
Ivan membelalakkan matanya dengan besar dan terkapar.
Sorot matanya penuh dengan ketidakpahaman.
Kenapa dia… tidak berjalan sesuai alur cerita!
Dia benar-benar berani menusuknya!
Dia benar-benar berani membunuh orang!
Sebelum tidak sadarkan diri, yang terngiang dalam pikiran Ivan adalah ekspresi Freya yang panik dan ketakutan.
Juga ucapan yang dia lontarkan.
“Kamu berani memukulnya, aku, kenapa aku tidak berani menusukmu? Kamu berani memukulnya, kenapa aku tidak berani menusukmu? Aku berani menusukmu! Aku berani menusukmu!”
......
“Kalau saja lu ngomong lebih awal, gue gak akan mukul~!”
Tanpa sadar dia merasakan ketakutan yang sangat hebat terhadap kekejaman Freya!
Itu merupakan rasa takut yang muncul dari alam bawah sadarnya!
Bisa-bisanya seorang wanita menghabisinya, bahkan segesit jagal yang sedang membantai seekor babi.
Dia menyadari kalau dirinya hampir mati.
Di bawah rasa takut yang begitu hebat, rasa sakit yang tidak bisa digambarkan, menyebar dari syarafnya sampai ke otaknya.
“Bukk…”
Ivan tidak sadarkan diri.
Dia takut pada kenyataan kalau dia akan mati, dan beberapa faktor fisik lainnya.
Bau busuk dari kotoran dan juga urine keluar dari semua luka di tubuh Ivan bersamaan dengan darah yang begitu amis, perlahan menyebar dan melebar, membuat semua orang tercengang.
Tidak ada yang menyangka, seorang wanita yang kurus kering menikam Ivan? Bahkan begitu kejam!
Di antara belasan preman ini, semua pernah melukai orang bahkan terjerat kasus pembunuhan, mereka bukan preman biasa, semuanya adalah preman yang sangat keji.
Namun begitu mereka membayangkan Freya yang begitu kejam, keringat dingin langsung mengucur dari kening mereka.
Siapa yang berani maju.
Wanita ini memasang pose tidak takut mati.
Kalau sampai tertusuk pisau hanya karena ingin menolong Ivan, sepertinya tidak akan menguntungkan.
Bagaimana pun mereka hanya orang yang menerima gaji.
......
Thomas juga tercengang.
Sebelumnya dia terlalu meremehkan lawan, sehingga berhasil dikeroyok oleh para preman ini, dalam hatinya merasa begitu kesal, jelas-jelas jurus tapak badai daun sudah sangat dia hafal.
Kenapa pada saat yang begitu menentukan malah tidak berfungsi sama sekali?
Membuatnya diinjak oleh Ivan dan dihina.
Sebenarnya dia tidak terluka parah, hanya merasa sekujur tubuhnya sakit, dia juga sudah berencana, nanti setelah dia siap, dia akan langsung membekuk Ivan.
Tetapi, Freya tiba-tiba muncul dan menusuk Ivan.
Pisau yang putih bersih menjadi merah, satu tusukan demi satu tusukan, belasan tikaman dilayangkan…
Gawat! Freya membunuh orang!
Thomas berdiri dan mengeluarkan handphone, diam-diam menelepon Dimas.
Dia harus membantu Freya menyelesaikan masalah ini.
......
Di antara mereka, yang paling shock adalah Wanda.
Awalnya dia masih sedang berpikir, apakah dia perlu menggunakan sebuah cara untuk menjauhkan Freya dari Thomas, dengan demikian dia baru memiliki kesempatan.
Namun melihat semua ini, semua pemikiran dia langsung menguap tidak bersisa.
Kalau ini tidak disengaja, lalu menikam Ivan karena panik, mungkin Wanda masih bisa menerimanya.
Tetapi Freya jelas-jelas menginginkan nyawa Ivan!
Satu tusukan demi satu tusukan dilayangkan sampai perut Ivan penuh dengan lubang bagaikan sarang lebah!
Kalau ini sedang menonton film, mungkin Wanda akan merasa sangat seru, namun kejadian ini berlangsung dihadapannya, membuat tubuhnya lemas tidak bertenaga dan kedua kakinya sampai lemas.
“Hallo, Dimas, begini kejadiannya…”
Thomas menjelaskan seluruh kejadian dengan singkat, Dimas tidak mengatakan apapun, dai hanya mengatakan kalau dia akan mengurusnya, lalu menutup telepon.
Thomas berdiri dan berjalan ke arah Freya.
Saat ini Freya menatap tangannya yang bersimbah darah dengan tatapan yang kosong dan tubuh membatu.
“Freya, jangan takut, tadi kamu sedang menolong, itu karena kamu ingin membela diri. Aku sudah menyuruh Dimas mengurusnya…”
Thomas merangkul bahu Freya yang kurus perlahan, lalu menenangkannya.
Bohong kalau mengatakan dia tidak terharu, Freya membantai Ivan demi dirinya, terutama ketika dia teringat apa yang Freya katakan, dan ketika Freya menikam Ivan, perasaannya terasa begitu rumit.
Melihat Ivan yang membelalakkan mata dengan besar dan tubuh yang kejang-kejang di lantai, sementara dadanya masih naik turun, Thomas segera berkata.
“Masih bernafas, cepat bawa ke rumah sakit, seharusnya masih bisa diselamatkan…”
Kali ini, para preman itu langsung sadar.
Pria bertato yang sebelumya dipanggil Kak Bon oleh Ivan tiba-tiba berteriak, “Cepat selamatkan orang dulu, bawa Tuan muda Ivan ke rumah sakit!”
Kak Bon tidak berani membayangkan, kalau sampai Ivan mati karena hal ini, entah kemarahan apa yang akan dia terima dari Bright Property, mungkin dia tidak akan bisa melihat matahari terbit besok.
Dia melirik Thomas dan Freya dengan tatapan tajam, namun ida segera mengurungkan niatnya.
Awalnya dia ingin meringkus kedua orang ini, lalu membawa mereka untuk bertanggung jawab, namun jelas Ivan yang sudah ditikam belasan kali ini tidak akan mungkin bisa bertahan.
Meskipun mereka menangkap pembunuhnya, tidak akan bisa menjamin Adrian Chandra tidak menyalahkannya, karena ini membuktikan bahwa perlindungannya yang lengah.
Jadi setelah dipikir-pikir, sudahlah, lebih baik dia antar Ivan ke rumah sakit terlebih dahulu.
Lalu mencari alasan dibungkam oleh pembunuh aslinya, dan kabur tengah malam!
Begitu Adrian mendengar putranya dibunuh orang, dia pasti akan sangat murka, pada saat itu dia tidak akan mungkin memikirkan anak buahnya yang kabur, dia pasti akan mencari Thomas terlebih dahulu.
Dia sempat bertemu dengan Thomas di Restoran Tasty beberapa waktu yang lalu, dia tahu dengan jelas, demi menjilat Thomas, Santo bahkan mengeluarkan tiga botol Lafite langka tanpa ragu.
Siapa Thomas dia tidak tahu dan tidak bisa mencari tahu.
Namun dia bisa memastikan satu hal: Thomas bukan orang yang bisa diganggu oleh sembarang orang!
Bahkan… seluruh Bright Property pun tidak akan mampu menyinggungnya!
Santo sama sekali tidak memandang siapapun, namun dia memandang Thomas.
Semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi, jelas-jelas ini masalah di antara Ivan dan Martin, namun Thomas malah muncul secara tiba-tiba di sini, kalau dia tahu lebih dulu, dia pasti tidak akan membantu Ivan, biar dia mencari siapapun yang dia suka.
Enam orang preman menggotong Ivan, Kak Bon melambaikan tangan dan belasan preman itu langsung bubar, dalam waktu sekejap dalam pabrik tua ini hanya tersisa mereka berempat.
“Wanda… Wanda, cepat lepaskan papa, antar papa ke rumah sakit…”
Martin yang nafasnya sudah terengah-engah berteriak sekuat tenaga.
“Ha, oh!”
Wanda yang shock sampai membatu akhirnya sadar, dia melirik Freya dengan ketakutan, lalu berlari ke arah Martin untuk membukakan talinya.
“Wanda! Tunggu dulu!”
Tiba-tiba suara Thomas menggema dalam pabrik tua itu.
Namun dalam ucapannya ini jelas terdengar amarah yang terpendam.
Dia mengusap pelan bahu Freya untuk menenangkannya, lalu berjalan ke arah Martin yang wajahnya sudah babak belur dan penuh lebam.
“Sebelum lu ke rumah sakit, gue mau lu jelasin masalah hari ini dulu.”
Thomas langsung menatap ke dalam mata Martin dan tersenyum dengan begitu dingin dan sinis.
“Masalah apa? Masih ada masalah apa?” kepanikan muncul sekelebat dalam mata Martin, lalu dia berteriak dengan lemah, “Thomas, kamu tega sekali! Demi membalasku, kamu sampai bekerja sama dengan Santo untuk menjerumuskanku! Jelas-jelas hari itu kalian sudah berjanji dihadapanku, ada Santo yang melindungiku, tidak akan ada yang bisa menggangguku! Tetapi apa? Kamu lihat bagaimana aku dipukuli sekarang?! Aku adalah kawan ayahmu, teganya kamu mencelakaiku seperti ini!”