
Hans yang melihat situasi ini langsung mengacungkan jempolnya, "Thomas, keren lu! Baru berapa lama sudah nambah kecengan baru lagi?"
"Apanya yang lagi? Sembarangan ngomong!"
Thomas melirik Hans dengan kesal, dalam hati pun mulai bergumul.
Freya memang lumayan, namun Winda jauh lebih mempesona...
......
Setengah jam kemudian, mereka semua tiba di bandara, dibawah arahan Dimas, mereka semua berhasil check in dengan lancar.
Tempat duduk di pesawat ada sangat banyak, Thomas memilih posisi yang dekat jendela, tidak lama berselang, Luna juga mendekat dan duduk disampingnya.
"Kak, katakan dengan jujur padaku, ada apa dengan yang namanya Winda itu?" tanya Luna dengan nada mengintrogasi.
"Ini... sebenarnya cuman teman biasa aja."
"Yang benar?"
"Sudah pasti benar."
"Kenapa kelihatannya gak kayak begitu!" Luna berkata dengan sorot mata penuh curiga.
"Apanya yang mirip sama enggak mirip, urusan orang gede anak kecil gak ngerti, ehem, ada lagi, lain kali jangan sembarangan menjodohkanku dengan Freya, ngerti gak." Thomas sebenarnya merasa bersalah, namun dia tetap bersikap tegas.
"Kak, kakak gak boleh gitu lah! Kak Freya hampir membunuh Ivan demi menolongmu, dia begitu baik padamu, bagaimana kakak bisa..." Luna merasa agak kesal.
"Dek, urusan perasaan gak bisa dipaksakan, memangnya kalau dia sudah menolongku, aku harus memberikan diriku sebagai balasan?"
Luna dibuat tidak bisa menjawab, lalu menghentakkan kakinya dan berkata dengan kesal, "Huh! Gak mau ngomong lagi sama kakak!"
Thomas hanya bisa melihat Luna pergi dengan kebingungan.
Tidak lama berselang, Winda mendekati Thomas dan duduk disampingnya.
"Adikmu cukup keras juga."
"Sebenarnya tidak ada apapun diantara aku dan Freya."
Thomas diam-diam melirik Winda, ingin melihat apakah ada perubahan di ekspresi wajahnya.
Sebenarnya dalam hati Thomas merasa sangat galau, dia memang cukup terkesan pada Freya, namun dia sama sekali tidak yakin perasaan macam apa ini.
Sebaliknya, ketika menghadapi Winda, dia merasa jantungnya berdebar kencang.
Kalau dipikirkan lagi, tidak perduli kondisi macam apapun ini, semuanya masih belum pasti, Thomas merasa dia sudah jauh lebih yakin.
Setelah semuanya turun dari pesawat, langsung memesan sebuah mobil untuk menuju ke tempat wisata.
Dan ketika sampai disana sudah petang.
Namun disekitar sini ada banyak hotel dan penginapan, 10 orang sudah diatur terlebih dahulu, besok bersiap untuk berangkat.
Luna sepertinya masih kesal, dia mengabaikan Thomas sepenuhnya, bahkan pada saat makan pun dia sengaja duduk menjauh.
Setelah selesai makan, pada akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar sesuai dengan saran Milka.
Thomas tahu kalau ikut dia pasti tidak disambut, sehingga dia beralasan kelelahan untuk tetap tinggal di kamar.
Dan ada satu alasan lainnya.
Hanya dalam waktu satu hari, energi murninya kembali meningkat cukup banyak.
Dia berusaha menerjang meridian agar bisa menampung energi murni lebih banyak, kalau tidak, saat energi murni sudah memenuhi meridian, semuanya akan terlambat.
Sehingga membiarkan energi murni yang bergerak secara otomatis adalah hal yang baik, terutama bagi Thomas.
Mungkin setelah sekitar dua jam, Thomas berhasil menerobos lima meridian kecil, baru berniat menggunakan energi murninya untuk menerobos sebuah meridian inti, tiba-tiba perhatiannya terpusat pada wadah energi.
Berlatih jurus pelindung meridian dan jiwa, membuat seluruh meridian di tubuh Thomas tidak bisa berkembang lagi, dan juga kehilangan banyak fungsi.
Bagaikan sebuah pipa saluran air yang kering.
Terhadap semua hal ini, Thomas tahu dengan sangat jelas.
Dan baru saja dia tiba-tiba teringat suatu hal, kalau ingin mengharapkan meridian sudah tidak mungkin, namun dia masih belum pernah mencoba wadah energi.
Sehingga dia mulai mencoba mengendalikan wadah energi.
Wadah energi orang yang berlatih ilmu tenaga dalam berfungsi untuk menyimpan energi murni, namun wadah energi Thomas yang tidak berkembang baik sama sekali tidak bermanfaat terlalu besar.
Penyebab utamanya karena terlalu kecil.
Ukurannya hanya sebesar kacang kedelai, bahkan sedikit lebih kecil.
Sementara para keturunan clan tertinggi memiliki wadah energi sebesar telur ayam.
Thomas mengamati wadah energi dari dalam dan mencoba untuk menyimpan tenaga dalam, namun hanya sebentar saja sudah penuh.
Dia tidak menyerah, dia mendapat sebuah akal, kalau membiarkan dua aliran energi murni bebenturan di dalam wadah energi, apa yang akan terjadi?
Karena berlatih jurus pelindung meridian dan jiwa, Thomas sama sekali tidak khawatir uji cobanya ini akan berefek buruk.
Begitu memikirkannya dia langsung bergerak, sehingga Thomas langsung membagi energi murninya menjadi dua, satu berada di Ren Meridian, satu lagi di Du Meridian, kedua aliran energi murni ini menerjang ke wadah energi secara bersamaan.
"Aww!"
Rasa sakit yang begitu tiba-tiba membuat Thomas mengerang kesakitan.
Namun rasa sakit ini datang dan pergi dengan cepat, hanya dalam sekejap mata, ketika Thomas berhenti mengamati, rasa sakit itu langsung menghilang tanpa jejak.
Setelah menstabilkan mentalnya, Thomas sekali lagi mengamati dan mendapati tidak ada apapun yang terjadi, kondisi wadah energi dan meridian baik-baik saja, dan energi murni sama seklai tidak menunjukkan gejala ledakan energi.
"Eh! Ada yang tidak beres!"
Tiba-tiba Thomas menyadari, di dalam tubuhnya muncul energi murni yang tidak mudah disadari, terasa begitu murni.
"Tunggu dulu... jangan-jangan...?"
Perasaan Thomas tiba-tiba dipenuhi oleh rasa senang yang begitu besar karena menyadari hal ini.
Yaitu ketika dua energi murni berbenturan dalam wadah energi, itu akan menstimulasi wadah energi, sehingga menimbulkan gerakan menyusut yang mirip seperti mengepalkan tangan, dan energi murni yang berada dalam wadah energi akan mengalami penekanan.
"Begini juga bisa?"
Penemuan ini sungguh membuat Thomas sangat senang.
Kalau cara ini berfungsi, maka dia akan bisa mencapai tahap ketiga!
Thomas sama sekali tidak berpikir terlalu banyak, yang dia pikirkan adalah, orang lain bisa mencapai tahap ketiga, kalau dia juga bisa, itu sudah cukup.
Namun, kalau cara ini sampai terlihat oleh orang yang berlatih ilmu tenaga dalam, maka dia pasti akan dianggap sebagai orang gila.
Kalau sampai wadah energi meledak karena dipaksakan, maka orang tersebut akan cacat total.
Sementara wadah energi yang dimiliki oleh Thomas sama sekali tidak digunakan untuk menampung energi murni, melainkan hanya untuk transisi energi saja, dan karena berlatih jurus pelindung meridian dan jiwa, kekuatan wadah energi juga ikut naik bertahap, sama sekali tidak memiliki kemungkinan untuk meledak lagi.
Energi murni yang berlebih semuanya digunakan oleh jurus pelindung meridian dan jiwa untuk menutrisi meridian.
Thomas menggerakkan dia buah energi murni, berbenturan di dalam wadah energi berkali-kali, energi murni dalam tubuh juga perlahan menjadi murni.
Energi murni yang berubah menjadi cairan harus ditekan berkali-kali untuk meningkatkan kemurnian energi, sampai wadah energi berubah menjadi sebuah lautan energi.
Sehingga lautan energi bukanlah tidak ada dalam wadah energi, melainkan energi murni yang ada dalam wadah energi sudah mengental menjadi cairan.
Bisa dibayangkan, pesilat yang sudah melancarkan seluruh aliran meridian di langkah kedua tahap penyebrangan dasar, jika bertarung dengan pesilat yang memiliki energi murni cair di tahap ketiga, ini sama sekali tidak berada di level yang sama.
Ketika Thomas sudah menekan energi murni dalam tubuhnya menjadi begitu murni, hari sudah pagi.
"Tokk, tokk, tokk..."
Setelah Thomas membersihkan diri, dia mendengar suara ketukan pintu, begitu membuka pintu dia melihat Winda yang sedang berdiri di depan pintu.
"Sudah siap? Kita sudah akan berangkat." Winda berkata sambil tersenyum dan rambut terangkat.
Setelah sempat terkesima sesaat, Thomas segera berkata, "Oh, ah, iya sudah!"
Dia berbalik kembali ke kamarnya untuk mengambil ransel lalu berjalan keluar dari hotel bersama Winda.
Pada saat ini, semua orang sudah berkumpul di depan lobby hotel, Thomas dan Winda yang datang paling telat.
Dimas menyapa Thomas sambil tersenyum, lalu berkata sambil membuka selembar peta, "Teman-teman, hari ini kita akan berangkat dari sini... lalu kesini... terakhir kembali ke sini, bagaimana menurut kalian?"
"Oh, gue no komen, lumayan juga." ucap Thomas.
Sebenarnya dia kemanapun tidak masalah, yang penting semua bermain dengan senang.
Namun Luna tidak senang, dia melirik Thomas lalu berkata dengan ketus, "Dimas, aku tidak suka rute ini!"
Dimas tersenyum lalu berkata, "Kalau begitu rencana kedua, kita bisa mulai dari sini... lalu... Nona Luna, bagaimana menurutmu?"
Siapa sangka Luna sama sekali tidak melirik peta, melainkan berkata dengan kepala dimiringkan, "Gue pergi kemana pun gak masalah, asalkan gak melihat orang gak berperasaan itiu!"
Thomas tersenyum pahit, bagaimana mungkin dia tidak paham apa yang sedang terjadi, Luna masih marah karena Winda, namun kejadian ini tidak akan selesai meskipun dia mengaku salah, ini jauh lebih rumit.
"Dimas, lebih baik kita bagi dua rute saja, setelah berkeliling, kita kembali berkumpul disini."
"Rencana ini ok juga." Dimas setuju dengan saran ini.
Luna yang melihat ini langsung panik, dia hanya ingin mempersulit Thomas, siapa yang menyangka akan dibagi menjadi dua group.
Sehingga dia berkata dengan kesal, "Huh! Siapa yang ikut dengannya, itu sama dengan menentang gue!"
Milka yang menanti-nanti perseteruan langsung mendukung dengan senyum jahat, "Iya, benar, itu artinya juga menentang gue!"
"Haih, bro, mending kita ikut Luna saja... malam ini kita minum bir." ucap Hans dengan senyum merekah.
Dia tidak ingin menyinggung Luna dan Milka, ditambah lagi ini bukan waktunya bersitegang, segala sesuatu harus memikirkan yang lainnya.
"Freya, kamu ikut denganku gak?" tanya Thomas.
Begitu Freya mendengarnya, dia langsung bergerak, namun Luna segera menahannya.
"Oh, ya sudah, Dimas kamu tetap disini, Winda, ayo kita pergi!"
Thomas melambaikan tangan lalu pergi tanpa menoleh.