
"Ah...Ternyata senior seperguruan ya." Joanna terlihat senang.
Di mata Thomas, adik ipar yang memiliki sifat aneh dan egois ini malah sangat mirip seperti seekor tikus yang bertemu dengan kucing.
"Siapa mereka?" Nada bicara pemuda ini tampak tidak senang.
Mata yang jernih itu bagaikan memancarkan aura yang begitu kuat dan dingin.
Dingin yang menusuk tulang dan agak mematikan.
"Kakak seperguruan, namanya Thomas, dia adalah kakak iparku, yang ada di sampingnya ini adalah temannya." Joanna menjulurkan lidah dan menjelaskan dengan ragu.
"Hm? Dia adalah cucu dari tetua Keluarga Levian?"
"Iya, iya, iya, dia orangnya!" Ucap Joanna segera.
Tempat yang terpencil ini merupakan tempat para murid Keluarga Hermawan berlatih juga tempat untuk menjaga pegunungan, orang asing hampir tidak bisa menerobos masuk.
Joanna membawa Thomas ke tempat ini, tujuannya hanya untuk menghilangkan kebosanan saja, namun dia tidak menyangka akan langsung tertangkap basah.
Sementara anak muda ini bukan orang biasa, pemuda ini memiliki kedudukan yang tidak biasa di Keluarga Hermawan, sehingga apapun yang pemuda ini tanyakan, Joanna langsung menjawabnya dengan baik.
Ekspresi pemuda ini berubah, lalu langsung melompat turun dari atap dan langsung mencengkram pergelangan tangan Thomas.
Gerakan ini sangat keterlaluan bagi seseorang yang berlatih ilmu tenaga dalam.
Thomas ingin memberontak namun tubuhnya lemas sampai tidakbisa bergerak, dia berkata dengan panik, :"Apa yang ingin kamu lakukan!"
"Meskipun sudah mencapai tahap penyebrangan awal, namun tetap saja seorang... sampah."
Setelah mendapat kesimpulan, pemuda itu melirik Thomas dengan tatapan mata merendahkan yang sama sekali tidak disembunyikan, lalu berbalik dan pergi seolah sama sekali tidak tertarik pada Thomas.
"Keluarga Levian dan Keluarga Hermawan memiliki hubungan yang erat, ditambah lagi orang tidak berguna ini adalah menantu Keluarga Hermawan, kejadian hari ini boleh diabaikan, tetapi tidak ada lain kali."
"Mengerti, Kakak seperguruan!"
Joanna begitu patuh, namun dia malah membuat ekspresi mengejek di belakang pemuda.
Sampai pemuda berjalan jauh, Joanna baru menepuk dadanya yang berisi dan berkata, "Kaget!"
Ekspresi wajah Thomas terlihat sangat buruk.
Karena pemuda itu tidak menerima kedatangannya, dia juga tidak masalah, lagipula alasan kehadirannya disini juga bukan karena maunya sendiri.
Namun...
Memasang sikap yang angkuh seperti itu untuk diperlihatkan pada siapa?
Seolah sejak lahir dia adalah orang yang memiliki status jauh lebih tinggi dibandingkan semua orang, bahkan begitu membuka mulut langsung mengatainya sampah.
Dia sama sekali tidak bisa melihat rasa hormat sedikitpun.
"Siapa dia, kenapa kamu memanggilnya kakak seperguruan?" Tiba-tiba Thomas bertanya.
"Kamu tidak tahu?" Joanna berseru kaget.
"Kamu tidak bilang, bagaimana mungkin aku bisa tahu!"
Thomas dibuat tertawa olehnya, perasaan kacau sebelumnya seketika dibuat hilang tujuh sampai delapan persen oleh sikap Joanna yang lugu.
"Dia adalah kakak seperguruan yang lebih tua satu generasi dari kami di Keluarga Hermawan!" Ucap Joanna.
"... Lalu?"
"Kakak seperguruan adalah kebanggaan Keluarga Hermawan kami, dia juga pendekar berbakat yang berada di urutan nomor satu di antara delapan clan tertinggi, Clayron Hermawan."
Setelah mendengar ini Thomas hanya mengangkat sudut bibirnya.
Dia selalu merasa heran kenapa Dimas baru menduduki urutan ke-8, sehebat apa orang yang berada di urutan pertama?
Pantas saja...
Thomas mengingat kembali gaya Clayton yang sombong itu, dan rasanya dia memang layak untuk itu.
Setelah berpikir sejenak, Thomas menyadari tatapan mata Winda yang aneh, dan dia hanya bisa tersenyum murung, "Apakah kamu juga merasa aku ini hanya seorang sampah?"
"Bukan..." Winda menarik nafas panjang untuk menahan rasa terkejutnya, "Tadi dia menyebut Keluarga Levian, jangan-jangan kamu adalah..."
Orang yang menggunakan nama Levian sebagai nama belakang tidak banyak, namun termasuk nama yang terkenal... Entah kenapa yang muncul dalam benak Winda adalah seorang tokoh yang sangat luar biasa.
"Kamu harus merahasiakan hal ini..."
"Baik, aku akan merahasiakannya." Ucap Winda dengan yakin.
Setelahnya muncul ekspresi yakin di wajah Thomas.
Jenika pernah mengatakan dia orang tidak berguna, sekarang Clayton murid tertua di Keluarga Hermawan juga mengatakan dia adalah sampah.
Apa itu sampah?
Dimas pernah mengatakan padanya, kalau dia tumbuh besar di Keluarga Levian, berdasarkan energi murninya yang mampu bergerak sendiri saja, sudah dipastikan dia adalah seorang super jenius langka yang tidak akan bisa ditemukan dalam ribuan tahun!
Namun takdir mempermainkan.
Rasa tidak terima tiba-tiba muncul dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Gue harus mencari cara agar gue bisa menjadi kuat, gue gak mau dengar ada yang manggil gue orang gak berguna apalagi sampah, ini benar-benar buruk, sangat buruk!"
Thomas tidak lupa kalau dia sudah berlatih jirus pelindung meiridan dan jiwa, namun dia percaya kalau keajaiban bisa diciptakan.
Misalnya tanpa sengaja dia menemukan kalau dua energi murni yang beradu dalam wadah energi anak menimbulkan energi murni yang sangat murni.
Meskipun dia tetap jauh lebih lemah dari orang yang juga berlatih ilmu tenaga dalam lainnya.
Namun bukankah dia juga sudah menemukan caranya.
Seperti yang Dimas katakan, semua jurus yang ada du dunia ini diciptakan oleh manusia, memangnya dia tidak bisa menemukan jalannya sendiri?
"Kakak ipar, kakak ipar? Orangnya sudah pergi, kenapa masih melamun? Jangan-jangan kamu dibuat shock olehnya!"
Joanna berdiri dihadapan Thomas dan melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Thomas.
"Oh iya Joanna, kamu masih harus berada disini berapa hari?" Tanya Thomas sambil melihat ke arah Clayton pergi.
"Masih ada tuyga hari... Kakak ipar, apakah kamu sudah mau pergi? Tenang saja, kakak seperguruan tidak akan kembali lagi, dan tidak akan ada yang datang."
Joanna berkata dengan cepat dan lugu, dia hanya ingin Thomas tetap tinggal untuk menemaninya, dengan demikian dia bisa melewati tiga hari terakhir yang membosankan.
Ini tidak bisa disalahkan, jika tidak pernah mengalami hidup seorang diri dalam hutan rimba dalam satu bulan, mungkin akan sangat sukit memahami kesepian yang dirasakan.
Apalagi Joanna baru berusia 15 tahun, mana mungkin tahan dengan kehidupan yang sepi dan membosankan seperti ini.
"Tidak, aku memutuskan untuk tetap tinggal, aku baru akan pergi tiga hari kemudian." Ucap Thomas sambil tersenyum.
Setelah diprovokasi oleh Clayton, Thomas langsung sadar.
Meskipun dia adalah penerus yang sudah ditentukan, namun kalau dia tidak berusaha keras, maka panggilan sebagai orang tidak berguna ini akan menjadi labelnya seumur hidup.
Kalau dia mencapai tahap ketiga, ditambah lagi dia menguasai cara untuk menekan energi murni.
Thomas tidak percaya, energi murni yang pekat tidak mampu mengejar jarak dikemudian hari.
Dia berlatih jurus pelindung meridian dan jiwa, kalau tingkat kepekatan energi murni meningkat, makan tingkat kekokohan meridian juga akan meningkat, otomatis persentase bahaya juga akan menjadi nol.
Intinya, berdasarkan cara pikir Thomas, begitulah situasinya.
Namun dia sama sekali tidak tahu kalau pemikirannya ini akan membuat orang-orang yang berlatih jurus tenaga dalam di dunianya mengira dia sudah dikuasai oleh iblis.
Agar membuat meridian menekan energi murni sebisa mungkin, berlatih jurus pelindung meridian dan jiwa sama saja menggunakan tombak paling tajam didunia untuk menusuk perisai terkokoh.
Namun, manusia punya batasan, jika melampaui batasan ini, maka tubuh tidak akan sanggup menahannya, dan pada akhirnya akan berakhir mati dengan tubuh meledak.
Namun Thomas tidak memiliki banyak pilihan.
Jalannya untuk berlatih ilmu tenaga dalamsudah diblokir, ingin maju selangkah lebih jauh hanya bisa memilih jalan lain yang tidak biasa.
Seandainya Thomas tumbuh di keluarga bangsawan yang berlatih ilmu silat, mungkin dia tidak akan memiliki cara pikir seperti ini, sama seperti seorang dokter tidak akan menggunakan resep yang khasiat obatnya tidak jelas.
Latihan orang yang berlatih ilmu silat, karena sudah dijalankan selama bertahun-tahun lamanya, semua sudah menjadi rangkaian sistem pola.
Dan rangkaian pola ini sama sekali tidak memiliki resiko.
Thomas membenturkan dua aliran energi di wadah energi untuk menstimulasi wadah energi menyusut dan menekan energi murni.
Cara semacam ini bukanlah tidak ada yang pernah mencobanya, hanya saja akibat yang ditimbulkan membuat orang itu berakhir tragis, semuanya meninggal dengan tubuh yang hancur lebur.
Dan yang artinya tidak ada satu orangpun yang berhasil.