sedang emosi.


Ketika itu dia membuka suara dan meminta penjelasan Martin demi Thomas.


Dia sama sekali tidak memperhatikan ke 30 menu makanan yang ada di meja dan juga kondisi Freya.


Ketika Freya menginap di rumah mereka, keesokan paginya masing-masing mendapat semangkuk bubur ayam…


Tentu saja tidak kelihatan seberapa besar porsi makan Freya.


Terdengar suara sendok nasi yang berbenturan dengan dandang nasi dan juga piring…


Freya membawa piring besar yang dipenuhi oleh nasi, lalu berjalan ke samping Luna dan duduk dengan kepala menunduk.


“… Fre, Freya, kalau nasinya kurang, nanti tante masak lagi ya?”


“Tidak perlu tante, cukup kok.” Freya mengangkat wajahnya dan merasakan pandangan mata yang sedikit berbeda dari semuanya, dia sadar masih ada yang belum selesai makan, sehingga dia segera berkata lagi, “Kalau tidak, masak lagi sedikit…”


Dimas bertubuh besar dan tinggi, sehingga Silvia memasak nasi sampai satu rice cooker.


Siapa yang menyangka baru mengambil satu piring nasi untuk masing-masing orang, sisanya malah dihabiskan oleh Freya.


Dia hanya terkejut oleh porsi makan Freya, sama sekali tidak memikirkan hal lain.


Silvia tersenyum, menyimpan ekspresi terkejut di wajahnya, lalu mengambil panci rice cooker yang sudah bersih ke dalam dapur untuk memasak nasi lagi.


......


Wanda menatap Freya dengan wajah yang begitu terkejut.


“Freya ini apakah reinkarnasi hantu kelaparan? Nasi sebanyak itu, dia, dia benar-benar bisa menghabiskannya?!”


Tentu saja ucapan ini tidak berani Wanda katakan secara langsung.


Namun tatapan matanya ke arah Freya penuh dengan sinis dan juga tatapan merendahkan yang tidak bisa ditutupi.


“Eh, Wanda, mata lu ngeliatin kayak gitu maksudnya apa?”


“Ha? Aku? Aku gak maksud apa-apa kok… Luna, kamu, kamu salah lihat kali?” Wanda tersentak mendengar suara Luna dan segera menjelaskan.


“Hah… masa? Jangan-jangan lu punya rencana jahat lagi, berniat mencari keuntungan dari keluarga kami lagi!”


“Enggak kok, beneran enggak!” Wanda menggeleng dengan panik, lalu berkata dengan senyum yang dipaksakan, “Aku hanya… melihat Freya makan sebanyak itu… tapi sama sekali gak kelihatan gemuk, jadi…”


“Jadi lu lagi bersiap-siap, bagaimana cara menjelekkan Kak Freya di depan kakak gue iya kan?” ucap Luna dengan senyum yang sangat dingin.


“Luna, kamu berpikir terlalu jauh, aku sungguh tidak berniat seperti itu…”


“Hah… enggak? Yakin?”


“Aku, aku yakin!” Wanda segera mengangkat tangannya untuk membuktikan kalau dia tidak berbohong.


Dia tidak ingin berdebat dengan Luna.


Karena dia tahu, kedudukkan Luna dalam hati Thomas tidaklah biasa, kalau dia berani melawannya secara langsung, bukan hanya tidak bisa mendapatkan apa yang dia katakan, Thomas bahkan akan memihak pada Luna.


“Sudah dek, makan nasimu, untuk apa banyak bicara seperti itu?”


Pada saat ini Thomas menengahi.


Silvia juga kebetulan berjalan keluar, dia berkata sambil tersenyum, “Kalian tunggu sebentar lagi, sebentar lagi nasinya…”


“Eeegh~!”


Sebuah suara sendawa memotong ucapan Silvia.


Perhatian Thomas dan Dimas tertuju pada pembicaraan Wanda dan Luna, sama sekali tidak memperhatikan Freya.


Hanya sekejap saja.


Nasi sebanyak itu sekarang sudah bersih.


Dia kembali menerima tatapan terkejut dari semua orang.


Freya idam-diam menjulurkan lidahnya dan menjilat butiran nasi yang masih tersisa di atas bibirnya, setelah menelannya, dia berkata dengan wajah canggung, “Aku, aku sudah selesai makan…”


......


Silvia: “…”


Thomas: “…”


Dimas: “…”


Wanda: “…”


......


Apa itu perut karet?


Selama ini, semua yang ada di sini kecuali Freya, hanya pernah melihat di televisi.


Hari ini, mereka akhirnya melihat secara langsung.


Bahkan Dimas saja begitu terkejut: tubuh yang begitu kurus dan kecil, bagaimana caranya memakan sebanyak itu? Bahkan perutnya sama sekali tidak terlihat membesar! Lari kemana nasinya?


Meskipun dia juga makan banyak, tetapi mereka berdua berada pada situasi yang berbeda!


Suasana yang begitu aneh berlangsung cukup lama.


Dan bertahan lebih dari 10 menit.


Silvia berjalan masuk ke dalam dapur dan membawa keluar dandang berisi nasi yang baru saja matang.


Dia melihat kearah Freya dan berkata dengan wajah tersenyum ramah, “Freya… kalau kamu masih belum kenyang, ini masih ada, tante sudah masak banyak.”


Freya melihat piring besarnya yang kosong, lalu melihat ke arah dandang nasi yang dibawa oleh Silvia.


“Hm, baiklah, kalau begitu… aku makan sedikit lagi.” Freya mengangguk.


......


............


......


 “Uhm, bagaimana kalau kamu ambil saja sendiri?” ucap Silvia dengan ragu.


Freya makan begitu banyak, kalau dia mengambilkan terlalu banyak, lalu tidak habis, terlihat seperti sedang mempersulit dan sedang meledek orang.


Kalau mengambil sedikit…


Seperti memandang rendah orang dan tidak mau memberi makan tamu.


“Hm.”


Lalu Freya kembali mengambil satu piring nasi…


Di bawah tatapan takjub semua orang, Freya sekali menghabiskan nasinya sampai tidak tersisa.


Meskipun dia makan tidak secepat tadi, namun semua orang bisa melihat kalau Freya makan lebih lambat karena nasi yang baru matang masih sangat panas.


Dan yang membuat semua begitu takjub adalah, perut Freya bagaikan Blackhole yang diisi berapa banyak pun tetap terlihat sama saja.


“Tante, masakan tante sungguh enak, membuatku tidak tahan… jadinya makan sepiring lagi…” ucap Freya dengan perasaan sungkan.


Dia tidak sedang mencari alasan untuk porsi makannya yang banyak, melainkan karena selama bertahun-tahun dia bahkan tidak pernah makan ke rumah makan, lebih jangan tanya masakan rumahan yang dibuat oleh Silvia.


Keahlian Silvia dalam memasak tidaklah biasa, kalau tidak Wanda kecil tidak mungkin begitu sering ke rumah Thomas hanya untuk makan.


......


 “Neng! Itu bukan sepiring! Tapi udah sebakul! Salah, dua bakul! Kuda nil kali ya!”


Tidak ada yang tahu dalam hati Wanda sudah mengumpat.


“Ah… ini… Freya, kamu, sudah kenyang? Kalau belum, biar tante masakan nasi untukmu lagi.”


“Kalau lauknya kurang, tante masakan lagi?”


Menghadapi porsi makan Freya, Silvia juga merasa kebingungan, dia juga tidak tahu harus bagaimana, hanya saja… lebih baik memastikan terlebih dahulu.


“Tidak perlu tante, aku cukup makan sampai 70% kenyang saja, kalau makan terlalu banyak akan mempengaruhi pencernaan.” Angguk Freya dengan sopan.


......~


 “Kamu, kamu ini, beberapa tahun ini kamu tidak pergi memeriksakan tubuhmu?” tanya Silvia dengan anggun.


Baiklah, Silvia sudah benar-benar berusaha untuk bersikap anggun.


Yang dia khawatirkan bukan nafsu makan Freya, yang dia khawatirkan apakah Freya terkena Bulimia, atau penyakit sejenis tiroid.


“Setiap tahun kampus mengadakan pemeriksaan kesehatan, tidak perlu periksa ke rumah sakit, aku baik-baik saja, tubuhku juga sangat sehat.”


Akhirnya Silvia merasa tenang, baguslah kalau baik-baik saja, tetapi apakah nafsu makannya tidak berlebihan…


Setelah dipikir-pikir, Silvia merasa ada yang salah, ketika Freya masih kecil dia tidak seperti ini, porsi makannya sangat normal.


Lalu dia menyampaikan rasa penasarannya, “Freya, sepertinya dulu, porsi makanmu agak sedikit, kenapa…”


Begitu membicarakan hal ini, Freya langsung menundukkan kepalanya, orang yang memahaminya tahu, ini adalah pertanyaan yang tidak ingin dia jawab.


Misalnya Luna.


Sejak kecil dia selalu bermain dengan Freya, kalau bukan karena Freya sengaja menjauhinya, mungkin hubungan mereka tidak akan menjadi sejauh ini sekarang.


Dan kondisi Freya yang sebenarnya sudah diceritakan oleh Thomas setelahnya.


Luna meletakkan sendoknya dan berkata, “Ma, mama gak tahu aja Kak Freya mengalami apa saja selama beberapa tahun ini, setiap hari dia disuruh-suruh, dipukuli dan dimarahi, sedikit waktu untuk dirinya sendiri pun tidak ada, mereka bahkan sering tidak memberinya makan, bisa dikatakan Kak Freya hampir tidak pernah makan kenyang!”