Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 75 Pilih Salah Satu


Thomas menggeleng dan berkata, “Gue sibuk, lu tinggal aja dulu disini, udah gak ada urusan lain, gue pergi dulu.”


Setelah melemparkan ucapan ini, Thomas langsung berbalik dan pergi.


Menghadapi sikap Thomas yang acuh ini, Wanda sungguh merasa heran, apakah dia tidak paham isyarat yang sudah diberikan? Ini sudah jelas sekali loh?!


Apakah dia harus menerkamnya?


Dan ketika dia sedang termenung, sudah terdengar suara pintu yang tertutup.


Dia ingin lebih agresif, namun sudah terlambat.


Wanda duduk dengan termenung di pinggir ranjang, dia menatap angka 600 juta yang ada di rekeningnya dengan wajah tidak percaya.


Sementara Thomas dia sama sekali tidak berpikir terlalu jauh, bukannya dia tidak mengerti isyarat yang diberikan oleh Wanda, namun pikirannya saat ini sepenuhnya tertuju pada Jenika.


Setiap kali dia bertemu dengan Jenika, entah kenapa jantungnya selalu berdegub dengan begitu kencang.


“Apakah ini yang namanya cinta? Astaga, rasanya ini jauh lebih tegang dari cinta pertama.”


Namun dia tiba-tiba ingat, dia sama sekali belum pernah merasakan cinta pertama yang sebenarnya.


Begitu dia naik ke atas mobil, King Kalman langsung berjalan menuju ke villa.


Di mobil Thomas hanya melamun, seolah hanya dalam sekejap mata sudah tiba.


Thomas turun dari mobil, dia menarik nafas dalam, ketika mengangkat kepalanya, tanpa sadar dia melihat Jenika sedang duduk diatas atas!


Sepertinya… dia juga memegang segelas teh?


Minum teh perlu yah memanjat setinggi itu?


 “Hee! Jenika! Cepat turun, itu terlalu berbahaya!”


Thomas sungguh terkejut, cara minum teh seperti ini, bukankah terlalu nakal! Kalau sampai jatuh bagaimana? Jarak dari atap sampai ke tanah saja ada belasan meter!


Ketika mendengar suara teriakan Thomas, Jenika seolah tersadar dari lamunannya.


Lalu dia berdiri dan menghilang di sisi atap yang lainnya.


Thomas segera masuk ke dalam villa lalu naik ke lantai dua menyusuri tangga.


Dia sungguh cemas, untuk sementara waktu hanya dia yang tinggal di villa ini, kalau sampai jatuh dari atap, lalu tidak ada yang menemukannya tepat waktu, akibatnya tidak main-main.


Ketika dia naik ke lantai dua, Jenika sudah duduk di atas sofa.


Ekspresinya begitu tenang.


Tangannya memegang secangkir teh hangat.


Awalnya Thomas masih ingin mengatakan sesuatu, namun melihat wajah Jenika yang begitu cantik dan anggun, ucapan yang akan diucapkan tiba-tiba ditelan kembali.


Jenika hanya melirik Thomas dengan ekspresi datar, lalu berkata, “Duduklah, capek berdiri terus.”


“Hm, baiklah.”


Thomas agak terhipnotis, lalu duduk dengan manis dan tegang di sofa.


Dia sampai lupa kalau ini adalah lapaknya sendiri.


“Gak ketemu beberapa hari, kelihatannya kamu menjalani harimu dengan sangat baik.”


Thomas tersenyum dan berkata, saat ini dia sedang berpikir keras bagaimana memulai pembicaraan.


 “Ada apa mencariku?” Jenika berbalik bertanya.


Tentu saja dia menangkap sikap Thomas yang bodoh ini dengan jelas.


“Oh, begini!” tiba-tiba Thomas teringat tujuannya datang kesini, lalu berkata, “Aku ingin memindahkan ibuku dan juga adikku kemari, villa ini terlalu besar, tidak ada hawa manusia, ada mereka berdua yang tinggal disini akan jauh lebih ramai…”


Ketika mengatakannya, Thomas tiba-tiba mengatupkan bibirnya, karena dia menyadari Jenika mengerutkan alisnya.


“Aku suka hidup seorang diri, kalau kamu membawa orang sembarangan masuk kemari, aku bisa mengakhiri perjanjian satu bulan kita kapan saja,  lalu pergi dari sini.”


Begitu dia mengatakan hal ini, mata Thomas langsung membelalak besar.


“Jenika… mereka adalah keluargaku, bukan orang sembarangan…”


“Bagiku iya.”


Dua kata yang begitu singkat terasa begitu dingin dan tidak berperasaan ditelinga Thomas.


Apanya yang orang sembarangan?


Yang satu adalah ibu asuhnya, yang satu lagi adalah adiknya!


Tiba-tiba Thomas merasa, Jenika merasa dia adalah orang dari kalangan atas, sementara ibu asuh dan adiknya hanya rakyat jelata.


Jadi bagaimana mungkin seorang nona dari kalangan atas tinggal bersama dengan rakyat jelata?


Ini adalah cara pandang orang kaya, dan ini bukan pertama kalinya Thomas menemui hal seperti ini.


Membayangkan hal ini, ekspresi Thomas langsung berubah menjadi tegas dan dingin.


Dalam lubuk hatinya terdalam, ada rasa kecewa yang begitu dalam terhadap Jenika.


Dia berkata dengan suara yang tegas, “Jenika, aku tidak akan mengizinkanmu mengatakan mereka seperti itu.”


Jenika menjawab dengan suara pelan, “Maaf, aku sudah terbiasa bicara blak-blakan.”


Ucapan ini terasa berbeda di telinga Thomas.


Dia bertanya dengan dingin, “Di matamu aku ini orang seperti apa?”


“Manusia tidak berguna.”


......


 “Hm, kalau begitu kamu boleh pergi, ibuku dan adikku akan pindah kesini besok.”


“Kamu serius?” Jenika langsung melihat ke arah Thomas.


Jawaban ini sungguh membuatnya begitu terkejut.


Biasanya Thomas begitu menurut dengannya bagaikan tikus yang sedang bertemu dengan kucing.


Jenika adalah nona muda Keluarga Hermawan, dia sudah terbiasa semua ucapannya dituruti oleh semua orang.


Sama sekali tidak pernah ada orang yang berani melawan kemauannya.


Tentu saja itu tidak termasuk ayah dan kakeknya.


Dia sama sekali tidak merasa kesal, malah merasa cukup lega.


Karena Jenika datang dan tinggal di Kota Jakarta selama sebulan atas perintah ayahnya, dan dia sudah sangat muak.


“Benar, aku serius.” Thomas mengangguk dan berkata, “Kalau harus memilih satu antara kamu dan keluargaku, aku akan memilih keluargaku.”


Jenika merasa lega, karena Thomas yang memintanya untuk pergi, ini sungguh sangat pas, nanti sepulangnya ke rumah dia bisa mempertanggungjawabkannya pada ayahnya. Oleh karena itu dia berdiri dan berbalik masuk ke kamar utama.


“Tunggu, ada satu hal yang ingin kutanyakan lagi.” Thomas melihat Jenika hendak pergi, dia segera memanggilnya.


“Ada apa?”


“Kamu menganggapku sebagai manusia tidak berguna, kalau begitu bisakah kamu memberitahuku, atas dasar apa kamu menganggapku seperti itu? Jelas-jelas aku adalah penerus Levian Group.


Terhadap hal ini dia sungguh merasa tidak rela juga tidak paham, dia tidak berguna dalam hal apa.


“Manusia tidak berguna ya manusia tidak berguna, tidak ada yang perlu dijelaskan.” Jenika terdiam sejenak, seolah merasa ucapannya terlalu blak-blakan, dia berbalik dan berkata, “Kalau kamu ingin mencari tahu lebih jelas, Dimas bisa memberitahumu.”


Setelah mengatakannya, Jenika langsung masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintunya.


Sementara Thomas malah tenggelam dalam pikirannya.


Manusia tidak berguna?


Dia bukan manusia tidak berguna, dia juga tidak mengijinkan dirinya menjadi orang tidak berguna.


Namun sebutan orang tidak berguna ini malah terlontar dari mulut Jenika.


Thomas bisa mendengar, ketika Jenika mengatakannya sebagai orang tidak berguna, sama sekali tidak terdengar sedang merendahkan, lebih seperti mengungkapkan sebuah kenyataan yang sangat wajar.


Kenapa Jenika tidak ingin mengatakannya langsung malah meminta Dimas yang mengatakannya?


Kalau Dimas tahu, lalu kenapa dia tidak pernah memberitahunya?


Thomas melihat waktu di jam tangan digitalnya, tanpa sadar mengumpat, “Sh*t!”


Tanpa sadar dia sudah termenung disini selama setengah jam.


Saat ini Luna sudah pulang kuliah.


Dai berdiri dan berjalan ke depan pintu kamar utama, dia mengetuk dua kali, “Jenika, kalau kamu mau pergi, aku bisa sekalian mengantarmu.”


Saat ini Thomas sudah membulatkan tekadnya, memintanya memilih Jenika atau keluarganya, maka dia pasti akan memilih pilihan kedua.


Dan sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar.


“Jenika, Jenika Hermawan?”


Dia sudah memanggil beberapa kali namun tetap tidak ada jawaban, Thomas membuka pintu perlahan dan melihat ke dalam.


Dan detik berikutnya, Thomas dibuat begitu terkejut.


Di dalam kamar sama sekali tidak ada orang!


“Loh! Orangnya mana? Jenika!”


Thomas kebingungan, sehingga dia memanggil dengan keras beberapa kali.


Di dalam kamar utama ini hanya ada sebuah ranjang besar, sebuah meja, dua kursi, selain ini masih ada sebuah kamar mandi.


Sama sekali tidak bisa bersembunyi di sini.


Thomas berjalan ke balkon dan melihat keatas juga kebawah, namun dia mendapati tidak ada yang bisa dipakai untuk memanjat.


“Bagaimana cara dia memanjat keatas tadi? Bukan… kemana orangnya?”


Thomas benar-benar bingung.


“Tuan muda, Nona Jenika sudah pergi.”


Tiba-tiba terdengar suara Dimas dari belakang.