
"Pagi Tuan, saya Jony manager di sini, apakah ada yang bisa saya bantu?" Jony segera mendekat dengan wajah tersenyum lebar.
Ketika dia menerima kartu black gold dan melihatnya, kedua kakinya hampir lemas karena terkejut.
"Anak muda yang hebat, anak muda yang sangat hebat, kedatangan Anda sungguh keberuntungan terbesar kami!"
Dia mencengkeram tangan Thomas dengan begitu erat, tatapan matanya juga terlihat begitu hangat dan ramah.
......
"Hm... Tolong lepaskan, aku hanya ingin mentransfer uang. "
......
"Lepaskan!" Thomas merasa begitu jijik, dua orang pria saling tarik-tarikan tangan, apa-apaan ini!
Jony melepaskan tangan Thomas dengan sedikit tidak rela, lalu bertanya dengan senyum yang sangat lebar, "Anda ingin mentransfer uang? Apakah Anda punya tabungan di bank kami? Apakah Anda ingin menabung uangnya? Bagaimana kalau Anda buka tabungan di sini, kita bisa membuka rekening baru tanpa perlu prosedur merepotkan."
Setelah Thomas memikirkannya, dia langsung mengangguk.
Teller wanita itu langsung tercengang, perubahan yang begitu mendadak ini sungguh membuatnya sangat terkejut.
Apakah semua orang kaya zaman sekarang begitu rendah hati?
Kalau saja sikapnya tadi sedikit lebih baik, mungkin dia yang akan memiliki kesempatan untuk melayani orang ini.
Begitu memikirkan ini, dia merasa begitu menyesal sampai rasanya ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Dan di dunia ini tidak ada obat untuk penyesalan.
Pria paruh baya itu menatap kartu black gold Thomas dan berkata dengan kesal, "Hanya selembar kartu ATM saja, seperti tidak pernah lihat saja, apa perlu sampai seperti itu?"
Mendengar apa yang pria ini katakan, perasaan teller wanita ini langsung menjadi sedikit lebih tenang.
Apa yang dia katakan tidak salah, bukankah hanya sebuah kartu black gold? Apa yang perlu dibanggakan?
"Kalian tahu apa?!" Susah payah mendapatkan seorang nasabah eksklusif, anak buahnya malah bekerja sama dengan orang luar untuk membuat onar, Jony sungguh dibuat kesal olehnya.
"Kamu, bereskan barangmu dan pergi dari sini, besok tidak perlu datang lagi!"
Berikutnya dia langsung tersenyum pada Thomas sambil menjelaskan, "Semoga Anda tidak tersinggung, bagaimana kalau kita minum teh di ruangan saya dulu sambil membicarakan pembukaan rekening yang lebih detail."
Teller wanita itu langsung terkejut, ini maksudnya dia dipecat?
Entah sudah berapa banyak jalan pintas yang digunakan keluarganya dan juga koneksi yang dipakai untuk mendapatkan posisi sekarang ini. Namun posisi yang belum lama dia duduki ini sudah akan lenyap sekarang.
Tentu saja dia langsung panik.
"Manager! Atas dasar apa kamu memecatku? Kuperingatkan ya, ayahku dan kepala cabang adalah teman lama!"
Jony hanya menoleh dan tersenyum dengan dingin.
"Kamu kenal dengan kepala cabang pusat juga tidak ada gunanya, orang sombong sepertimu, keluar sekarang juga! Bereskan barangmu dan pergi dari sini!"
Teller wanita itu sepenuhnya tercengang, dan di saat bersamaan dia juga merasa begitu marah, seumur hidupnya belum pernah ada yang membentaknya seperti ini.
"Huh! Lihat saja nanti!" Dia menyentakkan kakinya lalu memelototi Jony dengan penuh kebencian lalu pergi.
Dia sudah memikirkan bagaimana cara dia mengadu kepada kepala rumah sakit nantinya.
Besok pada jam yang sama, dia akan membuatnya berlutut di hadapannya dan meminta maaf sambil menyuguhkan teh...
Namun Jony sama sekali tidak berpikir demikian, lebih tepatnya dia langsung mengabaikannya.
Karena dia tahu bocah yang terlihat tidak penting ini adalah sosok yang tidak bisa disinggung.
Meskipun kepala cabang, tidak, meskipun wakil kepala cabang yang datang juga tidak berguna.
Kartu black gold itu bukan kartu black gold biasa, itu adalah kartu black gold misterius yang hanya dimiliki oleh Levian Group!
Di atas black card itu ada sebuah logo petir, dan ini sudah cukup jelas.
Pengetahuannya tentang Levian Group terbatas, namun seluruh dunia tahu kalau Levian Group adalah sebuah rantai bisnis raksasa yang tidak akan bisa disentuh.
Siapa yang berani menyentuhnya, maka akan dibuat hancur lebur sampai abu pun tidak bersisa.
Jony sangat senang, namun juga sangat takut, dia merasa ruangannya yang sederhana ini tidak cukup untuk menampung aura megah yang terpancar pada diri Thomas.
Dia mengelap sofa yang akan diduduki oleh Thomas beberapa kali sampai bersih.
Lalu berkata dengan senyum yang lebar pada Thomas. "Silakan duduk, ayo duduk!"
Thomas dilayani sampai merasa melambung di awan, seperti inilah rasanya menjadi orang kaya, nikmat sekali!
"Anda mau kopi atau teh?"
"... Aku sudah terbiasa hidup sederhana, teh saja."
......
Jony sibuk menuangkan teh dan membenahi penampilannya, setelah selesai keningnya sudah dipenuhi keringat dingin.
"Uhm... Bantu aku membuat sebuah tabungan dan pindahkan uang 20 miliar di dalam kartu ini ke dalamnya."
Kartu black gold ini adalah pemberian pak tua itu, dan itu artinya, kartu ini adalah milik si pak tua itu.
Uang, akan lebih aman jika Thomas menyimpannya dalam kantung sendiri.
"Baik, baik, baik, Anda tunggu sebentar ya!"
Setelah Jony mengatakannya, dia segera pergi mengurus administrasi pembukaan rekening untuk Thomas secara langsung.
Setelah setengah jam, Thomas memiliki selembar kartu black gold lainnya.
20 miliar bukanlah angka yang super besar. Yang dia pandang adalah status Thomas.
Kalau sampai meninggalkan kesan yang buruh di hadapan Thomas, maka perjalanan karirnya kelak akan penuh dengan rintangan.
Levian Group... Hanya membayangkannya saja Jony sudah merasa begitu bersemangat.
......
Setelah keluar dari bank, Thomas menarik nafas panjang. Cuaca hari ini lumayan.
Namun yang membuatnya bingung, bagaimana cara menghamburkan uang 20 miliar ini?
......
Namun pada saat ini, ponsel Thomas malah berdering.
Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat, itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Wanda.
"Thomas, mamaku menyuruhmu untuk datang ke sini."
Tiba-tiba Thomas berpikir, apakah tante menyuruh Wanda untuk meminta maaf padanya?
Kalau benar seperti itu... Perbuatan Wanda masih bisa dia maafkan.
Begitu memikirkan pesan ayah asuhnya sebelum meninggal, hati Thomas tiba-tiba melunak.
Dia membeli buah, lalu memanggil taksi. Dulu Thomas tidak akan rela naik taksi, namun bagaimanapun dia adalah seorang konglomerat sekarang.
Di perjalanan, perusahaan tempat Thomas bekerja paruh waktu menelepon, dan Thomas langsung mengajukan pengunduran diri.
Ini bukan karena uang 20 miliar yang tiba-tiba dia dapatkan, melainkan karena Thomas tidak menyangka akan muncul seorang kakek yang begitu kaya, bahkan berapa banyak uang yang dimiliki kakeknya ini sama sekali tidak dia ketahui.
Angka yang terlalu besar, Thomas sama sekali tidak punya bayangan tentang uang, dan uang 20 miliar ini sudah sepenuhnya membuka wawasannya.
Dan sekarang Thomas sudah tidak bisa menahan diri untuk mulai menikmati hidup indahnya.
Memindahkan adiknya ke sekolah yang ternama, mengobati penyakit jantung ibunya, membeli sebuah rumah yang besar...
Sepanjang jalan, pikiran Thomas melambung jauh.
Dia menjinjing keranjang buah lalu berjalan masuk ke dalam kompleks tempat tinggal Wanda.
Meskipun setelah ayahnya meninggal Thomas tidak pernah datang, namun dia tetap begitu hafal dengan tempat ini. Wanda tinggal di lantai 3, semasa kecil dia sering datang ke sini.
Ketika itu ayah Thomas masih hidup, dan hubungan kedua keluarga ini begitu dekat.
Ketika itu, Martin Ningrat ayah Wanda menjalankan bisnis dan mendapat keuntungan, sehingga dia membeli rumah ini.
Namun bisnisnya gagal, dan sekarang Martin sudah bekerja di sebuah perusahaan dengan baik.
Terkadang Martin menghubungi Thomas untuk mengobrol di telepon.
Namun bagaimanapun mereka ada di generasi yang berbeda, obrolan mereka juga hanya obrolan singkat yang menanyakan kabar dan semacamnya, dan sesekali menanyakan kondisi kesehatan ibu Thomas.
"Tok! Tok! Tok!" Thomas mengetuk pintu beberapa kali.
Setelah sesaat, dia mengirim sebuah pesan untuk Wanda.
Namun setelah menunggu lima menit, yang membuka pintu malah Milan ibunya Wanda.
"Halo Tante Milan."
Dan yang menjawab sapaan Thomas adalah ucapan Milan yang begitu datar, "Masuklah."
Setelah berjalan masuk, Thomas melihat Milan dan Wanda sedang makan siang.
Sepiring tumis sayur, tim ikan, iga goreng madu. Thomas yang belum sarapan langsung merasa lapar.
Milan meliriknya dan berkata, "Sudah makan? Kalau belum, duduklah dan makan bersama."
"Uhm... Aku, aku sudah makan." Baru bicara setengah, Thomas langsung mengubah jawabannya.
Jelas sekali kedua ibu dan anak ini sama sekali tidak berniat membiarkannya makan bersama mereka. Karena piring yang disiapkan di meja makan hanya ada dua.
Milan mengambil sayur yang ada di hadapannya dan berkata dengan santai, "Thomas, pertunanganmu dan Wanda... Bagaimana kalau kita batalkan saja."