Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 94 Tak Terkalahkan


“Oh, ternyata kamu putra Kak Santo.” Thomas mengangguk dengan bingung.


“… huh!”


Sebastian membuang muka dan tidak lagi bicara.


Meskipun Sebastian tidak mau, namun dia juga tidak berdaya menolaknya.


10 menit yang lalu, Sebastian tiba-tiba menerima telepon dari Santo, tanpa banyak tanya dia langsung memintanya datang, dan harus datang untuk menemani Thomas minum.


Malam ini dia masih ada acara, sehingga langsung menolak.


Namun jurus yang digunakan Santo cukup kejam, kalau tidak melakukan apa yang dia minta, maka uang jajan Sebastian bulan ini akan ditiadakan.


Karena terpaksa, Sebastian mau tidak mau menurutinya.


Namun dia juga sangat penasaran, sebenarnya siapa orang ini sampai membuat ayahnya begitu hormat padanya.


Namun begitu dia masuk, langsung melihat rombongan Hans yang begitu heboh.


“Wah, eh cepat sini! Di sini bisa main golf!”


“Wah gila, meja pingpong!”


“Heh! Ada kolam renang juga!”


“Oi lihat sini, ada tempat karaoke juga woy!”


Ini masih belum apa-apa, kelima orang ini bahkan memegang handphone dan memotret dengan heboh.


Sebastian benar-benar terkejut dibuatnya.


Setelah melihat ke sekeliling, Sebastian mendapati ada seorang pria dan wanita yang sedang duduk sambil makan, lalu berjalan menghampirinya.


Namun belum sempat mendekat, dia sudah melihat Thomas yang mengenakan baju yang biasa dijual di kaki lima…


Ditambah lagi membayangkan balap mobil yang sudah direncanakan malam ini, membuat perasaan Sebastian semakin tidak senang.


Mobil keren dan wanita cantik, itu baru hidup indah yang sebenarnya.


Lalu? Malam ini dia malah harus menemani orang kampungan makan malam…


Sebastian menahan amarah, namun melihat Thomas meminum teh dengan santainya.


Dia tidak tahan lagi.


“Hei, lu yang namanya Thomas?”


“Iya, itu gue.”


Sebastian melirik keempat botol bir tersebut dengan sorot mata tidak bersahabat, dalam hati dia memutuskan.


“Minum teh sungguh tidak asik, bagaimana kita minum beberapa gelas bir?”


Meskipun dia berkata demikian, namun Sebastian sama sekali tidak menunggu jawaban Thomas dan langsung membuka penutup botol bir dengan mudahnya.


Bicara tentang minum bir, bisa dikatakan Sebastian punya pengalaman yang cukup menarik, dia punya sebuah julukan sebagai Master bir tak terkalahkan.


Rencananya begini, karena malam ini dia tidak bisa pergi kemanapun, kalau begitu lebih baik membuat mabuk beberapa orang saja, sekalian mencari hiburan.


“Kalau kamu mau minum, minum saja dengannya, aku tidak begitu bisa minum.”


Thomas juga bisa melihatnya, Sebastian ini memang sudah berniat mempermalukannya.


“Dia?” Sebastian tercengang, membuatnya semakin tidak senang, “Heh Thomas, lu gak seru banget jadi orang, masa suruh cewek yang minum gantiin lu?”


“Mau minum atau gak terserah.” Ucap Thomas sambil tersenyum.


Lalu menoleh dan berkata, “Freya, kalau kamu ingin minum, temani Tuan muda Sebastian minum sedikit.”


“Oh.”


Begitu Freya mendengar, dia langsung mengambil sebotol dan membukanya, lalu tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu, sehingga bertanya, “Bagaimana aturannya?”


“Bebas.” Thomas melirik Sebastian dan tersenyum.


“Oh.”


Freya mengangkat kepalanya dan langsung menenggak bir.


“Hoo…”


Sebastian tercengang, dalam hati berseru, kelihatannya cewek ini pintar minum ya?


Tetapi dia saja sudah minum, dia tidak mungkin tidak merespon.


“Ayo, cheers!” Sebastian dengan gagahnya minum seperti Freya.


“Aaah! Mantap!”


Sebastian meletakkan botol bir dengan keras di meja dan terlihat begitu bangga.


Hans dan yang lainnya juga menyadari pergerakan yang ada disini.


Mereka bukan datang untuk bermain, melainkan untuk bergaul dengan Thomas.


Begitu melihat ada yang sedang minum, mereka segera mendekat.


“Wow! Tenggak botolan? Keren!”


Steve melihat bir yang ada di meja masih ada 2 botol lagi, matanya langsung berbinar dan mengambil satu botol.


Lalu melihat bir yang hanya tersisa satu botol, dia berkata dengan alis mengkerut, “Tidak cukup nih birnya, Pak Direksi Kehormatan.”


“Cuma bir doang, biar gue yang telepon!” Sebastian mengibaskan tangannya dengan santai, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon hotline resepsionis.


Sebastian terpancing oleh Freya, dia minum begitu banyak bir selama ini, dan sama sekali belum pernah melihat ada wanita yang berani menenggak satu botol bir seperti itu, meskipun laki-laki juga sangat jarang.


Dia disebut Master bir tak terkalahkan, mana boleh kalah oleh seorang wanita?


Sebastian bicara dengan arogan lalu melemparkan ponsel ke samping, setelahnya kembali melihat ke arah Freya.


“Ayo, sekali lagi!”


Hans memperhatikan Sebastian dan bertanya, “Thomas, ini adalah…”


“Anak bos Tasty.” Thomas memperkenalkan dengan satu kalimat yang singkat padat jelas.


Mereka yang mendengar ini langsung tidak bisa tinggal diam, ini adalah tuan muda orang besar, berkenalan tidak ada salahnya.


Semua orang segera menuangkan bir dan dipimpin oleh Hans, mereka semua bersulang dengan Sebastian.


Mereka semua masih muda, sangat menyukai yang seperti ini, sementara Sebastian juga punya niatan tersendiri, setiap kali mengangkat botol bir, dia tidak lupa memanggil Freya ikut minum.


Beberapa tenggak bir sudah ditelan, semuanya langsung membaur.


Tidak lama berselang, semua makanan sudah disajikan dengan lengkap.


2 krat bir juga datang dengan cepat.


Setengah jam berlalu…


......


“Ki, ki, kita, la, lagi!”


Selain Sebastian dan Freya, yang ada di sana memiliki kemampuan minum yang biasa saja.


Setelah minum satu botol saja sudah mabuk.


“Ka, kamu namanya Fe, Fre, Freya kan? Gu, gue bilangin ya, malam ini, kita gak bubar sebelum, sebelum mabuk!”


Sebastian sudah mulai terbata bicaranya.


Semua yang ada di sana selain Thomas yang tidak minum satu tetespun, hanya Hans yang minum paling sedikit, namun Sebastian terus mengajaknya minum, sehingga dia juga sudah menghabiskan setengah botol.


Dan Hans juga sudah agak mabuk.


Namun ketika Hans mendengar ucapan Sebastian, dia langsung mencegah dengan ucapan yang terbata-bata, “Tu, Tuan muda Sebastian, teman kami Freya juga, juga sudah minum banyak, kalau masih mau minum, gue, gue aja yang minum!”


“Ming, minggir! Kalian semua, kam, kampungan, gue sama dia, mal, malam ini, harus ada, harus ada salah satu yang tumbang!”


“Woi, parah lu! Beraninya ngatain kita kam, kam, kampungan?” Steve yang mendengar ini langsung emosi.


Jayden juga merasa dipermalukan, “Seb, Sebastian, lu, lu ngomong sembarangan lagi, gue, gue buang ke kolam, bair sadar!”


“Ber, brengsek! Ini tem, tempat gue, gue bilangin ya, siapa, siapa yang berani macam-macam?”


“… Heeei? Ba, batu juga dia? Ka, kawan-kawan, bu, buang dia ke kolam!”


Ketika sadar, Hans dan yang lainnya tidak akan berani macam-macam.


Namun kali ini mereka sudah mabuk, mana mungkin masih ingat siapa Sebastian?


Tanpa banyak pikir, hajar dulu.


Semuanya langsung maju dan menyeret Sebastian ke arah kolam.


“Lep, lepasin! Fe, Fre, Freya, kalau hebat, kita, kita duel, minum sampai kering! Gue, gue ini, Master, Master bir, tak terkalahkan…”


Sebelum Thomas datang, dia sudah menduga situasi seperti ini.


Bukannya dia tidak ingin ikut main, tapi dia tahu, pada saat minum harus ada yang tetap sadar.


Dia melihat situasi yang sudah cukup kacau, lalu berpesan pada Freya yang sedang makan, kemudian berjalan ke depan pintu ruangan.


Dia ingin meminta pelayan mempersiapkan sup yang bisa menghilangkan mabuk dan semacamnya.


Di lantai paling atas Tasty ada tiga ruang VVIP, dan setiap pintu ruang VVIP tidak berseberangan.


Ini bertujuan untuk menjaga privasi pengunjung.


Di depan ruang VVIP1 adalah sebuah koridor panjang, bagian paling ujung ada sebuah jendela, disampingnya ada sebuah pajangan yang terbuat dari tembaga, diatasnya ada sebuah asbak rokok.


Ini adalah smoking area yang disediakan untuk pengunjung yang ingin mencari udara segar dan sadar dari mabuknya.


Thomas membuka pintu ruangan, begitu dia mengangkat kepala, di depan jendela berdiri seorang wanita cantik bertubuh super seksi dengan dress hitam panjang.


Dia merasa heran, smoking area ini adalah untuk ruang VVIP 1, ruang VVIP lain tentu saja punya smoking areanya masing-masing.


Saat ini, wanita cantik bergaun hitam ini sedang menghadap ke jendela, seperti yang dibayangkan, tangan kanannya memegang sebatang rokok khusus wanita.


Pelayan berdiri di depan pintu ruangan, melihat Thomas keluar, langsung bertanya dengan sangat sopan apakah ada yang bisa dibantu.


“Tolong buatkan 7 porsi sup untuk meredakan mabuk.” Thomas tersenyum, dan pada saat bersamaan dia mendapati pelayan yang sedang menatap wanita bergaun hitam itu.


“Baik, ditunggu.”


Setelah pelayan mengatakannya, dia langsung pergi menyusuri koridor.


Thomas melirik wanita itu lagi, baru berniat masuk ke dalam ruangan, siapa yang sangka tiba-tiba terdengar suara jeritan terkejut dari belakangnya.


Dia refleks menoleh.


Dan detik berikutnya Thomas dibuat begitu terkejut.


Karena dia melihat tubuh wanita itu sedang terjulur ke luar jendela.


Ingin lompat dari gedung?


Begitu pikiran ini muncul, Thomas refleks berlari mendekat.


Dia merangkul pinggang wanita itu dan menariknya dengan kuat ke arah belakang.


“Kamu itu cantik! Walaupun putus asa, tapi bukan begini caranya. Jangan bunuh diri!”