Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 71 Nihil


Wedy tidak menyangka ucapan Thomas begitu terang-terangan, bahkan terdengar begitu arogan!


Namun dia juga tidak lupa kalau Thomas adalah Direksi kehormatan Universitas Trijaya.


Membuat Wedy langsung sadar.


Dia menyinggung Thomas, dan ini adalah kenyataan yang tidak bisa dia pungkiri, rasanya sudah sangat terlambat jika panik sekarang.


Kalau dia mundur saat ini, maka itu sama dengan memindahkan batu untuk menimpa kakinya sendiri!


Tidak peduli bagaimanapun caranya, dia tidak boleh membiarkan Junaedi menjadi Kepala penanggung jawab Lembaga sosial beasiswa!


Kalau tidak dia akan berakhir dengan sangat buruk!


Memikirkan hal ini membuat Wedy menjadi lebih tenang, dia menatap Thomas dan Junaedi bergantian dengan ekspresi tidak tenang, dan akhirnya berkata perlahan.


“Nah Thomas, tidak peduli kamu Direksi Kehormatan Universitas Trijaya atau bukan, saya tetap memintamu untuk memahami satu hal, semua donasi yang diterima oleh universitas harus dilaporkan tanpa ada pengecualian, cara Kepala Junaedi ini mungkin tidak masalah bagimu, tetapi hal ini sudah melanggar keras peraturan yang beraturan!”


Tujuan Wedy mengatakan hal ini adalah untuk membesar-besarkan masalah.


Sama seperti seorang pengendara sepeda bermotor yang menyenggol seorang pejalan kaki.


Kalau dianggap sepele, ini hanya hal yang tidak disengaja, namun kalau ingin dibesar-besarkan, pejalan kaki bisa saja menuntut pengendara berniat membunuh.


Dan Wedy berniat demikian, hari ini dia harus membuat Junaedy disalahkan, kalau tidak dia tidak akan berhenti.


“Wedy Jemian, apa bedanya mengatakan sekarang dengan mengatakan lebih awal?” tanya Thomas dengan senyum dingin.


“Bagaimana bisa tidak ada bedanya? Prosedur… juga administrasi… semuanya tidak berjalan seperti itu! Junaedi melanggar peraturan, ini adalah kenyataan!” Wedy merasa sedikit ragu, lalu berkata dengan suara yang lantang ke arah kursi VIP yang ada di hadapannya, “Kedua petinggi yang saya hormati, saya sarankan untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya sampai jelas terlebih dahulu, mengenai lembaga sosial, kita bisa menundanya terlebih dahulu!”


Setelah mengatakannya, Wedy langsung merasa senang.


“Petinggi” yang duduk di kursi VIP itu sebenarnya saudara dari keluarga menantunya,  mengenai masalah Junaedi ini, dia sudah merencanakannya sejak awal.


Dan bisa dikatakan sedua “petinggi” dari dinas pendidikan ini berada di pihaknya!


Dan ternyata Wedy tidak dibuat kecewa.


Mereka berdiri lalu meninggalkan tempat duduk mereka dan berjalan ke panggung.


Salah seorangnya menatap Junaedi dengan tegas dan berkata, “Pak Ketua Dekan Junaedi Prayoga, mengenai perbuatan Anda ini, untuk sementara waktu saya tidak akan berkomentar banyak, namun sebelum kami datang, kami sempat mengadakan rapat, kami akan mencabut jabatan Anda untuk sementara waktu, berikutnya kami akan memeriksa hal ini dengan segera,  setelah semua jelas kami baru akan mengambil keputusan final!”


“Haha, aturan itu buatan manusia, semua bisa berubah sesuai dengan keadaan, karena hal ini kalian ingin mencabut jabatanku, apakah ini tidak berlebihan.” Junaedi dibuat kesal sampai tertawa.


Bagaimana mungkin Junaedi tidak menyadari kalau Wedy datang dengan persiapan.


Thomas juga langsung emosi, akhirnya dia paham, kenapa Kimberly dan Keiro bisa begitu arogan di tempat ini, bahkan sama sekali tidak ada yang berani menghentikan mereka.


Wedy Jemian ini sungguh keterlaluan!


“Tunggu dulu, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu, memberi sumbangan kepada Universitas Trijaya adalah kemauanku sendiri, dan sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan Kepala Dekan!”


Begitu Thomas mengatakannya, tatapan kedua petinggi dinas pendidikan langsung tertuju ke arah Thomas.


“Nak Thomas, kamu tidak bisa bicara begitu, uang yang kamu sumbangkan sangat besar nilainya, itu harus disetujui oleh dinas pendidikan terlebih dahulu, dengan demikian uang yang kamu sumbangkan baru bisa kami putuskan untuk menyerahkannya kepada orang yang menjadi penanggung jawab lembaga sosial beasiswa yang didirikan. Apa yang Kepala dekan lakukan jelas sudah berniat menjajak lembaga sosial tersebut, menjadikannya milik sendiri, oleh karena itu kami harus menyelidikinya.”


Thomas mengangkat alisnya dan berkata, “Sumbangan ini murni keinginan saya sendiri... baiklah, kalau apa yang Anda katakan benar, setelah Kepala dekan selesai diperiksa, sumbanganku akan diserahkan kepada siapa?”


Orang itu berpura-pura berpikir, lalu berkata, “Karena pak Kepala sedang menjalani pemeriksaan, maka Pak Wedy Jemian selaku Wakil Kepala Dekan yang akan bertanggungjawab atas dana yang ada di lembaga ini, selama ini beliau yang bertugas memegang pembukuan universitas, beliau adalah orang yang tepat…”


“Hahaha, menyerahkannya pada Wedy Jemian?”


Akhirnya Thomas sepenuhnya paham, kedua “petinggi” ini ternyata satu komplotan dengan Wedy Jemian!


Dan tujuan utama mereka adalah untuk merampas uang sumbangan senilai 2,2 Triliun itu!


 “Tidak, selain Pak Junaedi, saya tidak akan menyerahkan uang saya pada siapapun, kalau harus seperti ini, saya akan menarik kembali uang sumbangan saya.” Ucap Thomas dengan senyum yang begitu dingin.


Mereka diundang oleh Wedy menghadiri acara hari ini, tujuannya adalah untuk mempersulit Junaedi, sebelumnya mereka juga sudah membicarakannya, uang sumbangan yang begitu besar tidak boleh jatuh ke tangan Junaedi!


Wedy berjanji, setelah rencana ini berhasil, dan dia menjadi Ketua penanggung jawab Lembaga beasiswa, mereka juga akan mendapatkan bagian dari uang sumbangan ini!


Namun kondisi saat ini, donator bersikeras hanya akan menyerahkan donasi ini pada Junaedi, kalau tidak dia akan menarik kembali sumbangannya!


Kalau sampai begitu, mereka akan gagal mendapatkan bagian, dan yang terpenting adalah, sebelum mereka datang kesini, mereka sudah terlebih dahulu meminta izin pada atasan mereka untuk menyelidiki masalah di universitas ini.


Kalau Thomas menarik kembali sumbangannya, maka atasan mereka akan segera mengutus anggota terkait untuk menyelidiki langsung!


Itu adalah uang 2,2 Triliun, angka yang sangat cukup untuk diperhatikan oleh petinggi Dinas Pendidikan!


Wedy juga panik, kalau Thomas sampai menarik kembali sumbangannya, bukankah usahanya akan sia-sia? Dan dia juga sudah membayangkan, kalau sampai Thomas menarik kembali sumbangannya, maka dia akan mendapat masalah besar!


“Thomas! Kamu sudah menyumbang, mana boleh ditarik kembali, lagipula pada saat menyumbang, kamu sudah mentransfer uangnya ke dalam rekening universitas, dalam waktu singkat kamu tidak akan bisa menariknya kembali… saya sarankan kamu untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu!” ucap Wedy dengan nada bicara yang lembut.


Setelah diam sesaat akhirnya Junaedi membuka suara, “Hehe, Pak Wakil Wedy, sepertinya kamu sudah salah, sumbangan Nak Thomas ditransfer ke rekening pribadiku! Kalau dia ingin menariknya kembali, aku harus mengembalikannya seratus persen.”


Kemudian, dia melirik kedua “petinggi” yang berdiri di hadapannya dan berkata dengan wajah tersenyum, “Kalian pasti orang dari pihak menantu Wedy Jemian iya kan, demi membantu Wedy Jemian kalian sampai memanfaatkan jabatan kalian untuk kepentingan pribadi, kalian sembarang mencari alasan untuk mencabut jabatanku, apakah kalian tidak takut atasan kalian mengutus pihak terkait untuk menyelidiki hal ini!”


Ekspresi Wedy langsung berubah drastis, lalu berkata dengan kesal, “Junaedi Prayoga, jangan bicara sembarangan kamu, ini namanya fitnah!”


Masalah ini sudah menjadi seperti ini, perkembangannya masalah ini sungguh diluar dugaannya, siapa yang menyangka uang sumbangan itu tidak ditransfer masuk ke dalam rekening universitas, malah masuk ke dalam rekening pribadi Junaedi.


Kalau begitu Thomas adalah donator, dan Junaedi adalah perwakilannya, ini adalah masalah di antara mereka, meskipun dilaporkan ke dinas pendidikan pun tidak akan ada yang bisa berbuat apapun.


Namun ucapan yang dilontarkan oleh Thomas selanjutnya membuat Wedy merasa seperti tenggelam ke dalam kubangan es, sekujur tubuhnya dingin.


“Hehe, kalau gak begini saja, saya berikan uang 2,2 Triliun ini untuknya sebagai hadiah, sebagai ucapan terima kasih karena telah mendidikku di kampus ini. Uang ini mau dia pakai untuk mendirikan lembaga sosial juga boleh, untuk foya-foya juga tidak apa, dengan demikian, Kepala Junaedi tidak perlu lagi dicabut jabatannya dan diperiksa, dia menyumbang untuk Universitas Trijaya atau tidak, ini semua terserah padanya.”


Jurus Thomas ini sungguh keren, dia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada komplotan Wedy Jemian sama sekali.


Dia menyerahkan uang 2,2 Triliun pada Junaedi sepenuhnya, yang artinya uang 2,2 Triliun ini menjadi harta pribadi Junaedi, kalau Junaedi ingin mendirikan lembaga beasiswa, itu artinya dialah yang menjadi ketuanya, meskipun mereka mendatangkan para dewa di langit juga tidak ada gunanya. Dia menggunakan uangnya untuk mendirikan lembaga beasiswa, lu bisa apa?


Apalagi kalau sampai ketahuan oleh para pejabat tingkat atas, mereka pasti akan segera mendekati Junaedi dan membujuknya untuk berdedikasi dalam dunia pendidikan, seolah takut dia tidak akan menggunakan uang tersebut untuk hal lain, siapa yang berani menyinggungnya?


Sebaliknya Wedy sudah pasti akan tertimpa sial, dia pasti akan menerima pembalasan Junaedi.


Dia masih punya alasan apalagi untuk mempersulit Junaedi? Menuntutnya penyuapan? Atau menuntutnya menerima uang yang diberikan Thomas?


Gawat!


Ini adalah satu-satunya hal yang dipikirkan oleh Wedy.


Dia sama sekali tidak mengerti, kenapa Thomas melakukan hal ini, itu adalah uang 2,2 Triliun loh, bisa-bisanya dia berikan pada Junaedi begitu saja!


Beneran dikasih begitu saja!


“Nak Thomas, terima kasih sekali atas semua yang kamu lakukan untuk Trijaya, dan juga terima kasih sekali karena sudah membantuku.”


Junaedi sungguh merasa berterima kasih.


Lalu dia melirik ke arah mereka bertiga dan berkata pada Wedy yang berdiri di tengah mereka dengan wajah tersenyum, “Bagaimana? Wedy, kedua petinggi, apakah kalian juga akan menggunakan alasan Nak Thomas memberikan hadiah padaku untuk mencabut jabatanku?”


“Kau… kau… ok! Ayo kita pergi!”


Wedy hanya bisa mengatakan kau berulang tanpa bisa meneruskannya, dan pada akhirnya dia berbalik dan pergi dari sana dengan wajah merah padam.


Dia sudah gagal mendapatkan apa yang dia inginkan kali ini, bagaimana mungkin tetap berada disana dan ditertawakan oleh semua orang yang ada disana?


Namun, sebelum dia turun dari podium, suara Junaedi yang sinis muncul dari belakangnya.


“Wedy, kamu belum boleh pergi dari sini, di tanganku masih ada bukti pembukuan palsu milikmu yang isinya pembukuan bertahun-tahun lamanya, apakah kamu tidak ingin melihatnya dulu?”