
Cucu perempuan Wakil Dekan…
Bukankah itu artinya adik sepupu Tuan muda Keiro itu?
Memang yang namanya satu keluarga sifatnya tidak akan jauh berbeda ya!
Thomas berkata dengan wajah tegas, “Kakak akan mengurus ini, tapi dimana Freya?”
“Seharusnya dia kembali ke asrama, bagaimana kalau aku pergi lihat dulu ke sana, kakak tunggu di sini?” saran Luna.
“Baiklah.” Thomas mengangguk.
Bagaimana pun Freya tetap teman lamanya, kalau bukan karena keluarga mereka mengalami musibah, mungkin hubungan mereka tidak akan menjadi semakin menjauh seperti ini.
Sekarang melihat Freya seperti ini, dia sungguh merasa sedih, dia ingin melakukan sesuatu untuknya.
Luna berbalik dan pergi, Thomas meminta Dimas menunggu di mobil.
Dan di lapangan yang begitu besar, hanya ada dia seorang.
Lampu panggung masih menyala.
Lapangan begitu hening, namun terdengar ada gerakan di balik panggung.
Thomas merasa penasaran sehingga berjalan mendekat.
Belakang panggung sangat sempit, namun tidak ada yang menghalangi, sehingga hanya dengan satu lirikan saja bisa melihat jelas apa yang ada di sisi ujungnya.
Dan sepanjang jalan yang sempit ini dipenuhi oleh tisu, botol kosong, dan juga sampah lainnya.
Sesosok tubuh yang kurus sedang sibuk membersihkannya, dan orang ini adalah Freya yang sedang dia cari.
Thomas baru mengangkat kakinya, namun kembali terhenti, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan untuk Luna, mengatakan kalau dia sudah menemukan Freya, memintanya untuk menemui Dimas dan pergi makan dulu. Perayaan malam ini memakan waktu berjam-jam, dai pasti sudah sangat lapar.
Kemudian, dia bersembunyi di sisi pintu belakang panggung lainnya, memperhatikan Freya dengan hening seperti itu.
Dia sungguh tidak mengerti.
Memungut sampah sampai membersihkan, semuanya dikerjakan oleh Freya seorang diri, kalau dia punya waktu untuk ini, lebih baik dia mencari pekerjaan sampingan di luar dan menghasilkan sedikit uang.
Sampai tidak ada uang untuk makan, kenapa masih mau melakukan hal yang hanya menghabiskan tenaga dan tidak menguntungkan sama sekali?
Dulu Freya tidak seperti ini sewaktu kecil, pipinya membulat, paras yang sempurna, mata yang jernih dan gigi yang bersih.
Setelah besar, dia semakin cantik, terutama ketika SMP dan SMA, dia mendapat julukan bidadari yang diidamkan dari teman sekolah.
Apa yang sudah dia alami?
Diam-diam Thomas menghela, ketika Silvia meninggal, Silvia jatuh sakit, dai merasa langitnya seakan runtuh.
Ketika terdesak sampai ke jalan buntu, dia sempat berpikir untuk terjun ke dunia hitam, karena dia mendengar uang yang dihasilkan dari sana sangat cepat, untungnya pada akhirnya dia tidak salah jalan.
Sekarang Freya menjadi seperti ini, mungkin ada banyak hal yang sudah dia alami selama ini.
Bukan hanya kedua orang tuanya yang meninggal, paman yang merawatnya juga jatuh sakit, pukulan seperti ini bukan hal yang bisa ditanggung oleh seorang anak sekolah.
Thomas menarik kembali pikirannya yang sudah melambung jauh.
Pada saat ini, lantai belakang panggung sudah dibersihkan oleh Freya, lalu dia berbalik membereskan barang yang berantakan di meja.
Isi meja ini adalah alat make up juga perlengkapan pentas yang dipakai oleh para mahasiswa.
Setelah semua orang pergi, yang tersisa hanya kekacauan, kotak makan yang jatuh berserakan, makanan miliknya sekarang jatuh berantakan dan bercampur dengan tanah.
Dan itu artinya sejak siang dia belum makan.
Thomas ingin mengajak Freya makan sampai kenyang, namun dia berpikir sekali lagi, menahan keinginannya yang gegabah, dia ingin terus melihat apa yang akan dilakukan Freya.
Kemudian mengambil sendok dan duduk membelakangi Thomas.
Entah kenapa, gerakan Freya tiba-tiba terhenti, seolah sedang memikirkan sesuatu, juga seolah sedang memutuskan sesuatu.
Lalu Freya berdiri, menyeret tubuhnya yang lelah keluar dari sana.
Thomas merasa semakin heran, setelah dipikir-pikir, dia mengikutinya.
Keluar dari kampus, Freya berjalan sesaat, lalu berjalan masuk ke sebuah restoran ayam cepat saji.
Thomas terkejut.
KFC, sebuah restoran luar negri, yang merupakan makanan mewah baginya beberapa hari yang lalu.
Thomas tidak pernah rela makan di sini, kecuali saat ulang tahun Luna, dia akan mengajaknya makan ke sini setahun sekali.
Dia tidak menyangka Freya akan datang kemari.
Pada saat ini, masih ada begitu banyak pengunjung di dalam restoran, dan sebagian besar adalah mahasiswa Trijaya.
Thomas berdiri di samping pintu, tatapannya menembus pintu kaca dan menatap Freya yang sedang mengantri.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Begitu mengeluarkannya, dia melihat panggilan masuk dari Hans.
Dan dia tetap mengangkatnya.
“Thomas? Dimana? Gue booking sebuah ruang karaoke nih, mau ikutan gak?”
“Gak deh, tidak ada waktu, lain kali saja ya.”
“Kok lu…”
Hans baru akan melanjutkan ucapannya, namun teleponnya sudah dimatikan, karena Thomas melihat ada tiga orang mahasiswi yang mendekati Freya, dan dia kenal salah satu diantara mereka.
Dia tidak yakin itu cucu Wakil Dekan atau bukan, namun dia adalah orang yang melemparkan makanan ke kepala Freya.
“Wow! Bukankah ini Freya?”
Freya berpura-pura tidak dengar, namun kepalanya langsung menunduk, jelas sekali dia mendengarnya.
“Gua lagi ngomong sama elu, lu budek atau bisu?”
Mahasiswi ini melihat Freya tidak menjawab, langsung merasa kesal, dia maju dengan tersenyum dingin, namun ditarik oleh mahasiswi yang satunya.
“Kimi, lu mau ngapain? Ini di KFC…” mahasiswi ini berkata sambil menunjuk kamera CCTV.
Semua gerakan mereka terekam kamera, kalau sampai mereka macam-macam di dalam restoran, maka mereka akan dalam masalah.
Meskipun Kimberly merasa tidak senang, dia hanya bisa mendengus dengan kesal, lalu berkata dengan dingin, “Heh, Freya, katanya semester ini lu dapat uang beasiswa sampe dua kali, dan yang pertama kali cair beberapa hari yang lalu ya kan? Tidak disangka baru pegang sedikit uang saja sudah boros dan makan enak di sini.”
“Bisa ya ada mahasiswa seperti elu? Kita gak bahas soal miskin, tapi elu harus tahu, sekolah ngasih uang beasiswa, menggratiskan semua uang kuliah elu, itu biar elu bisa selesaiin kuliah, tapi elu malah hambur-hamburin, elu gak merasa bersalah sama dukungan yang dikasi pihak sekolah?”
Ucapan Kimberly ini membuat semua orang yang berada di dalam restoran langsung menoleh ke arah Freya.
Dan tatapan mereka semua begitu dingin dan penuh dengan tatapan merendahkan.
Orang bisa menjadi miskin, itu karena beberapa faktor, namun kalau orang tersebut hanya mau makan tidak mau kerja, maka apa lagi yang perlu dibicarakan?
Sehingga mereka meremehkan Freya secara serempak.
Bahkan Thomas pun merasakan kekecewaan yang tidak terelakkan.
Awalnya dia mengira Freya hidup dengan pahit, namun kelihatannya dia terlalu naïf.