Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 120


Tiba-tiba suara ranting yang patah memecah keheningan, membuat Thomas terkejut sampai membelalakkan mata.


Winda lebih parah, dia secara reflek angsung memeluk Thomas.


"Buset... Gila!... Jangan bilang..."


Thomas merinding dan keringat dingin mengucur di keningnya.


Tapi...


Sepuluh menit berlalu, sama sekali tidak ada pergerakan apapun, kalau benar macan tutul, seharusnya mereka akan langsung menghampiri begitu mencium bau manusia.


"Ssstt, jangan bersuara, kemungkinan bukan macan tutul..."


Ucap Thomas dengan suara lirih.


Lalu dia menggeser tubuhnya keluar sedikit sambil menggerakkan energi murni dalam tubuhnya, membuat aura tubuhnya meningkat.


Lalu mengulurkan kepalanya dengan sangat hati-hati...


Dia melihat kesekeliling namun sama sekali tidak melihat apapun.


Namun suara ini sepertinya datang dari atas, bukan dari bawah...


Memikirkan hal ini, Thomas menoleh ke atas dengan keringat dingin bercucuran, dan detik berikutnya, dia langsung tercengang.


Winda benar-benar sangat ketakutan, membuatnya hanya bisa meringkuk dalam lubang dengan tubuh gemetar.


Ditempat yang gelap gulita seperti ini, kalau sampai bertemu binatang pemakan manusia tanpa senjata apapun, sudah bisa dipastikan mati tanpa bersisa.


Apalagi ini tempat yang jauh dari pemukiman, meskipun berteriak juga tidak akan ada yang bisa menjawab dan menolong.


Setelah menunggu sejenak, Thomas menjulurkan kepalanya dan melihat, namun entah kenapa dia seperti tersihir dan sama sekali tidak bergerak.


Winda menarik baju Thomas beberapa kali namun dia sama sekali tidak bergeming.


Ditempat yang menakutkan seperti ini membuat Winda seolah kehilangan kendali, dia mengintip dari lubang dan melihat ke arah Thomas melihat...


"See... setaan..." Winda ketakutan sampai jetuh ke pelukan Thomas.


"Ssstt! Jangan bersuara, bukan setan..."


Thomas langsung membungkam mulut Winda untuk mencegahnya berteriak.


Di musim panas.


Bulan purnama menggantung tinggi.


Meskipun ada awan yang menutupinya namun tetap terlihat cahaya perak ditengah malam.


Posisi Thomas dan Winda berada tepat di bawah bukit, dan kedua sisi adalah tebing yang terjal.


Pada bagian ujung bukit ada dua tebing tinggi yang menjulang bagaikan pedang, diatas puncak tebingnya masing-masing berdiri satu sosok manusia.


Suara angin yang berhembus dan juga suara orang yang lirih terdengar di telinga Thomas.


Namun dia sama sekali tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan.


Lalu, dia melihat kedua orang ini melayang dan melesat ke arah lawannya.


Kedua orang ini sempat bertarung beberapa pukulan ditengah udara, lalu tiba-tiba berpisah dan kembali ke posisi awal.


Dan pada saat ini.


Terdengar suara 'Klotak' seolah ada sesuatu yang jatuh di hadapan Thomas.


Ini kembali membuat Thomas terkejut, kemudian matanya langsung berbinar, di hadapannya tiba-tiba muncul sebuah buntalan.


"Ini...?"


Thomas tidak yakin benda apa ini, namun dia segera memungut buntalan itu.


Jangan-jangan kedua petarung kuat ini ingin memperebutkan benda ini?


Thomas yang sempat tergila-gila dengan novel silat langsung berpikir, jangan-jangan ini adalah pusaka dunia persilatan yang melegenda itu.


Didalam buntalan itu sepertinya ada sebuah kotak kayu.


Dan pada saat ini Thomas tidak mungkin membukanya, setelah mendapatkan benda ini dia tetap memusatkan perhatiannya di kedua puncak tebing.


Tiba-tiba orang yang ada di tebing sebelah kiri melesat ke arah orang yang berada di tebing sebelah kanan yang jaraknya puluhan meter secepat peluru yang ditembakkan.


Seketika terdengar suara dentuman yang begitu keras dan angin kencang berhembus diatas tebing itu.


Ini benar-benar membuat Thomas sontak tercengang.


"Buset... ini pasti sudah mencapai tahap ketiga, seorang pendekar yang energi murni berubah menjadi cairan dan wadah energinya sudah berubah menjadi lautan energi!" Thomas berseru kagum dengan ekspresi wajah yang begitu terkesima.


Dimas juga merupakan pendekat tahap ketiga, namun Thomas tahu, dibandingkan kedua pendekar ini, Dimas masih jauh sekali.


Energi murni menjadi cairan, wadah energi yang menjadi lautan energi, diantara delapan clan tertinggi, orang yang mampu mencapai tahap ini sangatlah banyak.


Namun mencapai tahap sempurna memang teramat dan sangat jarang.


Berdasarkan cerita Dimas, langkah ketiga energi murni menjadi cairan dan wadah sihir menjadi lautan sihir, sebenarnya masih masuk golongan tahap kedua dalam dunia persilatan. Energi murni menjadi cairan adalah satu tahap, wadah energi menjadi lautan energi satu tahap.


Energi murni menjadi cairan tidak sulit, namun ini sudah merupakan batas manusia.


Ingin membuat wadah energi menjadi lautan energi artinya di seluruh meridian yang ada di tubuh mengalir energi murni yang sudah menjadi cair.


Singkat kata, tingkat pertama mampu melayang di udara setinggi 20 meter lebih, lalu tahap berikutnya mampu melesat diatas 100 meter, dan jarak diantara kedua tahap ini sungguh sangat jauh.


Inilah alasan kenapa Thomas yakin kedua orang ini adalah pendekar yang sudah mencapai tahap ketiga.


Ini adalah tahap puncak dunia persilatan!


Ketika Thomas sedang menghubungkan semua ini, terdengan suara erangan yang menggetarkan pegununngan ini.


"Tua bangka Hongari brengsek! Kembalikan Pil penyeberang meridian milikku!"


"Cih! Aku tidak mengambilnya! Dasar tua bangka Simatan, jangan sembarangan memfitnah orang ya! Brengsek! Ramalan mengatakan tidak akan menguntungkan, aku tidak ingin bertarung denganmu lagi, bye!"


Salah seorang diantaranya mengumpat lalu melayang mundur dan menghilang di tengan hutan.


Orang yang berteriak penuh amarah itu berniat untuk mengejar, namun mendarat di atas tebing dimana lawannya berada sebelumnya, kedua kakinya berlutut seolah mengalami luka serius.


"Thomas... ini lagi syuting film? Atau, aku sedang bermimpi..." gumam Winda dengan bingung.


Semua yang terjadi sungguh membuka wawasan lain dalam 20 tahun hidupnya.


Ternyata ada orang yang bisa terbang!


"Ini nyata... sekarang jangan bicara, jangan sembarangan bergerak, kalau sampai ketahuan, kita akan mati..."


Yang paling tegang tentu saja Thomas.


Meskipun dia tidak memahami dunia persilatan, namun dia tahu kotak yang ada ditangannya ini mungkin berisi Pil penyebrang meridian yang mereka katakan.


Bahaya karena memiliki benda berharga tentu saja dipahami oleh Thomas.


Dan dari ucapan mereka berdua, dia juga mengetahui status kedua orang ini, yang satu adalah pendekar dari Keluarga Hongari, dan yang satu lagi adalah pendekar dari Keluarga Simatan.


Kedua keluarga ini pernah disebut oleh Dimas dan Santo, dan kedua keluarga ini bukanlah orang baik.


Kalau sampai ketahuan, mungkin mereka akan dibungkam.


Ini membuat Thomas ketakutan setengah mati, susah payah melepaskan diri dari hidup miskin, baru akan menikmati kejayaan dalam hidupnya, dia tdiak boleh mati begitu saja.


"Orang pergi adalah pendekar dari Keluarga Hongari, dan orang yang beada di atas tebing itu adalah orang dari Keluarga Simatan... dan jurus rahasi keluarga mereka adalah Bin...gua gak mau diserap sampai jadi kering!"


Dalam hati Thomas tidak hentinya bergumam, "pergilah, pergilah" namun kenyataan berbanding terbalik dengan doanya.


Sosok itu memegang dadanya dan berdiri, lalu berbalik melihat ke tempat Thomas dan Winda berada.


"Gawat!"


Meskipun posisi mereka yang jaraknya ratusan meter memiliki kemungkinan ketahuan yang sangat kecil, namun Thomas tetap merasa seperti akan ada musibah yang datang.


Dan detik berikutnya, apa yang Thomas pikirkan menjadi kenyataan.


Sosok itu terjun dari atas tebing seperti seekor burung malam yang merentangkan sayapnya.


Thomas segera menarik Winda dan kembali masuk ke dalam lubang tebing.


"Para dewa dilangit, Tuhan Yesus Bunda Maria, Allah di surga, berkatilah kami agar tidak mati malam ini, besok aku traktir kalian makan enak ya!"


Thomas hampir mengompol karena takut.


Jurus yang dilatih oleh orang Keluarga Simatan adalah ilmu kegelapan, mereka sama sekali tidak memperdulikan nyawa manusia.


Sebelumnya Dimas dan Santo sudah pernah memperingatkannya, dia sama sekali tidak memikirkannya, karena persentasi bertemu dengan pendekar hebat yang sebenarnya sangat kecil.


Namun malam ini dia ketemu langsung, membuatnya tahu apa itu rasa takut!


"Srakk... srakk..."


Terdengar suara langkah kaki yang menginjak daun kering, jantung Thomas nyaris berhenti berdetak, dia membungkam mulut Winda dengan kuat sampai rasanya bernafas saja tidak berani.


"Uhuk, uhuk... ketika bertarung dengan si tua bangka Hongari tadi aku memang melihat seperti ada sesuatu yang melayang ke tempat ini... namun tempat ini gelap gulita, aku juga sudah terluka, kalau sampai si tua bangka Hongari menyadarinya dan kembali, atau Keluarga Hermawan mengejar sampai kesini, aku akan sulit kabur..."


Sosok itu bergumam sambil berjalan di tengah lereng.


Dan dia semakin lama semakin dekat ke lubang tebing dimana Thomas dan Winda berada.