Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 91 Tabib Dewa – Heru Lumawa


Freya tetap menggosok tangannya dengan perlahan, dia seolah tidak terpengaruh oleh teguran Thomas.


Ketika dia mencuci bersih darah yang ada di tangannya, dan mendapati Thomas masih menunggu penjelasan darinya, membuatnya terlihat begitu panik.


Freya mengangkat kepalanya perlahan, lalu berkata dengan tenang, “Thomas, nyawaku ini… tidak berharga, berbeda dengan nyawamu yang sangat berharga… lagi pula, kamu masih punya Tante Silvia dan Luna yang harus dijaga. Berbeda denganku, aku tidak punya keluarga, jadi…”


“Cukup! Jangan katakan lagi!” Thomas memotong ucapan Freya.


Setelah diam sejenak, dia berkata dengan suara pelan, “Nyawa kita sama, tidak ada nyawa yang lebih berharga atau tidak berharga, aku mau kamu berjanji, lain kali tidak boleh begitu lagi.”


“Baik, aku janji.” Freya segera mengangguk.


Thomas membuka mulutnya, namun tidak tahu harus mengatakan apa, dia hanya bisa menemani Freya berjalan menyusuri jalan menuju ke pusat kota.


Sebenarnya, kekejaman Freya itu cukup membuat Thomas terkejut, dia khawatir Freya akan melakukan hal gegabah suatu saat nanti.


Freya terlihat begitu lemah, namun itu bukan sifat aslinya, sifat dia yang sebenarnya sangat keras.


Sama seperti Ivan, melihat Freya yang begitu kalem, lalu dengan tidak tahu dirinya sok kuat, pada akhirnya dia bahkan tidak punya kesempatan untuk berlutut dan meminta ampun.


Dalam hati Thomas berpikir, dia harus mencari waktu untuk membicarakan hal ini dengan Freya.


Mereka berada di pinggiran kota, daerah terpencil yang hampir tidak ada kendaraan yang lewat. Sehingga mereka berdua mau tidak mau harus berjalan kaki.


Ketika Thomas membawa Freya berjalan sampai ke perbatasan, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.


Dia baru berencana memanggil sebuah taksi, namun Dimas menelepon.


“Tuan muda, Anda di mana?” tanya Dimas.


Thomas segera memberitahukan posisi mereka secara mendetail.


“Begini tuan muda, malam ini Anda ada janji, aku takut Anda lupa, jadi mengingatkanmu.”


Thomas tercengang, tiba-tiba dia teringat kalau dia memang ada janji, kemarin dia mengajak Hans dan yang lainnya untuk makan di Tasty malam ini.


“Oh! Iya gue ingat!”


“Tuan muda, apakah aku perlu menjemputmu?” tanya Dimas lagi.


“Gak perlu, lu temenin mama sama Luna di rumah saja, gue bakal pulang tepat waktu.”


Setelah mematikan telepon, Thomas mengendarai mobilnya langsung menuju Tasty.


......


Di sisi lain.


Waktu mundur satu jam.


Lantai teratas kantor pusat Bright Property.


Ruang Direktur.


Seorang pria paruh baya berusia 40 tahunan dengan ekspresi yang datar duduk di sofa.


Dan yang di seberangnya, duduk orang tua yang bertubuh kurus kecil dan berdagu lancip.


Berbanding terbalik dengan jas pria paruh baya yang rapi, orang tua ini malah mengenakan setelah baju yang besar dan berwarna abu tua.


Dia mengulurkan satu tangannya dan meletakkannya di atas pergelangan tangan pria paruh baya, matanya merunduk seperti terpejam namun tidak.


Setelah sejenak, orang tua itu membuka matanya yang berbentuk segitiga.


“Bos Chandra, penyakitmu sudah tidak apa, beberapa hari lagi seharusnya kau akan sembuh total.”


Sorot mata pria paruh baya itu seketika langsung berbinar dan penuh dengan emosi. “Master Heru, apakah kamu serius? Penyakitku yang mematikan ini benar-benar sudah diobati??”


“Haha, mungkin penyakit seperti ini adalah semacam penyakit yang tidak ada obatnya di dunia, tapi bagi saya, ini adalah sesuatu yang sangat muda.” Orang tua itu mengelus jenggot putih yang hanya ada beberapa helai di dagunya sambil berkata dengan santai.


“Sakti, benar-benar sakti! Master Heru, pengobatanmu ini sudah pernah aku dengar sebelumnya…”


Saat ini Adrian merasa begitu emosional, sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Dia menderita kanker prostat, selama dua tahun ini, dan sudah berobat ke seluruh Indonesia hingga luar negeri. Namun, semua usaha itu hanya bisa mengundur waktu kematiannya saja.


Saat ini dia baru berusia 40 tahunan, bagi seorang pebisnis yang sukses, ini merupakan masa paling berharga dalam kehidupan bisnisnya.


Menderita penyakit mematikan seperti ini, Adrian sama sekali tidak berani mengatakannya pada siapapun, begitu lawannya mengetahui kondisinya, maka Bright Property akan mendapatkan berbagai macam serangan.


Hubungan keluarganya yang rumit, akan tercerai berai terlebih dahulu.


Biasanya Adrian akan mengabaikan kabar semacam ini.


Namun  penyakitnya sudah tidak bisa ditunda lagi, kalau dibiarkan terus memburuk, maka yang menunggunya hanya jalan menuju ke akhirat.


Dalam keadaan terdesak mau tidak mau berobat kemana saja, dia pergi dengan harapan 1 per 10.000.


Sebelum pergi, kebetulan dia punya hubungan kerja sama dengan sebuah perusahaan yang ada di luar negeri, Adrian berencana menyerahkan urusan tanda tangan kontrak kerja sama kali ini pada putrinya Winda Chandra.


Kabar yang dia sebarkan di luar, kedua ayah dan anak Keluarga Chandra ini sedang dinas keluar negeri untuk membicarakan kerjasama di luar negeri.


Begitu tiba di bandara, Adrian menggunakan urusan mendadak sebagai alasan, lalu menyerahkan kuasanya pada Winda, sekaligus memintanya merahasiakan hal ini.


Kemudian mereka berdua berpencar, Winda keluar negeri membicarakan kerjasama, sementara Adrian pergi mencari tabib dewa itu.


Setelah berusaha keras berkali-kali, akhirnya Adrian berhasil bertemu dengan Master Heru yang ada di hadapannya ini.


Dan yang membuatnya senang adalah, hanya dua kali pengobatan dengan Master Heru saja, kondisi penyakitnya sudah mengalami perubahan yang sangat signifikan, dan tanggal kepulangan Winda juga sudah semakin dekat.


Oleh karena itu, dia memohon kepada Master Heru untuk turun gunung agar memudahkannya berobat.


Dan karena hal inilah ada pemandangan yang sekarang.


Ketika Adrian masih ingin mengatakan sesuatu untuk mengutarakan rasa terima kasihnya.


Pintu tiba-tiba terbuka, sekretarisnya masuk dengan tergesa-gesa.


Adrian punya sebuah kebiasaan, ketika dia sedang ada tamu, dia tidak suka diganggu, kalau tidak dia akan langsung mengamuk.


Namun ketika dia melihat wajah panik sekretarisnya, dia begitu terkejut, dan langsung menyadari ada hal buruk yang telah terjadi.


Namun yang tidak disangkanya yaitu kabar bahwa putra bungsunya Ivan Chandra ditikam belasan kali oleh seseorang!


Dia langsung berdiri dari sofa dengan wajah yang terlihat begitu menakutkan.


Dan langsung berkata, “Siapkan mobil.”


......


Adrian membawa Master Heru ke rumah sakit dengan segera.


Dan pada saat bersamaan, Ivan baru saja tiba di rumah sakit dengan mobil van yang dibawa oleh keenam orang preman.


Lokasi kejadian berada di pabrik tua pinggiran kota yang terpencil.


Oleh karena itu para preman ini membawa Ivan ke rumah sakit dan menelepon untuk memberi kabar.


Tidak sampai lima menit, Adrian tiba.


Saat ini wajah Ivan begitu pucat, dia berbaring di atas ranjang, dan dokter sedang bersiap mendorongnya masuk ke ruang penanganan darurat.


“Eh? Tunggu!”


Tiba-tiba, Master Heru menghentikan para dokter dan perawat.


“Pak, korban ditikam sebanyak 15 tusukan, nyawanya terancam, Anda malah menghalangi kami menyelamatkannya!!”


Seorang dokter memarahinya.


Master Heru sepenuhnya mengabaikan teguran dokter, tangannya mencengkram satu sisi ranjang.


Kelihatannya dia tidak menggunakan tenaga, namun tiga orang dokter dan perawat sama sekali tidak mampu menggeser ranjang tersebut.


Adrian yang berdiri di samping begitu kesal sampai rasanya ingin menendang orang itu.


Dia ini putra satu-satunya, sekarang nyawanya terancam, apa maksudnya berbuat demikian, apakah dia ingin membuatnya kehilangan penerus?


Namun begitu mengingat penyakitnya masih belum sembuh sepenuhnya, dia hanya bisa menahan amarahnya dan berkata dengan suara berat: “Master Heru! Mohon bermurah hatilah! Nyawa putraku sedang di ujung tanduk sekarang, dia butuh pertolongan segera!”


Di mata Adrian, penyakit dan luka parah adalah dua hal yang berbeda, meskipun Heru memiliki teknik pengobatan yang sangat hebat, namun sama sekali tidak berguna bagi luka Ivan.


Inilah perbedaan antara spesialis penyakit dalam dan luka luar, berbeda jalur.


“Jangan panik, tunggu sebentar.”


Master Heru tidak peduli, dia membuka kelopak mata Ivan dan melihat keadaannya.


Lalu dia berdiri tegak, namun tangan yang mencengkram ranjang pasien sama sekali tidak terlihat merenggang.


Matanya yang berbentuk segitiga menatap Adrian dengan tatapan yang aneh, “Pak Adrian, kamu jangan panik, dengarkan ucapanku, putramu ini sudah lewat dari masa kritis, tapi jika pertolongannya tertunda oleh para dokter naif ini, kelak… dia pasti akan lumpuh!”