Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 85 Dia Hanya Merasa Benci


“Luna, apa yang kamu bilang? Ada apa ini?”


Entah kenapa Silvia merasa hatinya begitu sakit, dia sama sekali tidak tahu seberapa berat hidup Freya selama ini.


“Ma, begini…”


Lalu Luna menceritakan semua yang dialami oleh Freya dengan lengkap plus extra bumbu.


Ketika itu Thomas hanya menceritakan dengan singkat saja.


Namun ketika Luna bercerita sama sekali tidak ada yang menyela.


Karena kenyataannya jauh lebih parah dan lebay dari yang dia ceritakan.


Silvia terus mendengarkan dengan tenang, sampai Luna selesai bicara, dia baru tahu.


Ternyata selama ini Freya hidup begitu pahit dan keras.


“Freya, tante mau tanya, apakah yang dikatakan oleh Luna benar?” tanya Silvia dengan nada tegas.


Freya tidak menjawab, namun juga tidak menyangkal.


Tapi selama tidak buta, sikap Freya ini sama dengan mengakui semuanya dalam diam.


Silvia berpikir sejenak lalu berkata, “Kalau gak begini saja, Freya, kamar di villa ini ada begitu banyak, pindahlah ke sini dan tinggal bersama dengan kami!”


“Tidak! Tidak perlu! Tinggal di asrama kampus lumayan juga kok! Thomas sudah menjadi Direksi Kehormatan, tidak ada yang berani menggangguku!”


Ucap Freya sambil menggeleng.


Dia tahu kondisinya seperti apa, sehingga dia tidak mau membuat Keluarga Widjaja dalam kesulitan.


Lagipula, dia hanya orang asing!


 “Gak bisa! Tante gak bisa melihat kamu begini!” perasaan keibuan Silvia langsung bergelora, dia berkata dengan lembut, “Freya, tante tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kalau kamu terus berada di asrama kampus, kamu juga tidak akan bisa makan kenyang iya kan? Kondisi keluarga kamu juga harusnya kamu paham, meskipun tambah satu orang pun gak masalah, iya kan? Dan kalau ada kamu, ada yang menemani tante ngobrol supaya gak bosan, si Luna setiap hari hanya asik berantem sama kakaknya, tante sama sekali gak ada teman ngobrol.”


Apa yang Silvia katakan adalah isi hatinya, meminta Freya pindah masuk ke villa mereka bukan karena gegabah sesaat.


Kalau dia bukan orang yang seperti ini, mungkin dulu dia tidak akan mengadopsi Thomas tanpa pikir panjang.


Tanto juga bukan orang yang seperti itu.


Kalau tidak, dia tidak mungkin vasektomi setelah Silvia melahirkan Luna secara diam-diam.


Selama ini Keluarga Widjaja tidak termasuk keluarga yang kaya raya, apalagi setelah Tanto meninggal, lebih jangan ditanya lagi bagaimana keadaan keluarga mereka.


Ucapan ini membuat Freya tidak tahu harus menolaknya dengan cara apa, kalau mengatakan tidak, maka Silvia pasti akan merasa kecewa.


Dia tahu kalau orang Keluarga Widjaja sangat baik, saking baiknya sampai berusaha keras menghindari mereka saat dirinya dalam masalah.


Freya menoleh ke arah Thomas dengan panik.


Namun Thomas malah tersenyum dengan acuh, “Terserah mama, karena dia memintamu untuk tinggal, tinggallah, kamu memang makan banyak, tapi aku masih sanggup ngasih makan kok.”


“Kak Freya, tinggallah di sini, kita bisa berangkat dan pulang kuliah bareng, tidur dan bangun bareng juga!” ucap Luna dengan manja.


Ini sungguh pas dengan kemauan Luna.


Selain Thomas, yang paling dia suka adalah Freya, dan dia ingin menjodohkan Thomas dengan Freya, kalau sampai mereka menjadi keluarga yang sebenarnya pasti sangat bagus iya kan?


Sejak kecil dia selalu bergantung pada satu prinsip, yaitu merasakan kasih sayang Thomas sendirian.


Tentu saja, yang dia maksud adalah kasih sayang antar saudara.


Dan cara pikir ini juga jurus yang paling sering digunakan oleh Wanda untuk menipu Thomas, membuat Luna menjadi labil ketika masih kecil.


Lalu dia perlahan tumbuh dewasa, dia mulai paham kalau Thomas akan menikah suatu hari nanti, sehingga dia mengalihkan perhatiannya kepada Freya.


Paling tidak, kalau Freya menjadi kakak iparnya, Freya akan memanjakannya, dan Thomas juga akan memanjakannya!


Sementara Wanda?


Sejak kecil dia paling senang menipu permen yang dimiliki oleh Thomas, setelah dewasa malah menipu uang Thomas.


Kalau bukan karena begitu, bagaimana mungkin ketika Thomas membeli beberapa stel baju Mark&Spancer, dia langsung mengira itu pakaian untuk Wanda dan merasa iri.


......


Menghadapi undangan yang begitu ramah dari Keluarga Widjaja.


Freya begitu panik dan tidak tahu harus bagaimana, karena dia hanya orang asing!


Dan tepat pada saat ini, Thomas kembali tersenyum dan berkata, “Freya, apakah kamu lupa, aku juga anak yang dipungut oleh mama di pinggir jalan, dia memang orang yang seperti itu, tinggallah.”


Freya mengangkat wajahnya dan menatap senyuman Thomas, dia merasa begitu hangat, dan tanpa sadar mengangguk begitu saja.


Ketika dia menyadari ada yang salah, Luna sudah berseru dengan senang.


“Hahaha, Kak Freya, kelak kita akan menjadi sekeluarga! Apa aku bilang, cepat atau lambat kita akan jadi sekeluarga!”


Silvia juga tersenyum senang.


Dia sama sekali tidak merasa meminta Freya tinggal di sini akan membuat Thomas terbebani.


Karena ini adalah sifat yang ditanamkan.


Thomas dibesarkan langsung olehnya.


Dia paham betul orang macam apa Thomas.


......


Mungkin orang yang perasaannya paling kacau berantakan disana hanya Wanda.


Bahkan dia saja belum dapat mencerna apa yang sedang terjadi, dan Freya tiba-tiba… masuk ke Keluarga Widjaja begitu saja?


Ini adalah hal yang selalu dia impikan, namun Freya malah bisa mendapatkannya dengan begitu mudah!


Dia merasa hampir gila!


Namun dia sama sekali tidak menyalahkan Freya.


Keluarga Widjaja memang segerombolan orang bodoh, dan ini bukan hari pertama dia mengetahuinya, dan Freya sejak kecil sudah sangat disukai oleh anggota Keluarga Widjaja, dia juga tahu akan hal itu!


Lagipula, dia juga tidak berani menyalahkan.


Dia sudah mendengar kabar tentang Kimberly dan juga Wedy Jemian.


Dia tidak ingin menerima kemarahan Thomas, dan itu juga merupakan tindakan yang bodoh pastinya.


Ditambah lagi, dia adalah mahasiswi yang menjadi ujung tombak Universitas Trijaya, kecerdasannya tidak bisa dibandingkan dengan orang lain.


Dia hanya merasa benci!


Kenapa Tuhan bercanda dengannya sampai seperti ini?


Pada saat ini, ucapan Luna yang begitu girang langsung masuk ke dalam telinganya.


“Kak Freya, hari ini ketika aku berbelanja bersama mama, aku ingat kakak tidak punya handphone, mau menghubungimu juga susah, jadi aku belikan satu untukmu.”


Setelah mengatakannya, dai berjalan dengan sikap yang begitu misterius ke arah lemari yang ada disamping, dia membuka lacinya dan mengeluarkan sebuah kotak berisi handphone.


“Hah… handphone semahal ini? aku, aku tidak bisa menerimanya!” begitu Freya melihatnya, dia langsung melambaikan tangannya dengan panik.


Ini adalah Iphone X keluaran terbaru!


Silvia sama sekali tidak berkomentar tentang hal ini.


Pagi ini, dia dan Luna pergi berbelanja, tiba-tiba Luna ingin membelikan sebuah handphone untuk Freya.


Awalnya Silvia kurang bersedia, karena ini adalah uang Thomas, semakin hemat semakin baik, namun Luna mengatakan satu kalimat yang membuatnya tidak bisa menolak.


“Ma, Kak Freya sangat menyukai kakak…”


Hal lainnya, Luna sama sekali tidak cerita, misalnya seperti Freya dan Thomas yang menginap semalaman di Hotel Tasty.


Dia bisa membedakan mana hal yang pantas dan tidak pantas dikatakan, kalau dia langsung mengatakan kepada Silvia kalau kakaknya berbuat hal tidak senonoh di luar, kaki Thomas pasti akan langsung dipatahkan oleh Silvia.


“Sudah dibeli, simpanlah, Kak Freya, kita kan satu keluarga.” Melihat Freya yang masih bersikeras, Luna berpikir sejenak lalu berkata, “Kak Freya, anggap saja handphone ini kupinjamkan padamu, kalau begitu gak masalah kan, kalau gak kakakku akan kesulitan mencarimu.”


Mendengar Luna berkata demikian, wajah Freya langsung menjadi panas, dia mengangguk pelan dan menerima Iphone X tersebut.


Perasaan Wanda sekarang begitu rumit sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.


Pikirannya bagaikan dipenuhi oleh cairan, dan jantungnya bagaikan lepas dan terjatuh ke dalam lubang yang tidak berdasar, terus terjun ke bawah.


Seketika, Wanda merasa seperti diangkat ke surga lalu dibuang ke neraka secara tiba-tiba.


Makan siang sudah selesai dia makan.


Dia juga tidak ingin tinggal lebih lama lagi di sini.


Dia ingin pergi dari sini, mencari tempat dimana tidak ada orang lain untuk bernafas sejenak.


Tetapi, dia tidak akan melepaskan Thomas!


Tunggu sampai perasaan dia kembali tenang, dia baru memikirkan cara untuk memperbaiki hubunganya dengan Thomas!


Uang, Thomas punya banyak uang!


Thomas pernah menjadi orang yang bersikap palin baik padanya selain kedua orang tuanya.


Apa lagi alasannya untuk menyerah?


“Kaka Freya, bagaimana kalau nanti aku mengajakmu berkeliling dengan mobil mainan yang diberikan kakak padaku.”


Lahir di Keluarga Widjaja, tentu saja harus mempertahankan tradisi Keluarga Widjaja, begitu Luna cukup umur, Thomas langsung menyerahkan semua orang yang dia kumpulkan dan memberikannya pada Luna untuk belajar menyetir.


“Mob, mobil mainan… Koenigsegg itu ternyata mobil mainan…”


Jantung Wanda terasa seperti dicengkram oleh sebuah tangan yang tidak terlihat, dia yakin kalau tetap berada di sini, dia bisa gila.


Meskipun demikian, dia tetap berusaha untuk tenang dan berpamitan pada Silvia, Luna juga Thomas.


Lalu berjalan keluar dari villa dengan murung dan menoleh sesekali.


Sebelum berjalan keluar, dia sempat berharap Thomas akan mengantarnya pulang, meskipun itu Luna juga tidak mengapa, dengan begitu dia jadi punya kesempatan untuk mempererat hubungan kakak ipar dan adik ipar.


Yang ada dalam pikirannya sekarang tidak lagi tentang naik mobil mewah yang mahal, yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara membuat ketiga anggota Keluarga Widjaja ini merubah sikap mereka terhadapnya.


Tetapi, sampai pintu gerbang tertutup, jangankan mengantarnya pulang, bahkan yang mengantarnya sampai depan pintu saja tidak ada.


Thomas sudah kenyang makan, dia tidak lagi peduli dengan hal lainnya, hanya berpesan pada Luna untuk pelan-pelan saat mengendarai mobil bersama dengan Freya.


Thomas belum pernah mengendarai Koenigsegg, namun dia tahu kalau mobil ini sangat cepat.


Setelahnya dia naik ke lantai dua dan  berdiri disamping railing balkon untuk meminum teh, dan pada saat bersamaan merasakan energi murni yang semakin menguat dalam tubuhnya.


Tentu saja dia juga melihat Wanda yang pergi.


Dia berjalan perlahan menuruni jalan bukit, tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya, kelihatannya seperti sedang menerima telepon, dan ketika Wanda menerima telepon ini ekspresinya langsung berubah panik.


Alis Thomas langsung mengkerut, dia tahu Wanda pasti dalam masalah.