
Hotel Lotte.
Di dalam kamar bergaya Eropa.
Di tengahnya ada sebuah ranjang besar.
Sepasang pria dan wanita tanpa busana yang sedang tertidur pulas di atasnya.
Pria berusia sekitar 40 tahunan dengan tubuh yang sedikit gempal, uban tampak di rambutnya.
Dia adalah Martin Ningrat.
Sedangkan wanita ini, bahkan Martin pun tidak tahu siapa namanya.
Dia adalah wanita penghibur tercantik yang ada di Kasino Lotte, hanya itu yang Martin ketahui.
Beberapa hari ini dia tidak pernah pulang, malamnya terasa semakin seru. Milan sempat meneleponnya beberapa kali.
Akhirnya Martin tidak sabar lagi, lalu mentransfer 200 juta ke rekening Milan, dan akhirnya telinganya bisa sedikit lebih tenang.
Milan melayaninya dengan sangat baik.
Setiap malam dia bahkan mencarikan seorang wanita cantik untuknya.
Dan pelayanan gadis cantik itu juga sangat memuaskan, lembut juga penuh perhatian.
Menemaninya mengobrol tentang impian di masa depan, mendengarkan cerita pahitnya masa lalu, bercerita tentang hal yang menyentuh, membuat airmata Martin sesekali menetes.
Dan ketika itu, gadis cantik akan menyodorkan tisu untuknya.
Setelah terbawa suasana, mereka sekalian berhungan secara fisik dan perasaan.
Beberapa hari ini Martin menemukan puber keduanya.
Tiba-tiba.
Ponselnya berdering.
Martin membuka matanya yang berat dengan kelopak mata cekung dan hitam karena kelelahan, menahan rasa kesal dalam hatinya untuk melihat ponselnya.
Setelah melihat nomornya dengan jelas, dia langsung bersemangat dan segera mengangkatnya.
"Baik, baik, baik, aku segera ke sana."
Begitu menutup telepon, wanita cantik di sampingnya bagaikan ular yang menggeliat, langsung mendekatinya.
Gadis cantik itu berkata dengan manja, "Sayang, kamu mau kemana?"
"Bos Markus mencariku untuk membicarakan urusan penting!"
Sebenarnya, Markus hanya menyuruhnya datang.
"Uhm... Sayang, hari ini kamu masih belum membuatku puas, malam ini kamu kembali lagi tidak?"
"Sayang, kalau ada waktu aku pasti akan mencarimu lagi!"
Martin juga tidak mau rugi, dia mendekat ke leher gadis cantik itu dan menciumnya dalam-dalam, tidak lupa mengulurkan tangan dan meremas gunung kembarnya dengan keras.
Ini membuat gadis cantik itu mendesah penuh hasrat.
Dalam hati Martin merasa kesal dan menghela nafas panjang.
Dua butir pil biru yang dia minumsemalam sama sekali tidak terlalu berkhasiat, entah asli atau palsu, belum satu jam sudah keluar.
Tadinya berpikir mungkin ronde kedua akan jauh lebih baik, siapa sangka tidak sampai setengah jam sudah tidak tahan dan setoran.
Setelahnya langsung terkulai lemas seperti ular tidak bernyawa.
Namun, sejujurnya teknik gadis ini tidak kaleng-kaleng, meskipun sudah tidak bisa berdiri lagi, dia tetap bisa membuat Martin naik ke khayangan beberapa putaran.
Membuat Martin sampai merasa rela mati dibawah selangkangannya.
"Sayang, aku tunggu lih ya!" Gadis itu melambaikan tangan kepada Martin yang sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi.
"Ckckck, siluman kecil ini, nanti malqm saat aku kembali, kita lihat saja bagaimana aku menakhlukkanmu!"
Turun ke lobby, Bon sudah menunggu dengan mobil Benz.
"Ketua cabang, bagaimana yang ini? Kalau tidak puas, aku akan langsung mengatur yang baru." Ucap Bon dengan nada menjilat.
"Uhm, lumayan, untuk sementara tidak perlu di tukar dulu, setiap hari ganti juga gak baik."
Martin ingin bicara lebih berwibawa, namun senyum di sudut bibirnya sudah mengkhianatinya.
"Yang penting Anda puas, nanti aku akan siapkan beberapa barang premium cadangan untukmu."
"Hmm...."
......
Benz masuk ke dalam parkiran, Martin didampingi Bon naik lift ke atas.
Tiba di depan ruangan Markus, Martin menarik nafas dalam, lalu membuka pintunya, entah kenapa tekanan Markus selalu sekuat itu setiap kalinya.
"Bos Markus, ada apa mencariku?"
Martin yang sekarang menundukkan kepalanya sampai hampir menyusup ke dalam dadanya, bahkan nafaspun sangat berhati-hati.
Markus tetap bersandar di tempat duduknya dan menggoyangkan gelas wine yang ada ditangannya, dia hanya melirik Martin sekilas lalu berkata, "Belakangan ini Adrian kurang menurut, cari seseorang... Gue rasa gue perlu membuat sedikit pergerakan, jadi gue butuh sedikit bantuan ketua cabang perkumpulan..."
"Oh? Adrian Chandra?" Mata Martin langsung berbinar, namun dalam waktu sekejap langsung kembali normal, dia bertanya, "Kalau begitu Bos Markus berniat?"
"Tiga hari kemudian, di villa Keluarga Chandra akan diadakan pesta private, semua pemegang saham utama perusahaan akan hadir, aku rasa dia ingin mendesakku untuk memuntahkan seluruh sahamku, karena saham milik adik sepupuku juga ada ditanganku." Setelah Markus mengatakannya, dia menyeruput winenya perlahan.
"Benar-benar tidak tahu diri!" Martin menimpali dengan senyum dingin.
Siapa Markus, hanya dalam waktu beberapa hari saja dia sudah enyadari, taman bermain, kasino, sebagian besar adalah milik Markus.
Dan aset-aset ini hanya beberapa dari yang kelihatan, cara berbisnis yang sebenarnya adalah pencucian uang.
Dia bukan hanya bos mafia, dibelakangnya masih ada beberapa rantai kerjasama rahasia, hanya sebuah Bright Property saja, mungkinkah menyentuh Bos Markus?
Setahu Martin, tidak ada.
Jadi, berani macam-macam dibelakang Markus, ini sama dengan mencari mati!
"Hehe, pada saat itu, kamu bawa beberapa orang kesana, aku punya rencanaku sendiri. Adrian ini sama sekali tidak berguna bagiku." Ucap Markus dengan nada datar.
"Baik, ini tidak masalah!" Ucap Martin dengan memasang ekspresi jahat.
Bicara tentang Adrian, Martin langsung teringat Ivan.
Sekarang dia punya kesempatan yang bagus untuk membalas dendam, bagaimana mungkin dia melewatkannya!
.......
Disisi lain.
Thomas dibuat shock oleh ucapan Dimas!
Jelas-jelas yang dia latih adalah jurus tapak badai tahun yang asli, kenapa malah menjadi ilmu sesat!
Namun Thomas tahu, Dimas tidak mungkin membohonginya, dan tidakada alasan untuk membohonginya.
Dimas bisa membaca rasa heran di mata Thomas, dia berkata: "Tuan muda, bukan hanya delapan clan tertinggi, para bangsawan kecil dan juga keluarga bangsawan tersembunyi pun punya jurusnya sendiri dalam berlatih silat, dan teknik ini adalah hasil ciptaan para leluhur yang menemukan dengan meneliti isi semesta."
"Teknik ini sudah melalui uji coba yang tidak terhitung jumlahnya, revisi, bahkan sudah merenggut nyawa yang tidak terhitung jumlahnya, baru berubah menjadi jurus yang diwariskan turun temurun selama puluhan ribu tahun lamanya."
"Jadi, teknik yang sudah diwariskan jika dilatih dengan benar maka kekuatan yang dihasilkan pun cukup besar."
Mendengar sampai sini Thomas mengangguk dan setuju dengan penjelasan ini.
Kalau itu adalah metode yang tidak berguna atau metode yang bisa membuat jiwa terancam, maka teknik itu tidak perlu dipertahankan.
"Yang disebut sebagai ilmu sesat, biasanya dengan teknik yang menggunakan metode ekstrim, dan memiliki resiko tinggi. Namun bisa dalam waktu singkat membuat orang yang menggunakannya mencapai tahap yang sangat tinggi. Seperti tuan muda, pada dasarnya sudah melewatkan fase terbaik dalam berlatih ilmu silat, ditambah berlatih jurus pelindung meridian dan jiwa, namun kamu berhasil menemukan cara baru, dengan membenturkan dua aliran energi murni dalam wadah energi lalu menekan energi murninya hingga mencapai energi murni menjadi cair di tahan ketiga, kalau ini bukan ilmu sesat, lalu apa?"
"Tapi orang lain yang berlatih memiliki resiko, tidak berarti gua akan mengalami bahaya, Dimas, elu jugs tahu kondisi gue, metode latihan ini paling cocok untuk gue!" Ucap Thomas dengan alis mengkerut.
"Benar, dalam dunia persilatan mungkin hanya kamu yang cocok menggunakan teknik ini..." Ekspresi Dimas langsung berubah dan dengan nada serius dia berkata,"Tapi tuan muda, jangan pernah memberitahu siapapun kamu menggunakan teknik ini, ada lagi, jangan sampai ada yang memeriksa nadimu!"