
Setelah sesaat, Thomas baru merespon.
Meskipun sebelumnya Thomas sudah mempersiapkan hatinya, namun dia tidak menyangka akan seperti ini hasilnya. Dia tidak menyangka Milan akan langsung mengajukan pembatalan perjodohan.
Thomas masih ingat, bulan lalu Milan masih begitu berterima kasih padanya, bahkan memanggilnya menantu dengan begitu ramahnya, kenapa hari ini berubah sedrastis ini.
“Kenapa?” senyum Thomas yang tersemat di sudut bibirnya terlihat begitu pahit, “Perjodohan ini sudah disepakati oleh orang tua kedua belah pihak sejak lama…”
Milan langsung merasa tidak senang. “Thomas, memang benar, ketika itu keluarga kita sudah sepakat, namun Wanda sudah akan masuk kuliah tahun keempat, aku berharap dia bisa kuliah ke luar negeri, dan itu membutuhkan waktu beberapa tahun lamanya, kamu adalah seorang anak yang baik, tante tidak ingin menyulitkanmu.”
“Tante Milan, aku tidak masalah, bukankah hanya beberapa tahun lamanya, aku bisa menunggu.”
Ekspresi wajah Milan langsung berubah dingin, lalu berkata, “Tidak perlu tunggu, kamu tidak cocok dengan Wanda, perjodohan ini kita batalkan saja.”
“Kenapa? Aku merasa keluarga kita sepadan, apalagi Om Martin…”
“Sudah cukup!”
Pakk!
Milan meletakkan sendok makannya di atas meja dengan keras, lalu menatap Thomas dengan tatapan merendahkan, “Thomas, awalnya aku tidak ingin mengatakannya terlalu jelas, berharap kamu bisa mundur sendiri karena merasa kesulitan, karena kamu tidak bisa menggunakan cara halus, maka biar kita bicarakan semuanya secara terbuka hari ini!”
“Wanda kami adalah seorang gadis yang begitu menawan dan berkelas, kamu lihat dirimu, tidak punya rumah juga tidak punya kendaraan, bahkan memiliki seorang ibu yang memiliki penyakit jantung.”
Milan hanya tersenyum tipis lalu berkata. “Seandainya dua tahun lagi kalian menikah, tante ingin bertanya padamu, bagaimana kamu bisa menjaga Wanda kami dengan baik?”
“Uang bukan masalah, aku…” Thomas belum menyelesaikan ucapannya, namun kembali terhenti.
“Sudahlah! Thomas, kalau sudah miskin, harus belajar menerima keadaan, kamu tidak punya uang, sehingga kamu tidak mungkin bisa membahagiakan Wanda! Aku dan Om Martin-mu sudah mendiskusikan masalah ini, dia juga setuju untuk membatalkan perjodohan kalian, sehingga inilah keputusan kami.”
Milan mengangkat piringnya dan menunjuk pintu dengan sendoknya, “Kalau kamu tidak ada urusan lain di sini, silakan pulang!”
Kejadiannya sudah sampai tahap ini, Thomas akhirnya benar-benar paham. Intinya, mereka memandang rendah dirinya karena dia miskin.
Namun Milan mengatakan hal ini tepat setelah Thomas melihat Wanda naik mobil Ferrari itu, begitu mereka membatalkan perjodohan, sebodoh-bodohnya dia, sudah pasti tahu apa yang sedang terjadi.
Sudah jelas dia hanya menjadikannya sebagai batu loncatan, setelah menemukan menantu yang kaya raya, maka calon menantu miskin seperti dia sudah tidak berarti lagi bagi mereka.
Thomas hanya mengangguk pelan, kedua ibu dan anak ini akhirnya membuat dia melihat kenyataan dengan jelas.
Kalau seseorang miskin, maka tidak ada yang perlu dibicarakan, namun sekarang dia sudah punya uang, maka lebih tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
Awalnya dia berminat memberikan kejutan untuk Keluarga Ningrat…
Awalnya dia berbalik dan hendak pergi…
Namun Thomas tiba-tiba teringat sesuatu, sehingga kembali menghentikan langkahnya dan berbalik, dia tersenyum dengan begitu berat.
“Baiklah, aku setuju untuk membatalkan perjodohan, namun ada satu hal yang ingin aku katakan.
“Ayahku dan aku membayar semua biaya pendidikan Wanda, mulai dari uang sekolah, uang buku, uang les, les piano… kalau ditotal dan dihitung kurang lebih menghabiskan uang 400 jutaan. Semua uang ini kami berikan karena memandang Wanda sebagai calon menantu di keluarga kami, iya kan? Karena perjodohan ini sudah dibatalkan, bukankah kalian sudah selayaknya mengembalikan uang ini?”
Kedua ibu dan anak Keluarga Ningrat langsung tercengang. Seketika waktu terasa berhenti berputar.
Tidak karena Thomas sekarang menjadi kaya, maka tidak lagi memandang uang 400 juta ini. Meskipun dia tidak punya uang, dia juga tetap berusaha keras menyediakan uang untuk Wanda setiap bulannya.
Yang dipandang oleh Thomas adalah…
Beberapa tahun lalu, bisnis Martin gagal, Tanto Widjaja yaitu ayah asuh Thomas, demi membantu biaya hidup Keluarga Ningrat, dia mengangkat barang yang beratnya sudah melampaui batas angkut kendaraan dengan tubuh yang kelelahan tanpa memikirkan itu melanggar hukum, dan pada akhirnya dia mengalami kecelakaan sampai kehilangan nyawanya.
Dan setelah Tanto meninggal, dia yang melanjutkan janji di masa itu tanpa mengeluh sedikit pun.
Dia melakukan hal ini bukan karena hal lain, dia ingin melihat seperti apa wajah asli ibu dan anak ini dengan jelas dan di saat bersamaan dia juga merasa kematian ayah asuhnya sungguh sia-sia.
Bukan dia yang tidak ingin menepati janji, melainkan mereka yang tidak tahu berterima kasih.
“Thomas! Kamu jangan keterlaluan ya kalau bicara!” Wanda kesal sampai wajahnya memerah.
Sementara Milan hanya tertawa dingin. “Thomas, aku mengira bantuan Keluarga Widjaja karena kalian memandang hubungan kedua keluarga kita. Ternyata kamu malah memiliki pemikiran picik seperti ini! Kami tidak memaksa kalian memberikan uang itu, apakah kalian berniat menggunakan uang itu untuk menggertakku, dan memaksaku untuk menikahkan Wanda denganmu? Kalau benar seperti itu, aku akan lapor polisi!”
“Dengar tidak? Sana cepat pergi! Jangan merusak pemandangan di sini, dasar miskin!”
Bentak Wanda dengan malu dan kesal, bahkan karena terlalu emosi, sendok di tangannya sontak terlempar dan mengenai dada Thomas dengan tepat.
Thomas terdiam sejenak, dan pada akhirnya menggeleng dengan kecewa, karena sudah membuka semuanya secara gamblang, maka dia juga sudah tidak perlu berlama-lama di sini.
“Tunggu dulu! Thomas, kemari kamu, tanda tangan dulu.” Milan tersenyum dengan dingin, lalu berkata pada Wanda. “Wanda, ambilkan pena juga tinta stempel.”
Awalnya Milan tidak ingin melakukan hal ini, namun Thomas yang tidak tahu diri ini malah dengan tidak tahu malunya meminta kembali uang bantuan yang diberikan keluarga mereka, bagaimana mungkin dia bisa menahan kekesalan ini.
Demi melampiaskan amarah ini juga untuk menghindari masalah di kemudian hari, Milan harus berjaga.
Wanda bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar, tidak lama kemudian dia mengambil kertas pena juga tinta stempel, setelah Milan menerimanya, dia langsung menulis di atas kertas itu.
Lima menit kemudian, Milan tersenyum dingin dan menyodorkan kertas juga penanya.
“Ini adalah bukti pembatalan perjodohan, tanda tangan di atasnya lalu cap jarimu di atasnya.”
Thomas hanya tersenyum pahit, dia mendekat lalu menandatangani surat itu dan kemudian membubuhkan cap jari di atasnya.
“Sudah?”
Milan dan Wanda tersenyum dengan senang, mereka juga mengulangi langkah yang sama, setelahnya Milan memberikan selembar surat pembatalan perjodohan itu kepada Thomas.
“Kamu pegang yang ini, mulai sekarang, kamu tidak boleh mengganggu Wanda kami, mengerti!”
“Ma, untuk apa bicara begitu banyak dengannya!” Wanda melirik Thomas dan berkata dengan dingin. “Sana pergi, apakah aku perlu mengusirmu dengan sapu?!”
Thomas mengambil surat pembatalan perjodohan itu dan tersenyum acuh, lalu pergi dari rumah Keluarga Ningrat.
“Ma, kita tidak perlu marah dengan orang miskin seperti ini, ayo makan, setelah itu tidur sebentar, malam ini Tuan muda Chandra mengundang kita makan malam di Restoran Tasty loh.”
Setelah pergi dari rumah Keluarga Ningrat, Thomas malah merasa begitu lega.
Ternyata setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat dengan jelas orang seperti apa kedua ibu dan anak ini.
Dan dia bersumpah, mulai detik ini kedua keluarga ini tidak lagi memiliki hubungan apa pun.
Sebenarnya dia sama sekali tidak memiliki perasaan lawan jenis terhadap Wanda. Perasaan yang dia miliki hanya perasaan antara sahabat yang tumbuh besar bersama.
Ikatan perjodohan di antara mereka adalah ikatan yang dibuat oleh Tanto Widjaja dan Martin Ningrat. Mengenai janjinya, itu hanya pesan terakhir yang pernah diminta oleh Tanto sebelum meninggal, dia pernah meminta Thomas untuk lebih menjaga Keluarga Ningrat.
Dan sebenarnya, ikatan perjodohan ini malah menjadi tali yang menjerat kedua keluarga.
Kalau bukan karena ini, Thomas juga tidak perlu hidup begitu menderita beberapa tahun ini.
Ketika itu dia sempat mengeluh pada ibunya, namun dia malah dimarahi habis-habisan.
Dia masih ingat, malam itu setelah Silvia memarahinya, Silvia berkata dengan berlinang air mata, “Nak, aku tahu ini menyulitkanmu, namun ini adalah pesan terakhir ayahmu, kamu juga sudah menyetujuinya, Mama berharap kamu bisa menepati janji ini. Sekarang memang terasa lebih berat, namun setelah Wanda lulus, kalian bisa menikah dan memiliki anak, dengan demikian Mama akan bisa menggendong cucu lebih awal, semua ini ayahmu lakukan untuk masa depanmu.”
Namun yang tidak menepati janjinya hari ini adalah Keluarga Ningrat.