Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Gadis Cantik Aneh


“Karena ini bukan salah keluarga kita, aku marah juga tidak berguna, kalau aku sampai sakit karena marah, bukankah aku masih harus mengeluarkan uang untuk pengobatanku lagi.”


Ucap Silvia sambil tersenyum, lalu berkata lagi, “Thomas, mama sudah salah paham padamu, semoga kamu bisa memaafkan mama.”


Sebenarnya dia sudah melihat seperti apa sifat orang Keluarga Ningrat.


Sejak Tanto meninggal, kedua keluarga perlahan menjauh, penyebabnya apa, dalam hati Silvia sudah tahu jawabannya.


Thomas mengirimkan uang kepada Wanda setiap bulannya, namun perkembangan keduanya malah tidak besar.


Silvia yang sudah  mengalami asam manis pahit kehidupan sudah menduga semua ini, dan karena ketiga anggota keluarga itu merupakan orang yang paling dikhawatirkan suaminya.


Silvia masih menaruh sedikit harapan pada mereka.


Namun, karena Keluarga ningrat bermasalah, dia juga tidak ingin memaksakan, kalau orang Keluarga Ningrat memandang rendah Thomas, maka dia tidak akan memaksakannya dan membuat Thomas menderita di tengahnya.


“Ma, aku tidak menyalahkanmu.”


“Baiklah, kalau begitu istirahatlah lebih awal, mama juga mau kembali ke kamar dan tidur.” Silvia mengangguk dan berbalik masuk ke dalam kamar.


Setelah pintu kamar tertutup, Luna menjulurkan lidahnya ke arah Thomas, “Lihat kan, tidak masalah.”


“Sudah sana mandi dan segeralah tidur, besok pagi kita masih ada urusan.”


“Wokeh!!”


Setelah Luna mengatakannya, dia kembali ke kamar dan mengambil baju ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan riang.


Thomas bersandar di sofa dengan perasaan lega, suara percikan air dari kamar mandi terdengar begitu merdu, membuatnya perlahan tertidur.


......


Keesokan paginya saat bangun sudah jam 6 pagi.


Dia mandi dan memakan sarapan buatan Luna dengan perasaan tenang.


Setelah berpamitan dengan Silvia, Thomas mengajak Luna pergi.


Urusan hari ini tidak banyak, hanya pergi ke Mall Sumarecon untuk membeli perabotan juga alat elektronik beserta barang yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.


Thomas tidak ahli dalam hal ini.


Dimas juga tidak ahli dalam hal ini.


Namun Luna ahli dalam hal ini.


Begitu keluar dari rumah, ponsel Thomas berdering, yang meneleponnya adalah Dimas.


Dia memberitahu Thomas, sepuluh menit lagi dia akan tiba di tujuan.


Thomas menjawab singkat lalu turun bersama dengan Luna, mereka berjalan ke arah gerbang dengan payung.


Cuaca hari ini kurang baik, di luar sana turun hujan ringan.


Awal musim kemarau, turun hujan adalah hal yang wajar terjadi.


Namun suasana hati kedua kakak beradik ini sangat baik.


Hari yang pahit akhirnya berakhir, dan hari yang indah sudah datang.


Semalam Luna sudah membuat list belanja, sekarang mereka hanya perlu berbelanja ke swalayan dan juga toko furniture berdasarkan list belanjanya saja.


......


Sepanjang pagi Thomas dan Dimas ikut dibelakang Luna, awalnya mereka berkeliling di Sumarecon, lalu berkeliling ke Iforma.


Setelah seluruh furniture dan alat elektronik sudah lengkap dibeli, mereka bertiga langsung melaju ke villa.


Begitu turun dari mobil, Luna langsung meminta Dimas membawanya masuk ke dalam, dia ingin mengatur peletakkan furniture dan juga alat elektronik, tentu saja dia juga ingin memilih sebuah kamar yang dia suka.


Sementara Thomas menunggu kiriman barang yang akan datang di gerbang.


Hujan ringan tetap turun seperti pagi tadi, kelihatannya hujan ini akan bertahan cukup lama.


Berdiri sejenak di sana, Thomas melihat seseorang yang sedang membawa payung, orang itu berjalan santai ke arah jalan gunung, dan itu adalah sesosok wanita bertubuh tinggi semampai.


Sepatu dan juga celana trainingnya sudah basah sampai betis oleh hujan.


Sebenarnya tempat ini dekat dengan laut, terletak di bawah kaki gunung, dan angin disini cukup kencang.


Mungkin karena menyadari tatapan Thomas, dai mengangkat payungnya sedikit.


Thomas sontak langsung terpana.


Cantik sekali!


Wajah yang begitu cantik dan ayu, bagaikan bidadari yang turun dari langit, sungguh memukau.


Tiba-tiba jantung Thomas berdegub dengan kencang dan tidak beraturan.


Karena wanita berjalan menghampirinya.


Thomas hanya berdiri membatu di sana, sampai wanita itu berhenti di hadapannya.


Menutup payungnya.


“Anginnya kencang.” Ucap wanita itu dengan datar.


“Uhm, memang agak kencang.” Ucap Thomas sambil mengangguk dengan serius.


Keduanya berdiri sejenak di sana.


Jelas terlihat wanita ini datang untuk berteduh.


Thomas diam-diam mengamati wanita ini.


Usianya sekitar 22 sampai 23 tahun, kaos putih dipadukan dengan jaket bercorak kotak, celana training dan sepatu olahraga, dia juga membawa sebuah tas ransel.


Kelihatannya seperti seorang backpacker.


Sepertinya dia datang ke sini untuk liburan.


Namun di cuaca seperti ini, untuk apa mendaki gunung?


Tanda tanya mulai muncul dalam kepala Thomas.


Pada saat ini, wanita ini berkata lagi, “Villa ini lumayan, rumahmu ya?”


Thomas tercengang, lalu berkata, “Iya, ini rumahku.”


“Kamu Thomas Widjaja?”


“Hmm… eh? Kenapa kamu bisa tahu namaku?”


Wanita itu hanya melirik Thomas sekilas, mengerutkan alisnya yang hitam, lalu membuka payungnya dan beranjak pergi.


Kali ini dia berjalan ke arah kaki gunung.


Thomas akhirnya sadar, lalu berkata dengan lantang, “Hei, cantik, kamu masih belum memberitahuku siapa namamu!”


Wanita itu menghentikan langkahnya lalu berkata sambil menoleh, “Namaku Jenika Hermawan, ingat untuk menyiapkan sebuah kamar tamu untukku.”


Surabaya.


Lantai dua rumah mewah yang megah bak istana.


Dalam sebuah kamar.


Sebuah layar besar yang tertempel di dinding.


Pada saat ini sedang diputar video seorang gadis cantik yang sedang melakukan senam yoga.


Chandi bersila di atas karpet yoga, gerakannya menyamai gerakan wanita cantik dalam video itu.


“1,2,3,4…1,2,3,4…”


“1,2,3,4… ganti posisi…”


......


Kepala pelayan berjalan masuk.


Dia mengambil remote yang ada di atas meja, lalu mengarahkannya ke layar dan menekan tombol pause.


Kemudian berkata, “Tuan besar, Erwan baru saja menelepon.”


Chandi melirik wanita yang gerakannya di pause sejenak, lalu bertanya, “Oh ya? Apa yang dia katakan?”


“Erwan masih ada di rumahnya, namun dia mengatakan kalau Nona Jenika yang pergi.”


Chandi berpikir sejenak, lalu kembali bertanya, “Yanto, kamu punya pemikiran apa?”


“Kurang lebih sudah cukup, kalau campur tangan lagi, akan membuat masalah untuk tuan muda.” Ucap kepala pelayan.


“Oh iya, Haris Anggara sudah sampai?”


Kepala pelayan mengangguk, lalu sepertinya dia teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum.


“Ya sudah, aku sudah mengerti, jangan bengong lagi, cepat!”


Chandi menunjuk ke arah layar.


Sehingga suara wanita dalam layar itu kembali terdengar.


“1,2,3,4…1,2,3,4…1,2,3,4… ganti posisi…”


......


Thomas dibuat kebingungan.


Ketika dia sadar, Jenika sudah pergi jauh.


Thomas menggaruk kepalanya dengan bingung, lalu tiba-tiba menepuk keningnya.


“Kacau! Bisa-bisanya lupa menanyakan kontaknya!”


Setengah jam setelahnya, Thomas masih tenggelam dalam pikirannya.


Jenika adalah gadis tercantik yang pernah dia temui seumur hidupnya.


Menggambarkannya sebagai bidadari yang turun dari langit sama sekali tidak berlebihan.


Ketika saling bertatapan tadi, dia bahkan sudah memikirkan nama untuk anak mereka kelak.


“Apakah ini yang namanya jatuh cinta?”


Thomas menampar wajahnya dengan kencang, sakit sekali.


“Haa~! Ini bukan mimpi.”


“Aku jatuh cinta.”


......


Lima mobil barang tiba bersusulan.


Thomas menggiring mereka ke dalam villa.


Pekerjaan selanjutnya biar Luna dan Dimas yang mengaturnya.


Sekarang pikiran Thomas dipenuhi oleh wanita yang bernama Jenika Hermawan itu.


Jam 1 siang, Silvia menelepon, dia mengatakan kalau ada orang yang mencari Thomas.


Sehingga memintanya segera kembali.


Oleh karena itu begitu selesai mendekor, mereka menutup pintu villa, lalu Thomas meminta Dimas untuk segera mengantarnya pulang.


Silvia juga tidak mengatakan siapa, hanya berpesan dengan singkat dan tergesa-gesa, lalu langsung mematikan telepon.


Tetap di tempat Dimas menurunkan Thomas dan Luna kemarin.


“Tuan muda, kapanpun butuh sesuatu, telepon saja.”


Dimas membuat isyarat menelepon dengan tangannya, lalu pergi dengan mobilnya.


Kedua kakak beradik ini naik ke lantai atas, mengeluarkan kunci untuk membuka pintu.


Dan begitu mereka masuk ke dalam rumah, mereka berdua langsung tercengang.


Seorang pak tua sedang duduk di meja makan sambil makan dan minum dengan lahap.


“Kamu adalah Thomas?” tanya pak tua itu.


“Iya itu aku… kamu siapa? Kenapa ada di rumahku, apa yang kamu inginkan?”


“Salah paham, ini hanya salah paham!” pak tua ini melihat Thomas mendekat dan bertanya dengan nada penuh curiga, segera menjelaskan, “Namaku Haris Anggara, aku utusan kakekmu!”


“Haris Anggara?”


Thomas langsung mengerutkan alis, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Chandi.


“Halo! Cu!”


......


“Aku mau tanya, apakah kamu menyuruh orang yang bernama Haris Anggara datang kesini?”


“Benar, dia adalah ahli pengobatan yang kukatakan itu, kakek sengaja memintanya datang untuk mengobati penyakit ibumu, ada apa?”


“… Kamu yakin?? Orang ini dokter???”


Thomas memperlihatkan keraguan yang jelas sekali terlihat.


“Iya!”


“Uhm, kalau begitu baiklah.”


Setelah mematikan telepon, Thomas mengamati pak tua brewokan ini dari atas sampai bawah.


“Kamu benar-benar dokter? Apakah ada yang bisa membuktikannya?” Thomas tetap tidak berani percaya.


Begitu Haris melihat gelagat serius, dia langsung bersemangat.


Dia menundukkan kepala. Lalu mulai mencari sesuatu di dalam tas selempangnya.


Tidak lama kemudian, Haris mengeluarkan sebuah bendera yang terbuat dari kain beludru merah, begitu dia gerakan, langsung muncul tulisan “Ahli Pengobatan Dalam Segala Penyakit” yang tercetak dengan tinta emas berkilau.


“Kalau kamu masih tidak percaya, aku masih punya KTP…”


Thomas: “…”


Luna: “…”


......


Setelah sesaat.


Thomas mengangguk perlahan.


“Baiklah, aku percaya. Sudah makan kan, pintu di sana, silakan.”


......


“Tuan muda, aku benar-benar tabib ajaib.”


“Aku tidak pernah mengatakan kalau kamu bukan.”


“Kalau begitu biarkan aku mengobati ibumu.”


“Tidak perlu.”


......


Haris sungguh dibuat kesal, “Wah kacau, jadi sekarang kamu sedang meragukanku?”


Thomas menggeleng dengan kaku, “Apakah aku mengatakannya? Ini kamu yang mengatakannya sendiri.”


“Baik, baik, baiklah! Kamu tidak percaya, aku akan memperlihatkan kebolehanku padamu, atau aku tidak akan pergi!” Haris dibuat kesal sampai jenggotnya gemetar, sekalian saja duduk di kursi dan tidak mau pergi.


Thomas baru akan maju untuk menyeretnya keluar, namun Luna menahannya.


“Kak, kamu lihat apa yang dia katakan, kelihatannya memang punya kemampuan untuk itu.” Ucap Luna setengah berbisik.


“Tidak bisa, siapa yang tahu dia akan sembarangan atau tidak, bagaimana kalau dia sembarang memberi obat, lalu membuat tubuh mama semakin parah?”


Thomas begitu bersikeras tidak ingin membiarkan Silvia mengambil resiko ini, meskipun dia sempat sedikit goyah.


Dokter yang tidak jelas asalnya, menipu orang kalau mereka ahli di bidang pengobatan, Thomas bisa percaya pada Chandi, namun hanya Tuhan yang tahu apakah Chandi ditipu atau tidak.


Pada saat ini, Haris mendengus, dia mengusap jenggotnya, terlihat seperti seorang profesional.


“Tuan muda, kamu sungguh meremehkanku, lagipula penyakit yang diidap oleh ibumu adalah penyakit jantung, obat medis memiliki khasiat yang terbatas, aku Haris Anggara mendapat julukan sebagai tabib bertangan dewa, julukan ini tidak datang sembarangan. Kamu cukup memberiku waktu setengah jam, aku jamin aku bisa menyembuhkan setengah penyakit ibumu.”


Pada saat ini Silvia juga membuka suara dan bertanya, “Thomas, bagaimana kalau biarkan dia mencobanya dulu?”


Dia juga ingin menyembuhkan penyakitnya, dengan demikian dia bisa meringankan beban Thomas.


Thomas juga orang yang begitu lugu dan jujur, mendengar ucapan Haris yang penuh keyakinan, dia juga sempat tergerak.


Apalagi apa yang dikatakannya memang masuk akal, obat medis memiliki khasiat yang terbatas untuk menyembuhkan penyakit jantung.


Kalau ingin dipikirkan lagi, logikanya Chandi tidak mungkin membohonginya, seandainya pengobatannya tidak menggunakan obat dia berani mencobanya.


Dan begitu melihat ada gelagat yang tidak beres, dia bisa langsung mencegahnya.


Setelah berpikir dengan seksama, Thomas memutuskan.


“Baiklah, biar kamu mencoba, tapi ingat,kamu hanya punya waktu setengah jam.”


Haris terkekeh, menepuk dadanya yang kurus kering sampai berbunyi nyaring.


“Tuan muda, tenang saja!”


“Kemari, Nona Silvia, duduklah di sini!”


Lalu Haris membawa Silvia duduk di sofa.


Haris meminta Silvia duduk bersila, sementara dia juga duduk bersila di belakang Silvia.”Hei! haa! Huuuu, uffthh…”


Dan di saat bersamaan, Haris juga melakukan berbagai macam gerakan.


......


“Kak, biarkan dia mencobanya.” Luna menarik tangan Thomas dan menggoyangkannya beberapa kali.


Kakek Thomas, dia tahu siapa beliau, dia adalah seorang triliuner, bahkan memberikan sebuah villa senilai ratusan miliar.


Sementara tidak ada yang bisa didapatkan dari menipu keluarga mereka.


Entah mengapa, Luna begitu percaya diri.


Thomas berpikir sejenak, kalau hanya seperti ini, sepertinya tidak mengapa, dia tidak ingin membuat Luna juga ibunya kecewa.


Lalu.


Haris malah menghentikan gerakannya, lalu menoleh ke arah Thomas dan Luna.


“Apa yang kamu lakukan? Ayo lanjutkan!” ucap Luna.


Haris hanya memutar bola matanya, “Kalian melihat di samping seperti ini, aku tidak bisa bekerja.”