
“Thomas! Tunggu Om dulu!”
Martin mempercepat langkah kakinya, akhirnya berhasil menahan pintu lift sebelum tertutup, lalu menyusup masuk bersama Milan.
“Ada apa lagi?” tanya Thomas dengan datar.
Semua yang sudah dilakukan oleh Keluarga Ningrat sudah tidak ingin dia permasalahkan lagi, cukup anggap dirinya sudah buta beberapa tahun ini.
Tentu saja Martin menyadari ada yang salah dengan sorot mata Thomas, begitu teringat sikap dingin juga sinisnya terhadap Thomas, sontak membuatnya merasa malu dan bersalah.
Sejak Tanto meninggal, Keluarga Widjaja mengalami kehidupan yang sulit. Karena Silvia yang terlalu sedih menyebabkan dirinya mengidap penyakit jantung yang cukup lama.
Ketika itu Luna baru Kelas 1 SMA, sehingga semua beban Keluarga Widjaja dibebankan pada Thomas.
Thomas berhenti sekolah dan segera mendapatkan pekerjaan.
Mengenai biaya pendidikan Wanda yang diberikan oleh Thomas, dia juga mengetahui hal itu, hanya saja dia pura-pura tidak tahu.
Namun dia punya kesulitannya sendiri!
Setelah bisnisnya bangkrut, dia menjadi seorang karyawan biasa di perusahaan makanan, setelah berjuang bertahun-tahun lamanya, akhirnya dia bisa naik jabatan menjadi wakil manajer divisi pemasaran.
Kematian Tanto, sempat membuatnya ingin membantu keuangan Keluarga Widjaja.
Karena gajinya hanya 20 juta, dan gaji Milan yang menjadi akuntan hanya 8 jutaan.
Kelihatannya banyak uang, namun mereka harus menyisihkan sebagian untuk tabungan uang kuliah Wanda.
Dia juga sungguh tidak berdaya!
Bulan lalu, Wanda tiba-tiba meneleponnya, kalau dia sudah mendapatkan pacar yang baru.
Reaksi pertamanya ketika mengetahui kabar ini cukup kesal.
Namun ketika dia melihat latar belakang keluarga Ivan yang kuat, membuat Martin harus mengalah.
Dia berpikir, asalkan Wanda menikah dengan Tuan muda keluarga Chandra ini, maka status sosial keluarganya juga akan ikut terangkat.
Meskipun kelihatannya dia bersalah pada Tanto, namun pada saatnya tiba, dia cukup memberikan uang 80 jutaan untuk ganti rugi seharusnya tidak akan merugikan Keluarga Widjaja.
Manusia berjalan ketempat yang tinggi, air mengalir ke dataran rendah, dia tidak punya alasan untuk mengorbankan putri semata wayangnya, membiarkannya hidup miskin dan menderita bersama dengan Keluarga Widjaja.
Lalu, tuan muda keluarga Chandra ini membicarakan sebuah proyek.
Dia memintanya untuk mengundurkan diri dan menjadi penanggung jawab hukum proyek ini.
Bahkan berjanji akan memberikannya saham 3%!
Sehingga dia langsung memutuskan untuk bekerja sama dengan Ivan!
Berikutnya dia menerima telepon dari Thomas, dan seterusnya bertemu secara kebetulan malam ini.
Dia sungguh tidak percaya Thomas punya uang sebanyak itu untuk makan di tempat mewah seperti ini.
Namun satu demi satu kenyataan membuktikan bahwa dia mungkin sudah salah, bahwa Thomas sepertinya memang punya kemampuan untuk itu.
Sutrisno Anggoro begitu hormat padanya, Jony lebih jangan ditanya lagi, Santo Cendana pemilik Restoran Tasty juga harus mengalah dihadapan Thomas.
Dan yang terpenting adalah, setahu dia semua bill Thomas hari ini digratiskan oleh Santo…
Sekali makan saja sudah 32 miliar…
Sekali makan, meskipun Martin menggunakan seluruh umurnya untuk bekerja pun tidak akan mampu menghasilkan uang sebanyak itu.
Darimana datangnya kemampuan Thomas yang begitu besar?
Apakah beberapa waktu ini Thomas berhasil menemukan jalan pintas untuk menjadi kaya?
Memikirkan semua ini, Martin sungguh merasa kesal, kalau saja ketika itu dia tidak merestui hubungan Wanda dan Ivan, mungkin dia tidak akan melewatkan ini.
Bagaimana pribadi Ivan yang sebenarnya, malam ini dia sudah melihatnya dengan jelas.
Ucapan orang seperti itu mana bisa dipercaya, dia bicara dengan begitu gagah kalau semua makan dan yang ada dalam ruangan itu dia yang bayar.
Namun pada akhirnya bukan hanya kehilangan harga diri dan tidak menepati janji, dia bahkan membuat Martin ikut terjerat masalah!
Meskipun dia tidak termakan ucapan Ivan, namun Wanda malah terjerumus dalam lubang yang digali oleh Ivan!
Masalah ini jelas-jelas masalah diantara Ivan dan Thomas, kenapa harus menjerumuskan mereka sekeluarga?
Sehingga membuat kebencian Martin yang tadinya mengarah pada Thomas bertolak kepada Ivan.
“Thomas, hehe, bocah ini ya, sejak kapan kamu menjadi sukses, kenapa tidak memberitahu Om? Kamu tidak tahu saja, Om merasa begitu bangga dengan semua pencapaianmu sekarang, Tanto di alam baka sana juga pasti akan berpikiran sama denganku!”
Martin menghela nafas panjang dan berkata dengan ekspresi yang begitu sedih.
“Huh! Kakakku sukses atau tidak apa urusannya denganmu?”
Tatapan mata Luna penuh dengan rasa sinis, kebencian terlihat jelas tanpa tertutupi.
Ketika kakaknya tidak punya uang, Keluarga Ningrat menghindarinya bagaikan melihat seekor ular berbisa, sekarang sudah punya uang, ekspresi wajahnya langsung berubah!
Awalnya dia ingin memaki mereka tidak berperasaan, kacang lupa kulitnya, manusia brengsek dan sebagainya!
Namun memandang hubungan baik antara kedua keluarga selama 20 tahun lebih, ditambah lagi pandangan Luna kalau Martin ini adalah orang yang lebih tua darinya, membuatnya tidak bisa keluar dari mindset seperti ini sehingga terbelenggu di sana.
......
Luna ada seorang pelajar yang sopan dan santun.
“Gadis satu ini…”
Milan melirik sinis dan hampir akan mengamuk, namun Martin sudah membungkam mulutnya terlebih dahulu.
Martin memperlihatkan senyum yang tidak alami, dia berpura-pura geram, “Dasar gadis ini, bagaimana kamu boleh bicara seperti itu pada Om? Sebelumnya itu semua hanya salah paham! Aku hanya khawatir Thomas salah jalan, apakah kamu tidak bisa memahami perasaan Om?”
Penjelasan ini sepertinya tidak memperlihatkan hasil yang seharusnya.
Wajah Luna juga Thomas sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
Suasana terasa begitu penuh tekanan.
“Tinggg!”
Lift sampai di lantai 1, Luna menarik tangan Thomas dan langsung berjalan keluar dari lift, dia tahu Thomas akan merasa iba, kalau sampai terus mendengarkan ucapan Martin maka dia pasti akan luluh.
Martin begitu panik, sungguh tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, beberapa kali dia ingin membuka mulut namun beberapa kali malah seperti tercekal di tenggorokkannya.
Ketika dia memutuskan untuk tidak lagi memikirkan harga dirinya, dia sudah ikut dengan Thomas sampai di depan restoran.
Tiba-tiba Thomas berbalik dan bertanya, “Om, apakah masih ada urusan lain?”
Begitu mendengar panggilan om ini, Martin langsung merasa dirinya jauh lebih relaks.
Sepertinya jurusnya cukup ampuh!
“Thomas, begini, om hanya ingin bertanya, apakah kamu sangat akrab dengan pemilik Restoran Tasty ini?”
“Hmm, tidak.” Thomas menggeleng.
Sementara Martin tidak beranggapan demikian, namun ucapan Thomas kalau dia tidak akrab membuat Martin tidak tahu harus bagaimana melanjutkan ucapannya.
Milan yang berada disampingnya malah tidak bisa menahan diri lagi, dia sudah cukup melihat Martin yang seperti itu.
Kedua tangannya disilangkan dan berkata dengan tidak sabar, “Thomas! Tante katakan saja apa adanya, karena kamu mampu meminta Bos Santo membiarkan Wanda menjadi penjamin Ivan, maka kamu pasti mampu meminta Bos Santo melepaskan Wanda!”
Awalnya Martin mengira Milan akan berbasa basi dulu, siapa sangka begitu maju dia langsung bicara dengan begitu blak-blakan, bahkan dia ingin mencegah pun sudah tidak keburu lagi.
“Tutup mulutmu! Bagaimana kamu bisa bicara seperti itu dengan Thomas!”
Thomas tetap menggeleng dengan tenang, “Maaf, aku tidak bisa melakukannya!”
“Kenapa tidak bisa? Wanda…”
“Milan, tutup mulutmu! Apakah kamu tidak dengar apa yang baru saja kukatakan!” ekspresi wajah Martin berubah drastis dan hendak membungkam mulut Milan.
Namun Milan malah panik dan mendorong Martin sampai mundur beberapa langkah.
Dia mengelak dengan bangga, dan lanjut berkata dengan lantang, “Wanda tidak boleh berada di sini, dia masih harus kembali ke kampus, anggap tante memohon padamu hari ini, bantulah aku, keluarkan Wanda!”
Thomas menghela nafas, lalu berkata, “Aku punya kemampuan yang terbatas, aku sungguh tidak sanggup.”
“Kamu jangan bilang tidak sanggup, tante tidak suka mendengarnya!” Milan sungguh emosi, dadanya naik turun, “Kalau tidak begini saja, aku pikirkan caranya untukmu! Kamu pergi dan katakan pada Bos Santo, katakan kamu bersedia menjadi penjamin Wanda dan Ivan, bukankah dengan begitu semuanya selesai!”