
Ketika kelas 2 SMA, satu hari sebelum kejadian nahas di keluarga Freya terjadi, ada yang menyelipkan sepucuk surat cinta ke dalam tas Thomas.
Dan surat itu ditulis oleh Freya.
Malamnya Thomas menemukan surat ini memamerkan surat itu di depan Luna.
Namun keesokan harinya malah terjadi hal seperti itu, satu bulan kemudian, Thomas dengan lugunya membawa surat cinta itu kehadapan Freya dan menanyakan apa langkahnya selanjutnya.
Siapa yang menyangka Freya hanya menjawabnya dengan diam.
Tentu saja pada akhirnya kejadian ini berlalu tanpa ada kepastian.
Kemudian, saat Freya kuliah tahun pertama, pamannya sudah meninggal satu tahun, dan dia juga sudah tinggal di asrama kampus selama setahun, sifatnya menjadi semakin aneh.
Dan disaat bersamaan Tanto tewas dalam kecelakaan, membuat Thomas terpaksa berhenti kuliah.
Dan sejak saat itu, hubungan kedua kakak beradik ini dan Freya menjadi renggang.
Namun Thomas masih sering menanyakan kabar Freya pada Luna, juga menanyakan kondisinya.
Dia tahu kemampuan ekonominya terbatas, dia juga tidak bisa membantu apapun, sehingga dia hanya bisa memberikan perhatian pada teman bermainnya sejak kecil dengan cara seperti ini.
Pada saat ini Luna menghela dan berkata, “Kak, seandainya dulu papa menjodohkanmu dengan Kak Freya pasti jauh lebih baik ya!”
Dibandingkan dengan Wanda, Luna lebih suka Freya.
Thomas tersenyum, dia ingat ketika masih kelas 3, Luna mengadu padanya, mengatakan kalau dia tidak suka pada Wanda, dia suka Freya.
Dan karena ini dia bahkan meminta Tanto untuk menukar kakak iparnya. Alasannya karena Wanda merebut permen lolipop yang diberikan Freya untuknya.
Sebenarnya ketika kecil Freya tidak jelek, Silvia juga sering memuji Freya, mengatakan kalau nanti sudah dewasa pasti akan menjadi seorang wanita cantik.
Sebenarnya wajah Freya tidak jelek, kalau dia merawat diri, tidak terlalu kurus, dan tidak ada flek hitam di wajahnya…
Dia adalah wanita cantik yang setara dengan Jenika!
Ditambah lagi rambutnya yang pirang dan kering, jelas terlihat kehidupan Freya tidak sebaik yang dibayangkan.
Setelah berpikir sejenak, Thomas memutuskan untuk membantu Freya selagi dia bisa membantu.
......
Di Lokasi acara, di tengah lapangan sudah dibangun panggung yang besar sejak dua hari yang lalu.
Semua sudah dipersiapkan, hanya tinggal menunggu siang tiba, dan pada saat itu acara perayaan HUT akan bisa dimulai.
Thomas menghela, kalau saja keluarganya tidak mengalami masalah, Tanto masih hidup, mungkin dia masih seorang mahasiswa sekarang.
Mungkin acara perayaan HUT kampus ini juga menjadi panggung baginya.
Setelah memikirkan ini, dia melihat Dimas yang datang dengan wajah tersenyum.
“Tuan muda, mahasiswa di kampus ini sungguh antusias, aku hampir saja tidak bisa sampai di sini.”
Thomas juga tersenyum, dia tahu apa yang terjadi, dan dia sudah menduganya sejak awal, mobil King Kalmannya masuk ke parkiran Universitas Trijaya, sudah pasti akan mengundang kehebohan.
“Sana Dek, lakukan tugasmu, kami jalan-jala dulu di sini.” Ujar Dimas.
“Oh, baiklah, aku pergi dulu kak.”
Luna membawa kantung berisi gaun Black Swannya dan berjalan ke belakang panggung.
“Tuan muda, Ketua Dekan kalian mengundangmu ke ruangannya untuk minum teh, dan dia juga berniat mengundangmu makan bersama nantinya.”
Thomas terkejut, dia berbalik dan mengamati Dimas dari atas sampai bawah.
Merasakan tatapan mata Thomas yang aneh, Dimas tersenyum lebar, “Kenapa? Ada bunga di wajahku?”
“Dimas, sekarang jati diri lu sudah ketahuan, malah masih di samping gue… sepertinya ini kurang baik deh.” Thomas bergumam, lalu berkata sambil mengangguk.
“Begini saja, elu wakilin gue ketemu Ketua Dekan, gue tetap di sini temenin Luna.”
Dia tidak ingin terlalu mencolok.
Dua hari yang lalu Dimas sudah memperlihatkan kehebatannya, dia memukul 16 orang anggota tim taekwondo sekaligus, dia adalah tokoh utamanya.
Semakin jauh dari bocah ini semakin bagus, kalau tidak dia bisa ketahuan.
Dimas tercengang sejenak, lalu berkata dengan acuh, “Baiklah, lagipula ada makan siang gratis, kalau kamu tidak mau pergi, aku yang pergi.”
Setelah mengatakannya, dia tertawa dan berbalik pergi.
Di Depan panggung ada ribuan kursi, Thomas asal mencari sebuah tempat duduk dan duduk di sana, namun pada saat ini, dia melihat Freya membawa dua kantung besar berisi nasi kotak dan berjalan dengan terburu-buru ke belakang panggung.
“Ternyata dia pergi mengambil nasi kotak tadi.” Gumam Thomas.
Tidak lama, Freya keluar dengan satu tangan membawa sekotak lauk dan sekotak nasi.
Melihat ini, Thomas melambaikan tangannya ke arah Freya dan tersenyum.
“Freya! Sini!”
Freya yang melihat Thomas langsung tersenyum hangat dan menghampirinya.
“Kamu, sudah makan?” setelah mengatakannya, dia menyadari kalau tangannya hanya membawa satu paket makanan, lalu kembali tersenyum dengan canggung.
“Aku tidak lapar, kamu duduklah dan makan dulu.”
“Hm.”
Keduanya duduk.
Thomas memikirkan topik pembicaraan, bagaimanapun mereka berdua sudah lama tidak bertemu, tidak heran kalau merasa agak asing.
Freya membuka kantong plastik dan membuka kedua kotak, dia memegang kotak nasi dan mulai makan dengan lauk di kotak lainnya.
Begitu melihat lauk ini, alis Thomas langsung mengkerut.
Lauk yang dia makan hanya tumis sawi putih. Kenapa makannya begitu sederhana!
Thomas mengangkat wajahnya dan alisnya sekali lagi mengkerut.
Dia melihat Freya makan dengan begitu lahap, seolah makanan yang dia makan itu daging yang rasanya begitu nikmat.
Rambut Freya menyentuh bagian pinggir kotak makan, namun dia sama sekali tidak menyadarinya, dia hanya fokus dengan makanannya.
“Lihat cara makanmu, makan pelan dikit.”
Thomas berkata sambil menggeser rambut panjangnya yang berada di pinggir kotak makan.
“Terima kasih.” Gerakan Freya langsung terhenti, dan wajahnya menunduk semakin rendah.
Lalu mulai makan lagi dengan cepat.
“Kamu masih belum sarapan?” tanya Thomas.
Cara makannya bukan hanya seperti belum sarapan, dikatakan seperti hantu kelaparan pun rasanya tidak berlebihan.
Tentu saja Thomas tidak mengatakannya, dia bisa melihat Freya sangat kelaparan.
“He en, hari ini perayaan HUT kampus, jadi kantin tidak menyediakan makanan.”
Freya memasukkan sayur ke dalam mulutnya dan berkata dengan mulut penuh.
“Tidak disediakan makanan, kenapa tidak beli makanan di luar?” Thomas merasa kesal dan juga lucu.
“Uhm, tidak ada uang.”
Tidak ada uang, dia pernah merasakannya, dan perasaan itu sungguh tidak mengenakkan.
“Lalu? Makanan ini datang dari mana?”
Dalam hati Thomas berpikir, ini dosen di kampus tahu dia tidak ada uang untuk makan sehingga memberikan sedikit uang makan untuknya.
… tapi, Freya adalah mahasiswa tahun ketiga, seharusnya dia bisa bekerja sampingan, seharusnya tidak mengenaskan gini.
“Bukankah hari ini perayaan HUT, jadi aku membantu-bantu, jadi mereka memberikan sedikit uang makan.”
Sambil menjawab, kepala Freya nyaris masuk ke dalam kotak makan.
“Oh, begitu… tapi makanan mereka juga seburuk makananmu?”
Setelah mengatakannya, Thomas baru sadar pertanyaannya salah.