Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 114


"Aaaa! Jangan masuk!"


Tangan Thomas memeluk dadanya, kedua kakinya mengapit erat dan berteriak dengan panik.


"Jangan takut, aku hanya mengantarkan pakaian ganti..."  Winda menekan dadanya yang berdebar kencang dan segera menjelaskan maksutnya.


Setelahnya, dia menyodorkan sebuah kimono yang lebar dan besar.


Thomas tercengang, "Tidak, aku hanya..."


"Cobalah, di rumahku sama sekali tidak ada pria..."


Winda mengetatkan bibirnya dengan wajah yang sudah merah merona.


"Gak apa-apa, lebih baik aku tetap di dalam toilet saja!" Thomas tetap menolak.


"Tapi, di rumahku hanya ada satu toilet."


Thomas langsung memahami situasi ini, tidak mungkin Thomas berlama-lama di toilet.


"....Kalau begitu baiklah, aku, aku akan memakainya!"


......


Lima menit kemudian.


Thomas duduk di sofa dengan wajah cemas, dia mengambil sebuah bantal dan meletakan di atas paha.


Winda duduk di samping sambil memainkan jarinya tanpa sadar.


Intinya, selama beberapa menit ini hatinya penuh dengan pergumulan.


Setelah beberapa saat Winda membuat suara yang terdengar seperti nyamuk yang berdengung, "Aku sudah memasukkan bajumu ke dalam mesin cuci, nanti setelah diperas aku akan menjemurnya, seharusnya besok pagi sudah kering... itu, baik-baik saja...?"


"Uhm, ah, iya..."


"Parah? Melepuh tidak?"


Thomas: "..."


Begitu ucapan ini terlontar, Winda langsung menutup mulutnya, seolah ingin memasukkan kembali kata-katanya.


Dia hanya khawatir dan tidak ada maksut lain.


"Tidak..."


"Hmm, kalau begitu tidurlah di sini. Aku akan tidur di kamar."


Setelah mengatakannya, Winda kabur masuk ke dalam kamar. Secara reflek dia menekan dadanya yang berderar sangat kencang.


Seolah seisi kamar penuh dengan detak jantungnya.


"Kenapa jadi begini!" Winda benar-benar merasa kesal.


Ketegasan dalam berbisnisnya menguap malam ini.


Entah kenapa, dia begitu kacau. Kekacauan ini pun terasa tidak biasa.


Awalnya, dia hanya berniat ikut Thomas pergi bersama.


Sehingga dia memutuskan untuk kembali dan bertanya. Namun,  sebenarnya dia hanya memanfaatkan ucapan ini untuk memulai pembicaraan saja.


Siapa yang menyangka Thomas langsung mengiyakannya.


Dia pikir minum segelas kopi tidak masalah, sehingga mengajaknya naik, dengan demikian dia juga bisa bicara dengan lebih leluasa dan tidak terlalu sembrono.


Siapa yang menyangka...


......


Thomas juga tidak pernah mengalami hal seperti ini. Dia ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding, apa-apaan ini!


Namun semua sudah terjadi, dia juga tidak berdaya, dan hanya bisa menunggu sampai bajunya kering besok pagi.


Dia sudah mengirim pesan kepada Dimas untuk memberitahu kalau dia akan ke sana besok pagi.


Tidak lama berselang, Winda sudah mengenakan piyama dan berjalan ke toilet untuk mengeringkan pakaian Thomas dengan kepala menunduk.


"Tunggu... Winda, aku bisa bicara sebentar tidak?" tiba-tiba Thomas buka suara.


Dalam seketika, Winda langsung menghentikan langkahnya.


Thomas berkata dengan wajah bingung, "Kenapa kamu tidak meminjamkan piyama ini padaku?"


Begitu mendengar ucapan ini, Winda langsung tercengang.


Tadi dia benar-benar panik, sampai dia lupa di dalam lemari dia masih ada piyama yang sudah lama tidak dia kenakan. Malah dia mengambilkan sebuah kimono untuk dikenakan oleh Thomas.


......


Setelah lima menit berlalu.


Thomas mengenakan piyama, Winda mengenakan kimono.


Akhirnya Thomas merasa lega, akhirnya dia tidak merasakan angin semriwing di sana lagi.


Setelah Winda selesai menjemur pakaian, dan dia kembali ke kamarnya.


Malam ini Winda tidak bisa tidur.


Sementara Thomas tertidur dengan sangat nyenyak.


......


Begitu fajar menyingsing, Winda langsung duduk di atas ranjang, bisa dikatakan dia tidak bisa tidur sepanjang malam.


Begitu melihat jam, sudah jam 6.


Dia membuka pintu kamar, mengintip dari celah pintu, mendapati Thomas yang entah sejak kapan terbaring di lantai.


Winda menutup pintu.


Thomas tidur pulas bagaikan pingsan, karena dia melalui terlalu banyak hal kemarin, misalnya penculikan Martin.


Sebenarnya beberapa tahun ini dia melalui setiap harinya dengan sangat produktif.


Winda menyelimutinya perlahan.


"Sebenarnya anak ini lumayan tampan juga."


Memikirkan hal ini, wajah Winda langsung merona.


Pandangannya tanpa sadar tertuju pada bagian yang terkena kopi panas, dan jantungnya kembali berdegup kencang.


"Parah! Rendahan! Pakai jurus ini lagi..."


Seolah memimpikan sesuatu, kedua tangan Thomas bergerak beberapa kali.


Winda sempat terkejut, ketika mendapati Thomas sedang mengigau, dia langsung tersenyum dibuatnya.


Lalu dia berdiri dan kembali ke kamar.


Jam 7.


Ponsel berdering, Thomas juga terbangun.


"Kak, kakak dimana? Kata Dimas kita harus berangkat jam 8!"


Begitu menekan tombol jawab, langsung terdengar suara Luna.


"Oh... hah! Oh iya, otw!"


Dalam sekejap, Thomas langsung teringat urusan hari ini, sekarang dia masih harus ke bandara untuk boarding!


Dia langsung berdiri dan berlari ke teras untuk mengambil baju yang sudah kering dijemur, lalu segera menuju ke toilet.


Setelah berganti pakaian, Thomas baru membuka pintu toilet, dia langsung melihat Winda yang berdiri di depan pintu.


"Ini adalah sikat gigi, di toilet ada pasta gigi... kamu boleh mengenakan handukku." Winda berusaha bersikap senetral mungkin.


"Oh, terima kasih!" Thomas menerimanya lalu segera menutup pintu.


Setelah bersih-bersih singkat, sorot mata Thomas tanpa sadar tertuju pada handuk yang tergantung di samping.


Dia berpikir sejenak, menariknya dari gantungan dan mendekatkannya ke wajah lalu menciumnya, "... harum sekali."


......



Keluar dari toilet, Thomas langsung memakai sepatu lalu pergi setelah berpamitan dengan Winda.


Namun pada saat bersamaan, Winda muncul dengan mengenakan baju olahraga dengan topi baseball sambil menggendong ransel, tidak lupa mengenakan sepatu kets.


"Thomas, liburan kali ini, aku boleh ikut tidak?"


Winda merasa tegang, dia takut akan ditolak.


Semalam dia sudah berpikir.


Dan juga dia merupakan wanita yang memiliki sebuah prinsip, begitu mengincar sebuah target, dia akan langsung bergerak dengan cepat.


Dia sama sekali tidak merasa malu, kalau tidak dia tidak mungkin mendapatkan semua ini sekarang dengan mengandalkan kerja kerasnya sendiri.


"Ha? Boleh kok!"


Setelah sempat tercengang, akhirnya Thomas mengijinkan dengan senang hati.


Tidak ada yang perlu dibereskan, barang bawaan dia, Luna juga Freya sudah ada dalam mobil.


Begitu turun dari gedung mereka langsung menuju King Kalman dan melaju ke Tasty.


Pukul 07.50.


Thomas mengendarai mobilnya ke parkiran basement, lalu mereka berdua naik lift naik ke lantai 1.


Pada saat ini semua orang sudah menunggu lama di lobby utama.


Santo juga ada disana.


"Kak, siapa nih?" tanya Luna sambil melirik Winda.


Thomas hanya tertawa, baru ingin mengatakan sesuatu, Winda sudah terlebih dahulu mengulurkan tangannya sambil tersenyum, "Halo, namaku Winda, aku adalah teman Thomas, kamu pasti adiknya yang bernama Luna ya, kamu cantik sekali."


"Apa... teman?" mata Luna langsung terbelalak, dan refleks melihat kearah Freya.


Thomas juga ikut menoleh.


Namun sama sekali tidak ada perubahan besar di wajah Freya, hanya saja menjadi pusat perhatian semua orang seperti itu membuatnya lebih berhati-hati.


Begitu melihat suasana yang aneh, Santo langsung mencairkan suasana, "Semuanya, mobil sudah siap, waktu terus berjalan, kita bicara lagi nanti."


"Iya, iya, benar, pesawat tidak menunggu orang!" Thomas langsung menimpali.


Begitu dia mendengar Winda akan ikut dengannya, dia merasa begitu senang sampai lupa kalau perjalanan ini ada Freya yang ikut.


Semua orang pergi, empat mobil Audy sudah berhenti di samping.


Santo berkata sambil tertawa dengan senang, "Thomas, Sebastian titip kamu dulu ya."


"Tenang saja Kak Santo." Thomas mengangguk.


Ada Dimas si petarung tangguh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Aku disini mendoakan semoga kalian lancar."


Santo menepuk bahu Thomas.


"Huh, ayo jalan!" Luna seperti habis menelan bubuk mesiu, setelah memelototi Thomas, dia langsung pergi dengan menggandeng Freya.