Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 74 Apakah Kamu Bisa Menemaniku


Mendengar tangis Wanda, Thomas langsung bingung.


Wanita ini mau apa lagi?


Meskipun Thomas tidak ingin mendengar apapun mengenai Keluarga Ningrat, namun ini berhubungan dengan nyawa manusia.


Kalau sampai Wanda bunuh diri, dan telepon terakhir sebelum meninggal ada panggilan telepon untuknya, meskipun dia tidak akan dalam masalah, tetapi dia akan merasa tidak tenang seumur hidup.


Mau tidak mau Thomas melunakkan nada bicaranya, “Wanda, lu jangan berpikir sembarangan, kamar 1345 kan, gue kesana sekarang.”


“Huhuhu~, Thomas, aku benar-benar tidak ingin hidup lagi… cepatlah datang, aku tunggu, huhuhu~!”


Setelah menutup telepon, tangis Wanda langsung terhenti.


Dia mengangkat tangannya yang mengepal dengan begitu girang, dan pada saat bersamaan senyum penuh kesuksesan mengembang di wajahnya.


“Dasar bocah, pada akhirnya lu tetap gak bisa lepas dari cengkraman gue kan, tunggu aja Thomas, hari ini gue bakal bikin lu naik ke ranjang gue~!”


Wanda sudah mempertaruhkan semuanya.


Dia bahkan menggunakan tubuhnya sebagai taruhan, kali ini dia sudah bersiap menghalalkan segala cara.


Dua hari yang lalu, dia bertengkar hebat dengan Ivan, meskipun dia segera mempertahankan nama baiknya pada waktu yang tepat, namun dia menyadari, ada banyak orang yang langsung bersikap dingin padanya setelah itu.


Tentu saja ini bukan yang paling penting.


Yang terpenting adalah, kekayaan yang diperlihatkan oleh Thomas sangat nyata, dan ini sungguh menggerakkan hatinya!


Dia sama sekali tidak ragu, latar belakanng keluarga Thomas, sudah pasti mampu bersaing dengan Bright Property, bahkan jauh lebih hebat daripadanya.


Latar belakang keluarganya biasa saja, tentu saja dia tidak akan menaruh harapan pada orang kaya yang punya harta triliunan.


Apalagi dia tidak punya kesempatan untuk berkenalan.


Sehingga Thomas mungkin akan menjadi target terbaik dalam seumur hidupnya!


Dia tahu jelas, kalau dia ingin hidup dengan kekayaan melimpah, dia harus membuat Thomas jatuh dalam genggamannya.


Setiap orang punya satu kesempatan untuk bisa melangkah jauh ke depan, tergantung kita bisa memanfaatkannya atau tidak.


Dan ini adalah prinsip yang selalu Wanda pegang.


Begitu sampai di depan Tasty, Thomas turun dari mobil dan segera masuk ke dalam.


Meskipun semua yang dilakukan oleh anggota Keluarga Ningrat membuat Thomas tidak bisa menghormati mereka, namun bagaimanapun Wanda adalah mantan calon istrinya.


Mengetahui Wanda mau bunuh diri, tentu saja dia harus memperlihatkan perhatiannya.


“Nomor 1345… benar, kamar 1345.”


Thomas bergumam lalu menekan tombol lantai 13 pada lift.


......


Setelah Wanda menutup telepon, dia langsung bersenandung seorang diri.


Dia sedang membayangkan dirinya menjadi putri salju yang begitu menarik tatapan semua orang, lalu melenturkan tubuhnya yang begitu indah dan menggoda sambil melepaskan pakaian di tubuhnya.


Lalu dia memasang senyum penuh kemenangan masuk ke dalam kamar mandi.


Dia harus mandi sampai harum dan menunggu kedatangan Thomas.


Asalkan Thomas masuk ke dalam kamarnya, maka dia pasti akan bisa menaklukkan Thomas dengan tubuhnya!


Terhadap hal ini, Wanda sangatlah percaya diri.


Tepat ketika dia selesai mandi dan menutup keran air, terdengar suara ketukan pintu dari depan pintu.


Dia menghadap ke cermin, sekali lagi memperhatikan tubuhnya yang begitu indah dengan wajah puas, lalu mengenakan handuk kimono dan berjalan keluar.


Thomas mengetuk pintu beberapa kali, membuatnya perlahan mulai cemas.


Ketika dia berniat menelepon nomor resepsionis dan memanggil pelayan membawakan kunci duplikat, pintu tiba-tiba terbuka, lalu sebuah tubuh yang terbalut handuk kimono langsung masuk ke dalam pelukannya.


“Huhuhu~, Thomas, aku kira kamu tidak akan datang, kenapa kamu datang juga… huhu~!”


Wanda menangis dan memukul dada Thomas perlahan, sikapnya ini sungguh membuat orang kasihan.


Namun dalam hati Wanda merasa dia harus memberi nilai sempurna untuk aktingnya.


“Sudah gak usah nangis, kita bicara di dalam.”


Thomas merasa mereka berpelukan dengan pakaian seperti ini di koridor, kalau sampai terlihat oleh orang lain bisa menimbulkan salah paham, dan itu akan lebih gawat lagi.


Wanda mengangguk, dalam hati dia merasa begitu bangga, rencananya ini sama dengan sudah sukses setengah!


Kemudian dia menundukkan kepala dan menggandeng tangan Thomas dengan wajah tersipu, lalu berbalik masuk ke dalam kamar.


“Katakan, ada apa?” Thomas melirik jam digital dan bertanya.


Dia berencana pergi ke villa sebelum Luna pulang kuliah, kalau bisa menyelesaikan masalah Wanda dengan segera, dia masih punya waktu.


Wanda menarik Thomas ke samping ranjang dan duduk di sana, Thomas yang melihat ini juga ikut duduk di sana.


Pada dasarnya handuk kimono memang berukuran all size dan sedikit kebesaran.


Mata Thomas langsung membelalak, lalu menoleh ke arah lain dengan cepat.


“Anjae~! Gak kuat!” gumam Thomas dalam hati.


Wanda menyadari gerak gerik Thomas, dalam hati merasa sangat senang: ternyata si Thomas masih perjaka seperti dugaan gue! Kelihatannya dia menjaga keperjakaannya buat gue!


Lalu Wanda memiringkan tubuhnya dan memeluk Thomas sambil menangis, kelihatannya seperti sekali menangis tidak akan berhenti.


“Huhuhu, karena kejadian semalam, aku bertengkar hebat dengan papa mama… huhu, mereka mau mengusirku, sekarang aku tidak tahu harus kemana…”


Melihat Wanda yang bersandar pada tubuhnya, Thomas merasa serba salah, mendorongnya salah, tidak mendorongnya juga bingung, dia hanya bisa bertanya, “Hanya karena ini lu mau bunuh diri?”


“Memangnya masih kurang? Hari ini setelah aku sadar dari mabuk, mereka mengatakan kalau kamu salah, aku bilang jadi orang harus punya perasaan, malah aku yang dimaki habis-habisan.”


Wanda mengangkat wajahnya dengan wajah berkaca-kaca, “Thomas, menurutmu aku harus bagaimana?”


Dalam hati Thomas menghela: kalau orang tuanya gak bener yah anaknya juga pasti ikutan, mungkin Wanda tidak sejahat kelihatannya, dia juga terpengaruh oleh keluarganya sehingga bisa menjadi seperti sekarang.


Dia selalu meyakini satu hal, semua orang memiliki hati yang mulia.


Apalagi Thomas sama sekali tidak merasa curiga terhadap aksi bunuh diri Wanda, orang yang berpikiran pendek tidak bisa dianggap bercandaan.


“Lu… benar-benar gak ada tempat tinggal?”


“Hm…”


Wanda mengangguk dengan cepat, sehingga memperlihatkan kalau dia sama sekali tidak berbohong.


“Kalau gak… gini aja, untuk sementara lu tinggal di Tasty, dua hari lagi Om… setelah emosi Martin dan Milan reda, lu sudah boleh pulang.”


Wanda langsung membelalakkan matanya.


Dia memesan satu kamar kecil seperti ini saja sudah menghabiskan 2 juta lebih, itu adalah semua harta yang dia punya, kalau tinggal dua hari lagi, bagaimana cara dia membayarnya?


“Sebenarnya, semalam aku bukannya sayang mengeluarkan uang 400 juta itu… begini saja.” Thomas mengeluarkan ponsel.


Setelah menekan ponselnya beberapa kali, dia kembali menyimpan ponselnya.


Hanya dalam hitungan detik ponsel Wanda berdering.


Karena Wanda masih memeluk Thomas, dia sama sekali tidak melihat apa yang Thomas lakukan, ketika ponselnya berdering, dai mengeluarkan ponselnya dan melihat.


Detik berikutnya Wanda langsung berseru kaget.


“Ha! 600 juta!”


Tentu saja dia melihat siapa yang mentransfer uang ini.


Thomas mentransfer uang sebanyak ini tanpa banyak bicara, bahkan Ivan saja tidak pernah seloyal ini!


Thomas berkata, “Iya, 600 juta, uang 400 juta yang gue kirim anggap saja gue ganti uang makan yang dibayar bapak lu, 200 juta anggap saja hadiah buat lu.”


Bagi Thomas uang sudah bukan hal yang besar untuknya, kakeknya Chandi Levian adalah Direktur Levian Group.


Uang 600 juta sama dengan uang receh baginya.


Dia juga tahu kartu Black Gold yang diberikan oleh Chandi untuknya bisa dikatakan sebagai atm yang tidak memiliki limit.


“Tetapi… kenapa kamu mau memberikan hadiah padaku?”


Wanda begitu terkejut, dan pada saat bersamaan dalam hatinya bagaikan tergoda oleh sesuatu.


“Karena… hari ini ulang tahunmu.” Ucap Thomas sambil tersenyum.


Wanda menatap Thomas dengan wajah terkejut, dia baru ingat, hari ini memang benar hari ulang tahunnya.


Sejak dulu ulang tahunnya selalu dirayakan oleh anggota Keluarga Widjaja.


Setelah Tanto meninggal, “tradisi” ini diteruskan oleh Thomas selama belasan tahun lamanya.


Setiap kali dia ulang tahun, Thomas pasti akan mengajaknya pergi dan menemaninya makan, setelahnya memberikannya hadiah.


Ketika itu Thomas miskin, tempat yang didatangi seperti rumah makan bakso atau sate, dan setiap kalinya Wanda merasa sangat tidak puas.


Yang dia bayangkan adalah, kapan baru bisa makan malam di restoran mahal dengan romantis bersama seorang pangeran berkuda putih.


Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, dia tiba-tiba menyadari, sebenarnya Thomas sudah berusaha keras, memberikan yang terbaik untuknya.


Ternyata, dia sama sekali tidak lupa!


Membayangkan hal ini, kedua mata Wanda langsung terasa perih, dia berkata dengan suara yang begitu lirih, “Thomas, aku, ma, maaf, beberapa tahun ini aku… aku sudah salah.”


“Lu bilang apa?” Thomas tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Dia melirik jam digital yang ada di samping, sudah jam 4, kalau dia pergi ke villa sekarang mungkin masih keburu untuk menjemput Luna pulang kuliah.


“Oh iya, gue masih ada urusan, lu pikirin aja baik-baik, kapan pikiran lu terbuka, baru pulang.”


Thomas melepaskan tangan Wanda lalu berdiri.


“Hah? Kamu mau pergi?” Wanda langsung sadar, lalu menarik Thomas dan berkata wajah yang merona malu, “Kamu, bisa tetap tinggal gak… temani aku?”