Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Pemikiran Masing-Masing


Alis Santo berkedut, “Oh? Benarkah? Jadi tidak ada hubungan dengan Tuan Widjaja ya… Kalau begitu aku tidak bisa menerima orang ini sebagai penjamin.”


“Santo! Bukankah sikapmu ini berarti menginjak harga diri Bright Property!”Ivan meraung marah.


Santo brengsek ini malah rela menunduk kepada Thomas, namun sama sekali tidak memandang harga diri Bright Property, apa-apaan ini! Di sela-sela kemarahannya, Ivan juga merasa takut.


Kalau memang Santo tidak mengakui Wanda sebagai penjamin, maka sudah pasti dia yang akan ditahan di sini. Dan ayahnya yang akan menebusnya, dan sudah bisa dipastikan pada saat itu dia akan kehilangan kekuasaannya di Bright Property. Dan Bright Property akan jatuh ke tangan kakaknya!


Seperti yang kita ketahui, bisnis keluarga pada umumnya diwariskan kepada anak laki-laki, sedangkan keluarganya memiliki seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Sesuai tradisi, setelah ayahnya pensiun maka secara otomatis Bright Property akan jatuh ke tangannya.


Dan apabila ayahnya meninggal, dalam surat wasiat yang ditulis beberapa tahun yang lalu sudah tertulis namanya.


Namun kalau kakak perempuannya yang memegang kuasa, maka dia pasti akan memikirkan cara untuk merebut saham Bright Property. Pada saat ini surat wasiat itu hanyalah selembar kertas tidak berguna, dia sudah tidak punya apa-apa, jadi sudah tidak ada gunanya?!


Dia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi! Ini adalah satu-satunya hal yang membuat Ivan benar-benar takut.


 “Tuan Chandra, kenapa aku harus menjaga harga dirimu? Aku adalah pemilik restoran ini, kamu datang kemari untuk makan maka kamu harus membayar tagihannya, ini adalah hal yang sangat wajar.”


Bright Property memang terkenal di komunitas bisnis Jakarta, akan tetapi Santo tidak menganggapnya.


Pada saat ini tiba-tiba Wanda bersuara, “Thomas, apakah kamu setega itu, tidak bisakah kamu memandang hubungan baik keluarga kita dan membantu aku sekali ini saja?”


Sorot matanya penuh dengan tatapan iba, demi kebahagiaan dirinya apalah artinya harga, sudah tidak ada jalan lain!


 “Dasar Thomas sialan, sudah miskin seperti ini tapi masih bisa membuat bos Restoran Tasty membelanya, keberuntungan macam apa yang dia dapatkan?” Wanda mengutuk diam-diam, kalau dia berhasil keluar dari sini dengan lancar, maka dia pasti akan membuat perhitungan dengan Thomas!


Dia sendiri tidak merasa kalau idenya sangat kejam. Dia semakin membenci Thomas sekarang. Kalau bukan karena kemunculan Thomas yang mengacaukan acara makan malam ini, maka dia dan Tuan Chandra sudah pasti makan dengan gembira malam ini. Dan perasaan mereka berdua sudah pasti akan semakin membara, dengan demikian dia hanya tinggal selangkah lagi menuju Nyonya Muda Bright Property!


Tadinya semua baik-baik saja.


Thomas datang ke Restoran Tasty tanpa pemberitahuan, bahkan mempermalukan Tuan Chandra. Yang paling mencurigakan, kenapa dia tidak mengingatkan Tuan Chandra sebelum membuka kedua botol Lafite tersebut? Jadi dia sekarang melihat hidup Wanda sudah jauh lebih baik, makanya dia menggunakan cara busuk, yaitu dengan mempermalukan Tuan Chandra!


Ini adalah isi hati Wanda yang sebenarnya.


Namun yang dia tampilkan di luar adalah sebuah sikap yang memohon belas kasihan. Ekspresi wajah Thomas yang tadinya dingin, sekilas terlihat tersentuh karenanya. Padahal dia sudah tidak ingin ikut campur urusan ini.


Sikap Ivan yang arogan dan mendominasi semakin menjadi, ditambah lagi dengan ekspresi wajah tiga orang keluarga Ningrat yang sangat tidak enak dilihat membuatnya merasa sangat terganggu.


Untung saja dia sudah terbiasa dari dulu, sehingga dia masih bisa menahannya, akan tetapi kali ini Ivan terus-menerus memprovokasinya terlebih dahulu bukan?


Tepat sekali, Thomas tidak mengelak kalau dia merasa senang ketika Ivan dipermalukan.


 Ivan menggunakan kekuasaannya untuk menindas orang, lantas apakah kita tidak boleh membalasnya? Apakah dia, Thomas ditakdirkan harus selalu direndahkan oleh orang lain?


Namun ketika melihat Wanda memohon, dia pun teringat kembali akan hubungan kedua keluarga. Bagaimanapun juga, Wanda adalah teman masa kecilnya.


Akan tetapi, sudah bertahun-tahun Thomas dan ayah angkatnya Tanto Widjaja membantu keluarga Ningrat, lantas kenapa tidak membantu sekali lagi? Thomas menghela napas dalam-dalam dan membuat keputusan.


 “Bos Santo, aku dan Wanda memang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, akan tetapi Martin dan ayah asuhku Tanto Widjaja adalah teman baik ……”


Ayo, memohon, memohonlah. Thomas merasa sangat sulit membuka mulut, dulu dia memang miskin, namun dia miskin dengan bermartabat. Mana pernah memohon pada orang lain.


“Aku…… setuju kalau Wanda jadi penjamin Ivan.”


“Kak!” Luna merasa gemas hingga mencubit Thomas.


Tapi tetap saja Thomas tidak bergeming.


Sutrisno yang sejak tadi diam saja, menjadi tertarik melihat situasinya. Di zaman sekarang ini sangat jarang ada seorang anak orang kaya yang bersedia membalas kebencian dengan kebaikan!


Tiba-tiba dia teringat, bukankah dia punya seorang putri yang nakal …?


Dia menilai Tuan Widjaja ini bukan hanya berdasarkan background keluarganya akan tetapi karakternya juga. Dia tidak takut kalau Thomas orang miskin, selama Thomas bersikap baik pada putrinya, maka semuanya bisa dibicarakan.


Uang? Sutrisno berjuang dengan susah payah dari bawah hingga bisa mencapai posisinya yang sekarang, dia sudah melihat dengan jelas karakter orang-orang, memang kenapa kalau punya ladang emas dan perak?


Kemampuan finansialnya sangat cukup untuk menjamin hidup putrinya bahagia. Terlebih lagi, Tuan Widjaja ini adalah ……


Ketika Sutrisno sedang berangan-angan, Santo juga menampilkan sebuah senyuman kagum.


“Karena ini adalah permintaan Tuan Widjaja, maka saya pun tidak berani menolaknya”


Kemudian dia menoleh ke arah Ivan dan berkata dengan datar, “Kamu boleh pergi, namun aku ingin mengingatkanmu. Tuan Chandra, ingat baik-baik janjimu.”


Ivan akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Sudah beres! Dia sangat beruntung!


Tunggu saja! Santo! Thomas! Kalian tunggu dan lihat saja! Aku pasti akan membalaskan dendam ini!


Tidak lama lagi, aku akan membuat kalian berlutut dihadapanku, menangis sambil menjilati sepatuku!


Pandangan Ivan terus berputar di antara Santo dan Thomas, sorot matanya terlihat begitu keji.


Kemudian dia berjalan ke hadapan Wanda dan membujuknya, “Wanda, tatap aku, dalam waktu 3 hari ini aku pasti akan membawamu keluar dari sini, dan pada waktunya aku akan mengumumkan hubungan kita pada ayahku lalu menikahimu!”


Ivan berkata dengan tenang dan mantap. Pertama, karena dia telah meneguhkan hatinya pada Wanda; yang kedua, dia sengaja pamer di hadapan Thomas.


Dia telah lupa, kalau bukan Thomas yang memohon, maka dia, Tuan Chandra ini hanya bisa menunggu belas kasihan dan menunggu ayahnya datang membawa 20 miliar untuk menebus dirinya. Selesai mengatakan ini, dia membawa belasan orang tersebut menerobos kerumunan satpam dan bergegas pergi.


Melihat situasi ini, Sutrisno pun tidak ingin berlama-lama. Setelah dia dan Thomas bertukar kontak telepon, dia dan Jony segera pergi dari Restoran Tasty.


Menurutnya, hasil panen malam ini cukup besar. Sutrisno sudah tidak berniat memikirkan acara perjamuannya yang lain, yang dia inginkan sekarang adalah cepat pulang dan mengatur semuanya secepat mungkin.


“Tuan Muda, ayo kita pergi.”


“Ayo.” Thomas menganggukkan kepala.


“Kalau begitu aku akan menunggu Anda di pintu depan.” Dimas tersenyum kecil kemudian pergi dari ruangan VVIP 1.


“Tuan Widjaja, sebenarnya anda tidak perlu pergi terburu-buru, ruangan VVIP ini bisa anda pergunakan sampai besok pagi sebelum pukul 10. Kalau Anda tidak keberatan, aku bisa menemani Anda minum barang segelas atau dua gelas, bagaimana?” Santo memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya.


Hari ini dia merasa sangat puas, akhirnya Tuan Widjaja berutang budi padanya.


“Hm, baiklah, kalau begitu mari saya antarkan?”


“Tidak usah, saya bisa jalan sendiri. Malam ini sudah sangat merepotkan Anda, Bos Santo.”


Thomas menatapnya dengan tatapan berterima kasih.


 “Ah, Tuan Widjaja, tidak usah sungkan. Kalau Anda sesungkan itu, aku akan merasa tidak senang.” Dia berpura-pura kesal, “Tidak usah panggil Bos Santo, kalau anda tidak keberatan panggil saja Santo atau Kak Santo  juga boleh.”


Thomas, “……”


“Namun aku berharap nantinya Tuan Widjaja bisa sering datang kemari kalau ada waktu luang, pokoknya kalau Anda datang maka akan aku gratiskan. Dan kalau Anda suka dengan ruangan VVIP 1, maka mulai dari sekarang ruangan itu aku khususkan hanya untuk Anda seorang.”


 “Tidak, tidak usah, terima kasih atas niat baikmu, kalau begitu aku pergi dulu!”


Tatapan Thomas menyapu wajah Wanda sekilas, kemudian dia menggandeng tangan Luna, dan tidak menoleh lagi ke belakang.


 “Kamu bener-bener ya!” Martin menatap Wanda kemudian menepuk dadanya dengan kesal, lalu menatap Thomas yang berjalan menjauh. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu lalu menyeret Milan untuk mengikuti langkahnya.