Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Muka Badak


Karena dia melihat, Thomas memimpin di depan, lalu mereka berempat mengikutinya naik ke mobil King Kalman itu.


“Tidak mungkin! Tidak mungkin!” Wedy terlihat begitu shock!


King Kalman ini ternyata milik bedebah yang tadi membuat harga dirinya terinjak-injak itu!


Mereka mengenakan baju tanpa merek, bagaimana mungkin naik mobil semahal itu!


“Pasti bukan!”


Dalam hati Wedy mengelak, dan ketika dia melihat Dimas mengeluarkan remot dan menekannya, lampu mobil berkedip, sontak membuat matanya membelalak besar. Bahkan harapan terakhir juga sirna sudah!


Tidak peduli dia mahasiswa Trijaya atau bukan, sudah tidak penting lagi baginya.


Wedy sudah tahu kedua orang pria dan kedua wanita ini bukan orang yang bisa dia singgung.


Terutama ketika melihat Junaedi, mengantarkan mereka naik mobil dengan begitu sopan, dalam hati Wedy muncul perasaan yang tidak enak


......


Setelah naik ke mobil, Thomas meminta Dimas mengantarnya ke Tasty terlebih dahulu.


“Kak, kenapa tadi kamu tidak membantu kakak ipar membalas, si Kimberly itu sungguh keterlaluan, juga pak Wakil dekan, menurutku mereka harus diusir dari kampus!”


Saat ini Luna sungguh kesal, juga tidak mengerti kenapa Thomas melakukan hal ini.


Jelas-jelas dia adalah direksi kehormatan Universitas Trijaya, sudah pasti punya kuasa untuk mencabut jabatan Wedy.


“Dek, kalau aku bereskan mereka sekarang, hanya ada sebagian orang yang tahu, akan kurang meyakinkan, mungkin nantinya akan membuat Freya menemui lebih banyak kesulitan, aku mau mendepaknya di hadapan ribuan mahasiswa, dosen dan juga para petinggi.” Ucap Thomas.


Dimas tersenyum lebar dan memuji, “Tuan muda, jurusmu ini mantul!”


Dia sungguh merasa salut.


Keesokan harinya, saat rapat besar Universitas Trijaya, itu adalah momen pengesahan Thomas sebagai Direksi Kehormatan Trijaya.


Oleh karena itu Thomas akan mencabut jabatan Wedy, dan keputusan ini tidak akan ada yang bisa menghentikannya.


Kalau keputusan pertama Direksi kehormatan sampai ditolak, maka untuk apa mengadakan rapat besar?


Terlebih lagi tidak ada yang bersedia menyinggung donator terbesar Universitas Trijaya, apalagi pada saat dia baru saja naik jabatan.


Di sisi lain, Thomas juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memberitahu semua mahasiswa di sana, Luna dan Freya, siapa yang berani menyentuh mereka maka akan tahu ganjarannya.


Mengenai pujian Dimas, Thomas hanya tersenyum, dia tidak lupa, masih ada satu urusan penting yang sedang menunggunya.


Karena ini jam pulang kerja, jalanan sangat macet, sehingga butuh waktu sekitar setengah jam untuk bisa tiba di Tasty.


Dimas memarkir mobilnya di basement, mereka berempat naik lift dan naik ke lobby yang ada di lantai satu.


......


Martin sungguh cemas, dia sudah disini selama satu jam lebih, namun masih tidak melihat bayangan Thomas, kalau bukan karena ada Silvia di sini, mungkin dia akan curiga apakah Thomas benar akan tidak atau tidak.


Proyek property itu akan resmi dimulai dua hari lagi, langkah persiapan awal juga sudah siap.


Kalau tidak sempat menyelesaikan masalah kontrak sebelum itu, maka dia pasti akan masuk penjara paling tidak 20 tahun!


Dia begitu panik, pintu lift terbuka, lalu melihat Thomas berjalan keluar dari sana.


“Ah! Thomas! Akhirnya kamu datang!”


Pada saat ini, Wanda tentu saja melihat Thomas juga.


Wajahnya baru tersenyum, namun detik berikutnya ekspresinya langsung membeku di sana, karena dia melihat Thomas sedang menggandeng Freya berjalan keluar dari lift.


Freya, tentu saja Wanda kenal, ketika masih sangat kecil, dai juga tetangga Thomas.


Melihat baju dan juga rambut Freya yang berantakan seperti seorang pengemis, ekspresi Wanda terlihat seperti seseorang yang baru saja memakan kotoran.


Dia sama sekali tidak merasakan apa pun, karena ketika itu ada banyak teman sekolah yang mendekatinya, dan dia sama sekali tidak menganggap perjodohan itu.


Namun saat ini berbeda! Thomas punya uang dan kekuasaan, statusnya sudah berubah!


Dia bukan si miskin itu lagi, melainkan pangeran terhormat yang berkelana di luar!


Begitu dia membayangkan emas dan permata yang bertebaran di dalam King Kalman, membuatnya merasa begitu bersemangat, dia tidak pernah bertemu dengan OKB sesultan itu!


Awalnya Wanda sempat berpikir, setelah masalah Martin diselesaikan, dia akan mencari alasan untuk mengajak Thomas jalan-jalan ke pantai, lalu menggunakan sedikit trik untuk membuat Thomas terpesona padanya.


Siapa tahu Thomas merasa senang dan langsung memberikan permata yang ada dalam mobil dan diberikan padanya sebagai hadiah.


Dan setelah dia menjadi calon istri Thomas, dia akan benar-benar masuk ke dunia para sultan!


Membayangkan dirinya mengenakan perhiasan mahal, naik mobil mewah, menghadiri pesta mewah, itu membuatnya merasa begitu bersemangat. Itu adalah kehidupan yang benar-benar dia inginkan!


Namun siapa yang menyangka, tidak sampai dua jam, tiba-tiba muncul seorang Freya.


Ini membuat Wanda tiba-tiba sadar.


Yang mengetahui status Thomas sebenarnya bukan hanya dia seorang, dia mengincar Thomas namun mengabaikan ada begitu banyak wanita lain yang juga mengincar Thomas!


kalau dia tidak bisa mengendalikan Thomas,  maka dia akan kehilangan kesempatan hidup di dunia sultan yang dia idamkan!


wanda mendekat dan berusaha mempertahankan senyum ramahnya, meskipun dia ingin sekali menampar wajah Freya dengan kuat.


“Eh? Bukankah ini Freya? Kenapa kamu juga di sini? Kebetulan sekali.”


Tidak ada yang menggubrisnya, membuat ekspresi Wanda membatu di sana.


“Martin, udah pesen ruangan belum?” tanya Thomas.


“Haa… ini, bukannya, menunggu kamu datang dulu baru pesan ruangan?” Martin tercengang, lalu tersenyum dengan kaku.


“Hm, kalau begitu pesar ruang VVIP 1.” Ucap Thomas.


“Apa? VVIP1?” mata Martin membelalak besar.


Awalnya dia masih berpikir, nanti setelah Thomas datang, ketika memesan ruangan bisa mendapat diskon dan sebagainya, siapa yang menyangka begitu Thomas datang dia langsung meminta ruangan yang paling mahal!


Kalau tahu akan jadi begini, lebih baik tadi dia booking dulu!


Thomas meliriknya, dia memutuskan untuk membuatnya mengeluarkan uang yang banyak satu kali, lalu berkata, “Martin, orang yang lu ajak makan itu Bos Tasty, bagaimana caranya menunjukkan niat lu?”


“Tapi, Thomas, bukankah, kamu bilang akan membantuku?” Martin terkejut sampai bicaranya menjadi gagap.


Itu bukan ruang VIP biasa, itu adalah ruang VVIP 1, hanya biaya booking ruangan saja sudah mencapai 200 juta!


Makanannya? Minumannya?


Dihitung-hitung… tabungannya dan Milan selama sekian tahun ini saja paling banyak 800 juta, sekali makan minimal auto raib setengahnya! Bagaimana mungkin Martin tidak shock!


Dimas yang berdiri di samping Thomas tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Luna hanya ‘Pffth’ karena menahan tawa.


Sementara Thomas sendiri hanya menatap Martin dengan wajah bingung.


“Hahaha, aku tidak kuat lagi, Ma, lihat gak? Muka orang Keluarga Ningrat memang setebal ini! jelas-jelas ingin minta bantuan kakak, tapi traktir makan saja mau modusin kakak yang bayar, ini sih namanya Muka Badak!”


“Huss, bocah ini ya, tutup mulutmu!” Silvia menyentak, namun sama sekali tidak menyalahkannya.


Begitu Milan mendengar ruang VVIP 1, nyaris terkejut sampai tersungkur!


Dia melihat suasana yang mulai tegang, segera berkata dan tersenyum, “Thomas, kamu bukannya tidak tahu kondisi keuangan keluarga kami, membooking ruang VVIP 1 itu sangat mahal.. gimana kalau, kita booking ruangan yang harganya sekitar 2 jutaan saja? Lagi pula hanya kita-kita saja, iya kan?”


Thomas berkata dengan senang, “Terserah, buat apa tanya pendapat gue, yang butuh bantuan kan kalian, yang traktir juga kalian, kalau Bos Santo bersedia, meskipun lu traktir makan satu pinggir jalan juga gak masalah!”