
Akhirnya tour villa ini berakhir.
Wanda ikut turun ke lantai satu bersama dengan ketiga anggota Keluarga Widjaja yang harmonis.
Sudah siang, Silvia berjalan masuk ke dalam dapur.
Wanda duduk di atas sofa, menatap Thomas dan Luna yang sedang bercanda dengan tenang.
Entah disengaja oleh Luna atau tidak, dia bercanda dengan Thomas sampai begitu seru.
Sama sekali tidak membiarkan Wanda memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Thomas.
Setelah dia berpikir sejenak, dia memutuskan untuk meninggalkan kesan yang baik di hadapan Silvia.
Meskipun Thomas sangat kaya, namun dia tahu, Silvia tetap kepala keluarga dalam keluarga ini.
Kalau sampai menarik Silvia ke pihaknya…
Rencananya untuk kembali rujuk dengan Thomas akan berhasil 90%.
Begitu dia masuk ke dalam dapur yang begitu luas dan terang, dia segera berkata, “Tante Silvia, biar aku bantu…”
“Wanda, tidak perlu, duduklah di luar, tante tidak masak banyak, sebentar lagi selesai.” Silvia menolak dengan senyum ramah.
Ucapan ini hanya basa basi sebagai pemilik rumah.
Sementara Wanda malah berdiri dengan salah tingkah.
Dia sungguh berniat untuk membantu, namun dia tidak tahu harus memulai dari mana.
Sejak kecil, dia selalu dimanjakan oleh Milan, sama sekali tidak tahu bagaimana cara membantu.
“Kalau, kalau begitu, baiklah, aku keluar dulu…”
Wanda berjalan keluar dan kembali ke ruang tamu dengan kaku, lalu duduk di tempat duduknya dengan tenang.
Dalam mimpi pun dia tidak akan menyangka kalau Keluarga Widjaja akan pindah ke dalam villa yang mewah suatu hari nanti!
Dulu, baik di hadapan Thomas, atau pun di hadapan Luna, bahkan di hadapan Silvia…
Dia selalu bersikap begitu angkuh dan sombong.
Dan penyebabnya sebagian besar dipengaruhi oleh rumah mereka yang tidak menyewa, sementara Keluarga Widjaja tinggal di kontrakan yang kumuh.
Kompleks tempat tinggal mereka adalah daerah rumah susun, bahkan sewa rumah juga di tempat yang sangat murah, benar-benar membuat orang tidak bisa memandang mereka.
Sekarang, di hadapan anggota Keluarga Ningrat, keangkuhannya sudah menguap, yang tersisa hanya penyesalan yang begitu besar.
Baginya, Luna tidak lagi gadis miskin yang dulu, dia sudah menjadi nona muda kalangan atas yang kaya raya.
Sementara dia, Wanda Ningrat, dia menghalalkan segala cara, namun pada akhirnya tetap tidak bisa merubah apapun, dia tetap orang miskin yang hidup mengandalkan orang tua.
Awalnya dia sangat merendahkan orang miskin, namun dirinya sendiri…
Dia tidak ingin menerima kenyataan ini, namun kenyataan sudah terpampang jelas dihadapannya~~
Karena ada banyak orang, Silvia memasak lima macam laun.
Ada tumis daging, telur dadar, terong balado, ikan tim, dan sepiring tumis sayur hijau.
Meskipun hanya makanan rumahan, namun hanya melihatnya saja sudah membuat semua lapar.
Namun Wanda sama sekali tidak memiliki nafsu makan.
Begitu dia melihat Silvia membawa keluar dandang berisi nasi, Wanda segera mendekat untuk mengambilkan nasi.
Mengambilkan nasi… dia masih tahu caranya.
“Thomas, Luna, Dimas, ayo makan semuanya.” Panggil Silvia.
......
Kedua kakak beradik masih sedang bermain.
“Bah! Curang! Bisa-bisanya menggunakan cara ini!”
Thomas baru berniat maju dan menarik rambut Luna, namun Luna sudah mengulurkan kakinya, dan kebetulan mengenai lubang hidung Thomas.
“Hahaha! Ma! Lihat gak, kakak menggangguku!”
“Masih berantem, masih berantem gak usah makan!” Silvia berteriak pelan, lalu berkata pada Dimas yang duduk di atas sofa, “Dimas, tidak perlu pedulikan mereka, sini makan.”
Sebenarnya pertengkaran ini diawali oleh Luna.
Thomas juga terpancing olehnya, namun dia sama sekali tidak menolak.
Kedua kakak beradik ini hanya ingin mencari sebuah cara untuk merenggangkan tekanan selama beberapa tahun ini.
Dulu, Thomas dan Luna sering bermain dan bertengkar seperti ini.
Karena hidup mereka tidak terbebani, sama sekali tidak perlu memikirkan hal apapun dalam rumah.
Namun setelah Tanto meninggal, Thomas harus memikul semua beban dan mengurus ibu juga adiknya.
Sehingga dia sama sekali tidak pernah bercanda seperti ini lagi.
Sampai hari ini, kedua kakak beradik ini baru kembali menemukan suasana yang sudah lama tidak ada ini.
Dimas yang melihat dari samping, meskipun wajahnya tersenyum, namun ada banyak perasaan yang bergejolak dalam hatinya.
Anak dari keluarga biasa memang membuatnya sangat iri.
Dia adalah anak di luar nikah, lahir di clan tertinggi dunia, sejak kecil dia sama sekali tidak pernah merasakan hangatnya keluarga, selain dari ibunya yang sudah meninggal.
Ditambah lagi Silvia yang memanggilnya makan seperti ini.
Dimas merasa, sebenarnya menjadi pengawal thomas selama lima tahun sama sekali bukan apa-apa, kalau setiap hari bisa melihat pemandangan yang begitu harmonis, rasanya sangat melegakan.
Setelah “pertarungan” yang sengit, Thomas dan Luna juga Dimas mendekat ke meja makan.
Thomas juga sudah merasa lapar, begitu duduk, dia langsung mengambil piring berisi nasi, mengambil sesendok sayur hijau dan makan dengan lahap.
“Thomas, makan daging tumisnya.”
Wanda melihat kesempatan datang, segera menunjukkan sikap baik.
Tentu saja Silvia dan Luna juga harus dia dekati.
“Tante Silvia, makanlah.”
Wanda berkata pada Dimas sambil tersenyum, “Dimas, kamu, ambillah sendiri, jangan sungkan, ketika aku kecil, aku sering pergi ke rumah tante Silvia dan selalu makan dulu baru pulang…”
Begitu Silvia mendengar ini, dia langsung teingat pada masa lalu yang indah, dia melirik Wanda dengan senyum yang hangat.
“Hah… hebat, hebat, jurus ini kejam.” Gumam Luna dengan sinis.
Namun Silvia tetap mendengar apa yang dia katakan.
“Luna, makan!”
“… oww!”
Meskipun merasa tidak senang, Luna tetap tidak berani memperlihatkannya di hadapan Silvia.
Dia segera menundukkan kepala dan lanjut makan.
Dalam lubuk hatinya terdalam, dia merasa kesal dan panik, dia sudah berpesan pada Freya, kenapa sampai sekarang masih belum sampai juga!
Namun pikiran Luna ini sama sekali tidak memahami kondisi Freya sekarang.
Setelah acara penobatan Direksi Kehormatan berakhir, Wedy langsung dipecat.
Kabar Freya kenal dengan Direksi Kehormatan seperti memiliki sayap dan terbang ke telinga seluruh mahasiswa yang ada di sana.
Kali ini, siapa yang akan dengan bodohnya mengganggu Freya?
Apalagi ada banyak mahasiswi yang mengetahui “inti masalah”-nya, satu hari sebelum acara, Kimberly mengganggu Freya, dan ini yang memicu Wedy terjebak dalam masalah.
Karena Wedy yang digulingkan, orang-orang yang pernah campur tangan mengganggu Freya, orang-orang yang memandang sinis dan menyindir Freya dengan tajam dengan berbagai cara…
Semuanya berbondong-bondong mendekatinya.
Kalau sampai Freya menyimpan dendam pada mereka, maka mereka pasti akan dalam masalah!
Wakil Ketua Dekan dipecat, Direksi Kehormatan men-DO seorang mahasiswa, bukankah ini hal yang sangat mudah?
Para mahasiswi yang dulu mengganggu Freya, semua menghampiri Freya dan meminta maaf, pintu asrama hampir hancur terinjak oleh mereka.
Bahkan ada yang memberikan berbagai macam barang, mengganti uang, bahkan ada yang memberikan baju.
Jadi, dua hari ini adalah hari paling santai yang pernah Freya alami selama tiga tahun ini.
Dia tahu ketenangan ini datang dengan tidak mudah, namun dia juga sadar, ini adalah berkat karena mereka memandang status Thomas.
Freya tidak punya handphone.
Luna menelepon ke asrama baru menemukan Freya yang sedang belajar di asrama.
Ketika dia menerima undangan.
Lalu… kebetulan perutnya juga merasa agak lapar…
Dia bersiap lalu pergi.
Tanpa ponsel, itu sama dengan tidak bisa memesan taksi online, meskipun bisa, Freya tetap merasa sayang pada uangnya.
Setelah keluar dari asrama, Freya naik angkutan umum, dia turun di terminal, lalu naik bus rute Bogor.
Alamat yang diberikan oleh Luna tidak dilewati oleh angkutan umum, oleh karena itu, begitu tiba di kaki bukit, Freya harus berjalan kaki.
Setelah berputar-putar cukup lama, Freya baru sampai di depan gerbang villa.
Begitu dia melihat villa yang begitu besar dan mewah, dia sempat merasa ragu, Freya takut dia datang ke alamat yang salah.
Dan dia juga tidak punya ponsel, sehingga dia turun ke bawah bukit untuk menelepon dan bertanya, dan sekali bolak balik saja harus menghabiskan setengah jam lebih…
Melihat bel yang ada di samping gerbang, Freya menekannya beberapa kali.
Di sisi lain.
Luna menatap Wanda yang berpura-pura manis dengan tatapan sinis, dia sungguh merasa muak.
Dan pada saat bersamaan, dia juga merasa panik: kenapa Freya masih belum datang juga!
Namun tepat pada saat ini, terdengar suara bel dari depan.
“Aku yang buka pintu!”
Luna melontarkan kata itu dan langsung berlari keluar.
“Thomas, kamu mengundang teman lainnya?” tanya Silvia.
Dia merasa cemas, kalau sampai ada teman Thomas yang datang, entah makanan ini cukup atau tidak.
Thomas menggeleng dengan wajah bingung, “Sepertinya tidak ada…”
Setelah lima menit berlalu, Luna kembali muncul di ruang tamu, dan Freya ikut di belakangnya.
Dia sudah tahu sejak awal kalau Thomas kaya raya, ditambah lagi Luna sempat mengingatkan melalui telepon, sehingga dia sama sekali tidak terkejut.
“Aku yang memanggil Kak Freya untuk datang.” Luna menjelaskan dengan singkat, dan pada saat bersamaan melirik Wanda yang wajahnya sudah terlihat begitu buruk.
“Ah, Freya rupanya? Sudah makan belum? Kalau belum, sini makan sama-sama.”
Silvia yang melihat Freya langsung tersenyum ramah.
Bisa dikatakan dia melihat sendiri anak ini tumbuh dewasa, dan dia sungguh menyayangkan hal yang menimpa keluarga Freya.
Freya berjalan ke depan Silvia lalu berkata sambil mengangguk, “Tante Silvia, aku belum makan, tadi begitu Luna telepon aku langsung ke sini.”
“Belum makan? Kalau begitu duduk, kita makan bareng, tante ambilkan piring untukmu.”
Setelah mengatakannya, Silvia langsung berdiri.
“Tidak perlu tante, dimana dapurnya, biar aku ambil sendiri saja.” ucap Freya.
“Ma, Freya punya kaki dan tangan, mama makan saja, Kak Freya, dapurnya di sana.”
Luna menunjuk ke arah dapur.
“Hm, ok.” Freya mengangguk lalu berjalan ke arah dapur.
Tidak lama setelahnya Freya kembali keluar.
Dia mendapati semua orang sedang menatapnya, wajahnya yang kurus langsung merona merah.
Dia mengangkat piring porselen besar di tangannya, lalu bertanya dengan wajah canggung, “Tante, nasinya… dimana?”