Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Turun Tangan Tabib Dewa


Ekspresi Thomas sama kacaunya dengan perasaannya.


Dai merasa Haris ini sedang menguji kesabarannya.


Haris melirik kedua kakak beradik itu dengan kesal, lalu berkata, “Nona Silvia, kita ke kamar saja, kedua anakmu ini terlalu banyak mulut.”


......


Ekspresi Silvia terlihat sedikit canggung, namun dia tetap mengangguk dan berkata, “Baiklah, ikutlah denganku.”


Thomas nyaris mengamuk di tempat, namun dia menahannya sekuat tenaga.


Kalau setengah jam kemudian pengobatan Haris tidak memperlihatkan khasiat apapun, dia akan menyeret pak tua ini ke kantor polisi dengan tangannya sendiri.


Silvia membawa Haris masuk ke dalam kamarnya.


Bamm! Pintu kamar tertutup. Kedua kakak beradik ini langsung maju dan menempelkan telinga mereka ke pintu, menajamkan telinga berusaha mendengar apa yang terjadi di dalam sana.


Kembali terdengar suara seruan yang aneh seperti di luar tadi, dan setelahnya tidak ada suara apapun lagi.


Hati Thomas begitu kacau, namun dia juga tidak berdaya.


Saat ini dia hanya berharap ibunya dan Luna menyerah terhadap pengobatan tabib dewa ini.


......


Penantian panjang selama setengah jam akhirnya berakhir.


Beberapa kali Thomas ingin membuka suara, namun karena Haris sudah berpesan, dia hanya bisa menahan diri, kalau sampai terjadi suatu kesalahan, makan tidak akan ada obat untuk penyesalan.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Haris keluar dengan keringat bercucuran.


“Pak tua, dimana ibuku? Bagaimana kondisinya?”tanya Luna segera.


Tidak melihat ibunya, Thomas langsung panik.


Haris segera meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, “Sssttt! Jangan berisik, ibu kalian sedang tertidur di dalam, biarkan dia istirahat dulu.”


“Tidak bisa, aku harus melihatnya terlebih dahulu!”


Setelah mengatakannya, Thomas langsung mendorong Haris ke pinggir, lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


Pada saat ini, Silvia sedang tertidur dengan begitu lelap di atas ranjang.


Nafasnya begitu teratur, dan yang terpenting adalah, wajahnya yang biasa kuning langsat dan sedikit pucat sekarang sudah merona.


Ini merupakan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan oleh Thomas, ternyata tabib kakeknya yang tidak jelas asalnya ini ternyata memang punya kemampuan!


kedua kakak beradik ini merasa begitu terkejut dan terkesan, lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


Dan pada saat ini Haris sudah duduk di sofa dan meminum tehnya dengan santai.


“Tabib dewa! Ternyata kamu memang tabib dewa!” Thomas mencengkram tangan Haris dengan penuh emosional.


......


 “… lepaskan.”


“Tabib dewa, penyakit ibuku sudah sembuh sampai mana?” tanya Thomas dengan menggebu-gebu.


“Bisa lepaskan tanganmu dulu baru bicara?”


......


Haris menarik kembali tangannya dengan susah payah, sikapnya begitu tenang, namun diam-diam merasa begitu bangga, siapa dia? Dia adalah tabib dewa yang begitu tersohor, hanya penyakit jantung saja, itu hanya pencuci mulut baginya.


“Begini, ibu kalian pernah mengalami pukulan yang sangat hebat, ditambah dengan tubuh yang kelelahan bertahun-tahun lamanya, membuat jantungnya bermasalah.”


“Namun tuan muda tenang saja, ada aku di sini, selama aku masih bernafas, maka tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan!”


“Oh iya Tabib Dewa Haris, kalau begitu butuh waktu berapa lama agar penyakit ibuku bisa disembuhkan?” tanya Thomas lagi.


Penyakit jantung Silvia sudah membuat Thomas cemas bertahun-tahun lamanya, setiap bulannya pergi mengambil obat ke rumah sakit, dan obat ini hanya bisa mengendalikan penyakitnya saja.


Namun semua orang tahu, penyakit jantung adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja, tidak dan sama sekali tidak ada kesempatan untuk bernegosiasi.


Dan selama beberapa tahun ini Thomas melaluinya dengan perasaan penuh cemas dan waswas.


“Mengenai ini, ini… harus lihat bagaimana kamu memilih.”


Haris disanjung oleh Thomas sampai terasa melambai, membuatnya lupa dengan perasaan tidak menyenangkan sebelumnya.


Penyakit ibunya, selain Thomas masih ada dia yang paling mengkhawatirkannya, dan beberapa tahun ini dia hanya bisa mengkhawatirkannya diam-diam, karena dia tahu dia tidak bisa membantu.


Namun sekarang berbeda, dia bagaikan melihat secercah harapan.


Haris melirik Luna lalu mendengus, lalu berpaling ke arah Thomas.


“Iya benar, Tabib dewa, bagaimana kalau Anda jelaskan dulu?” Thomas bisa melihat kalau Haris jelas masih kesal pada Luna.


Melihat Thomas yang begitu bekerja sama, Haris mengangguk dengan puas, lalu berkata, “Aku punya dua rencana pengobatan.”


 “Pertama, aku bisa melancarkan semua aliran darah yang tersumbat dalam waktu 10 hari, namun kalau melakukannya, itu akan cukup berat untuk tubuhnya, dan efek sampingnya akan sulit dihindari, misalnya ketika naik turun tangga akan terengah-engah.”


“Kedua, aku akan menggunakan pengobatan yang lebih ringan, namun butuh waktu tiga bulan, aku akan mengobatinya dan memberikan terapi secara perlahan, setelah pulih dia akan terlihat seperti orang normal pada umumnya.”


Tanpa pikir panjang Thomas langsung berkata, “Tabib dewa, kami lebih memilih teknik pengobatan yang kedua!”


“Benar, aku juga berpikir demikian.”Haris tersenyum, ada sorot mata picik yang muncul sekelebat, nada bicaranya juga berubah menjadi angkuh, “Hanya saja waktuku sangat berharga, aku tidak suka berada di satu tempat terlalu lama.”


Thomas sempat tercengang, namun langsung paham, “Oh, kalau begitu maksud tabib dewa adalah… butuh biaya pengobatan berapa banyak?”


Orang ini mata duitan, pagi ini dia sudah melihatnya, dan mendengar Haris yang bicara demikian, mungkin karena masalah uang.


Dan reaksi Haris justru berbeda dengan apa yang Thomas bayangkan.


Haris memelototi Thomas dan berkata dengan kesal, “Apakah aku terlihat seperti orang yang matre? Kamu saja memanggilku tabib dewa, tentu saja aku tidak memandang penting semua materi…”


“Benar, benar, benar, apa yang Anda katakan benar sekali, jadi?” Thomas kali ini sungguh bingung, pak tua ini sungguh sulit dibujuk.


Haris terdiam sejenak, lalu mengangkat alisnya dan berkata, “Ehem, begini saja, nanti kamu beritahu kakekmu, katakan padanya bahwa hutangku padanya anggap saja impas. Tapi kamu jangan mengatakannya secara langsung kalau ini permintaanku.”


“Baiklah, tidak masalah!” Thomas langsung setuju.


Saat ini Thomas sama sekali tidak peduli ada hutang apa di antara Chandi dan Haris, asalkan Haris bisa menyembuhkan penyakit ibunya, semuanya bisa diatur.


“Haha, uhm, yasudah begitu saja!” Haris menepuk pahanya lalu bangkit berdiri.


“Oh iya, ibumu masih ingin tidur, jadi biarkan dia tidur, jangan bangunkan dia, semakin lama dia tidur, maka pemulihannya akan semakin cepat.”


“Tabib dewa, apakah Anda akan pergi begitu saja?” tanya Thomas.


“Penyakitnya sudah diobati, untuk apa aku tetap disini?”


“Tabib dewa, bagaimana kalau Anda makan malam dulu baru pulang?” tanya Luna dengan lembut.


Semua salah paham sudah diurai, Luna kembali menjadi seorang gadis yang ramah dan manis.


“Tempat ini sempit membuatku merasa pengap, tidak nafsu makan! Aku pergi dulu!”


Setelah mengatakannya, Haris langsung keluar dari rumah Thomas tanpa menoleh lagi.


Begitu membicarakan tentang makan, kepalanya langsung sakit.


......


Silvia yang sudah diobati oleh Haris tertidur begitu lelap, mulai dari siang tidur sampai keesokan paginya.


Thomas dan Luna sama sekali tidak berani beranjak karena mengkhawatirkan penyakit Silvia,awalnya Luna ingin kembali ke sekolah, namun dia memilih tetap di rumah sampai Silvia bangun.


Samar-samar Thomas mendengar ada suara dari dapur, dia membuka pintu kamar dan melihat Silvia yang sedang menyiapkan sarapan di dapur dengan wajah merona.


“Ma!” seru Thomas dengan senang.


“Nak!” ucap Silvia dengan senang, “Entah kenapa pagi ini aku merasa begitu segar, seolah ada tenaga yang tidak habis digunakan dalam tubuhku, Dokter Haris itu sungguh hebat, kita harus mencari kesempatan untuk berterima kasih padanya!”


Pada saat ini Luna juga keluar dari kamar, dia melihat ibunya seperti menjadi orang lain, ekspresi sayu yang dulu sudah tidak ada, membuat Luna berjingkrak senang.


Mereka berbagi kebahagiaan dan sarapan bersama.


Baru makan setengah, terdengar suara bel pintu berbunyi.


“Mungkin tabib Haris, aku bukakan pintu!” begitu Luna mendengar suara bel, dia langsung berdiri.


Namun ketika dia membuka pintu, alisnya langsung mengkerut karena tidak senang.


“Kenapa kalian? Pagi-pagi sudah di depan rumah orang, mau datang untuk mengembalikan uang?”


Orang yang datang tidak lain dan tidak bukan adalah pasangan suami istri Martin dan Milan.