
Sebelum Thomas sempat merespon, Freya sudah sampai di depannya.
Kedua tangannya memegang tongkat pendaki, seolah berniat menggunakan tubuhnya kurus membentuk benteng pertahanan di antara Thomas dan sang macan tutul.
Kemunculan orang asing secara mendadak langsung menarik perhatian macan tutul, dia menggoyangkan ekornya dengan penasaran sambil berkeliling memutari mereka.
"Aku tidak takut sama kamu, kamu, tapi kamu jangan mendekat..."
Sebenarnya Freya sangat takut, karena takut, bahunya sampai gemetar.
Thomas melihat semua ini dengan jelas.
Pada saat ini dia menyadari, baru tiga hari tidak jumpa, Freya sudah bagaikan seorang pengemis yang compang camping.
Pakaiannya robek tidak karuan, bagian tubuh yang terbuka masih meninggalkan bekas darah, rambutnya bahkan berantakan.
Thomas segera menjelaskan, "Freya, jangan tegang, namanya Jun, dia adalah teman kami..."
"Ini adalah macan tutul, dia bisa memakan orang! Thomas, kalian cepat pergi!"
Ucap Freya dengan suara lantang, lalu mengibaskan tongkat pendaki dengan kencang, dengan demikian dia bisa membuat macan tutul tersebut menjauh
Dia bagaikan induk ayam yang sedang melindungi anak ayam di hadapan elang.
Memasang gaya yang mengatakan, siapapun yang mendekat maka dia siap mempertaruhkan nyawanya.
Tidak disangka tubuh yang terlihat lemah ini memiliki keberanian dan keberanian yang begitu besar.
Winda tidak ragu.
Dan hatinya bergetar.
Karena... Dia tahu Freya.
Dia adalah gadis yang hampir membuat nyawa Ivan melayang.
Setiap kali dia ingat belasan luka tusukan di tubuh Ivan yang mengerikan itu, dia masih tidak berani percaya kalau pelakunya itu adalah Freya.
Sekarang dia seolah paham.
Freya ini bisa membunuh orang demi Thomas!
Dan dia bisa mengorbankan dirinya demi Thomas.
Tiba-tiba dia merasa sangat malu.
Kalau.
Macan tutul ini bukan peliharaan Joanna, melainkan seekor binatang buas yang sesungguhnya, apa yang bisa dia lakukan?
Yang bisa dia lakukan hanya bersembunyi dibelakang Thomas, menggunakan pengorbanan Freya lalu melarikan diri bersama Thomas.
Sejak dia tahu Thomas berlatih tenaga dalam, dia merasa kehilangan kepercayaan diri.
Kehadiran Freya juga mengingatkannya pada sesuatu hal, kalau dia bertanya pada diri ya sendiri, dia tidak akan bisa mengorbankan nyawanya demi Thomas.
Tapi dia ingat, ketika dia dan Thomas bertemu dengan macan tutul, Thomas juga menghadang didepannya.
"Freya, kamu jangan takut."
Thomas melihat Freya yang ketakutan langsung menariknya, Thomas paham sifat Freya, jangan melihatnya ketakutan seperti itu, kalqu sampai mendesaknya, tongkat yang ada ditanganny bisa saja merenggut nyawa macan tutul ini.
"Jun, kamu cukup mengantar kami sampai sini, kembalilah, sekalian sampaikan terima kasihku oada Joanna!"
Thomas juga tidak perduli macan tutul ini paham akan ucapannya atau tidak.
Namun setelah Thomas mengatakannya, macan tutul hanya melirik Thomas lalu berdiri tegak.
Dia mengangkat satu kaki depannya dan menjilatinya dua kali, setelahnya menggosok wajahnya, dan berbalik kembali ke jalan sebelumnya.
"Lihatkan, aku sudah bilang tidak apa - apa, jangan tegang!"
Kemudian Freya berbalik, melihat wajah Freya yang kotor, hati Thomas begitu tidak karuan, dia merasa kesal juga lucu.
"Kenapa kamu tidak ikut rombongan dan malah berkeliaran di area terpencil seperti ini!"
Sorot mata Freya tetap mendarat di tubuh macan tutul yang pergi menjauh, dia tetap begitu waspada.
Dia melirik Thomas dengan singkat lalu kembali menoleh dan berkata dengan cepat, "Kami kembali untuk mencarimu, aku mendapati ada botol air mineral bekas di jalan setapak dekat tebing, sehingga aku langsung turun mencarimu..."
Thomas tersentak kaget dan bertanya, Sudah berapa hari kamu meninggalkan Luna?"
"Tiga hari."
Sampai macan tutul tidak terlihat lagi, Freya baru merasa lega, lalu melihat ke arah Thomas.
"... Kalau begitu selama tiga hari ini kamu terus mencariku?"
"Iya."
"Lu gila ya!"
Begitu Thomas mendengar ini dia langsung berseru kaget.
Tidak disangka Freya mencarinya di daerah terpencil seperti ini selama tiga hari!
Namun Thomas tidak bisa marah.
Dia menghela nafas, lalu kembali bertanya, "Bagaimana kamu bisa tahu itu aku dengan hanya melihat sebotol air mineral?"
"Kamu... Punya sebuah kebiasaan, kamu suka menggores dua garis diatas tutup botol..."
......
"Baiklah, baiklah, ayo kita kembali."
Seketika Thomas tidak tahu harus mengatakan apa lagi, dia menoleh dan tersenyum dengan pasrah kearah Winda, lalu memimpin di depan.
Menerima senyuman dari Thomas membuat hati Winda terasa hampa, seolah ada benda penting yang hilang darinya tadi.
Destinasi wisata di sini ada banyak, sehingga tempat tidak berpenghuni sama sekali tidak seluas yang Thomas bayangkan.
Asalkan mencari ke arah yang benar, maka akan bisa mencapai area wisata dengan cepat.
Tentu saja, kalau sengaja memilih tempat tidak berpenghuni untuk mencari, kemungkinan besar akan tersesat dalam gunung.
Pada saat jam makan siang mereka bertiga kembali ke area wisata.
Kemudian Thomas menelepon Dimas dan Luna untuk memberitahukan posisi mereka.
Mungkin setelah dua jam berlalu, Dimas membawa rombongan datang dengan tergesa-gesa, dan pada saat bersamaan membawa empat orang polisi.
Hilang di tempat wisata selama tiga hari,
sampai mengerahkan kepolisian, bagaimanapun tetap harus ke kantor pilisi untuk membuat keterangan.
Terjadi kecelakaan seperti ini, bagi yang lainnya ini merupakan hal yang sangat traumatik, membuat semua orang kehilangan suasana hati untuk melanjutkan liburan.
Setelah berdiskusi, semua orang memutuskan untuk kembali.
Namun liburan kali ini sungguh sangat berkesan.
Di dalam pesawat Luna terus menempel pada Thomas dan menanyakan apa yang terjadi pada Thomas selama tiga hari ini.
Thomas mengarang sebuah cerita dengan asal.
Setelah tersesat, dia diselamatkan oleh seorang gadis cantik lokal, lalu diajak bertamu ke rumahnya, dan akhirnya pulang.
Ditambah rumah gadis cantik itu tidak ada telepon, sehingga dia tidak menghubungi yang lainnya.
"Kak, kakak benar-benar membuatku mati ketakutan!" Keluh Luna.
"Iya, Direksi Thomas, kamu begini membuat jantung kami hampir melompat keluar, kami sampai mengira terjadi sesuatu pada kalian!" Steve menepuk dadanya dan berkata dengan lebay.
"Steve
, tutup mulut busukmu!" Ucap Hans dengan satu pukulan mendarat di punggung.
Semua orang tertawa dengan kencang, wajah mereka penuh dengan ekspresi lega.
Wajah Winda juga dihiasi oleh senyum tipis yang memperlihatkan ekspresi murung yang tidak bisa ditutupi.
Pikirannya sangat kacau.
Entah karena Thomas atau karena Freya.
Setelah berpamitan satu per satu, karena ada Luna, Thomas tidak bisa mengantarkan Winda pulang.
Dan sepertinya Winda sudah menyangkanya, mobil yang menjemputnya tiba lebih cepat daripada mobil yang diatur oleh Santo.
Mobil yang disiapkan oleh Santo mengantarkan Hans dan dua temannya, juga Milka untuk pulang ke rumah masing-masing.
Setelah kembali ke parkiran basement Tasty.
Karena Thomas masih ada urusan, dia menolak undangan Santo, lalu bersama Dimas, Luna dan Freya pulang terlebih dahulu.
Ketika Silvia menyiapkan makan malam, Thomas berkata, "Dimas, gue ada sedikit urusan sama lu, gimana kalau kita ngobrol di kamar dulu?"
"Baik, Tuan muda." Dimas tersenyum lalu ikut Thomas naik ke atas.
Didalam kamar.
Thomas menceritakan semua yang terjadi tiga hari ini pada Dimas apa adanya, dan diantaranya dia juga menegaskan tentang perubahan dalam tubuhnya.
Ini juga salah satu alasan dia pulang dengan tergesa-gesa, Thomas benar-benar takut ada kesalahan.
"Kalau begitu, Tuan muda sudah mencapai tahap ketiga?" Alis Dimas mengkerut.
"Lihat."
Bukti terbaik adalah action, thomas mengerahkan kekuatan murni, satu gerakan tangan yang ringan ke arah jendela.
"Wuss!"
Sebuah hembusan angin membuat tirai jendela melayang.
Thomas tidak mengerahkan kekuatan murni yang terlalu banyak, karena memang tidak perlu, apalagi ini dalam rumahnya.
Kali ini membuat alis Dimas mengkerut lebih erat lagi.
Dia berpikir sejenak, lalu berkata dengan lirih, "Tuan muda, ilmu yang kamu latih... Memang aliran sesat!"